NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Simfoni Debu dan Kesunyian

​Fajar di Gianyar, Bali, tidak pernah menyapa dengan kelembutan yang romantis seperti yang sering digambarkan dalam brosur pariwisata. Di kawasan industri pinggiran ini, matahari terbit tidak diiringi oleh deburan ombak yang menenangkan, melainkan oleh deru mesin waterjet pemotong batu yang mulai membelah kesunyian pedesaan dengan suara melengkingnya yang khas. Udara pagi tidak beraroma garam laut, melainkan dipenuhi oleh aroma tajam pelumas mesin yang terbakar, bercampur dengan bau tanah basah sisa hujan semalam, dan kepulan debu pualam mikroskopis yang menari-nari liar dalam sorotan cahaya matahari pertama.

​Kanaya Larasati berdiri membeku di ambang pintu mess karyawan yang sangat sederhana. Bangunan itu hanya terbuat dari batako yang dicat seadanya, dengan atap seng yang masih meneteskan embun. Ia mengenakan kemeja lapangan dari bahan flanel tebal kotak-kotak yang lengannya digulung asal-asalan hingga ke siku, celana kargo berwarna zaitun yang warnanya sudah mulai memudar akibat terlalu sering dicuci, dan sepatu bot kulit bersol tebal yang masih membawa sisa kerak lumpur dari lokasi proyek SCBD di Jakarta. Rambut sebahunya, yang biasanya ia biarkan tergerai bebas saat bekerja di kantor pusat, kini diikat ekor kuda dengan sangat erat—sebuah tarikan fisik yang seolah-olah ia butuhkan untuk mengencangkan ikatan pada kewarasannya sendiri yang kini terasa begitu rapuh dan siap putus kapan saja.

​Di dalam saku rompi keselamatan berwarna jingga yang membalut tubuh kecilnya, tangan kanannya menggenggam erat sebuah benda logam bersuhu dingin. Itu adalah senter teknis premium pemberian Arjuna Dirgantara—benda yang semalam ia kutuk habis-habisan dengan derai air mata, namun anehnya, kini benda itu terselip di sakunya seolah-olah menjadi satu-satunya penanda identitas dan realitas yang ia miliki di tanah pengasingan ini.

​'Kau pikir dengan membuangku ke pulau ini kau bisa menghapus setiap jejak eksistensimu di dalam kepalaku, Arjuna?' batin Naya, matanya yang sembab menatap lurus ke hamparan persawahan hijau di depan mess yang masih tertutup kabut tipis kebiruan. 'Kau memberiku cahaya ini untuk membantuku melihat retakan pada batu pualam, tapi kau tidak pernah menyadari bahwa retakan terbesar dan paling fatal saat ini justru ada pada sisa-sisa keyakinanku terhadapmu. Kau adalah arsitek utama dari seluruh penderitaanku, orang yang merancang kejatuhanku, namun secara bersamaan kau jugalah yang diam-diam memasang jaring pengaman berlapis baja di bawahnya agar aku tidak mati terbentur tanah. Aku sangat membenci paradoks ini. Aku membenci kenyataan bahwa aku tidak bisa membencimu dengan murni.'

​Naya menghembuskan napas panjang dari sela-sela bibirnya yang pucat. Hembusan napas itu terlihat seperti kepulan uap tipis di udara pagi Gianyar yang masih menggigit kulit. Ia melangkah turun dari teras mess dengan gerakan mekanis, berjalan menuju sebuah mobil operasional gardan ganda berlogo Dirgantara Group yang sudah menunggunya dengan mesin menyala untuk membawanya ke pabrik raksasa milik Pak Nyoman.

​Di dalam kabin mobil yang berbau pengharum ruangan murahan rasa jeruk, Naya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar. Ia hanya bisa menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca yang gelap itu—sebuah wajah yang kini telah kehilangan seluruh binar antusiasmenya, kehilangan kilau keberanian yang biasanya memancar saat ia berdebat soal desain. Yang tersisa hanyalah garis-garis kaku seorang profesional yang sedang menjalankan hukuman pengasingan tanpa batas waktu.

