NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kota Avalon

Terjebak Di Kota Avalon

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13.Kutukan yang mulai bekerja.

Kesadaran Lae ria kembali perlahan. Rasa berat dan pusing masih menyelimuti kepalanya, namun yang paling terasa adalah rasa ngilu yang tertahan di bagian kaki kanannya. Ia membuka matanya perlahan, mendapati dirinya sudah berada di kamar tidurnya yang mewah dan hangat. Langit-langit kamar yang dihiasi lukisan bintang-bintang emas terlihat samar oleh matanya yang masih sayu.

Ia menunduk, melihat kakinya.

Kaki kanannya tidak lagi berdarah, namun kini terbalut rapat oleh perban tebal dan diperkuat dengan belat kayu yang kokoh. Kakinya patah. Tulang pergelangan kakinya retak parah akibat hantaman benda berat dan pendarahan yang sempat terjadi.

Namun, yang membuat Lae ria dan seluruh keluarganya merasa ngeri bukanlah karena lukanya, melainkan karena apa yang terjadi setelahnya.

"Kenapa... kenapa belum sembuh?" gumam Lae ria pelan, suaranya serak. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, rasanya kaku dan sakit sekali.

Selama ini, sebagai penyihir Bumi yang jenius, luka sekecil apa pun bahkan patah tulang biasa bisa ia sembuhkan hanya dalam hitungan menit atau jam dengan sihir penyembuhannya. Tapi kali ini berbeda.

Sejak tadi pagi, tabib istana dan penyihir penyembuh terbaik yang dipanggil keluarga sudah mencoba segalanya. Mereka menuangkan energi sihir putih, ramuan penyembuh, hingga mantra tingkat tinggi. Namun hasilnya nol besar. Lukanya hanya berhenti berdarah, tapi tulangnya tidak menyatu, lukanya tidak menutup dengan sempurna. Energi sihir seolah ditolak oleh tubuhnya sendiri, atau ada penghalang tak kasat mata yang mencegah kesembuhan itu terjadi.

Ia harus menyembuhkan luka ini seperti manusia biasa tanpa kekuatan. Butuh waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa berjalan normal kembali.

"Kutukan itu..." suara berat Lord Valde mar terdengar dari sudut ruangan. Pria itu duduk lemas di kursi, wajahnya pucat dan matanya merah karena kurang tidur. "Kutukan Pangeran Ka el sudah mulai bekerja, Lae ria. Bahkan sebelum kalian menikah, bahkan sebelum kalian bertunangan resmi..."

Lady Seraphina menangis tersedu-sedu di samping tempat tidur putrinya, memegang tangan Lae ria dengan erat. "Benar kata mereka... Siapa saja yang ditakdirkan menjadi miliknya, akan mulai mengalami kemalangan. Sihir mereka akan melemah, nasib buruk akan terus mengikuti, dan tubuh mereka menjadi rapuh seperti manusia biasa yang tak berdaya. Oh Tuhan, anakku..."

Kata-kata orang tuanya itu seharusnya membuat Lae ria ketakutan, seharusnya membuatnya sadar dan mundur teratur. Namun, kepala Lae ria justru dipenuhi dengan pemikiran yang berbeda. Egonya tidak mau kalah.

"Aku tidak percaya itu kutukan, Bu!" bantah Lae ria dengan tegas, meski suaranya masih lemah. "Itu hanya kecelakaan! Hanya kebetulan! Kalau memang kutukan, kenapa aku masih hidup? Kenapa aku tidak mati tertimpa kayu itu?"

"Karena kau kuat, Lae ria! Tapi berapa lama kau bisa bertahan?!" potong ayahnya dengan nada tinggi namun penuh keputusasaan. "Lihat dirimu! Kaki patah dan sihir tidak mempan! Apa ini yang kau sebut kehormatan?! Apa ini yang kau sebut cinta?!"

"Ayah!" Lae ria membalas tatapan ayahnya, matanya menyala meski wajahnya pucat. "Pangeran Ka el memilihku! Dia melihatku di antara ratusan wanita! Itu artinya dia tertarik padaku! Itu artinya dia menyukaiku! Kalau dia tidak punya perasaan, kenapa harus repot-repot memilihku?! Dia pasti berbeda denganku! Aku yakin dia akan melindungiku!"

