Mesha tidak pernah menyangka, bahwa beberapa kali menikah, berkali-kali pula ia menjadi janda, karena semua suaminya, meninggal saat malam pertama. Semua ia jalankan demi menuruti keinginan orang tuanya.
Orang tuanya tidak memikirkan bagaimana perasaan Mesha. Yang mereka inginkan, Mesha harus membuktikan bahwa ia bukan perawan tua yang tidak laku-laku.
Namun, karena beberapa pernikahannya yang gagal, secara misterius, malah membuat ia semakin dipandang bagai monster.
Apakah ini sebuah kesialan? Atau kutukan? Bagaimana kehidupan Mesha selanjutnya?
Adakah yang bisa mengubah nasibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Sebuah Rasa Yang Lain.
Sakha seperti tidak pernah menyadari, bahwa ternyata, mata elangnya selalu mengawasi gerak-gerik gadis yang baru beberapa hari menjadi rekan kerjanya itu. Semakin memandang, rasa nyaman dan pesona gadis itu terus menggoda pria muda tersebut.
"Hayoo! Lihatin apa?" Seorang laki-laki menepuk pundak Sakha dari belakang. Kemudian ia menoleh.
"Nggak kok, nggak lihatin apa-apa," jawab Sakha sambil melengos.
Laki-laki yang duduk di hadapannya tersenyum setelah menelusuri sesuatu yang dipandang Sakha dari tadi.
"Hmmm, Mbak Mesha memang cantik kok, Kha." Radit teman sepermainan dan juga teman kantor Sakha, mulai berpendapat tentang pegawai baru di kantor mereka.
"Kalo emang cocok dan pas, pepet terus, Kha! Anakku aja udah mau dua, masa kamu cewek aja nggak punya!" celetuk Radit lagi dengan suara pelan.
"Kamu tuh ngomong opo to, Dit?"
Sakha mulai membolak-balikan berkas di hadapannya lagi untuk menyembunyikan rasa malunya. Radit tersenyum melihat tingkah temannya itu.
***
Mesha bangkit dari kursinya, membawa sebuah map menuju meja Sakha.
"Mas Sakha ..." panggil Mesha saat ia berdiri di samping meja Sakha.
Mendengar suara yang dikenalnya, Sakha buru-buru menolehkan kepala ke sumber suara.
"Ya, ada apa, Mbak?"
Mesha meletakkan sebuah map di meja kerja Sakha, lalu menunjuk sebuah tulisan yang terdapat di sebuah kertas.
"Saya mau lihat data-data awal dari ini, Mas. Ada?"
Sakha mulai membaca tulisan tersebut, lalu terdiam sebentar seperti sedang mengingat sesuatu.
"Ah, iya. Ada! Di ruang arsip, mari saya tunjukkan, Mbak." Sakha berdiri lalu berjalan menuju sebuah ruangan tak jauh dari tempatnya duduk. Mesha mengikuti pria tersebut.
Di dalam ruangan arsip yang tidak terlalu luas, terdapat beberapa rak yang berisi ratusan map. Mata elang Sakha mencari dari sudut ke sudut. Kemudian ia menemukan sebuah map yang dicari. Laki-laki itu kemudian menarik keluar map tersebut dari tempatnya. Namun, karena tarikan yang sedikit lebih kuat, membuat sebuah map ikut tertarik dan jatuh, isinya berhamburan.
Sakha buru-buru jongkok untuk memunguti map yang berserakan, tetapi dalam waktu bersamaan, Mesha juga melakukannya. Sehingga tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Mereka berdua langsung menarik tangan masing-masing.
"Ma—maaf, Mbak Mesha. Saya tidak bermaksud ...."
Sakha menangkap sebuah pemandangan, tangan yang mulus dengan jari-jari yang lentik, serta gelang manik yang melingkar di pergelangan tangan. Jantung pria itu berdegup semakin kencang.
"Nggak apa-apa kok, Mas ... kan yang hampir kena malah panjenengan," sahut Mesha dengan suara khasnya.
Setelah map yang terjatuh tadi dikembalikan ke tempat semula, Sakha memberikan map yang tadi diambilnya kepada Mesha.
"Ini, Mbak. Data-datanya di sini semua," jelas Sakha.
"Terima kasih, Mas Sakha."
Saat Mesha sudah keluar dari ruang arsip, Sakha mengelus dadanya yang rasa-rasanya seperti mau meledak. Ia tersenyum kikuk dengan sesuatu yang dirasakannya sekarang.
"Entah apa yang ada pada perempuan itu, mataku seperti tidak mau lepas darinya. Begitu pun jantungku yang semakin berdetak kencang saat berdekatan dengannya. Apa aku gila?" gumam Sakha.
***
Mesha berdiri di teras kantor kelurahan. Sudah waktunya pulang bekerja, tetapi hujan deras malah mengguyur daerah itu tanpa henti. Dengan memeluk tasnya, perempuan itu memandang curahan hujan yang mengalir dari atap bangunan tersebut.