​Pabrik fabrikasi pualam milik Pak Nyoman adalah definisi sejati dari sebuah labirin kebisingan dan kekacauan yang terorganisir. Begitu Naya turun dari mobil, suara mesin-mesin raksasa yang sedang mengoyak balok-balok batu pualam dari perut bumi terdengar seperti jeritan ribuan jiwa yang terjepit di antara roda gigi baja. Udara di dalam hanggar semi-terbuka itu begitu pekat oleh partikel mikroskopis marmer yang beterbangan, membuat siapa pun yang tidak terbiasa atau tidak memakai masker pelindung akan merasa sesak napas dan batuk-batuk dalam waktu kurang dari lima menit.

​"Selamat datang kembali di kawah neraka kita, Nona Kanaya!" Pak Nyoman berteriak dengan suara seraknya dari jarak tiga meter, mencoba mengalahkan kebisingan mesin grinder di dekatnya. Wajah pria paruh baya yang biasanya ramah itu kini tertutup lapisan debu putih halus, membuatnya terlihat seperti patung batu yang bisa bergerak.

​Pak Nyoman berjalan menghampiri Naya, mengusap tangannya yang kotor ke celana jeans-nya sebelum menyodorkan sebuah tablet industri berlayar antigores yang sangat tebal. "Kita mendapat kejutan pagi ini. Pak CEO di Jakarta secara pribadi mengirimkan revisi detail sambungan untuk pilar keenam dan ketujuh tepat lima menit yang lalu. Beliau menginstruksikan dengan sangat tegas bahwa pemotongan marmer harus mengikuti cetak biru baru ini dan harus dimulai pukul sembilan tepat, tidak boleh mundur satu menit pun."

​Naya mengerutkan keningnya. Ia menerima tablet tebal itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar karena antisipasi yang tidak bisa ia jelaskan. Begitu layarnya menyala terang, matanya langsung menangkap header dokumen resmi yang dikirimkan melalui jaringan server terenkripsi pusat. Pengirimnya tertulis dengan huruf kapital yang angkuh: EXECUTIVE OFFICE - ARJUNA DIRGANTARA.

​Naya segera membedah cetak biru digital tersebut. Jemarinya yang lentur dengan cepat memperbesar dan menggeser layar, membaca setiap koordinat, setiap garis vektor, dan setiap angka toleransi beban dengan keahlian yang telah diasah selama bertahun-tahun. Hanya butuh waktu dua menit bagi matanya yang jeli untuk menangkap sesuatu yang sangat aneh—sesuatu yang sama sekali tidak logis dalam perhitungan bisnis Dirgantara Group.

​Garis-garis lengkungan struktural pada pilar keenam, yang merupakan bagian paling krusial dari lobi Grand Azure, telah dimodifikasi secara drastis dari draf final yang mereka sepakati dan perdebatkan di ruang rapat lantai tiga puluh Jakarta kemarin. Arjuna telah merombak sistem penopangnya secara radikal. Pria itu menambahkan lapisan matriks honeycomb dari bahan aluminium aerospace-grade tepat di balik lapisan marmer tipis tersebut.

​Naya menahan napasnya. Sebagai seorang arsitek interior, ia tahu persis apa arti perubahan ini. Lapisan honeycomb itu adalah teknologi penguat struktural yang sangat mahal. Sangat tidak masuk akal untuk digunakan pada pilar dekoratif dalam skala sebesar ini. Memang, teknologi itu akan secara signifikan meningkatkan stabilitas pualam saat menghadapi getaran gempa bumi. Namun, yang membuat tenggorokan Naya terasa tercekik adalah kesadaran akan fungsi sekundernya: matriks honeycomb itu secara absolut akan mengurangi risiko keretakan dan pecahan tajam hingga sembilan puluh sembilan persen, yang artinya, hal itu mengurangi risiko kecelakaan kerja bagi siapapun desainer lapangan yang harus melakukan inspeksi visual dan penyentuhan manual secara rutin di lokasi konstruksi.

