Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tarikan Magnet yang Menyakitkan
melanjutkan ketegangan dari pertemuan pertama Elara dan Kael.
▪︎▪︎▪︎
RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Bab 2: Tarikan Magnet yang Menyakitkan
Suasana di dalam Kedai Bintang Jatu menjadi hening total. Hanya suara hujan yang menghantam atap genting yang terdengar, seolah menjadi irama latar bagi momen yang menegangkan ini.
Elara masih terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia yakin orang lain bisa mendengarnya. Sensasi aneh yang ia rasakan tadi belum hilang. Ada sebuah tarikan kuat di ulu hatinya, seolah ada tali tak kasat mata yang mengikat dadanya dan menariknya keras ke arah pemuda di depannya itu.
Tapi Kael... pemuda itu berdiri tegak seperti patung batu. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, namun matanya yang berwarna merah gelap itu menyimpan badai yang tak bisa dibaca. Ia tidak maju, tapi juga tidak berniat pergi.
"Kau salah dengar, Nek," suara Kael memecah keheningan. Nadanya dingin, datar, namun memiliki wibawa yang membuat siapa pun enggan membantah. "Aku tidak ada hubungannya dengan gadis ini. Aku datang hanya untuk mencari tempat berteduh."
Nenek Mara mendengus pelan. Matanya yang tajam menatap Kael dengan penuh kecurigaan. "Energi di ruangan ini berubah drastis sejak kau melangkah masuk, Tuan Muda Voss. Jangan berpikir orang tua seperti aku tidak bisa merasakannya. Ada ikatan yang terbentuk di antara kalian berdua detik ini juga."
"Ikatan itu salah," potong Kael cepat. Ia akhirnya bergerak, berjalan mendekat melewati meja-meja kayu. Setiap langkah kakinya membuat lantai kayu berderit pelan. "Sihirku adalah sihir pemutus. Aku tidak diciptakan untuk mengikat, apalagi dengan seorang Peramal Benih Jantung. Ini mustahil."
Elara akhirnya menemukan suaranya, meski terdengar bergetar. "Kenapa... kenapa aku merasakan sakit?"
Kael berhenti tepat di hadapannya. Ia menatap wajah Elara dari atas, meneliti setiap inci wajah gadis itu—mata peraknya yang unik, bibirnya yang pucat, dan ekspresi bingung yang terlukis jelas.
"Karena hukum alam sedang dilanggar," jawab Kael pelan, hampir seperti berbisik. "Api dan air tidak bisa bersatu. Cahaya dan kegelapan tidak bisa berpelukan. Jika dipaksakan, yang ada hanya kehancuran."
"Tapi kenapa rasanya seperti... aku mengenalmu?" tanya Elara lagi. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa filter. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ia seharusnya takut. Kael dikenal sebagai orang yang berbahaya, keturunan penyihir gelap. Namun di hadapan pria ini, rasa takut itu bercampur dengan rasa rindu yang aneh. Rindu pada seseorang yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya.
Mata Kael menyipit. Untuk sesaat, dinding dingin yang ia bangun di sekitar hatinya tampak retak sedikit. "Jangan berhalusinasi, Nona. Kita tidak pernah bertemu. Dan sebaiknya memang tidak pernah."
Tiba-tiba, Kael mengulurkan tangannya. Bukan untuk menyentuh, tapi telapak tangannya menghadap ke arah dada Elara.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Nenek Mara sigap, siap melepaskan sihir pelindungnya.
"Tunggu," kata Kael. "Aku ingin memastikan."
Dari ujung jari Kael, muncul asap hitam tipis yang berputar perlahan. Asap itu melayang menuju dada Elara. Elara ingin mundur, tapi kakinya terasa berat, seolah tertanam di lantai. Saat asap hitam itu menyentuh dadanya, Elara merasakan sensasi dingin yang menusuk tulang.
Namun, reaksinya di luar dugaan.
Seketika, cahaya perak yang sangat terang memancar keluar dari tubuh Elara. Cahaya itu menolak sentuhan asap hitam Kael, malah memantulkannya kembali. Terjadi percikan api kecil di udara—perpaduan warna perak dan hitam yang membentuk pola aneh, seperti dua magnet yang saling tolak-menolak namun juga saling tarik-menarik pada saat yang bersamaan.
*TRANG*!
Sebuah suara nyaring terdengar, seperti besi yang dipukul palu. Kael tersentak mundur beberapa langkah, wajahnya sedikit berubah pucat. Ia menatap tangannya sendiri seolah benda asing.
