NovelToon NovelToon
Kekasih Yang Tak Akur

Kekasih Yang Tak Akur

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: I Putu Merta Ariana

Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang dengan Hati Penuh Kenangan

Perjalanan keliling Indonesia yang panjang dan penuh petualangan itu akhirnya harus berakhir. Sudah berbulan-bulan mereka menjelajahi berbagai pulau, menikmati keindahan alam yang memukau, mengenal budaya-budaya yang unik, dan mengumpulkan ribuan kenangan indah bersama sebagai keluarga. Kini, saat mereka melihat peta perjalanan mereka yang sudah penuh dengan tanda titik di berbagai tempat, hati mereka terasa penuh dan bahagia luar biasa.

Pagi itu, di kota terakhir yang mereka kunjungi sebelum pulang, suasana di dalam mobil terasa sedikit haru namun tetap ceria. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan pulang menuju rumah mereka yang sudah lama ditinggalkan.

"Wah, Bunda! Kita mau pulang ya? Aku kangen sama kucing kita, Mochi," seru Nara sambil memeluk boneka beruangnya yang sudah ikut berkeliling jauh.

"Iya, sayang. Kita mau pulang. Mochi pasti juga kangen banget sama kita. Tapi kan kita udah punya banyak banget kenangan indah dari perjalanan ini, kan?" jawab Ayu lembut sambil membetulkan letak tas di bagasi mobil yang sudah penuh dengan oleh-oleh dan barang-barang kenangan.

Nono yang sedang memeriksa kondisi mobil untuk perjalanan panjang pulang pun berjalan mendekati Ayu dan anak-anak. "Siap semuanya? Mobil udah oke, barang udah rapi, perut udah kenyang. Kita bisa berangkat kapan aja."

Tiba-tiba Ayu menoleh dengan tatapan sedikit tajam, tapi penuh cinta. "Eh, tapi ingat ya, Mas! Nanti pas di jalan, kita harus tetep ikutin jadwal istirahat kayak biasanya. Jangan karena mau pulang kamu malah ngebut-ngebut dan bawa mobil terus sampai malam. Anak-anak butuh istirahat yang cukup, kan?" seru Ayu tegas.

Nono tertawa renyah, lalu dia merangkul bahu Ayu dan juga kedua anak mereka. "Ya ampun, Tuan Putri. Iya deh, iya deh. Aku janji bakal bawa mobil pelan-pelan dan bakal istirahat sesuai jadwal kamu. Kamu tuh ya, sampai kapan pun tetep sama aja. Tapi aku sayang banget sama kamu kayak gini. Puas?"

Ayu mendengus pelan tapi tersenyum lebar. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar suami yang manis. Oke deh, ayo kita pulang!"

 

Perjalanan pulang itu memakan waktu beberapa hari. Tapi bagi Nono, Ayu, Nathan, dan Nara, perjalanan pulang ini terasa begitu spesial. Mereka melewati jalanan yang sama seperti saat berangkat, tapi sekarang pemandangan di luar jendela terasa berbeda karena sudah penuh dengan kenangan. Setiap tempat yang mereka lewati mengingatkan mereka pada cerita-cerita seru yang pernah mereka alami.

Di dalam mobil, musik ceria masih sering mengalun, tapi sekarang mereka juga sering duduk diam menikmati pemandangan sambil mengenang momen-momen indah yang baru saja mereka lewati.

"Mas," panggil Ayu pelan saat mereka sedang beristirahat di sebuah tempat yang sudah pernah mereka singgahi sebelumnya. "Aku nggak nyangka perjalanan ini bakal seberharga dan seindah ini buat kita. Aku belajar banyak banget hal baru, bukan cuma soal tempat-tempat baru, tapi juga soal diri aku sendiri, soal kamu, dan soal keluarga kita."

