WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Love Language-nya Transferan: Ketika Gengsi Kalah Sama Sayang
...🌹🌹🌹...
Pagi ini, suasana di penthouse Arkeas InjitAsmo terasa sedikit berbeda. Tidak ada lagi aksi "silent treatment" yang mencekam. Sebagai gantinya, ada suasana canggung yang sangat baperable menyelimuti meja makan.
Arkeas duduk dengan tablet di tangan, tapi matanya sesekali melirik Zolla yang sedang sibuk menyiapkan roti bakar. Zolla tampak lebih diam dari biasanya, bukan karena marah, tapi karena dia masih memproses kejadian "pengakuan tidak langsung" Arkeas di mobil kemarin.
"Zol," panggil Arkeas, suaranya sengaja dibuat seformal mungkin.
"Iya, Mas?" Zolla menoleh, rambutnya dikuncir kuda asal-asalan, memperlihatkan lehernya yang mulus—pemandangan yang membuat Arkeas harus berdehem berkali-kali untuk menetralkan detak jantungnya.
"Cek ponsel kamu. Ada notifikasi masuk," ucap Arkeas, kembali menatap layar tabletnya seolah-olah sedang meninjau laporan bursa saham Wall Street.
Zolla merogoh saku daster rumahnnya. Begitu layar ponselnya menyala, matanya hampir keluar dari tempatnya.
[BANK INJIT-INFO] Transfer Masuk: Rp 10.000.000,- dari ARKEAS I.A. Pesan: Bonus Kesabaran & Kuota.
"MAS ARKEAS! Ini maksudnya apa?! Mas mau beli ginjal saya?!" pekik Zolla, suaranya sampai melengking di ruang tengah.
Arkeas tidak berkedip. Ia menyesap kopinya dengan gaya yang sangat cool. "Itu bonus karena kamu sudah sabar menghadapi 'hantu' di ponsel kamu kemarin. Dan itu modal supaya kamu nggak perlu cari 'gratisan' atau 'proyekan' dari fotografer nggak jelas lagi. Anggap saja itu biaya maintenance asisten pribadi saya."
Zolla berjalan menghampiri Arkeas, berkacak pinggang di depannya. "Mas, ini kebanyakan! Gaji saya aja nggak segini! Mas beneran mau nyogok saya supaya nggak marah soal Kak Genta ya?"
Arkeas meletakkan tabletnya, lalu menarik tangan Zolla hingga gadis itu berdiri di antara kedua kakinya. Arkeas menunduk, mensejajarkan wajahnya. "Zollana, bagi saya, sepuluh juta itu cuma harga satu botol ekstrak parfum langka. Tapi bagi saya, kenyamanan kamu di rumah ini... nggak ada harganya. Pakai uang itu buat beli skincare yang mahal, jangan yang gambar macan lagi. Paham?"
Zolla terdiam. Love language Mas Arkeas ternyata memang bukan kata-kata manis, melainkan transferan dan proteksi yang ugal-ugalan. "Dasar... Mas-mas kaya sombong."
...🌹🌹🌹...
Karena Arkeas merasa bersalah (meski tidak mau mengaku), dia memutuskan untuk pulang kantor lebih awal. Pukul tiga sore, dia sudah sampai di rumah, membawa sebuah kotak besar.
"Mas? Kok sudah pulang? Alisya baru aja mau mandi," Zolla menyambutnya dengan handuk kecil di bahu.
"Kita nggak mandi di sini. Kita ke kolam renang di lantai atas. Saya sudah pesan area privat," jawab Arkeas singkat.
"Lantai atas? Kolam renang infinity yang itu? Mas, saya nggak punya baju renang yang... estetik!"
"Sudah saya belikan. Di dalam kotak itu," Arkeas menunjuk kotak besar yang tadi dibawanya.
Zolla membuka kotak itu dengan antusias. Isinya bukan bikini atau baju renang seksi yang biasa ada di film-film. Melainkan sebuah baju renang muslimah modest warna hitam pekat dengan potongan yang sangat sopan tapi tetap terlihat sangat mahal dan elegan.