Sementara itu, Sakha memandang Mesha dari kejauhan. Baginya, perempuan di hadapannya itu dan hujan adalah pemandangan yang menakjubkan. Laki-laki itu tersenyum.
Tiba-tiba terdengar bunyi guruh yang memekakkan telinga, seketika, Mesha berjongkok ketakutan sambil menutup kedua telinganya. Tanpa disadari, Sakha tergopoh-gopoh menghampiri perempuan tersebut.
"Mbak Mesha, masuk saja dulu. Hujan masih deras, bahaya kalau di luar," ucap Sakha.
Mesha mendongakkan kepala melihat laki-laki yang berdiri di sampingnya. Dengan rasa canggung, ia berdiri kembali.
"Ta—tapi, Mas ...."
"Di dalam juga masih banyak teman-teman yang menunggu hujan reda kok, Mbak. Yuk, masuk!"
Pada akhirnya, Mesha menuruti saran dari Sakha. Memang benar, saat perempuan itu masuk kembali ke dalam kantor. Di dalam masih ada beberapa pegawai yang mengobrol.
"Nanti kalo sudah agak terang, saya antar pulang, Mbak. Jangan khawatir," tawar Sakha.
"Jangan, nanti jadi merepotkan ...."
"Nggak kok, nggak repot sama sekali."
"Itu ... mbokyao Mbak Mesha dibuatin minuman gitu lho, Kha. Hujan gini kan enaknya minum yang anget-anget." Suara Radit terdengar seperti meledek Sakha.
"Eh, nggak ... nggak usah, Mas. Terima kasih."
"Jangan sungkan, Mbak Mesha." Sakha berjalan ke arah sebuah meja yang diatasnya terdapat dispenser air dan berbagai macam kopi instan dan teh.
"Saya saja, Mas. Panjenengan mau kopi atau teh?" tawar Mesha.
Setelah dua cangkir kopi hitam diseduh, Mesha memberikan satu cangkir lainnya untuk Sakha. Perlahan laki-laki itu menyeruput kopinya.
"Kok, bisa pas gini?" gumam Sakha.
"Kenapa, Mas?"
"Eh, nggak apa-apa."
Ekspresi wajah Mesha begitu tenang, berbeda dengan Sakha. Ia terlihat seperti salah tingkah, sehingga membuat rekan kerjanya yang lain tersenyum sambil saling berpandangan.
Mesha bergabung dengan yang lainnya ikut mengobrol santai, hingga hujan mulai reda. Kemudian perempuan itu melirik jam dinding di ruangan tersebut.
"Hujan sudah mulai reda dan hari semakin sore, lebih baik saya pamit dulu Mbak, Mas," pamit Mesha dengan sopan.
"Tu—tunggu, saya antar, Mbak." Sakha kembali menawarkan jasanya.
Mesha mengangguk.
Setelah mengambil motornya dari parkiran, Sakha berhenti tepat di depan Mesha berdiri. Dengan isyarat, ia meminta perempuan itu untuk duduk di jok belakang.
Dengan petunjuk Mesha, tak membutuhkan waktu lama, motor buatan negara matahari terbit yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan rumah Mesha.
"Maaf, Mbak. Saya langsung pamit ya," ucap Sakha.
"Ya, Mas. Makasih ya!" Mesha mengangguk sopan sambil tersenyum lalu melambaikan tangan.
Mesha masuk ke dalam rumah saat motor yang dikendarai Sakha sudah tidak terlihat.
"Siapa itu, Nduk?" Mesha terkejut, saat membuka pintu, Mayang sudah berdiri di hadapannya dengan wajah penasaran.
"Itu, teman kerja aku, Bu."
"Oooh ... ya sudah, kamu cepet ganti baju, nanti masuk angin lho, Nduk."
"Ya, Bu."
Mesha berjalan menuju kamarnya, lalu pergi mandi. Setelah selesai mandi dan mengganti bajunya, Ia duduk di ruang tengah sambil membaca sebuah masalah. Mayang menghampiri putrinya dan duduk di sebelah Mesha.
"Bapak belum pulang, Bu?"
"Iya, katanya ada lemburan."
"Ibu tadi khawatir banget, Nduk. Hujan deras, kamu belum pulang. Mana bapakmu nggak bisa jemput. Ibu lega setelah tahu ada yang nganterin kamu pulang."
"Iya, Bu. Tadinya aku mau langsung pulang, tapi dicegah sama teman-teman kantor, Bu."
"Sukurlah. Kamu betah kan di situ?"
"Ya begitulah, Bu."
"Ya sudah, ibu mau masak buat makan malam dulu, kalo begitu."
"Aku bantu ya, Bu?"
***
Sementara itu, di sebuah rumah dengan gaya klasik, dalam sebuah kamarnya, berbaring seorang laki-laki yang terus-terusan tersenyum. Hatinya terasa hangat saat mengobrol singkat dalam perjalanan pulang tadi.
Bersambung ....
Thanks thor 🙏😘💗