​Dan desainer lapangan yang ditunjuk secara eksklusif untuk menyentuh pilar itu adalah dirinya sendiri.

​'Dia mengubah desain aslinya...' batin Naya, jantungnya mulai berdenyut dengan irama yang begitu keras hingga terasa menyakitkan di balik tulang rusuknya. 'Dia menambahkan fitur keamanan ekstra yang gila-gilaan ini bukan untuk efisiensi biaya material. Sebaliknya, perubahan mendadak ini pasti membuat anggaran fabrikasinya membengkak hingga miliaran rupiah. Dia melakukan ini semua... hanya untuk memastikan bahwa aku tidak perlu mengambil risiko fisik sekecil apa pun saat aku harus memeriksa sambungannya nanti di atas steger yang tinggi.'

​Naya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk mencegah isakan yang mulai mendesak naik ke kerongkongannya. 'Dia melindungiku. Dia melindungiku dengan uangnya, dengan otoritasnya, bahkan saat dia melemparkan tiket pengasingan ke pulau ini tepat ke wajahku dengan kata-kata yang paling merendahkan. Kenapa kau harus menjadi pelindung rahasia seperti ini, Juna? Kenapa kau tidak membiarkan aku saja yang menanggung risikoku sendiri?'

​Naya merasa dadanya dihimpit oleh beban tekanan atmosfer yang jauh lebih berat daripada seluruh blok marmer Calacatta Gold yang berjajar di depannya. Ia merasakan dorongan impulsif yang liar untuk merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya, dan menelepon Juna saat itu juga. Ia ingin memakinya karena ketidakkonsistenan sikapnya yang memuakkan, ia ingin berteriak mempertanyakan mengapa pria itu terus bermain-main dengan kewarasannya, atau mungkin... jauh di lubuk hatinya yang paling jujur, ia hanya ingin mendengar suara bariton dinginnya itu sekali lagi—suara yang selalu berhasil mengacaukan logikanya dan memberikan rasa aman yang menakutkan.

​Namun, Naya sadar bahwa ia tidak memiliki hak itu. Di mata dunia korporat, dan di mata Sang Chairman yang mengawasi setiap pergerakan komunikasi di perusahaan, Naya hanyalah sebuah alat produksi rendahan yang sedang diservis dan diasingkan di Bali agar tidak merusak pemandangan pesta pertunangan sang pangeran.

​"Pak Nyoman," panggil Naya, mencoba sekuat tenaga menjaga nada suaranya agar tetap terdengar profesional, meskipun ia bisa merasakan matanya mulai terasa panas dan pandangannya sedikit mengabur karena genangan air mata. "Apakah Pak Arjuna memberikan instruksi teknis tambahan secara khusus melalui telepon saat beliau mengirim draf ini?"

​Pak Nyoman berhenti mengawasi pekerja yang sedang memasang mata pisau berlian. Pria tua itu menyesap kopi hitam pahitnya dari gelas plastik yang sudah penyok, lalu menatap Naya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

​"Pak Arjuna memang menelepon langsung ke ponsel saya pagi subuh tadi, Nona Naya," ucap Pak Nyoman perlahan, suaranya mencoba mengalahkan deru mesin di latar belakang. "Namun, beliau sama sekali tidak membahas soal ketebalan marmer atau tekanan air pemotong seperti yang biasa beliau ributkan. Beliau hanya menginstruksikan satu hal dengan nada yang sangat mengancam."

​Pak Nyoman terdiam sejenak, menghela napas panjang. "Beliau bilang... 'Nyoman, saya minta kau pastikan dengan nyawamu sendiri bahwa Nona Kanaya tidak pernah berada dalam radius dua meter dari tangki utama saat proses pemvakuman gas epoksi polimer dimulai. Paru-parunya terlalu berharga untuk terkontaminasi residu kimia beracun dari pabrikmu.' Begitulah kata-katanya, Nona."