Nono meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat di atas meja. "Aku juga, Yu. Perjalanan ini bikin aku sadar betapa kayanya hidup aku punya kamu dan anak-anak. Tanpa kalian, perjalanan seindah apa pun pasti bakal sepi dan hampa. Kamu dan anak-anak adalah anugerah terindah dalam hidup aku."

Mereka pun saling memandang dengan penuh cinta, sementara Nathan dan Nara sedang asyik bermain di dekat sana dengan wajah ceria.

 

Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang itu, mereka pun melihat pemandangan kota tempat mereka tinggal di kejauhan. Rumah mereka sudah terlihat jelas di depan mata. Hati mereka berdebar kencang karena rasa senang dan rindu yang sudah menumpuk.

"Wah, itu rumah kita! Itu rumah kita!" seru Nathan dan Nara bersorak gembira saat mobil memasuki halaman rumah mereka yang sudah cukup lama ditinggalkan.

Mereka pun langsung turun dari mobil dan berlari kecil menuju pintu rumah. Nono membuka pintu rumah itu, dan suasana familiar yang hangat langsung menyambut mereka. Rumah itu masih bersih dan rapi karena mereka sudah meminta tolong tetangga untuk merawatnya selama mereka pergi.

"Rasanya kayak baru kemarin kita ninggalin rumah ini, padahal udah berbulan-bulan ya," kata Ayu sambil berjalan keliling rumah memeriksa setiap sudut, wajahnya bersinar bahagia.

"Iya dong, Yu. Rumah kita emang paling nyaman. Tapi kan sekarang kita pulang bukan dengan tangan kosong. Kita pulang bawa ribuan kenangan indah, ilmu baru, dan cinta yang makin besar buat satu sama lain," jawab Nono sambil memeluk pinggang Ayu dari belakang.

Ayu tersipu malu dan tersenyum bahagia. "Iya, Mas. Betul banget."

 

Malam itu, setelah semua barang dibawa masuk dan rumah kembali terasa hidup dengan kehadiran mereka, Nono dan Ayu duduk bersantai di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat. Anak-anak sudah tertidur pulas di kamar mereka karena kelelahan perjalanan.

Angin malam bertiup sejuk, membawa suasana yang tenang dan damai.

"Yu," panggil Nono pelan sambil menatap langit yang berbintang di atas mereka. "Perjalanan ini udah selesai, tapi aku tahu, cerita kita nggak bakal selesai di sini. Masih banyak hal yang mau kita wujudin, masih banyak tempat yang mau kita kunjungi, dan masih banyak cerita yang mau kita tulis bareng-bareng."

Ayu menoleh dan menatap wajah suaminya itu dengan mata berbinar penuh cinta dan rasa syukur. "Iya, Mas. Aku juga ngerasa gitu. Perjalanan keliling Indonesia ini cuma satu bab dari buku besar kehidupan kita. Dan aku yakin, bab-bab selanjutnya bakal lebih indah, lebih seru, dan lebih penuh cinta lagi. Karena aku tahu, aku bakal terus lewatin semuanya sama kamu, sama 'Kekasih yang Tak Akur' aku yang paling aku sayang di dunia ini."

Nono tersenyum lebar, lalu dia menarik tangan Ayu dan menggenggamnya erat-erat. "Aku sayang banget sama kamu, Yu. Selamanya. Apa pun yang terjadi, di mana pun kita berada, kamu bakal selalu jadi satu-satunya Tuan Putri di hati aku."

"Aku juga sayang banget sama kamu, Mas. Selamanya," jawab Ayu pelan, lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.