"Kau buta, Lae ria! Kau buta oleh ambisi dan gelar!" Lord Valde mar berdiri, napasnya memburu. "Dia tidak memilihmu karena suka! Dia memilihmu karena kau kuat! Dia ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan sebelum hancur! Itu permainan mengerikan monster itu!"

Pertengkaran dan perdebatan terus terjadi di kamar itu. Orang tuanya berusaha membuka mata Lae ria, sementara Lae ria dengan keras kepala tetap mempertahankan pendiriannya. Ia yakin, tatapan Ka el saat memilihnya bukan tatapan kebencian atau ingin membunuh, melainkan tataran ketertarikan. Ia yakin bisa mengubah pria itu.

Namun, keyakinan itu mulai sedikit terguncang hari demi hari.

Selama masa pemulihannya, hal-hal aneh terus terjadi.

Suatu hari, lampu kristal di kamarnya tiba-tiba jatuh dan pecah tepat di samping kepalanya saat ia tidur siang. Di hari lain, makanannya ternyata tercampur racun ringan yang tidak sengaja tercium oleh pelayan. Bahkan saat ia mencoba duduk di balkon, tiang penyangganya hampir ambruk.

Setiap kejadian nyaris merenggut nyawanya, namun entah keberuntungan atau karena ia waspada, nyawanya selalu selamat. Tapi rasa takut itu mulai merayap masuk. Setiap suara berisik membuatnya kaget, setiap bayangan membuatnya bergidik. Ia merasa seperti ada yang terus mengawasi dan ingin membunuhnya perlahan.

Kabar buruk semakin memperparah situasi. Dari mulut ke mulut keluarga bangsawan lain, terdengar cerita mengerikan. Ternyata, ketiga istri Pangeran Ka el sebelumnya juga mengalami hal yang sama persis saat mereka ditunjuk menjadi calon istri.

Mereka mengalami kecelakaan aneh, penyakit misterius yang tidak bisa disembuhkan sihir, dan rasa teror yang terus menerus. Itu adalah tanda-tanda awal dari "Takdir Kematian" sang Pangeran Bintang Kesepian.

Mendengar itu, seluruh keluarga Star born gemetar ketakutan. Mereka yakin, jika Lae ria tetap dipaksa menikah dengan Ka el, maka kematian hanyalah masalah waktu.

Beberapa hari kemudian, rapat keluarga darurat digelar di ruang kerja tertutup. Suasana sangat tegang. Semua tetua dan pemimpin klan berkumpul untuk menentukan nasib Lae ria dan nasib keluarga Star born.

"Kita tidak bisa membiarkan Lae ria menikah," kata salah satu paman Lae ria dengan wajah serius. "Itu sama saja mengirimnya ke liang kubur. Kita akan kehilangan bintang keluarga kita."

"Tapi bagaimana menolak perintah Raja? Itu penghinaan terhadap kerajaan!" sahut yang lain.

"Kita punya pilihan lain..." Paman Lae ria, Lord Ka elen, tiba-tiba bersuara. Ia menatap sekeliling dengan tatapan tajam. "Putra Mahkota hanya meminta putri keluarga Star born. Dia tidak menyebutkan nama spesifik siapa pun dalam titahnya."

Lord Valde mar dan Lady Seraphina menatap saudara ipar mereka itu dengan bingung. "Maksudmu?"

"Maksudku..." Lord Ka elen menarik napas panjang. "Kita punya satu lagi putri Star born. Luna ria."

Sebutan nama itu membuat ruangan menjadi hening total. Udara terasa membeku.

"Luna ria?!" Lady Seraphina terkejut. "Tapi... tapi dia... dia tidak punya sihir! Dia aib keluarga! Lagipula, dia ada di villa terpencil! Kita sudah mengasingkannya bertahun-tahun!"

"Justru karena itulah!" potong Lord Ka elen cepat. "Dia tidak punya sihir, jadi dia tidak punya apa-apa yang bisa dirusak oleh kutukan itu! Tubuhnya memang sudah lemah seperti manusia biasa sejak lahir! Kalau dia yang menikah, tidak ada yang hilang dari keluarga kita! Lagipula, siapa yang peduli dengan gadis tak berguna itu? Biarkan dia yang menggantikan posisi Lae ria!"

"Jangan! Itu kejam!" Lord Valde mar membantah, meski suaranya mulai goyah. "Dia anak kami juga. Walaupun kami membuangnya, walaupun kami mengabaikannya... tapi menyuruhnya menggantikan Lae ria untuk mati... itu..."