​Pak Nyoman menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum keheranan muncul di wajahnya yang berdebu. "Aneh sekali, bukan? Selama sepuluh tahun saya bekerja sama dengan Dirgantara Group, Pak Arjuna tidak pernah peduli apakah para pekerja di pabrik ini bernapas dengan baik, keracunan, atau bahkan pingsan karena kelelahan, selama blok marmernya tiba di Jakarta tepat waktu dan sesuai spesifikasi. Tapi hari ini, beliau mengancam saya hanya karena masalah jarak radius aman untuk satu orang desainer."

​Naya tidak mampu lagi menatap wajah Pak Nyoman. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah mesin pemotong laser raksasa yang memancarkan cahaya hijau menyilaukan di sudut pabrik. Pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian di pelupuk matanya akhirnya lolos. Satu tetes air mata mengalir tuRun, membelah debu pualam yang menempel di pipinya, jatuh ke tanah, dan menyatu dengan serbuk batu yang kotor.

​'Kau pria yang sangat jahat, Arjuna Dirgantara,' desis Naya di dalam palung hatinya yang terluka parah. 'Kau membuatku tidak bisa membencimu sepenuhnya, padahal kebencian adalah satu-satunya senjata yang kumiliki untuk melawan kekuasaanmu. Kau membuangku ke tempat yang jauh, tapi kau mengirimkan tameng tak terlihat untuk melindungiku. Kau memberiku alasan yang paling menyakitkan untuk tetap bertahan dan merindukanmu di dalam penjara debu ini.'

​Sementara itu, dua ribu kilometer dari kelembapan dan kebisingan udara Gianyar, di dalam ruang CEO lantai tiga puluh Gedung Dirgantara Jakarta, suasana terasa seperti berada di dalam peti es raksasa yang kedap suara dan hampa udara.

​Arjuna Dirgantara berdiri mematung di area balkon pribadinya yang luas. Ia menatap ke bawah, ke arah labirin jalanan ibu kota yang sedang diguyur hujan badai yang sangat deras. Titik-titik air hujan menghantam kaca pelindung balkon dengan brutal, menciptakan suara derak yang konstan. Juna mengenakan kacamata hitam aviator-nya meskipun langit di luar sana sangat gelap dan suram; sebuah upaya sia-sia untuk menyembunyikan matanya yang memerah dan bengkak akibat kurang tidur yang parah.

​Ia tidak sedang memegang cangkir kopi espresso ganda kesukaannya. Ia tidak sedang memegang tablet yang menampilkan pergerakan saham perusahaan. Tangan kanannya terkepal kuat di dalam saku celana jasnya yang berbahan wol murni, jari-jarinya mencengkeram erat sebuah anak kunci kecil berbahan kuningan—anak kunci brankas baja pribadi milik ayahnya. Brankas itu adalah tempat Sang Chairman menyimpan dokumen-dokumen paling rahasia dan mematikan, termasuk satu-satunya bukti sertifikat tanah dan surat hutang asli milik keluarga Larasati yang ia curi dengan risiko besar tadi malam.

​Ponsel khusus jalur aman miliknya bergetar pendek di atas meja kaca di belakangnya. Juna berbalik dengan gerakan cepat, menyambar benda persegi itu. Sebuah pesan masuk berupa kode enkripsi dari ketua tim keamanan tak terlihat yang ia sewa khusus untuk menjaga Naya di Bali:

​Laporan Harian 01. Target telah tiba di fasilitas pabrik Gianyar. Kondisi fisik stabil. Kondisi visual emosional: tampak tertekan. Target mulai bekerja pada revisi pilar keenam sesuai instruksi. Area radius tiga kilometer telah disterilkan dari anomali. Pemantauan berlanjut.

