Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kiriman dari Masa Lalu dan Akarnya
Keheningan di rumah baru Adrian dan Arumi pagi itu pecah oleh suara klakson mobil yang tidak sabar. Adrian, yang baru saja hendak berangkat ke kantor, mengurungkan niatnya saat melihat sebuah mobil pick-up berpelat nomor luar kota berhenti tepat di depan gerbang. Di belakangnya, sebuah mobil sedan tua yang sangat familiar bagi Arumi tampak parkir dengan perlahan.
"Siapa sepagi ini?" tanya Adrian sambil mengerutkan kening.
Arumi, yang sedang menikmati udara pagi di beranda dengan segelas susu hamil, langsung berdiri dengan mata berbinar. "Itu Ayah dan Ibu, Mas! Dan... sepertinya mereka membawa setengah dari isi rumah di Jogja."
Benar saja, Baskoro turun dari mobil sedan dengan gaya khasnya—mengenakan batik santai dan sarung yang tersampir di bahu. Disusul oleh Ratna yang langsung sibuk memberikan instruksi kepada para kuli angkut untuk menurunkan barang-barang dari mobil pick-up.
"Hati-hati, itu isinya piring keramik kuno! Jangan sampai retak!" seru Ratna dengan nada tinggi yang penuh semangat.
Adrian dan Arumi segera menghampiri. Pertemuan itu penuh dengan pelukan hangat.
Meskipun mereka sering berkomunikasi lewat panggilan video, kehadiran fisik orang tua Arumi selalu membawa aura yang berbeda—aura "rumah" yang sesungguhnya.
Satu per satu barang diturunkan. Bukan sofa mewah atau elektronik canggih, melainkan barang-barang yang membuat Adrian tercengang. Ada sebuah ayunan bayi kayu jati yang sudah sangat tua, tumpukan kain jarik motif parang yang sudah memudar warnanya namun sangat lembut, hingga berliter-liter jamu tradisional yang dikemas dalam botol-botol kaca.
"Ini namanya gedhong bayi, Adrian," jelas Ratna saat mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah yang kini penuh sesak dengan kardus.
"Ayunan ini dulu dipakai oleh Siska, lalu dipakai oleh Arumi. Sekarang, harus dipakai oleh cucu pertama Ibu."
Adrian menyentuh kayu jati ayunan itu dengan rasa hormat. "Ini sangat kuat, Bu. Jauh lebih artistik daripada ranjang bayi impor yang aku pesan kemarin."
"Bukan cuma kuat, Nak," Baskoro menimpali sambil menyesap tehnya. "Kayu ini punya doa. Setiap kali Arumi menangis di sini dulu, ibunya selalu bershalawat sambil mengayunnya. Itu energi yang tidak bisa dibeli dengan dolar."
Arumi merasa matanya memanas. Di tengah gemerlap hidupnya sebagai istri seorang konglomerat, ia sering lupa pada akar-akar sederhana ini. Ibunya kemudian membuka sebuah bungkusan kain beludru merah. Isinya adalah perlengkapan bayi tradisional: gurita bayi, bedak dingin hasil tumbukan sendiri, hingga bantal kecil berisi biji-bijian yang konon bisa membentuk kepala bayi dengan sempurna.
"Ibu tahu kalian punya segalanya di Jakarta. Tapi Ibu ingin Abimanyu nanti tahu bahwa dia punya akar di Yogyakarta," bisik Ratna sambil menggenggam tangan Arumi.
Siang harinya, sementara Ratna sibuk di dapur memasak gudeg manggar pesanan Arumi, Adrian duduk di taman belakang bersama Baskoro. Ini adalah momen langka bagi Adrian—berdiskusi dengan seorang pria yang melihat hidup bukan sebagai grafik pertumbuhan saham, melainkan sebagai siklus alam.
"Adrian," panggil Baskoro sambil memperhatikan pohon kamboja yang sedang berbunga. "Aku berterima kasih kamu sudah menjaga Arumi.
Dulu aku sangat ragu memberikan putri bungsuku untuk menambal kesalahan kakaknya."
Adrian terdiam sejenak. "Dulu saya juga berpikir begitu, Yah. Saya pikir saya sedang melakukan transaksi bisnis untuk menyelamatkan muka keluarga. Tapi sekarang, saya sadar bahwa Arumi-lah yang menyelamatkan saya. Dia memberikan jiwa pada kekayaan saya yang tadinya hambar."
Baskoro mengangguk paham. "Arumi itu seperti tanah, Adrian. Dia tenang, diam, tapi dia bisa menumbuhkan apa saja jika diberi kasih sayang yang cukup. Sedangkan Siska... dia seperti angin. Dia butuh ruang luas untuk terbang, dan sekarang dia sudah menemukan langitnya di Jogja bersama Bayu."
