NovelToon NovelToon
Shan Luo

Shan Luo

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”

Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.

Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.

Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Tidak tuh

Jalanan setapak yang membelah padang rumput itu seharusnya sunyi, namun suasana justru riuh oleh gerutu tak berujung dari sesosok roh tampan yang melayang dengan wajah ditekuk.

Mo Huang, sang eksistensi agung dari Sabit Jiwa Kegelapan, kini terlihat sangat jauh dari kesan "Misterius" atau "Mengerikan".

Di kedua tangannya yang transparan namun padat, ia menjinjing bungkusan kertas berisi roti gandum, daging asap, dan beberapa botol arak murahan.

​"Ck, semakin ke sini kau semakin melunjak saja, Bocah!" Mo Huang menghentakkan kakinya di udara, membuat botol-botol arak di pelukannya berdenting keras. "Aku ini artefak Kelas Langit! Aku adalah entitas yang ditakuti oleh para penguasa benua! Beribu-ribu tahun aku memanen jiwa, dan sekarang ... sekarang kau menyuruhku membawakan belanjaan?!"

​Shan Luo berjalan dengan tangan di belakang kepala, langkahnya santai seolah sedang menikmati piknik sore. "Apa maksudmu? Bukankah itu latihan untuk memperkuat manifestasi fisikmu? Anggap saja kau sedang bermeditasi sambil memegang roti."

​"Meditasi pantatmu!" Mo Huang nyaris melemparkan sepotong roti ke kepala Shan Luo. "Kau pikir aku ini apa? Pengantar makanan? Pelayan pribadi? Lihat tanganku! Tangan ini seharusnya mencengkeram jantung musuh, bukan menjinjing lobak dan daging!"

​Shan Luo tertawa lepas, suara tawa yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Mo Huang. "Dengar, Mo Huang. Zaman sudah berubah. Sekarang kau tidak akan dapat mengendalikanku lagi, hahaha! Selama aku masih hidup dan Inti Sejatiku berputar, kau adalah asisten pribadiku. Pelayanku yang paling rajin."

​"Aku tidak sudi! Lebih baik aku kembali tidur di dalam tanganmu daripada harus dipermalukan seperti ini!"

​"Oh, silakan saja. Tapi kalau kau masuk ke dalam tato, belanjaan ini jatuh ke tanah. Dan kalau dagingnya kotor, kau tidak akan kuberikan energi jiwa selama sepekan."

​Mo Huang mendengus sangat keras hingga uap ungu keluar dari hidungnya. Ia terpaksa tetap melayang, memeluk kantong belanjaan itu seolah-olah itu adalah harta paling hina di alam semesta.

​Namun, tawa Shan Luo tiba-tiba berhenti. Langkahnya tertahan oleh kehadiran tujuh pria yang mendadak muncul dari balik semak-semak tinggi.

Mereka mengenakan pakaian kumal dengan penutup kepala ala perampok amatir, memegang parang dan kapak yang terlihat berkarat namun cukup tajam untuk mengiris leher orang biasa.

​"Hmm, berhenti di sana, Anak Muda," ucap pemimpin perampok itu, seorang pria tambun dengan codet di pipinya. Matanya langsung tertuju pada gagang sabit hitam yang menyembul dari balik punggung Shan Luo. "Sabit di punggungmu terlihat mahal. Ukirannya ... ah, sepertinya aku harus memeriksanya terlebih dahulu untuk memastikan itu bukan barang selundupan."

​Teman-temannya tertawa, memainkan senjata mereka dengan gerakan yang sok keren. "Tenang saja. Kami hanya ingin bermain sebentar. Kau tidak perlu tegang, cukup serahkan benda itu dan semua yang kau bawa, maka kami akan membiarkanmu lewat."

​Shan Luo menatap mereka satu per satu, lalu beralih ke Mo Huang yang kini justru mendarat di atas batu besar, duduk dengan santai sambil membuka bungkusan roti.

​"Baiklah," ucap Shan Luo dengan ekspresi malas yang sangat kentara. Ia bahkan tidak memasang kuda-kuda bertarung.

​Mo Huang, di sisi lain, mulai mengunyah roti dengan tenang. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Jangan sampai bajumu kotor, Bocah. Aku malas mencucinya nanti kalau kau suruh lagi," gumam Mo Huang dengan mulut penuh roti.

​Para perampok itu saling lirik. Mereka merasa dilecehkan. Bukannya ketakutan, pemuda ini malah terlihat bosan, sementara temannya yang "aneh" dan transparan itu malah asyik makan roti.

​"Hei! Kau Mengejek kami, ya?!" bentak salah satu perampok yang memegang rantai. "Kenapa mukamu datar begitu? Kau tidak takut?"

​"Tidak tuh," jawab Shan Luo singkat, sambil mengupil pelan menggunakan jari kelingkingnya.

​"Kau ... kau meremehkan kami?!" Si pemimpin perampok maju selangkah, menodongkan parangnya tepat ke hidung Shan Luo. "Kami ini perampok paling ditakuti di wilayah ini! Cepat serahkan hartamu atau kau benar-benar cari mati!"

​"Tidak tuh," jawab Shan Luo lagi, kali ini sambil menguap lebar.