​Juna membaca pesan itu berulang kali hingga matanya perih, lalu ia menutup matanya rapat-rapat dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia bisa membayangkan sosok Kanaya di sana dengan sangat jelas. Ia bisa membayangkan keringat yang membasahi kening gadis itu saat berhadapan dengan panasnya mesin pabrik. Ia bisa melihat debu putih yang mengotori kemeja flanelnya. Dan yang paling menghantui pikirannya, ia bisa membayangkan tatapan mata cokelat gadis itu—tatapan yang dulu memancarkan kekaguman yang malu-malu, kini pasti memancarkan kekecewaan dan dendam kesumat yang ditujukan langsung padanya.

​'Setidaknya di sana kau tidak akan pernah melihat wajah Ayah,' gumam Juna pada kesunyian yang mencekik tenggorokannya. Napasnya terasa sangat berat, seolah setiap udara yang ia hirup mengandung racun arsenik. 'Di sana, kau tidak perlu mendengar suara Aline yang merendahkanmu saat ia sibuk membahas detail gaun pengantin sutranya di lorong kantor. Di sana, kau bebas dari aroma bunga-bunga ucapan selamat yang busuk dan memuakkan ini. Bertahanlah sebentar lagi, Kanaya. Beri aku waktu untuk menghancurkan sistem ini dari dalam, lalu aku akan datang menjemputmu.'

​Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu ganda ruangannya. Riko masuk dengan langkah ragu-ragu dan wajah yang sangat pucat, seolah-olah ia sedang bersiap menyampaikan berita kematian.

​"Pak Arjuna... mohon maaf mengganggu," lapor Riko dengan suara yang hampir menghilang di telan bunyi deru pendingin ruangan. "Chairman Dirgantara dan Nona Aline Wijaya beserta seluruh keluarga besar mereka sudah menunggu di ruang jamuan VIP lantai dasar. Acara konferensi pers resmi untuk pengumuman pertunangan Anda ke publik akan dimulai dalam waktu tepat lima belas menit. Para wartawan dari dua puluh media bisnis nasional sudah memenuhi aula utama."

​Juna tidak segera berbalik. Ia tetap berdiri menghadap jendela, menatap hujan badai yang semakin mengamuk, membiarkan keheningan yang menyiksa menjadi jawabannya selama satu menit penuh.

​"Riko," suara Juna akhirnya pecah, memotong keheningan dengan baritonnya yang serak dan bergetar halus. "Apakah kau sudah memastikan secara pribadi bahwa mess karyawan yang ditempati Naya di Bali memiliki sistem pendingin ruangan yang berfungsi dengan sangat baik dan sirkulasi udara yang bersih?"

​Riko tertegun mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak relevan dengan situasi krisis di bawah sana. "S-Sudah, Pak. Saya sendiri yang menelepon manajer fasilitas di Gianyar dan mengawasi pemasangan unit AC baru serta air purifier berkapasitas tinggi di kamarnya satu hari sebelum Nona Kanaya tiba di sana."

​"Bagus," Juna menghela napas panjang, lalu ia akhirnya memutar tubuhnya menghadap Riko.

​Dalam sepersekian detik, seluruh kelemahan, kesedihan, dan kerentanan yang tadi menyelimuti sosoknya menguap tanpa sisa. Wajahnya kembali membeku menjadi topeng granit yang sempurna, sebuah mahakarya dari disiplin emosional yang kejam. Tidak ada satu pun otot di wajahnya yang menunjukkan bahwa pria ini baru saja menangisi wanita lain beberapa detik yang lalu. Ia merapikan ujung dasi sutranya dengan gerakan yang sangat terkalkulasi, memastikan simpul Windsor-nya tetap berada tepat di tengah kerah kemejanya—sebuah simpul elegan yang kini terasa mengikat lehernya sendiri seperti seutas tali gantung bagi jiwanya.

