Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Cintaku Yang Pertama?
"Menurut Sus Lia begitu?" tanya AKP Victor.
"Bukan suatu kebetulan bukan?" balas dokter Lucky. "Bisa jadi, bisa tidak. Namanya juga teori."
AKP Victor dan saling berpandangan. "Bukan teori yang jelek sih," ucap Iptu Steven.
"Kita memang belum mengaitkan sih si korban X kemarin ke kasus dua mutilasi itu," balas AKP Victor.
"Memangnya kalian belum dapat datanya?" tanya Daisy. "Kalau korban mutilasi kan sudah aku kasih ke kalian."
"Sudah sih, cuma kita tidak kepikiran sampai kesana kan. Kita mengira bahwa dua peristiwa itu tidak berkaitan." AKP Victor menyesap minumannya.
"Kaki kamu sudah tidak apa-apa kan, Steven?" tanya dokter Lucky.
"Alhamdulillah berkat sepatu khusus yang diberikan Mbak Ambar jadi aku bisa berjalan dengan enak meskipun masih pakai kruk. Setidaknya, bisa agak nyaman deh," jawab Iptu Steven.
"Farhan, aku minta bungkus ya? Sandra kangen ayam goreng kamu dan sambal bawangnya," seru AKP Victor.
"Siap pak. Tambah apalagi?" balas Farhan.
"Sayur asemnya satu porsi."
***
Dokter Lucky dan Daisy pun tiba di rumah menjelang pukul setengah sepuluh malam karena sempat ada kecelakaan yang sudah ditangani oleh pihak-pihak terkait. Pasangan itu masuk ke dalam rumah dengan kondisi lelah tapi mereka senang bisa bertemu dengan saudara dan sahabatnya.
"Aku mandi di kamar mandi tamu ya mas. Mas Lucky mandi di kamar kita," ucap Daisy sambil melepaskan sepatunya.
"Kamu habis autopsi soalnya ya?" tanya dokter Lucky.
"Benar. Autopsinya kan benar-benar horor. Ya benar aku sudah mandi tadi sebelum dijemput mas Lucky tapi kan gerah juga ini."
Dokter Lucky mengangguk. "Padahal sudah Mei tapi tetap lembab dan gerimis."
"Yah semua kan gara-gara Mas Lucky nyetel lagunya yang berhubungan dengan hujan sih," gumam Daisy sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Dokter Lucky memajukan bibirnya. "Njelehi! Laguku kok jadi macam mantra pemanggil hujan."
Winston keluar dari kamar Kenzie yang memang tidak ditutup rapat oleh Gita agar anjing gagah itu bisa menemui dua tuannya nanti sesuai dengan pesan Daisy.
"Hai, Winston. Kenzie sudah bobok ya?" Dokter Lucky mengelus kepala anjing Belgian Mallinois itu. "Aku mandi dulu ya Win. Jaga Kenzie."
Anjing yang biasa dipakai K9 kepolisian itu langsung kembali ke kamar Kenzie dan tiduran di depan pintu. Dokter Lucky pun masuk ke dalam kamar utama dan menuju kamar mandi.
***
"Aku rasa sundel bolong masih tidak mau menyerah padamu, Mas." Daisy menatap dokter Lucky yang sedang menyesap teh herbalnya. Mereka sedang berada di dapur dekat meja bar.
"Aku rasa begitu. Apa kamu ada ide buat bikin dia kapok? Dia sepertinya tidak kena mental waktu kamu labrak," ucap dokter Lucky.
"Apa kita harus membuat drama?" tanya Daisy.
"Drama apa Jeng? Jangan ikutan mbak Nana deh!" Dokter Lucky menyesap tehnya.
"Eh seru tahu!"
Dokter Lucky menatap datar ke Daisy. "Jangan aneh-aneh Jeng. Segala sesuatu itu harus dipikirkan terlebih dahulu. Misal nih kita bikin cerita kita pisah ... Amit-amit, dicatat malaikat malah beneran pisah ... Emoh aku!"
"Iya juga sih ... Bahaya ya Mas?" gumam Daisy.
"Lebih bahaya daripada encok Mbak Nana!" cebik dokter Lucky.
Daisy cekikikan. "Eh, Mas. Apa ada rencana mau nambah anak lagi nggak?"
Dokter Lucky menatap Daisy. "Nunggu Kenzie dua tahunan ya Jeng. Bukan apa-apa, biar Kenzie tetap eksklusif dulu sama kita. Jadi nanti kalau ada adiknya, Kenzie sudah banyak dapat kasih sayang yang berlimpah jadi tidak iri."
"Tahu kan kenapa banyak cewek yang pengen kamu?" senyum Daisy.
"Kenapa?" balas dokter Lucky.