​"Bangsat! Dia benar-benar mempermainkan kita! Bunuh dia dan ambil hartanya! Sisakan yang transparan itu untuk kita teliti!"

​Para perampok itu menyerbu serentak. Namun, bagi Shan Luo yang sudah mencapai ranah Manifestasi Rohani, gerakan mereka terasa lebih lambat daripada siput yang sedang sakit gigi.

​Saat parang pertama hampir mengenai bahunya, Shan Luo bergeser hanya beberapa milimeter. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat hampir tak terlihat. ia menjentikkan jarinya ke dahi si perampok pertama.

​TAK!

​"Aduh!" Perampok itu terpental ke belakang, kepalanya terasa seperti dihantam palu godam.

​Perampok kedua mengayunkan kapak. Shan Luo tidak menghindar, ia justru maju dan melakukan gerakan "sulap". Dalam satu detik, ia sudah berada di belakang pria itu, memegang ikat pinggang si perampok.

​SRET!

​"Eh?" Perampok itu melongo saat menyadari celananya tiba-tiba melorot sampai ke mata kaki, memperlihatkan celana dalam bermotif bunga-bunga yang sangat tidak cocok dengan citranya sebagai kriminal.

​"Hahaha! Lihat itu, Mo Huang! Selera seninya tinggi juga!" Shan Luo tertawa licik.

​Mo Huang hanya memutar bola matanya sambil menggigit sosis asap. "Kurang kreatif. Harusnya kau ikat rambutnya ke pohon."

​"Ide bagus!"

​Shan Luo mulai berdansa di antara mereka. Ia tidak menggunakan kekuatan penuh, hanya cukup untuk mempermalukan mereka habis-habisan.

Ia memutar-mutar tubuh para perampok itu seperti gasing, mengikat tali sepatu mereka satu sama lain, hingga dalam hitungan menit, tujuh perampok itu bertumpuk di tanah dalam posisi yang sangat memalukan, saling tumpang tindih dengan pakaian yang acak-acakan.

​"Ampun! Ampun, Tuan! Kami salah orang!" teriak si pemimpin perampok yang kini wajahnya terjepit di bawah ketiak anak buahnya sendiri.

​Shan Luo berjongkok di depan mereka, senyumnya kini berubah menjadi sangat nakal. "Tadi kalian bilang ingin memeriksa sabitku, kan? Bagaimana kalau sekarang aku yang memeriksa kantong kalian? Anggap saja biaya hiburan sore ini."

​Tanpa rasa malu, Shan Luo mulai merogoh setiap kantong para perampok itu. Ia mengeluarkan beberapa keping perak, koin tembaga, hingga sebuah jam saku tua.

​"Wah, ternyata kalian cukup kaya juga untuk ukuran amatir," ucap Shan Luo sambil memasukkan koin-koin itu ke dalam kantongnya sendiri. Ia bahkan mengambil topi salah satu perampok untuk menaruh hasil jarahannya.

​"Tuan ... itu uang untuk makan kami sepekan ..." ratap salah satu perampok.

​"Tidak tuh, sekarang ini uang untuk beli daging tambahan buat Mo Huang," jawab Shan Luo sambil berdiri dan menendang pantat pria teratas di tumpukan itu.

​Mo Huang berdiri dari batunya, membersihkan remah-remah roti di jubahnya. "Sudah selesai main-mainnya? Ayo jalan. Berat tahu membawa belanjaan ini."

​Shan Luo berjalan pergi sambil melambaikan tangan ke arah tumpukan perampok yang masih berusaha melepaskan diri satu sama lain. "Terima kasih atas sumbangannya, Bapak-bapak! Lain kali kalau merampok, pakai celana dalam yang lebih keren, ya!"

​Ia berjalan menjauh sambil menghitung koin peraknya dengan tawa licik yang memuaskan.

Mo Huang mengikuti di sampingnya, masih dengan wajah cemberut namun diam-diam mencuri sepotong daging dari kantong belanjaan untuk ia makan sendiri.

Di jalanan sunyi itu, hanya terdengar suara gemerincing koin dan omelan roh sabit yang tak henti-hentinya mengeluh tentang martabatnya yang hancur.

1
Ajipengestu
lanjut thor👍
Iwa Kakap
ribet amat thor
Beni: itu cuma penjelasan naik ranah sama kesulitannya aja. gak perlu di pikirin hehe. /Pray/
total 1 replies
angin kelana
ayooooo jdi juara💪💪💪
Beni
oke... 😐
Beni
😛
Beni
/Hunger//Sweat/
Beni
😐
Beni
oke... 😐
angin kelana
semangat bertarung💪💪💪
angin kelana
anak baik👍
angin kelana
semangaaat menjadi kuat..
angin kelana
ayo buktikan kekuatanmu💪💪💪
angin kelana
ayoooo lebih kuat lg
angin kelana
lanjuuuttt...
angin kelana
kalo untuk pengenalan bole lah pake english tpi ke depannya gak usah ajah ini kan fantasi timur bukan barat..lanjut👍
Beni: nanti di revisi ya, terima kasih/Pray/
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuttt..
angin kelana
dunia yg kejam.😬
Beni
😐
Jade Meamoure
bagus 🤣🤣🤣
Jade Meamoure
Yan Bingchen bukankah itu patriarki sekte es ya
Beni: Pendekar es dan api
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!