​"Baiklah, Riko," ucap Juna, suaranya kini kembali tajam, dingin, dan penuh dengan aura dominasi yang absolut. "Mari kita turun ke bawah dan selesaikan pertunjukan komedi putar yang murah ini."

​Malam harinya di pulau Bali yang eksotis, sementara jutaan orang sedang menikmati liburan mereka di bar dan pantai yang ramai, Kanaya Larasati kembali ke kamar mess-nya dengan kondisi tubuh yang nyaris remuk redam. Punggung bagian bawahnya terasa kaku dan berdenyut nyeri akibat membungkuk terlalu lama memeriksa cetak biru di atas meja kerja yang tidak ergonomis. Ujung-ujung jari tangannya perih dan kemerahan karena gesekan debu batu dan memegang alat ukur presisi berbahan logam sepanjang hari.

​Ia menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas kasur busa tipis yang alasnya terasa keras menyiksa tulang punggungnya. Ia menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas, hanya diterangi oleh pendaran lampu neon redup di tengah ruangan yang sesekali berkedip-kedip tak beraturan, diiringi oleh suara jangkrik yang bersahut-sahutan dari arah sawah di luar jendela.

​Dengan tangan yang enggan, ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja kecil di samping tempat tidur. Begitu ia membuka layar kunci, hal pertama yang muncul adalah notifikasi push dari laman berita utama ekonomi nasional. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan foto resolusi tinggi dari Arjuna Dirgantara yang sedang menggenggam erat tangan Aline Wijaya di depan puluhan mikrofon wartawan dan kilatan lampu blitz kamera.

​Dalam foto itu, Juna terlihat sangat tampan, sangat berkuasa, sangat tidak tersentuh, dan sangat... jauh. Sorot mata Juna di foto itu menatap lurus ke arah lensa kamera, tidak memancarkan kehangatan sedikit pun, namun memancarkan sebuah ketegasan yang menyatakan bahwa ia adalah pemilik sah dari kerajaan bisnis yang tak terkalahkan ini.

​'Dia sudah benar-benar melakukannya,' batin Naya, merasakan gelombang kehampaan yang luar biasa dingin menyebar dengan cepat meracuni setiap sudut di rongga dadanya, membuat napasnya tertahan di tenggorokan. 'Dia sudah menyerahkan dirinya sepenuhnya pada sistem korporat yang tak berjiwa itu. Dia sudah memilih jalannya, memilih kekuasaan, dan membuang idealismenya. Dan aku... aku hanyalah sisa-sisa reruntuhan dari perang psikologis yang ia menangkan untuk dirinya sendiri.'

​Naya mematikan layar ponselnya dengan satu gerakan kasar, melempar benda pipih itu ke ujung tempat tidur. Ia tidak ingin melihat senyum Aline yang dipoles dengan rasa kemenangan absolut. Ia tidak sanggup lagi melihat mata hitam Juna yang menatap kamera dengan kekosongan yang mematikan hatinya perlahan-lahan.

​Kamar itu kembali temaram. Naya merogoh saku kemeja flanelnya yang masih ia kenakan, dan mengeluarkan senter teknis premium pemberian Juna tempo hari. Benda logam itu terasa hangat karena suhu tubuhnya. Ia menyalakan senter itu, menyorotkan berkas cahaya LED putihnya yang sangat tajam ke arah dinding kamar mess yang kusam dan lembap di seberangnya. Cahaya itu begitu terang, begitu telanjang, hingga memperlihatkan dengan jelas setiap retakan-retakan kecil layaknya jaring laba-laba yang menjalar di plesteran dinding tersebut.

​"Retakan..." gumam Naya dengan suara serak yang memecah keheningan malam.

​Tiba-tiba, ingatannya terlempar kembali ke sebuah momen di dalam kabin pesawat Airbus saat mereka kembali dari Bali tempo hari. Ia teringat penjelasan Juna yang sangat presisi tentang hukum fisika aero-elasticity—tentang bagaimana sayap pesawat dirancang sedemikian rupa untuk melengkung secara ekstrem saat menghadapi turbulensi badai yang hebat, bukan karena materialnya lemah, melainkan justru agar sayap itu tidak patah dan hancur di udara.

