NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: HIDUP YANG ASING

Terbangun untuk kedua kalinya di ruangan yang sama membuat Arcelia tersadar bahwa ini bukan mimpi. Sinar matahari pagi menembus celah gorden rumah sakit, menyilaukan matanya yang masih terasa perih. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya. Masih lemas, tapi setidaknya rasa sesak di paru-parunya sudah berkurang.

"Jadi, gue beneran jadi orang lain," gumamnya pelan. Suara itu masih terdengar asing di telinganya. Begitu lembut, namun terdengar sangat rapuh.

Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Di kehidupan lamanya, Arcelia adalah wanita yang sangat mandiri. Dia tidak punya keluarga, tidak punya ikatan. Baginya, rumah hanyalah tempat untuk menaruh laptop dan tidur. Dia tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya, karena seingatnya, dia tumbuh besar di jalanan sebelum akhirnya bakatnya di bidang komputer ditemukan oleh seorang mentor yang juga seorang buronan.

Sekarang, tiba-tiba dia punya suami. Punya ayah. Punya ibu. Punya adik tiri.

"Alzena Mirelle Halim," ia mengeja nama itu. "Nama lo bagus, tapi kenapa hidup lo nggak sebagus nama lo?"

Ingatan Alzena yang tersisa di otaknya seperti kepingan film tua yang berdebu. Dia bisa merasakan betapa sakitnya hati Alzena setiap kali ayahnya membentak, atau betapa sesaknya napas wanita itu saat Shania, adik tirinya, membuang barang-barang pemberian ibunya ke tempat sampah. Namun, memori itu tidak lengkap. Ada bagian yang kosong, seperti sebuah folder yang terhapus secara paksa.

Pintu kamar terbuka. Bukan Keano yang masuk, melainkan asisten pribadinya yang kemarin sempat Arcelia lihat. Namanya Evan. Pria itu datang membawa sebuah tas jinjing dan sebuah kotak tipis yang sangat Arcelia kenali bentuknya.

"Nyonya, Tuan Keano mengirimkan ini. Laptop yang Anda minta," ujar Evan dengan wajah datar, hampir tanpa ekspresi. "Beliau juga memesankan sarapan dari restoran hotel di bawah."

Mata Arcelia berbinar saat melihat kotak laptop itu. Ia tidak peduli pada sarapannya, ia lebih butuh koneksi ke dunia luar. "Simpan di sini," tunjuk Arcelia ke meja lipat di atas tempat tidurnya.

Evan meletakkannya dengan ragu. "Maaf sebelumnya, Nyonya... tapi Tuan Keano bertanya, untuk apa Anda membutuhkan laptop ini? Beliau bilang, biasanya Anda lebih suka membaca majalah fashion atau... menangis sambil menonton drama."

Arcelia mendongak, menatap Evan dengan tatapan datar yang membuat asisten itu sedikit salah tingkah. "Bilang sama bos kamu, hobi orang bisa berubah setelah dia hampir mati. Sekarang gue lebih suka 'main' angka daripada nonton drama yang isinya cuma nangis."

Evan berdehem, sedikit terkejut dengan gaya bicara Alzena yang mendadak menggunakan "gue-lo". "Baik, Nyonya. Saya akan sampaikan. Apakah Anda butuh bantuan untuk menyalakannya?"

"Nggak usah. Gue bukan orang gaptek. Kamu boleh keluar," usir Arcelia halus.

Begitu pintu tertutup, Arcelia langsung menyambar kotak itu. Jari-jarinya yang kurus bergerak lincah membuka segelnya. Begitu layar menyala dan memancarkan cahaya biru, Arcelia merasa kekuatannya kembali. Ia menarik napas panjang, jarinya menari di atas trackpad dengan kecepatan yang tidak wajar untuk orang yang baru bangun dari koma.

Langkah pertamanya bukan mencari tahu siapa keluarga Halim, melainkan mencari tahu tentang dirinya sendiri. Arcelia Vionette.