"Mas... ini tertutup banget? Mas beneran takut saya masuk angin apa takut saya dilihat orang?" goda Zolla sambil mengangkat baju renang itu.
Arkeas berbalik badan, menyembunyikan senyum miringnya. "Dua-duanya. Sekarang cepat ganti. Alisya sudah saya siapkan pelampung lehernya."
...🌹🌹🌹...
Area kolam renang lantai atas penthouse itu sangat sunyi. Hanya ada mereka bertiga. Alisya sedang asyik menepuk-nepuk air di kolam dangkal dengan pelampung stroberinya, sementara Zolla duduk di pinggir kolam, kakinya terendam air.
Arkeas keluar dari ruang ganti hanya dengan celana renang pendek. Tubuh atletisnya terpapar sinar matahari sore, memperlihatkan otot dada dan perut yang sangat defined. Zolla langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk memperhatikan Alisya.
"Mas... kenapa nggak pakai baju? Nanti masuk angin loh," cicit Zolla, wajahnya sudah semerah tomat.
"Zol, ini kolam renang, bukan pengajian," Arkeas terkekeh rendah. Ia masuk ke air, lalu berenang mendekat ke arah Zolla. Ia bertumpu pada pinggiran kolam tepat di depan lutut Zolla. "Kenapa nggak masuk? Takut air?"
"Enggak... cuma... airnya dingin," bohong Zolla. Sebenarnya dia cuma takut jantungnya copot kalau berada terlalu dekat dengan Arkeas di dalam air.
Arkeas tiba-tiba meraih pergelangan kaki Zolla, menariknya pelan hingga Zolla meluncur masuk ke dalam air.
"AAAH! MAS ARKEAS JAHAT!" teriak Zolla saat tubuhnya terendam air.
Tapi sebelum Zolla sempat protes lebih jauh, Arkeas sudah menangkap pinggangnya. Mereka berada di area yang cukup dalam sehingga Zolla harus berpegangan pada bahu kokoh Arkeas agar tetap stabil.
Jarak mereka kembali hilang. Napas Arkeas yang hangat terasa di kening Zolla. Air kolam yang dingin tidak mampu mendinginkan suasana yang mendadak jadi sangat panas dan penuh tension.
"Mas... lepasin... nanti Alisya lihat," bisik Zolla, suaranya gemetar.
"Alisya lagi sibuk sama bebek karetnya, Zol," Arkeas mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Kamu tahu nggak? Di bawah sinar matahari kayak gini, mata kamu kelihatan lebih cantik daripada parfum paling mahal yang pernah saya buat."
Zolla merasa dunianya berhenti berputar. Arkeas si kaku, Arkeas si sombong, baru saja mengeluarkan gombalan level pro. "Mas... Mas beneran glitch ya hari ini?"
"Mungkin. Tapi saya suka error yang ini," jawab Arkeas, lalu ia mencium kening Zolla lama, sangat lama, sebelum akhirnya ia membisikkan sesuatu di telinga Zolla. "Jangan pernah berpikir buat pergi ke galeri foto manapun lagi. Pemandangan terbaik di dunia ini... ada di depan mata saya sekarang."
...🌹🌹🌹...
Malam harinya, setelah lelah berenang, mereka bertiga makan malam di depan TV. Alisya tertidur di pangkuan Arkeas yang masih memakai kaos santai. Zolla duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu Arkeas.
"Mas..."
"Hmm?"
"Makasih ya buat transferannya. Tapi jujur, saya lebih suka diajak renang bareng kayak tadi daripada dapet duit sepuluh juta," ucap Zolla tulus.
Arkeas mengusap rambut Zolla pelan. "Ya sudah. Besok saya transfer lagi sepuluh juta, dan kita renang lagi. Gimana?"
"Ihh! Matre banget sih Mas Arkeas!" Zolla mencubit perut Arkeas gemas.
Arkeas tertawa—tawa lepas yang benar-benar tulus. Di balik dinding kacanya yang mewah, sang CEO tersadar bahwa kebahagiaan sejati ternyata bukan soal berapa banyak botol parfum yang terjual, tapi soal siapa yang ada di sampingnya saat hari berakhir.
...
(Bersambung ke Episode 18...)