"Kita punya pilihan apa selain itu, Kakak?!" seru Lord Ka elen. "Antara menyelamatkan permata keluarga kita, Lae ria, atau mengorbankan sebutir batu yang tidak berharga! Pangeran Ka el butuh istri, bukan penyihir! Biarkan Luna ria yang pergi! Biarkan dia yang menjadi Ratu, atau biarkan dia yang menghadapi takdirnya! Setidaknya dengan begitu, keluarga kita selamat dari murka kerajaan!"

Argumen itu masuk akal, namun sangat kejam.

Orang tua Lae ria bimbang. Hati mereka tercabik. Rasa bersalah karena selama ini memperlakukan Luna ria dengan buruk, menganggapnya cacat, kini bertemu dengan rasa cinta yang mendalam terhadap Lae ria yang ingin mereka selamatkan.

"Tapi... Luna ria pasti akan membenci kita..." bisik Lady Seraphina. "Kita sudah menyiksanya dengan kesepian, sekarang kita ingin mengirimnya ke mulut harimau..."

"Untuk kebaikan yang lebih besar, Sera..." Lord Valde mar memejamkan matanya, air mata menetes dari sudut matanya. "Maafkan kami, Luna ria... Hanya kau yang bisa menyelamatkan kakakmu..."

Mereka setuju. Rencana itu disepakati dengan berat hati. Mereka akan menjemput Luna ria, dan memintanya—atau memaksanya—untuk menggantikan posisi Lae ria sebagai calon istri Pangeran Ka el drago mir.

Namun, mereka tidak sadar. Pintu ruangan kerja itu tidak tertutup rapat.

Di balik pinta kayu yang tebal itu, Lae ria berdiri. Kakinya masih diperban dan ia menggunakan tongkat untuk berjalan, namun ia menyelinap keluar dari kamarnya karena penasaran dengan suara keributan itu.

Dan ia mendengar semuanya.

Dari awal sampai akhir.

Telinganya mendengarkan bagaimana pamannya mengusulkan nama Luna ria. Bagaimana orang tuanya ragu, namun akhirnya setuju untuk mengorbankan adiknya sendiri demi menyelamatkan nyawanya.

Wajah Lae ria pucat pasi. Tangannya gemetar memegang tongkat penyangga.

"Mereka... mereka ingin menggantikanku dengan Luna ria?" bisik Lae ria tak percaya. "Gadis cacat itu? Gadis yang tidak bisa apa-apa itu? Mereka rela menyerahkan posisi Ratu, posisi yang seharusnya milikku, kepada gadis sampah itu hanya supaya aku selamat?"

Rasa terima kasih seharusnya muncul karena orang tuanya sangat menyayanginya hingga berani melakukan dosa besar seperti itu. Tapi tidak pada Lae ria.

Yang muncul justru amarah dan rasa tidak terima yang membara.

"Tidak! Tidak boleh!" batin Lae ria menjerit. "Posisi itu milikku! Pangeran Ka el memilihku! Dia menyukaiku! Kalau Luna ria yang pergi, berarti aku kalah! Berarti aku yang lemah! Dan Pangeran Ka el..."

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Lae ria mengepal tangannya kuat-kuat. "Aku akan membuktikan kalau aku kuat! Aku akan menemui Pangeran Ka el sekarang juga! Aku akan memastikan perasaannya padaku! Dan aku akan bilang padanya, rencana keluarga kupada pangeran."

Dengan tekad membara yang mengalahkan rasa sakit di kakinya, Lae ria berbalik perlahan dan berjalan meninggalkan pintu itu.

Keesokan harinya, kondisi kaki Lae ria sudah sedikit membaik meski masih harus diperban. Ia tidak menunggu izin orang tuanya. Ia tidak menunggu mereka pergi menjemput Luna ria.

Saat seluruh keluarga sibuk bersiap dan berdiskusi bagaimana cara menjemput Luna ria dengan halus, Lae ria menyelinap keluar. Ia memaksa diri naik kereta kencan pribadinya dan menyuruh kusir membawanya langsung menuju Istana Kerajaan Avalon.

"Nonalah, tapi kaki Nona masih sakit..." cemas pelayan pribadinya.

"Diam saja dan jalan! Aku punya urusan penting dengan Putra Mahkota!" bentak Lae ria. Matanya penuh dengan semangat dan juga ketakutan yang disembunyikan.