Ia mengetik namanya di mesin pencari. Hasilnya muncul dalam hitungan detik.

[BERITA DUKA: WANITA MUDA DITEMUKAN TEWAS TERSEDAK DI APARTEMEN MEWAHNYA]

Arcelia mendengus. "Bener-bener nggak estetik. Masuk berita gara-gara keselek," gumamnya kesal. Ia membaca artikel itu lebih lanjut. Dikatakan bahwa jenazahnya sudah dikremasi karena dia tidak memiliki ahli waris sama sekali. Apartemennya disegel, dan semua asetnya akan disita oleh negara jika tidak ada yang mengklaim dalam waktu tertentu.

"Aset gue... kripto gue..." Arcelia memijat pelipisnya. Jutaan dollar yang dia kumpulkan dengan susah payah sekarang membeku. Ia harus segera memindahkannya sebelum pemerintah menyentuh dompet digitalnya.

Tapi ada satu hal yang mengganggunya. Kenapa saat ia melihat foto rumah masa kecil Alzena di memori wanita itu, hatinya terasa sangat sakit? Bukan sakit karena sedih, tapi sakit yang terasa akrab. Seperti sebuah dejavu.

Ia mencoba mencari profil keluarga Halim. Muncul foto keluarga besar mereka di sebuah acara perjamuan bisnis. Di sana ada Aldric yang terlihat tegas dan kaku, Mirelle yang cantik tapi matanya terlihat seduh, dan Shania yang tersenyum lebar ke arah kamera. Alzena berdiri di pojok, tampak seperti bayangan yang tidak diinginkan.

Arcelia menatap wajah Mirelle, ibu kandung Alzena. Ada kerinduan yang sangat dalam yang tiba-tiba muncul dari dasar hatinya. Sebuah perasaan yang belum pernah dia rasakan selama menjadi Arcelia si yatim piatu.

"Kenapa gue ngerasa pengen nangis liat muka tante ini?" gumamnya heran sambil menyentuh layar laptop. "Gue nggak pernah punya nyokap. Harusnya gue biasa aja."

Ia mencoba menggali lebih dalam soal masa lalu keluarga Halim. Ada sebuah berita lama, sekitar lima belas tahun yang lalu. Berita itu sudah terkubur sangat dalam di arsip digital.

[TRAGEDI KELUARGA KONGALOMERAT: PUTRI BUNGSU KELUARGA HALIM HILANG DI TAMAN BERMAIN]

Mata Arcelia menyipit. "Hilang? Jadi Alzena punya adek?"

Ia mencoba mencari foto anak yang hilang itu, tapi file-nya rusak. Sepertinya ada yang sengaja menghapus jejak digital anak itu bertahun-tahun lalu. Arcelia merasa tertantang. Ia mulai memasukkan perintah-perintah rumit ke dalam kolom pencarian, mencoba memulihkan data yang terkunci.

Namun, baru saja dia akan masuk ke server yang lebih dalam, kepalanya mendadak berdenyut hebat. Rasa sakitnya seperti ditusuk jarum. Tubuh Alzena yang lemah ini menolak aktivitas otak yang terlalu berat.

"Argh... sial!" Arcelia memegangi kepalanya, napasnya memburu. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka lagi. Arcelia mengira itu Evan, tapi ternyata Keano yang kembali. Pria itu masih menggunakan baju yang sama dengan kemarin, tapi wajahnya terlihat sedikit lebih lelah.

Keano terpaku di ambang pintu melihat Alzena yang sedang membungkuk kesakitan sambil memegang laptop di pangkuannya. Dalam sekejap, pria itu sudah berada di samping tempat tidurnya.

"Apa yang kau lakukan?" suara Keano terdengar berat dan ada nada... khawatir? Tidak, Arcelia yakin itu hanya imajinasinya.