​Mata Naya terbelalak saat sebuah pencerahan yang menyakitkan menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong. Ia menyadari satu hal yang selama ini luput dari pandangannya yang tertutup oleh kemarahan.

​Arjuna sedang tidak menyerah pada sistem. Arjuna sedang tidak menjadi pengecut. Sebaliknya, Juna sedang mempraktikkan hukum fisika itu dalam hidupnya. Pria itu sedang sengaja melengkungkan dirinya sendiri hingga mencapai batas maksimal toleransinya. Juna sedang membiarkan dirinya dihantam habis-habisan oleh badai ekspektasi dan kekejaman ayahnya, membiarkan reputasinya dicemooh oleh Naya, membiarkan dirinya terikat dalam pertunangan tanpa cinta, hanya agar satu tujuan tercapai: agar fondasi hidup Kanaya dan keluarganya tidak hancur dan patah berkeping-keping.

​'Kau adalah pilar pualam yang paling kuat sekaligus yang paling rapuh yang pernah kukenal, Arjuna Dirgantara,' bisik Naya pada kegelapan malam, air matanya kini mengalir deras tanpa bisa ia cegah lagi. Ia memeluk lututnya, menangis dalam sunyi. 'Dan aku sangat membencimu... aku sangat membencimu karena aku mulai mengerti arti dari pengorbananmu yang beracun ini. Aku membencimu karena kau memaksaku untuk mencintaimu di saat aku tidak bisa memilikimu.'

​Di tengah sunyinya malam di Kabupaten Gianyar, dengan ditemani suara mesin pabrik yang masih sayup-sayup terdengar dari kejauhan, Kanaya Larasati akhirnya memejamkan mata. Ia membiarkan dirinya perlahan-lahan tertidur dalam simfoni debu dan kesunyian yang mengelilinginya. Di titik ini, ia menyadari dengan kepasrahan total bahwa Fase 2 dalam hidupnya telah berakhir dengan sebuah kekalahan emosional yang paling manis sekaligus paling pahit yang bisa dialami oleh seorang wanita: ia telah sepenuhnya kehilangan hak dan kemampuannya untuk membenci pria yang paling ia cintai di dunia ini.

​Fase 3 secara resmi dimulai. Di bawah langit pulau Bali yang mistis dan penuh misteri, takdir seolah mulai tersenyum sinis, merajut ulang benang-benang paradoks yang sempat terputus di antara dua hati yang keras kepala itu. Mereka berdua dipisahkan oleh jarak fisik ribuan kilometer dan ikatan pertunangan palsu, namun tanpa mereka sadari, jiwa mereka sedang disatukan lebih kuat dari sebelumnya oleh satu mahakarya pualam yang sama.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak dengan teknik slow-motion yang sangat dramatis dan lambat, menyusuri sebuah lorong luar ruangan di sebuah hotel resor mewah bergaya tropis di kawasan Nusa Dua, Bali. Suara alunan alat musik gamelan yang mistis dan menghipnotis terdengar sayup-sayup mengalun dari kejauhan, berpadu harmonis dengan suara ritmis angin malam laut yang mendesir lembut menyapu dedaunan pohon palem raksasa.

​Lima tahun yang lalu. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari.

​Arjuna Dirgantara, yang saat itu baru berusia dua puluh tiga tahun, duduk sendirian di tepi lantai kayu ulin sebuah dek pantai resor yang sepi—tempat yang sama persis di mana, lima tahun kemudian di masa depan, ia akan kehilangan kendali atas logikanya dan mencium Kanaya dengan penuh gairah di bawah rintik gerimis.