"Bagaimana kabar Siska, Yah?" tanya Adrian tulus.
"Dia sangat bahagia. Dia mulai mengajar membatik untuk penyandang disabilitas di sanggarnya. Kemarin dia titip salam, katanya dia minta maaf tidak bisa ikut ke Jakarta karena sedang ada pameran seni."
Mendengar itu, Adrian merasakan kelegaan yang luar biasa. Tidak ada lagi duri di antara mereka.
Keluarga yang dulu hampir hancur karena ego dan pelarian, kini perlahan-lahan menyatu kembali melalui kehadiran calon nyawa baru.
Malam harinya, suasana hangat itu sedikit terusik ketika Adrian menerima telepon dari kantor.
Suaranya terdengar meninggi, membuat seisi meja makan terdiam.
"Apa maksudmu? Clara kembali mendekati pemegang saham minoritas?" desis Adrian. "Cari tahu apa tujuannya. Jangan biarkan dia masuk ke dalam lingkaran internal lagi."
Adrian menutup telepon dan mendapati empat pasang mata menatapnya dengan penuh tanya. Ia menghela napas, mencoba mengatur emosinya agar tidak merusak suasana makan malam.
"Maaf, Yah, Bu. Masalah kantor sedikit mengganggu," ujar Adrian gusar.
"Masalah si wanita pirang itu lagi, Nak?" tanya Ratna dengan insting ibu yang tajam. Arumi memang sempat bercerita sedikit tentang gangguan Clara sebelumnya.
Adrian mengangguk. "Dia mencoba mencari celah hukum di perusahaan ayah saya dulu. Dia ingin mengklaim beberapa aset pribadi keluarga sebagai bagian dari perjanjian bisnis yang sudah lama mati."
Baskoro meletakkan sendoknya. "Adrian, dalam hidup ini, ada orang yang bertindak seperti benalu. Mereka tidak bisa tumbuh sendiri, jadi mereka harus menempel pada pohon yang kuat untuk merasa hidup. Jangan dilawan dengan kekuatan yang sama kasarnya. Lawan dengan ketenangan. Benalu akan mati sendiri jika dia tidak mendapatkan reaksi yang dia harapkan."
Arumi menatap ayahnya, lalu beralih pada suaminya. "Ayah benar, Mas. Clara hanya ingin perhatianmu. Jika kita terus bereaksi berlebihan, dia merasa dia masih punya kekuasaan atas emosimu. Biarkan tim hukum yang bekerja secara teknis, tapi jangan bawa dia ke dalam rumah kita."
Adrian menatap Arumi, lalu menatap Baskoro. Ia merasa beruntung mendapatkan mertua yang bijaksana. Perlahan, gurat ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menyadari bahwa kekuatannya sekarang bukan lagi terletak pada jumlah pengacara yang ia sewa, melainkan pada keutuhan keluarga yang sedang duduk di meja makan ini.
Sebelum tidur, Ratna meminta Arumi dan Adrian untuk duduk di atas tikar pandan yang ia bawa dari Jogja. Ia ingin melakukan ritual kecil: mendoakan air yang akan diminum Arumi agar persalinannya lancar.
"Ini bukan klenik, Adrian," ujar Ratna seolah bisa membaca pikiran menantunya yang modern. "Ini adalah sugesti positif. Air ini sudah dibacakan doa-doa keselamatan dari para sesepuh di Jogja. Ini adalah bentuk dukungan psikologis untuk istrimu."
Adrian mengangguk mengerti. Ia duduk bersila di samping Arumi, mengikuti setiap prosesi dengan khidmat. Ia melihat Arumi tampak begitu tenang, seolah semua ketakutannya akan persalinan hilang saat ibunya membelai kepalanya.
Setelah orang tuanya masuk ke kamar tamu, Arumi dan Adrian berdiri di jendela kamar mereka, menatap bulan yang bersinar lembut.
"Terima kasih sudah mau menerima mereka dengan tangan terbuka, Mas," bisik Arumi. "Aku tahu rumah kita jadi berantakan dengan kardus-kardus dan bau jamu."
Adrian merangkul Arumi dari belakang, tangannya mengusap perut istrinya yang kini bergerak-gerak aktif. "Rumah ini tidak pernah terasa lebih 'hidup' daripada hari ini, Arumi.
Kardus-kardus itu berisi sejarahmu, dan jamu itu berisi cinta ibumu. Aku justru bersyukur Abimanyu akan lahir di tengah keluarga yang punya akar sekuat ini."
Adrian mengecup bahu Arumi. "Dan soal Clara... dia hanya masa lalu yang mencoba berteriak di tengah kesunyiannya sendiri. Kita punya masa depan yang sedang menendang-nendang di dalam sini. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku tetap tegak."