Di malam yang tenang itu, di rumah kecil mereka yang penuh kenangan, Nono dan Ayu tahu bahwa perjalanan mereka memang unik. Penuh dengan perdebatan, penuh dengan perbedaan pendapat, tapi itu justru membuat cinta mereka menjadi begitu berwarna, begitu kuat, dan begitu nyata. Dan mereka yakin, cerita ini akan terus berlanjut, penuh dengan tawa, penuh dengan cinta, dan penuh dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir selamanya.Perjalanan keliling Indonesia yang panjang dan penuh petualangan itu akhirnya harus berakhir. Sudah berbulan-bulan mereka menjelajahi berbagai pulau, menikmati keindahan alam yang memukau, mengenal budaya-budaya yang unik, dan mengumpulkan ribuan kenangan indah bersama sebagai keluarga. Kini, saat mereka melihat peta perjalanan mereka yang sudah penuh dengan tanda titik di berbagai tempat, hati mereka terasa penuh dan bahagia luar biasa.

Pagi itu, di kota terakhir yang mereka kunjungi sebelum pulang, suasana di dalam mobil terasa sedikit haru namun tetap ceria. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan pulang menuju rumah mereka yang sudah lama ditinggalkan.

"Wah, Bunda! Kita mau pulang ya? Aku kangen sama kucing kita, Mochi," seru Nara sambil memeluk boneka beruangnya yang sudah ikut berkeliling jauh.

"Iya, sayang. Kita mau pulang. Mochi pasti juga kangen banget sama kita. Tapi kan kita udah punya banyak banget kenangan indah dari perjalanan ini, kan?" jawab Ayu lembut sambil membetulkan letak tas di bagasi mobil yang sudah penuh dengan oleh-oleh dan barang-barang kenangan.

Nono yang sedang memeriksa kondisi mobil untuk perjalanan panjang pulang pun berjalan mendekati Ayu dan anak-anak. "Siap semuanya? Mobil udah oke, barang udah rapi, perut udah kenyang. Kita bisa berangkat kapan aja."

Tiba-tiba Ayu menoleh dengan tatapan sedikit tajam, tapi penuh cinta. "Eh, tapi ingat ya, Mas! Nanti pas di jalan, kita harus tetep ikutin jadwal istirahat kayak biasanya. Jangan karena mau pulang kamu malah ngebut-ngebut dan bawa mobil terus sampai malam. Anak-anak butuh istirahat yang cukup, kan?" seru Ayu tegas.

Nono tertawa renyah, lalu dia merangkul bahu Ayu dan juga kedua anak mereka. "Ya ampun, Tuan Putri. Iya deh, iya deh. Aku janji bakal bawa mobil pelan-pelan dan bakal istirahat sesuai jadwal kamu. Kamu tuh ya, sampai kapan pun tetep sama aja. Tapi aku sayang banget sama kamu kayak gini. Puas?"

Ayu mendengus pelan tapi tersenyum lebar. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar suami yang manis. Oke deh, ayo kita pulang!"

 

Perjalanan pulang itu memakan waktu beberapa hari. Tapi bagi Nono, Ayu, Nathan, dan Nara, perjalanan pulang ini terasa begitu spesial. Mereka melewati jalanan yang sama seperti saat berangkat, tapi sekarang pemandangan di luar jendela terasa berbeda karena sudah penuh dengan kenangan. Setiap tempat yang mereka lewati mengingatkan mereka pada cerita-cerita seru yang pernah mereka alami.

Di dalam mobil, musik ceria masih sering mengalun, tapi sekarang mereka juga sering duduk diam menikmati pemandangan sambil mengenang momen-momen indah yang baru saja mereka lewati.

"Mas," panggil Ayu pelan saat mereka sedang beristirahat di sebuah tempat yang sudah pernah mereka singgahi sebelumnya. "Aku nggak nyangka perjalanan ini bakal seberharga dan seindah ini buat kita. Aku belajar banyak banget hal baru, bukan cuma soal tempat-tempat baru, tapi juga soal diri aku sendiri, soal kamu, dan soal keluarga kita."

Nono meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat di atas meja. "Aku juga, Yu. Perjalanan ini bikin aku sadar betapa kayanya hidup aku punya kamu dan anak-anak. Tanpa kalian, perjalanan seindah apa pun pasti bakal sepi dan hampa. Kamu dan anak-anak adalah anugerah terindah dalam hidup aku."