Perjalanan menuju istana terasa begitu panjang. Namun akhirnya, kereta kencana berhenti di depan gerbang utama istana yang megah dan mengintimidasi.

Lae ria turun dengan bantuan tongkat, berjalan tertatih-tatih namun dengan kepala yang tetap diangkat tinggi. Ia memaksakan tampilan anggun meski wajahnya pucat.

"Aku Nona Lae ria Star born, calon istri Pangeran Ka el! Aku ingin bertemu dengannya sekarang!" ucapnya dengan suara tegas kepada para pengawal istana.

Mendengar nama itu dan statusnya, para pengawal tidak berani menahan. Mereka tahu gadis ini adalah wanita yang dipilih tuannya. Meski heran melihat kondisi kakinya yang terluka, mereka tetap mengantarnya menuju menara pribadi Pangeran Ka el.

Tempat yang sama di mana Ka el melihatnya melalui bola kristal tempo hari.

Lae ria berjalan menyusuri koridor yang dingin dan sunyi. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut, gugup, dan harapan.

Akhirnya, ia tiba di depan pintu besar yang terbuat dari besi hitam ukirannya naga.

"Yang Mulia Pangeran Ka el..." panggil Lae ria pelan namun jelas. "Ini aku, Lae ria Star born. Aku datang menemui Mu..."

Pintu itu perlahan terbuka dengan sendirinya, atau mungkin dibuka dari dalam oleh sihir.

Suasana di dalam ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya matahari yang masuk dari jendela tinggi dan cahaya dari bola kristal besar yang melayang di tengah ruangan.

Dan di sana, di atas singgasana kulit naga itu, duduk sosok yang sangat ia rindukan dan takuti.

Ka el drago mir.

Pria itu tidak bergerak. Ia tetap duduk santai dengan satu kaki disilangkan, wajahnya dingin tanpa ekspresi, menatap kedatangan Lae ria dengan mata merah yang tajam.

Lae ria menelan ludah, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia melangkah masuk, meski kakinya terasa ngilu. Ia harus memastikan segalanya hari ini.

"Yang Mulia..." Lae ria mencoba tersenyum manis, menahan rasa sakit. "Aku datang... karena aku tidak sabar ingin melihat Mu. Dan juga... aku ingin memberitahu Mu sesuatu yang penting..."

Ka el masih diam. Tatapannya tajam menelusuri wajah Lae ria, lalu turun ke kaki yang diperban dan tongkat yang dipegangnya. Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum miring yang sulit dimengerti. Senyum yang dingin dan penuh teka-teki.

"Oh?" suara berat Ka el terdengar, memecah keheningan. "Akhirnya kita bertemu lagi"

“Lagi”gumamnya pelan. “Maaf pangeran, kapan kita bertemu. Seingatku ini pertemuan pertama kita. ”ucap Lae ria yang tertunduk.

Ka el langsung berdiri dalam sekejap saja dirinya sudah berpindah tepat didepan Lae ria, dan tiba-tiba saja Ka el mencekik leher sehingga mereka berdua saling menatap.

Suasana disekitar mereka terasa mencekam, Lae ria kesakitan sambil menatap Ka el. Ka el seperti sedang mengamati Lae ria dengan teliti.

1
Frida
kerennnnnnn
Frida
sukaaaaaa.... deg2 an bacanya seruuuuu, belum lagi ditambah adegan romantis 17 thn ke atas...lemgkap sudah...😍😍😍😍
Frida
seru, ada romantisnya juga..buat deg2 an yg baca dan senyum2 sendiri.... kelanjutannya segera up banyak2 dong author please....😍👍
Kusii Yaati
mau seburuk apa riasan mu luna itu tak akan mempan buat pangeran KA El karena dia sudah pernah lihat wajahmu... tapi tidak apa" yang penting sakit hatimu sudah kau balas dengan mempermalukan wajah ayahmu yg kejam itu.semangat Thor nanti up lagi ya Thor 😁💪😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😁😁😁
Kusii Yaati
wah Luna ria hebat, walau tidak punya sihir tapi tubuhnya kebal akan serangan sihir 😱
Kusii Yaati
up lagi Thor yg banyak... penasaran gimana reaksi keluarga Luna ria melihat putri yang di buang menjadi Badas dan kuat 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor seru nih ceritanya 💪💪💪😘😘😘
Rubiyata Gimba
sepertinya ceritanya bagus thor abdit cepat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!