Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah masih hidup?
Sret!
Adira segera memalingkan wajah dengan kasar guna menghindari sentuhan jari kotor pria itu yang terasa menjijikkan di kulitnya. Tatapan bencinya kini terpancar semakin terang-terangan.
"Hahaha! Kau terlalu percaya diri jika mengira aku menculikmu hanya untuk meminta uang tebusan," ucap pria itu sembari menarik kembali tangannya dengan mata berkilat penuh kemenangan.
Ia kembali menyandarkan tubuh ke kursi, menatap Adira dengan pandangan merendahkan. "Seluruh dunia sudah tahu kalau keluargamu bangkrut total. Semua aset kekayaan Sutra Santoso sudah dibekukan hingga tak tersisa sedikit pun. Kau sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan, Adira."
Pria itu tersenyum miring. "Jadi, menurutmu... jika bukan karena uang, untuk apa aku membawamu ke sini?"
Adira hanya bergeming, tak berniat sedikit pun untuk menyahut.
Tiba-tiba, pria itu mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya ke telinga Adira hingga aroma tembakau yang menyengat menusuk indra penciuman wanita itu.
"Kau ingin tahu satu fakta?" tanya pria itu dengan nada rendah yang licik.
"Fakta apa?" sahut Adira. Suaranya sedikit serak karena tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.
Pria itu menyeringai, tampak menikmati raut wajah Adira. "Ayahmu... Sutra Santoso... dia masih hidup."
Mata Adira membelalak sempurna; pupil matanya bergetar hebat. Seluruh tubuhnya yang basah kuyup kini terasa membeku. Bukan karena air dingin, melainkan akibat guncangan batin yang teramat dahsyat.
"Di mana ayahku? Di mana dia?!" teriak Adira.
Ia berusaha sekuat tenaga meronta, menggoyangkan tubuhnya guna melepaskan tali yang melilit pergelangan tangan dan kaki. Namun, jeratan itu justru semakin mencekik kulit saat ia menariknya dengan paksa. Tali tersebut benar-benar mengunci posisinya di kursi kayu, membuatnya tak berdaya meski amarah dan rasa penasaran meledak-ledak di dalam dada.
Pria itu tertawa kecil. "Apa kau tidak tahu? Suamimu lah yang sengaja menyekapnya untuk membalas dendam padamu. Dia melakukan itu karena kau sudah membunuh adiknya. Apa itu pun kau tidak mengetahuinya?" Pria itu sengaja berbohong, memprovokasi Adira agar wanita itu bersedia membunuh Arlan dengan senang hati.
Adira menatap tajam pria di hadapannya. "Tidak usah memfitnah! Aku tidak akan memercayai apa pun yang kau katakan. Semua itu bohong!" teriaknya, berusaha menepis keraguan yang mulai merayap di hati.
Namun, kalimatnya terhenti seketika saat pria itu mengeluarkan sebuah benda dari saku. Penjahat itu menunjukkan sebuah kalung perak dengan liontin yang sangat unik.
Adira terpaku, seolah jantungnya berhenti berdetak sesaat. "I-itu... tidak mungkin," bisiknya tak percaya.
Ia sangat mengenali kalung itu. Itu adalah kalung milik mendiang ibunya yang selalu dibawa oleh sang ayah. Adira tahu persis bahwa kalung itu tidak ada duanya di dunia karena ayahnya memesan desain khusus tersebut secara eksklusif.
Semenjak ibunya berpulang, sang ayah tidak pernah melepaskan kalung itu. Ke mana pun ayahnya pergi, benda itu selalu ada di dalam saku atau genggamannya.
"Di mana kalian mendapatkan kalung itu?!" teriak Adira kembali sembari meronta.
Matanya tak lepas dari benda berkilau tersebut. Ingin sekali ia meraih kalung itu untuk memastikannya. Namun apa daya, ia tak berkutik dalam ikatan.
Benarkah itu kalung Ayah? Apakah dia benar-benar masih hidup? Batinnya berkecamuk antara harapan yang muncul tiba-tiba dan ketakutan akan kenyataan pahit. Sebab selama ini, ia mengira sang ayah telah tiada.
"Cari tahu pada suamimu, dia pasti lebih tahu," berusaha untuk terus membuat Adira supaya melihat Arlan sebagai musuh.
Dor! Dor! Dor!
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar.
"Siapa itu?" tanya pria yang sedari tadi mengintimidasi Adira.
Salah satu anak buahnya mengintip keluar. Ia melihat seorang pria tengah memporak-porandakan situasi di luar sana.
"I-itu... sepertinya target kita," lapor si anak buah dengan suara gugup karena ketakutan.
"Apa? Maksud kamu, Kenzo?"
Adira tersentak mendengar nama Kenzo. Ia tahu bahwa orang yang kerap dijuluki Kenzo adalah Tuan Zo, sepupu Arlan.
Bagaimana dia bisa sampai ke sini? batin Adira heran.
"I-iya, Bos. Sepertinya itu dia."
"Mana mungkin! Jelas-jelas aku sudah mengirim orang untuk menghabisinya. Bagaimana mungkin dia masih hidup?!"
"Lagi pula, informasi yang aku dapat, Kenzo itu tidak bisa bela diri! Itu pasti bukan dia!" tambah penjahat itu.
Brak!
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang