Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pagi menjelang tengah hari. Laura dan Amelia berlutut di tanah berpasir, tatapan mereka merona menatap gundukan tanah yang baru saja mereka timbun dengan tangan kosong. Di bawah gundukan itu, terbaring Roni dan Ariana, dua sahabat yang tak pernah mereka bayangkan akan berakhir seperti ini. Suasana yang sebelumnya dipenuhi ancaman, ketidakjelasan, paksaan menyerah, kini bertambah bagai dipenuhi bisikan angin yang seolah meratapi kepergian yang tragis.
Tangan mereka kotor, penuh dengan tanah dan lumpur, sisa-sisa perjuangan berat untuk menggali liang lahat tanpa alat apapun. Batu-batu tajam melukai telapak tangan mereka, namun rasa perih itu tak sebanding dengan luka di hati. Amelia terisak pelan dengan air mata membasahi pipi yang telah kotor oleh bedak alam. Laura, di sampingnya hanya mampu menatap lesu, air matanya sudah kering, digantikan oleh mati rasa yang menyesakkan.
Tidak ada doa yang terucap lantang, hanya bisikan pilu dari hati yang hancur. Tidak ada bunga untuk ditaburkan, hanya dedaunan kering yang mereka pungut seadanya. Tidak ada nisan untuk menandai, hanya tumpukan batu yang mereka susun asal-asalan. Semuanya serba sederhana, serba seadanya, terselesaikan dengan kepedihan.
Andai mereka memilih tak menguburkan keduanya, akan ada pemandangan fase dekomposisi mengerikan yang terpentas di hadapan mata. Andai mereka memilih menyembunyikannya di suatu tempat yang terlindung, akan ada ancamam hewan yang mungkin datang karena rasa lapar. Pilihan selimut gulungan tanah adalah keputusan mereka yang telah ditentukan, dengan galian dangkal dan posisi terakhir dua jenazah yang hampir tak berubah.
"Selamat jalan, Roni... Ariana," bisik Laura lirih, suaranya serak. Amelia hanya bisa memeluk lututnya, bahunya menggigil di bawah terik matahari yang terus meninggi dan mulai menyengat. Di pulau terpencil yang menjadi saksi bisu kebrutalan, Laura dan Amelia ditinggalkan dengan beban yang tak terperikan, menghadapi kenyataan pahit bahwa mereka harus menjadi bagian catatan yang tak menyenangkan ini.
"Aku... aku masih tidak percaya, Laura," Amelia menggelengkan kelalanya, suaranya berat dan gemetar. "Bagaimana ini bisa terjadi? Mereka... mereka berdua..." Ia tak sanggup melanjutkan sebab tenggorokannya tercekat, benaknya masih membayangkan pemandangan kulit kepala yang terkelupas.
Laura menghela napas panjang, menatap kosong ke arah arus sungai. "Aku juga, Mel. Rasanya seperti mimpi buruk yang tidak kunjung usai." Ada nada kepedihan yang bersemayam dalam suaranya. "Mereka... mereka sahabat kita. Kita datang ke sini berempat, dan aku pikir seluruh rencana untuk selanjutnya telah berantakan."
"Dan sekarang... kita hanya berdua," Amelia menyambung, air mata dan lendir hidung membasahi pipi dan bibir atasnya. "Roni... dia selalu membuat kita tertawa, kan? Dengan lelucon-lelucon garingnya. Dan Ariana... dia selalu yang paling pemberani, juga paling pengertian."
Laura mengangguk, kenangan-kenangan manis yang panjang ke belakang kini terasa pahit. "Aku ingat, dua tahun yang lalu sewaktu perayaan ulang tahun Roni, dia pernah bilang, kalau dia akan selalu menjaga kita berdua. Dia bahkan menganggap kita seperti adiknya." Senyum Laura tipis namun penuh luka terukir di bibirnya. "Dan Ariana... dia yang selalu menenangkan kita kalau Roni mulai usil."
"Kenapa harus begini, Laura? Kenapa mereka harus saling membunuh?" tanya Amelia, suaranya putus asa. "Aku tidak mengerti. Mereka... mereka tidak pernah bertengkar sehebat ini sebelumnya, akan tetapi ini memang bukan hanya tentang diri mereka."
Laura menggelengkan kepala pelan. "Aku juga tidak tahu, Mel. Mungkin... mungkin tekanan di sini terlalu berat. Kita semua sudah sangat stres." Ia berhenti sejenak sembari menelan ludah. "Aku, aku saat itu gagal mencegahnya...."
Amelia segera meraih tangan Laura. "Jangan salahkan dirimu, Laura. Kita berdua sudah melakukan yang terbaik. Kita sudah mencoba menghentikan mereka." Ia mencoba mengontrol suasana, tetapi dahinya memaksa berkerut. "Sejujurnya ini memang sangat.... sangat memukul. Aku.. aku bahkan tidak tahu apa yang kemudian akan datang, hari ini dan besok, seumur hidupku aku tidak pernah membayangkan sesuatu yang buruk seperti ini terjadi."
"Cukup, Mel!" Tegas Laura, menggenggam tangan Amelia dengan kekuatan yang memberi keyakinan. "Kita harus saling menguatkan. Demi mereka." Matanya berkaca-kaca, namun Laura berusaha tegar. "Roni dan Ariana... mereka pasti tidak ingin kita menyerah. Mereka ingin kita bertahan hidup."
"Tapi rasanya sakit sekali, Laura," Amelia mengerang, menundukkan kepalanya. "Setiap sudut pulau ini tiba-tiba mengingatkanku pada mereka, ingatan yang tidak menyenangkan."