"Karena sifat dan sikap kamu, Mas. Entah bagaimana, mereka calon-calon pelakor bisa tahu kamu pria yang mereka idamkan. Dokter, punya uang dan kebapakan. Itu sih," jawab Daisy.
"Padahal aku begitu kan cuma sama kamu, Jeng Daisy. Bahkan sama kakak aku sendiri saja sering nggak akurnya," ucap dokter Lucky.
"Mereka tidak tahu itu, Mas."
"Suster Lia sudah capek menghadapi aku karena memang aku punya metode sendiri sih." Dokter Lucky menunjukkan tangannya yang terdapat cincin kawin yang melingkar di jari manisnya. Tidak ada cincin lain selain cincin kawin emas sederhana itu. "Aku sudah terikat denganmu, Jeng Daisy. Selingkuh itu karena ada niat dari pelakunya."
"Lha? Macam bang Napi," kekeh Daisy yang tahu soal itu dari Seiya yang suka acara jadul.
"Tapi itu benar kan? Jika pihak yang digoda tidak menanggapi dan tidak mengandalkan cuma iseng...." Dokter Lucky menaik-turunkan jari telunjuk dan jari tengahnya,"pasti perselingkuhan itu tidak akan terjadi."
"Ditambah perselingkuhan itu banyak dosanya. Zinah, dzolim pada istri dan anak ... Benar-benar dosa yang tidak bisa terampuni karena si suami akan menanggungnya seumur hidup." Daisy menatap dokter Lucky. "Terlepas kita dulu juga melakukan sebelum menikah."
"Kita melakukannya karena bukan kemauan kita, Jeng. Itu karena pengaruh obat dan jika kita sadar, pasti tidak akan kejadian. Jujur aku merasa ini memang sudah jalannya aku dan kamu ... jodoh jalur unpredictable. Tahu sendiri kan bagaimana aku harus jatuh bangun meyakinkan kamu bahwa pernikahan kita tidak jelek?" ucap dokter Lucky.
"Iya. Kamu begitu gigih membuat pernikahan kita bisa berjalan dengan baik." Daisy tersenyum. "Meskipun sampai detik ini, aku kadang suka amazed dengan keasbunan kamu."
Dokter Lucky tersenyum manis. "Obat stress Jeng. Bukan kah bisa membuat orang tertawa itu ibadah?"
Suara Kenzie menangis, membuat keduanya bergegas mendatangi putra mereka. Winston pun tampak keluar dengan wajah bingung karena tuan kecilnya menangis.
"Kenzie tidak apa-apa, Winston. Lapar itu," senyum Daisy sambil menengok tempat tidur Kenzie. Tampak bayi lucu itu menangis dramatis. "Oh sayang ... Kangen Mama ya."
Dokter Lucky melihat Daisy langsung menggendong Kenzie yang wajahnya memerah. Pria itu tersenyum ke arah Kenzie.
"Anak Papa kenapa nangis?" tanya dokter Lucky.
Kenzie mengoceh tidak jelas tapi Daisy berusaha menenangkan. "Yuk, mimik dulu." Daisy membawa Kenzie ke kasur lebih besar dan mulai menyusui putranya.
"Yuk Winston. Kita di sofa deh." Dokter Lucky duduk di sofa yang ada di kamar Kenzie dan Winston pun naik di sebelahnya.
Daisy sibuk menyusui Kenzie, tiba-tiba mendengar suara ngorok double echo. Dia pun menoleh, tampak dokter Lucky dan Winston tidur di sofa malas disana dengan posisi kepalanya berada di atas paha pria itu.
Keduanya tampak kompak tidur berdua dan ngorok. Daisy menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun kalian tuh," kekehnya.
***
Keesokan paginya, dokter Lucky datang ke ruang kerjanya dan Suster Lia langsung menghampirinya. Dokter Lucky tahu, kalau Suster Lia sudah begini, pasti ada sesuatu."
"Ada apa Suster Lia? Apa ada pasien yang urgen?" tanya dokter Lucky.
"Ada. Si Susana sundel bolong! Dia kasih ini." Suster Lia memberikan amplop kemarin ke dokter Lucky.
Pria itu lalu membuka dan membacanya. "Hah?"
"Apaan Dok?" tanya Suster Lia kepo.
"Surat cintaku ... yang pertama?" jawab dokter Lucky.
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Aku bkln ttp jd fans'mu,dgn sgla kerandomn yg bkin ngakak plus pusing....🤣🤣🤣....
jgn emosian,tar cpt tua....🤭🤭🤭
btw, met milad dok Lucky 🤗
Doa terbaik untuk papanya Kenzie yang sukanya asbun😅😅😅
hikksss.....