"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Mimpi Nyebelin~
Paginya.
Matahari Lombok menyelinap melalui celah tirai kamar Adea. Cahaya keemasan jatuh ke wajah gadis yang masih setengah tertidur, berguling-guling di kasur dengan boneka panda terpeluk erat.
"Adeaa~!!"
Suara Angga dari dapur menggema ke seluruh penjuru rumah.
"Udah selesai belum? Cepet sarapan!"
Adea membuka mata perlahan. Matanya masih sayu, rambutnya berantakan seperti sarang burung. Ia mengendus udara, aroma nasi goreng tercium samar.
Matanya langsung terbuka lebar.
"Iya iya! Sekarang baru pake parfum!" teriaknya balik dengan suara serak khas orang baru bangun.
Ia melompat dari kasur, menjatuhkan boneka panda ke lantai dengan bunyi dug lembut. Cumi yang sedang tidur di ujung kasur ikut terkejut dan melompat, lalu mengeong protes.
"Sorry Cum!" bisik Adea sambil berlari kecil ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, pintu kamar Adea terbuka lebar.
Gadis itu sudah berganti seragam kampus, kemeja putih agak longgar dan rok abu-abu selutut. Rambutnya diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang jatuh ke wajah. Parfum vanilla menyebar tipis di sekelilingnya.
"Ayo Cumi!" serunya.
Ia keluar dari kamar dengan tangan direntangkan rendah di samping tubuhnya, jari-jari terbuka, berlari kecil dengan langkah lucu ke arah dapur.
Seperti anak ayam.
Benar-benar seperti anak ayam.
Cumi yang tadinya sedang duduk manis di lorong langsung mengekor dari belakang, berlari dengan tubuh gembulnya yang bergoyang ke kanan dan kiri.
Sampai di depan meja makan, Adea berhenti.
Matanya langsung tertuju pada piring di atas meja.
Nasi goreng.
Nasi goreng kesukaannya.
Dengan telur mata sapi di atasnya, kerupuk di samping, dan taburan bawang goreng yang banyak. Persis seperti yang ia suka. Di sebelahnya, segelas susu hangat masih mengepul tipis.
"Makasih Anggaaa~"
Adea merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, hampir memeluk Angga yang masih berdiri di dekat kompor dengan celemek biru lusuh.
Angga mundur dua langkah.
"Gua masih pake celemek," katanya datar, mengangkat tangan bertahan.
"Hehe~"
Adea menyeringai lucu, tidak merasa bersalah sama sekali. Wajahnya yang chubby mengerucut manja, matanya berbinar.
Angga menghela napas..lagi..lalu menarik kursi kayu di meja makan.
"Udah duduk."
Adea menurut. Ia duduk dengan bersila di kursi, langsung mengambil sendok dan mulai melahap nasi goreng di depannya.
"Hmmmmm... enak banget sih," ucapnya dengan mulut penuh.
Angga tidak menjawab. Ia melirik ke lantai, di mana Cumi sudah duduk manis di depan mangkuknya sendiri yang berisi daging ayam mentah yang dipotong kecil-kecil dan semangkuk susu di sampingnya.
"Cumi juga makan, ya," ucap Angga pelan sambil mengelus kepala kucing itu.
Cumi menyambut dengan dengkur keras, lalu langsung melahap makanannya seperti tidak pernah makan selama seminggu.
Angga lalu duduk di kursinya sendiri, tepat di seberang Adea. Ia meneguk teh hitam hangat dari cangkir keramik kesayangannya, lalu mulai makan dengan tenang.
Tenang.
Sementara di seberangnya, mulut Adea tidak pernah berhenti bergerak.
Bukan hanya untuk mengunyah.
"Angga, tau gak, tadi malem gue mimpi aneh," mulai Adea sambil mengunyah kerupuk. "Gue mimpi dosen baru itu."
Angga berhenti mengunyah sesaat.
"Yang namanya Pak Angga?"
"Iya! Nah itu dia!" Adea menunjuk dengan sendok. "Mungkin saking bencinya, dia masuk ke mimpi gue!"
Angga meneguk tehnya pelan. Matanya tidak lepas dari wajah Adea yang bersemangat bercerita.
"Di mimpi gue, dia ngajarin kelas sambil terus nengok ke arah gue. Matanya kayak... gimana gitu. Nyebelin!" Adea mengaduk-aduk nasinya dengan sendok, seolah yang dia aduk adalah wajah dosen itu. "Terus gue bangun dengan perasaan gondok, Anji. Udah nyata nyebelin, mimpi juga nyebelin."
"Mungkin dia emang suka sama lu," ucap Angga lagi. Nada yang sama seperti kemarin. Tapi kali ini ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak bisa Adea baca.
"Ah elu mah gak bisa liat yang bener. Semua orang lu bilang suka sama gue."
"Karena emang gitu faktanya."
Adea menghentikan sendoknya. Ia menatap Angga dengan alis terangkat.
"Maksudnya?"
Angga terdiam. Ia menatap balik Adea. Keduanya bertukar pandang di atas meja makan yang penuh dengan nasi goreng dan teh hangat.
Cumi mendongak sejenak dari mangkuknya, melihat ke arah mereka berdua, lalu kembali ke makanannya. Kucing itu tidak peduli dengan drama manusia.
"Maksudnya... lu tuh orangnya gampang disukai, Dea," ucap Angga akhirnya, suaranya sedikit lebih pelan. "Jadi gak usah kaget kalo ada yang suka sama lu. Termasuk dosen baru itu."
Adea mengerjap.
"Oh."
Ia tersenyum kecil, lalu kembali ke nasinya.
Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdebar tidak karuan.
Termasuk dosen baru itu?
Kenapa Angga bilang termasuk?
Adea menggigit bibir bawahnya pelan, tapi tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menunduk dan terus makan, sementara Angga di seberangnya tersenyum kecil hanya cukup untuk diketahui oleh cangkir tehnya.
Bersambung...