Mereka pun saling memandang dengan penuh cinta, sementara Nathan dan Nara sedang asyik bermain di dekat sana dengan wajah ceria.

 

Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang itu, mereka pun melihat pemandangan kota tempat mereka tinggal di kejauhan. Rumah mereka sudah terlihat jelas di depan mata. Hati mereka berdebar kencang karena rasa senang dan rindu yang sudah menumpuk.

"Wah, itu rumah kita! Itu rumah kita!" seru Nathan dan Nara bersorak gembira saat mobil memasuki halaman rumah mereka yang sudah cukup lama ditinggalkan.

Mereka pun langsung turun dari mobil dan berlari kecil menuju pintu rumah. Nono membuka pintu rumah itu, dan suasana familiar yang hangat langsung menyambut mereka. Rumah itu masih bersih dan rapi karena mereka sudah meminta tolong tetangga untuk merawatnya selama mereka pergi.

"Rasanya kayak baru kemarin kita ninggalin rumah ini, padahal udah berbulan-bulan ya," kata Ayu sambil berjalan keliling rumah memeriksa setiap sudut, wajahnya bersinar bahagia.

"Iya dong, Yu. Rumah kita emang paling nyaman. Tapi kan sekarang kita pulang bukan dengan tangan kosong. Kita pulang bawa ribuan kenangan indah, ilmu baru, dan cinta yang makin besar buat satu sama lain," jawab Nono sambil memeluk pinggang Ayu dari belakang.

Ayu tersipu malu dan tersenyum bahagia. "Iya, Mas. Betul banget."

 

Malam itu, setelah semua barang dibawa masuk dan rumah kembali terasa hidup dengan kehadiran mereka, Nono dan Ayu duduk bersantai di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat. Anak-anak sudah tertidur pulas di kamar mereka karena kelelahan perjalanan.

Angin malam bertiup sejuk, membawa suasana yang tenang dan damai.

"Yu," panggil Nono pelan sambil menatap langit yang berbintang di atas mereka. "Perjalanan ini udah selesai, tapi aku tahu, cerita kita nggak bakal selesai di sini. Masih banyak hal yang mau kita wujudin, masih banyak tempat yang mau kita kunjungi, dan masih banyak cerita yang mau kita tulis bareng-bareng."

Ayu menoleh dan menatap wajah suaminya itu dengan mata berbinar penuh cinta dan rasa syukur. "Iya, Mas. Aku juga ngerasa gitu. Perjalanan keliling Indonesia ini cuma satu bab dari buku besar kehidupan kita. Dan aku yakin, bab-bab selanjutnya bakal lebih indah, lebih seru, dan lebih penuh cinta lagi. Karena aku tahu, aku bakal terus lewatin semuanya sama kamu, sama 'Kekasih yang Tak Akur' aku yang paling aku sayang di dunia ini."

Nono tersenyum lebar, lalu dia menarik tangan Ayu dan menggenggamnya erat-erat. "Aku sayang banget sama kamu, Yu. Selamanya. Apa pun yang terjadi, di mana pun kita berada, kamu bakal selalu jadi satu-satunya Tuan Putri di hati aku."

"Aku juga sayang banget sama kamu, Mas. Selamanya," jawab Ayu pelan, lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.

Di malam yang tenang itu, di rumah kecil mereka yang penuh kenangan, Nono dan Ayu tahu bahwa perjalanan mereka memang unik. Penuh dengan perdebatan, penuh dengan perbedaan pendapat, tapi itu justru membuat cinta mereka menjadi begitu berwarna, begitu kuat, dan begitu nyata. Dan mereka yakin, cerita ini akan terus berlanjut, penuh dengan tawa, penuh dengan cinta, dan penuh dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir selamanya.

1
Ayu Suryani
Bagus Banget Kak🥰
Ayu Suryani
Bagus kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!