​Juna muda mengenakan kemeja linen berwarna putih bersih yang kancing teratasnya dibiarkan terbuka, menampilkan lehernya yang jenjang. Wajahnya tampak jauh lebih muda, garis rahangnya belum sekeras saat ini, namun sepasang mata hitamnya sudah dihiasi oleh bayangan kedinginan dan kehampaan yang mulai berurat akar secara permanen.

​Di tangannya, ia memegang erat sebuah buku sketsa bersampul kulit tua yang merupakan peninggalan terakhir milik almarhumah ibunya—buku sketsa yang belum sempat ibunya selesaikan sebelum meninggal dunia. Lembaran-lembaran kertas di dalamnya penuh dengan gambar-gambar tangan tentang tekstur marmer kasar dan eksplorasi pencahayaan yang hangat.

​Tiba-tiba, seorang pelayan hotel senior berpakaian adat Bali datang menghampiri dengan sopan, membawakan nampan berisi segelas air mineral dingin.

​"Maaf mengganggu, Tuan Dirgantara muda," sapa pelayan itu dengan ramah, memberikan gelas tersebut. "Kenapa Anda sendirian di kegelapan ini dan lebih suka menatap tumpukan batu-batu mentah di sana, daripada bergabung minum sampanye di pesta perayaan pernikahan megah kakak Anda di dalam aula utama?"

​Juna muda tidak segera menjawab. Ia menoleh perlahan dan menatap lurus ke arah sebuah blok batu marmer raksasa yang masih mentah dan belum dipoles, yang tergeletak di tepi taman resor sedang menunggu giliran untuk dipasang oleh para pekerja keesokan paginya.

​"Karena batu ini jauh lebih jujur daripada manusia-manusia di dalam aula sana, Bli," ucap Juna muda dengan suara baritonnya yang tenang, namun terdengar sangat haus akan sesuatu yang murni dan nyata dalam hidupnya. "Batu ini tidak pernah mencoba memaksakan sebuah senyuman palsu hanya untuk menutupi retakan di dalam tubuhnya. Batu ini membiarkan seluruh dunia melihat dengan jelas setiap urat kelemahannya, setiap cacat yang ia miliki... namun ia tetap memiliki keberanian untuk berdiri tegak menahan beban atap yang menindihnya."

​Juna muda mengulurkan tangan kanannya perlahan, menyentuh permukaan batu marmer yang kasar dan dingin itu. Kamera melakukan close-up ekstrim pada jari-jari panjang Juna yang terlihat bergetar sangat halus saat bersentuhan dengan tekstur batu tersebut.

​"Suatu hari nanti," bisik Juna muda pada angin laut yang menyapu wajahnya, sebuah janji yang ia ikrarkan pada dirinya sendiri dan pada arwah ibunya. "Aku akan membangun sebuah mahakarya. Sebuah tempat di mana orang-orang tidak perlu lagi merasa takut dan berpura-pura menjadi sempurna. Sebuah tempat megah yang terbuat dari pualam yang jujur dan kuat, agar tidak ada lagi hati rapuh yang harus hancur berkeping-keping karena pengabaian dan kekejaman."

​Kamera melakukan zoom out secara perlahan dan terus meninggi, memperlihatkan sosok Juna yang terlihat sangat kecil, kesepian, dan terisolasi di tengah kemegahan gemerlap resor bintang lima tersebut—sebuah gambaran visual yang menyedihkan tentang lahirnya sebuah obsesi besar terhadap proyek Grand Azure. Sebuah monumen raksasa yang ia cita-citakan bukan untuk meraup uang atau menambah kekayaan Dirgantara Group, melainkan sebagai sebuah batu nisan megah bagi kejujuran yang tidak pernah ia temukan dalam keluarganya sendiri.

​Setidaknya... obsesi itu terus menjadi rahasianya yang paling kelam, hingga lima tahun kemudian ia bertemu dengan seorang desainer junior keras kepala dengan seleret debu semen di pipinya yang bernama Kanaya Larasati, yang secara paksa membongkar nisan tersebut dan memaksa hatinya untuk berdetak kembali.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!