"Benar-benar terkunci..." gumam Kael, suaranya terdengar tak percaya. "Bukan sekadar segel biasa. Ini adalah Segel Abadi. Sihir tingkat tinggi yang sudah hilang ratusan tahun lalu."
"Siapa yang melakukannya padaku?" tanya Elara cepat. Rasa penasarannya kini mengalahkan rasa takutnya. "Kenapa mereka mengunciku?"
Kael menghela napas panjang, seolah sedang berjuang dengan pikirannya sendiri. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya, berusaha kembali bersikap dingin.
"Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti... Segel itu tidak bisa dibuka sembarangan. Dibutuhkan energi yang setara, atau bahkan lebih besar darinya untuk melepaskannya." Kael menatap Elara tajam. "Dan energiku... energiku adalah satu-satunya yang cukup kuat untuk berinteraksi dengan segel itu. Entah itu untuk membukanya, atau justru memperkuat kuncinya."
"Jadi... aku adalah kuncinya?" tanya Elara pelan.
"Atau aku yang menjadi gemboknya," balas Kael. Tatapannya menjadi rumit. "Kau mengerti kan bahayanya? Jika kita terlalu dekat, sihir kita bisa meledak. Bisa membunuhmu. Atau bahkan menghancurkan seluruh kota ini."
"Kalau begitu pergi saja!" seru Elara tiba-tiba, emosinya meledak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa masih berdiri di sini? Kau bilang kita berbahaya, kau bilang ini salah, kau bilang kita tidak boleh bertemu! Kalau begitu pergilah! Biarkan aku hidup sebagai orang biasa yang tidak punya takdir!"
Suara Elara menggema di ruangan itu. Hening kembali menyelimuti, tapi kali ini terasa lebih berat.
Kael diam. Ia menatap mata perak Elara lama sekali. Di dalam matanya yang merah itu, ada sesuatu yang berkedip—sesuatu yang mirip dengan rasa sakit, atau mungkin penyesalan.
"Aku ingin pergi," ucap Kael akhirnya, suaranya jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Tapi tubuhku sepertinya tidak mau menurut."
Ia melangkah mundur perlahan menuju pintu. "Aku akan pergi sekarang. Tapi ingat kata-kataku, Elara. Jangan mencari tahu tentang masa lalumu. Jangan mencoba membuka kunci itu sendirian. Itu terlalu berbahaya."
"Siapa kau untuk menyuruhku?" tantang Elara.
"Aku adalah orang yang mungkin akan menjadi kehancuranmu," jawab Kael lembut.
Pemuda itu membuka pintu. Angin dingin dan butiran hujan menerobos masuk. Sebelum benar-benar menghilang ke dalam kegelapan malam, Kael menoleh sedikit.
"Dan mungkin... kau juga akan menjadi kehancuranku."
Pintu ditutup kembali. Lonceng kecil berbunyi, namun suaranya terdengar sedih.
Elara lemas, ia jatuh terduduk di kursi. Nenek Mara segera memeluk bahunya, mengusap punggungnya pelan untuk menenangkannya.
"Sudah lewat, Nak. Sudah lewat," bisik Nenek Mara.
Tapi Elara tahu, itu bukanlah akhir. Itu baru permulaan. Ia meraba dadanya sendiri. Sensasi tarikan itu masih ada, meski kini jauh lebih samar. Seperti sebuah benang yang ditarik memanjang, namun tidak putus.
Ia menatap jendela yang berembun, di mana bayangan bulan merah darah masih terlihat samar.
Siapa aku sebenarnya? batin Elara bertanya. Dan kenapa takdirku harus terikat dengan orang yang paling berbahaya di kota ini?
Malam itu, Elara tidak bisa tidur. Di atas meja belajarnya, ia menemukan sebuah bulu hitam yang jatuh dari jas Kael saat ia tadi mundur. Bulu itu terasa dingin saat disentuh, namun anehnya, memancarkan kehangatan yang samar saat didekatkan ke jantungnya.
Sebuah petualangan baru telah dimulai. Sebuah rahasia besar yang terkunci selama bertahun-tahun, perlahan mulai menampakkan celah.
°
°
°
Bersambung ke Bab 3...
Bagaimana dengan Bab 2 ini? Ketegangannya sudah terasa belum?
Mau lanjut langsung ke Bab 3 di mana Elara mulai mencoba mencari tahu tentang asal-usul segel di hatinya?