"Aku tahu, Mel. Aku juga merasakannya," bisik Laura dengan mata menatap tajam ke arah Amelia yang menundukkan kepala. "Tapi kita tidak bisa tenggelam dalam kesedihan. Kita harus kuat. Kita harus mencari jalan keluar dari sini. Kita harus hidup, demi mereka."
Mereka berdua terdiam lagi, membiarkan kesedihan menyelimuti mereka. Dua jiwa yang terluka itu saling berpegangan, mencari kekuatan dalam kebersamaan, berharap bahwa di suatu tempat, Roni dan Ariana dapat beristirahat dengan tenang, tanpa rasa sakit, tanpa pertengkaran. Percakapan itu bukan tentang solusi, tapi tentang berbagi luka, tentang memikul beban yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Laura lalu mengusap punggung Amelia pelan, jari-jarinya yang kotor menyentuh kain baju yang sudah tampak lusuh. "Kita harus kuat, Mel," bisiknya menyakinkan sekali lagi. Amelia perlahan mengangkat wajahnya, mata sembabnya menatap Laura. Ada kesedihan yang terpatri, namun juga secercah harapan yang tersirat.
Mereka berdua saling berpegangan tangan, menggenggam erat seolah menyalurkan kekuatan yang tersisa di antara mereka. Di tengah kesunyian pulau, mereka berbagi napas, berbagi degup jantung, berbagi keringat lelah, berbagi rasa sakit, berbagi beban yang duduk di punggung. Laura tahu, Amelia juga tahu, bahwa tidak ada waktu untuk meratapi nasib terlalu lama.
"Mereka pasti tidak ingin kita menyerah, iya kan?" kata Amelia, suaranya sedikit lebih kuat. Laura mengangguk mencoba tersenyum meskipun terasa berat. "Roni akan marah kalau kita hanya duduk menangis," tambahnya mencoba menghadirkan sedikit tawa di tengah kesedihan. Amelia terkekeh kecil, air mata masih mengalir namun kali ini diiringi senyum tipis.
Keduanya bangkit perlahan, membersihkan pasir dan tanah dari pakaian mereka. Pandangan mereka bertemu, dan di sana, di mata masing-masing, mereka melihat refleksi kekuatan yang baru ditemukan. Mereka mungkin merasa kehilangan segalanya, namun mereka masih memiliki satu sama lain. Dan itu, untuk saat ini, sudah lebih dari cukup. Dengan langkah gontai namun pasti keduanya mulai berjalan, meninggalkan gundukan makam itu di belakang, meski menuju arah yang belum dapat diprediksi, namun tegas dengan tekad yang mengkristal untuk terus menjalani langkah napas
Malam ke empat yang perkasa menggulung matahari kembali datang di pulau itu, akan tetapi ketika harapan mulai menipis, Laura tiba-tiba melihat sesuatu di kejauhan. Sebuah titik hitam di cakrawala yang semakin membesar. "Amelia! Lihat!" teriaknya lantang, suaranya parau namun penuh semangat. Amelia menoleh, matanya mengikuti arah telunjuk Laura. Titik itu semakin jelas, sebuah kapal kecil dengan bendera segitiga berkibar samar. Air mata haru langsung mengalir di pipi keduanya, bercampur dengan debu dan lumpur. Mereka melambaikan tangan sekuat tenaga, berteriak sekencang-kencangnya, berharap suara mereka dapat mencapai kapal itu.
Kapal itu mendekat, dan dari lambungnya, muncullah beberapa orang berseragam biru tua. Polisi Air Banjarmasin! Napas Laura tercekat, kakinya lemas. Amelia terjatuh berlutut, tak mampu menahan luapan emosi. Mereka akhirnya diselamatkan.
Petugas dengan sigap membantu keduanya naik ke kapal. Wajah-wajah mereka tampak prihatin melihat kondisi Laura dan Amelia yang kurus kering, pucat, dan penuh luka. Seorang petugas segera menyodorkan sebotol air dan biskuit, yang lain memberikan selimut. Rasanya seperti baru saja keluar dari lubang sumur. Setelah menceritakan sedikit kisah tragis yang mereka alami, kapal segera berlayar meninggalkan tempat itu.
Perjalanan terasa singkat sekaligus panjang. Dalam hati, Laura dan Amelia merasakan campur aduk emosi. Lega, sedih, bersyukur, dan entah apa lagi. Ketika akhirnya kapal bersandar di sebuah dermaga, ambulans sudah menunggu. Mereka segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
Di rumah sakit, para perawat dan dokter dengan cekatan menangani mereka. Infus dipasang, luka-luka dibersihkan, dan mereka diberikan makanan bergizi. Laura dan Amelia terbaring di ranjang terpisah, namun pandangan mereka tak pernah lepas satu sama lain. Ruangan putih yang steril itu terasa asing setelah entah berapa hari lamanya mereka hidup di alam liar. Mereka berdua menjalani pemeriksaan menyeluruh, fisik dan mental. Dokter dan psikolog datang silih berganti, menanyakan detail kejadian, mencoba memahami trauma yang mereka alami.
Meski tubuh mereka kini nyaman di bawah selimut bersih, pikiran mereka masih berpetualang di antara terpaan ombak dan dinginnya malam di pulau terpencil itu. Setiap sentuhan perawat, setiap bisikan dokter, terasa seperti membangunkan mereka dari mimpi panjang yang pahit. Amelia dengan mata sayunya sesekali meremas sprei, teringat bagaimana tangannya berlumuran tanah dan darah saat menggali kuburan Roni dan Ariana. Laura, di sisi lain, seringkali menutup mata, melihat kembali kilasan berbagal hal, penampakan, suara, rumah tua, foto tiga gadis, termasuk kejadian tragis yang merenggut nyawa sedemikian instan.