Keano merebut laptop itu dari tangan Alzena dan meletakkannya di meja. Ia menekan tombol panggil suster, lalu memegang bahu Alzena agar wanita itu tetap duduk tegak.

"Aku membelikanmu laptop bukan untuk membuatmu pingsan lagi," kata Keano tajam. Matanya menatap layar laptop yang masih menyala, tapi Arcelia dengan cepat menutup tab pencariannya sehingga Keano hanya melihat layar desktop kosong.

"Gue cuma... cuma liat berita," jawab Arcelia parau. Ia mencoba mengatur napasnya.

Keano terdiam sebentar, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Berita tentang kematian wanita bernama Arcelia itu?"

Jantung Arcelia hampir berhenti. "Lo... tahu?"

Keano melepaskan pegangannya di bahu Alzena, lalu berdiri tegak kembali ke mode dinginnya yang biasa. "Berita itu sedang ramai. Seorang wanita kaya mati konyol. Kenapa? Kamu merasa senasib dengannya karena sama-sama ingin mati?"

Arcelia mendongak, menatap Keano dengan tatapan benci. "Gue nggak mau mati. Gue justru pengen hidup seribu tahun lagi buat liat orang-orang kayak lo dapet balesannya."

Bukannya marah, Keano justru terpaku. Kata-kata itu... cara bicara itu...

Dulu, bertahun-tahun yang lalu, saat dia diculik dan dikurung di sebuah gudang bawah tanah yang gelap, seorang gadis remaja menemukannya. Gadis itu tidak takut pada penjaga yang membawa senjata. Gadis itu justru sibuk meretas kode pintu elektronik sambil mengomel.

"Diem deh, jangan berisik. Gue lagi fokus. Gue bakal keluarin lo dari sini, tapi syaratnya satu... lo jangan mati dulu. Gue mau hidup seribu tahun lagi buat foya-foya pake duit imbalan dari lo," kata gadis itu saat itu.

Keano menepis ingatan itu dari kepalanya. Tidak mungkin. Gadis penyelamatnya itu hilang tanpa jejak setelah membawanya ke kantor polisi. Dia sudah mencari wanita itu selama bertahun-tahun dan tidak pernah menemukannya. Mana mungkin wanita itu adalah Alzena, istrinya yang penakut dan lemah ini?

"Istirahatlah," ujar Keano dingin sebelum berbalik pergi. "Besok kamu pulang ke rumah. Jangan buat masalah lagi, atau aku sendiri yang akan mengantarmu ke rumah sakit jiwa."

Arcelia menatap punggung Keano yang menjauh. Ia mengepalkan tangannya di bawah selimut.

"Rumah sakit jiwa katanya? Liat aja nanti, Keano. Gue bakal bikin lo yang ngerasa gila karena nggak bisa lepas dari gue."

Malam itu, Arcelia tidur dengan sisa rasa sakit di kepalanya. Di dalam mimpinya, dia melihat seorang anak kecil yang menangis di sebuah taman bermain, memanggil-manggil nama "Kakak Alzena". Tapi sebelum dia bisa melihat wajah anak itu, bayangan Shania muncul dan mendorong anak itu ke dalam kegelapan.

Arcelia terbangun dengan napas tersengal. Ia menyentuh pipinya yang basah.

"Kenapa gue nangis? Siapa anak kecil itu? Dan kenapa gue ngerasa... kalau gue harus balik ke rumah keluarga Halim secepatnya?"

Dia belum tahu siapa dia sebenarnya di dunia ini. Dia hanya tahu, ada sesuatu yang salah dengan ingatan Alzena, dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa memperbaikinya—dengan cara Arcelia.

...****************...

TBC

1
Iryani levana khrisna Khrisna
terimakasih Thor tetap semangat dalam berkarya
Iryani levana khrisna Khrisna
semoga tidak menggantung ya thor pernyataan cinta aja butuh jawaban apa lagi aku yang membaca cerita mu 😄
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!