Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Jigar yang merasa suasana makin canggung segera mencairkan suasana dengan gaya sok asiknya. Ia mendekat ke arah Zoya yang masih berdiri mematung sambil sesenggukan kecil.
"Udah, Zoy, nggak usah dimasukin ke hati. Melody emang lagi PMS kayaknya, makanya galak bener," ucap Jigar sambil nyengir, mencoba menenangkan. "Mending lo masuk kelas deh, bentar lagi bel bunyi. Nanti makin pusing lo di sini kena semprot lagi."
Zoya menatap Jigar dengan mata sembabnya, lalu melirik Kaisar sejenak. "Iya, Jig. Aku masuk dulu ya. Kaisar, aku duluan," pamitnya lirih sebelum akhirnya berjalan gontai masuk ke kelasnya.
Begitu Zoya benar-benar hilang dari pandangan, Jigar, David, dan Azka langsung mengepung Kaisar. Mereka menatap bos Amours itu dengan tatapan penuh selidik.
"Kai, gue serius nanya deh," David memulai sambil melipat tangan di dada. "Lo tuh sebenernya gimana sih? Mulut lo bilang bela Zoya, tapi mata lo... dari tadi nggak lepas dari Melody."
"Iya, Bos," timpal Jigar sambil menyikut lengan Kaisar. "Tadi pas Melody pergi, muka lo kayak orang kehilangan dompet. Panik tapi gengsi. Katanya suka Zoya, tapi kok malah posesifnya ke Melody sampe si Thomas dihajar babak belur?"
Azka mengangguk setuju. "Lo nggak bisa bohongin kita, Kai. Lo perhatian banget ke Melody, bahkan lebih dari cara lo perhatian ke Zoya. Zoya nangis lo cuma diem, tapi pas Melody lecet dikit, lo langsung mode bantai."
Kaisar terdiam, rahangnya mengeras. Ia menatap ke arah koridor tempat Melody menghilang tadi. Pertanyaan teman-temannya menghantam telak di kepalanya.
"Gue cuma nggak mau ada orang di sekitar gue yang celaka," jawab Kaisar dingin, mencoba membela diri.
"Halah, alasan klasik!" seru Jigar kompak dengan David.
"Masalahnya, Kai..." David menatap Kaisar serius. "Zoya itu masa lalu yang lo rasa perlu lo jaga. Tapi Melody? Melody itu masa depan yang sebenernya nggak mau lo lepasin. Pikirin deh sebelum dia beneran nemu 'Thomas' lain yang lebih waras."
Kaisar tidak menjawab, ia memilih pergi meninggalkan teman-temannya menuju kelas, namun dalam hatinya, perkataan David barusan bergema tanpa henti. Ternyata, menyangkal perasaan sendiri jauh lebih sulit daripada menghadapi musuh di dunia bawah.
"Sumpah ya, bener-bener si es batu itu! Nggak konsisten banget kayak sinyal di pelosok!" gerutu Melody sambil menendang kaleng kosong di pinggir koridor dengan penuh emosi.
Rere merangkul bahu Melody, wajahnya serius banget kayak lagi bahas strategi perang. "Tapi lo pikir deh, Mell. Ini aneh bin ajaib. Kaisar semalam udah kayak superhero nyelamatin lo dari si psikopat kacamata, posesifnya udah kayak pawang macan, tapi tadi?! Begitu si Zoya nangis dikit, langsung pasang badan. Labil bener itu laki!"
"Tau tuh! Definisi pahlawan kesiangan yang amnesia massal," sahut Rhea sambil sibuk ngunyah cilok. "Habis dipeluk, eh besoknya dibuang. Berasa naik roller coaster gue liat hubungan lo, Mell. Jantung gue yang olahraga, lo yang ngerasain."
Melody mendengus kasar, tangannya sibuk mengipasi wajahnya yang panas. "Halah, nggak heran gue mah! Dia emang udah cinta mati sama itu curut satu. Zoya bersin aja mungkin dia langsung pesen ambulans. Sedangkan gue? Gue jungkir balik sampe mau diculik aja masih dianggap angin lalu kalau ada si 'Tuan Putri' itu."
"Tapi tadi lo keren sih, Mell! Pas lo bilang air matanya jangan sebelah doang, gue hampir keselek ludah sendiri!" Rere tertawa ngakak. "Muka si Zoya langsung kayak adonan kue gagal, pucat-pucat gimana gitu."
"Habisnya gue gemes, Re! Polosnya itu lho, udah level pro player. Kalau ada perlombaan muka paling melas sedunia, dia pasti juara umum, dapet piala emas plus piagam penghargaan!" ucap Melody dengan nada kocak yang menggebu-gebu.
Rhea mengangguk-angguk setuju. "Terus si Kaisar mau-mauan lagi dikibulin. Padahal dia ketua geng, masa nggak bisa bedain mana air mata tulus sama air mata skincare?"
"Namanya juga udah buta karena cinta, Rhe. Logika dia lagi disekolahin di luar angkasa," sindir Melody lagi. "Udah ah, mending kita ke kantin. Gue mau pesen bakso yang pedesnya ngalahin omongan gue tadi. Biar panas sekalian nih hati ama perut!"
"Sikat! Gue yang bayar, tapi pake duit lo ya!" canda Rere yang langsung dapet toyoran sayang dari Melody. Mereka bertiga pun jalan menjauh sambil ketawa-ketiwi, mengabaikan suasana panas yang baru saja mereka tinggalkan di kelas.