NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Kebaikan di Balik Seragam Putih Abu-Abu (Flashback 6 Tahun Lalu)

Sore itu, langit berwarna jingga kemerahan. Aku berdiri di depan gerbang sekolah, menghela napas panjang untuk melepas sisa-sisa penat setelah jam pelajaran terakhir yang membosankan. Namaku Azzalia, dan saat itu aku masih duduk di kelas satu SMA, setahun lebih muda dari kakak sepupuku, Valerie.

"Zal! Sini!" teriak sebuah suara yang sangat kukenal.

Aku menoleh dan mendapati Kak Valerie melambai dari kedai mie ayam di seberang sekolahku. Di sampingnya, duduk seorang laki-laki berseragam sama dengannya. Mereka satu sekolah, sementara aku di sekolah yang berbeda.

Aku melangkah mendekat, mencium aroma gurih bumbu mie ayam yang memenuhi udara. Kak Valerie sudah menghabiskan setengah mangkuknya, sementara laki-laki di sampingnya itu... aku tidak mengenalnya. Tapi, aku menyadari satu hal: dia terus menatapku dengan binar mata yang aneh.

"Zal, kenalin, ini Danendra. Teman sekelas gue," ucap Kak Valerie sambil mengunyah mienya.

Laki-laki itu tersenyum sangat lebar. Senyum yang menurutku terlalu ramah untuk orang yang baru pertama kali bertemu. "Hai, Azzalia," sapanya. Suaranya terdengar sedikit gugup.

Aku hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Aku memang tidak terbiasa bersikap hangat pada orang asing. Aku memilih duduk di depan mereka dan memesan satu porsi mie ayam untuk diriku sendiri.

Sepanjang kami makan, Kak Valerie dan Danendra sibuk mengobrol tentang hal-hal absurd di kelas mereka. Sesekali, aku merasa Danendra mencoba melemparkan lelucon untuk memancing reaksiku, tapi aku hanya diam, fokus pada mangkukku. Aku merasa dia terlalu... berusaha.

"Gue mau bayar dulu ya," ucapku saat mienya sudah habis. Aku merogoh saku rok, mencari uang sakuku yang tersisa.

"Eh, nggak usah, Mbak. Sudah dibayar," sahut penjual mie ayam itu sambil tersenyum ke arahku.

Aku mengernyit bingung. Aku menoleh ke arah Kak Valerie, tapi dia malah menunjuk ke arah sampingnya.

"Nen, lo yang bayar?" tanya Kak Valerie ke laki-laki di sampingnya.

Danendra hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya memerah. "Iya... nggak apa-apa, sekalian tadi gue bayar punya Valerie juga. Anggap aja salam kenal, Zal," ucapnya pelan, menghindari tatapan mataku.

Aku tertegun. Mengapa dia melakukan ini? Kami bahkan tidak saling kenal.

"Tuh kan, Zal! Danendra emang dari kemarin nanyain lo terus ke gue. Katanya pengen ketemu adek sepupu gue yang paling cantik ini," goda Kak Valerie sambil menyenggol lengan Danendra.

Aku merasa tidak nyaman. Ada sesuatu di balik sorot mata Danendra yang membuatku ingin menjauh. Bukan karena dia jahat, tapi karena kehangatan yang dia tawarkan terasa terlalu terang untuk aku yang lebih suka bersembunyi dalam kegelapan.

"Terima kasih," jawabku datar.

Aku segera berdiri dan pamit pada mereka, melangkah pergi menuju halte angkutan umum tanpa menoleh lagi. Aku tidak tahu bahwa di balik kedai mie ayam itu, laki-laki bernama Danendra itu tetap menatap punggungku sampai aku menghilang. Aku tidak tahu bahwa kebaikan kecil di sore itu adalah awal dari penantian panjangnya yang akan menyiksanya selama enam tahun ke depan.

Masa sekarang.

Malam ini, suasana kamar kost terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Aku merebahkan tubuh di atas kasur, menatap langit-langit putih yang tampak suram tertimpa cahaya lampu yang temaram. Pertemuanku dengan Danendra tadi pagi di taman kota benar-benar menjadi badai yang mengacak-acak ketenanganku.

Puing-puing kenangan enam tahun lalu di depan gerbang sekolah—saat pertama kali dia membayariku mie ayam—kembali berputar otomatis di kepalaku.

"Kenapa harus muncul lagi, Nen?" bisikku lirih pada kegelapan.

Aku memejamkan mata, namun yang kulihat justru tatapan sendu Danendra saat dia berteriak di taman tadi. Kalimatnya yang bilang bahwa dia tidak pernah benar-benar pergi terus terngiang, seolah-olah dia adalah jangkar yang tetap diam di tempatnya, sementara aku adalah kapal yang telah berlayar terlalu jauh tapi tetap tersesat.

Rasa sesak itu kembali menghimpit. Selama ini aku mengira dengan menyuruhnya pergi, aku telah memberinya kebebasan. Aku ingin dia mencari kebahagiaan lain, mencari seseorang yang tidak sedingin aku, seseorang yang tidak akan menjadikannya pelampiasan dari rasa sakitku sendiri. Tapi nyatanya? Dia justru sengaja membiarkan dirinya terpaku pada luka yang kubuat.

Aku meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Jemariku berhenti tepat di atas kontak Nesha. Aku ingin bercerita, tapi lidahku terasa kaku bahkan hanya untuk mengetik sepatah kata pun. Bagaimana aku harus menjelaskan bahwa pria yang kutemui tadi pagi adalah satu-satunya orang yang paling tulus menyayangiku, namun justru dia pulalah yang paling hancur karenaku?

Suara petir yang menggelegar di kejauhan menyentak lamunanku. Hujan mulai turun, membasahi bumi dengan ritme yang teratur, persis seperti rasa penyesalan yang kini membanjiri hatiku.

Di dalam hening malam ini, aku menyadari satu hal yang menyakitkan. Enam tahun telah berlalu, aku sudah berpindah kota, berganti lingkungan, dan menumpuk ribuan aktivitas demi melupakan. Namun, hanya butuh satu menit tatapan mata Danendra untuk membuatku sadar bahwa pertahananku hanyalah tembok pasir yang mudah runtuh.

Ternyata, selama ini bukan Danendra saja yang terjebak di tempat aku menyuruhnya pergi. Aku pun sama. Aku terjebak dalam rasa bersalah yang tak pernah berujung.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!