"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Yang Selalu Ada
Amira urung pulang ke rumah pamannya, ada rasa tak enak untuk muncul dalam kondisi terpuruk. Beruntung ia bertemu Rita, sahabatnya yang juga janda dan berbaik hati menawarkan tempat tinggal sementara.
“Terimakasih banyak, Rit. Aku nggak tahu apa jadinya jika kau nggak ketemu kamu. Bisa saja malah pamanku masuk rumah sakit karena serangan jantung karena kaget lihat keadaanku sekarang.”
Keduanya tengah duduk di lantai dapur sambil menikmati teh hangat.
“Eleh pakai basa-basi segala. Kita berteman dari waktu kita belum mengerti apa itu malu, sampai akhirnya kita malu-maluin. Buat apa pakai makasih segala,” cerocos Rita diakhiri tawa renyah khasnya.
Namun candaan Rita justru membuat Amira berkaca-kaca. Entah kenapa kata ‘malu-maluin’ terasa sangat menyentuh ulu hatinya, pasalnya Amira teringat betapa memalukan nasibnya beberapa hari ini, "Kau benar, aku memang bikin malu,"
“Eh? Amira kau kenapa? Aku cuma bermaksud bercanda loh?”
Amira memaksa diri tersenyum, senyum pahit diantara tangis. “Aku tahu, Rit. Tapi aku malu mengakui yang sudah kualami,”
Rasa bersalah menyeruak, Rita menelan saliva sekedar untuk membasahi tenggorokannya, didekapnya Amira erat-erat. “Ma-maafkan aku.”
Amira mengangguk dalam pelukan Rita, namun ia masih tak bisa menghentikan tangis pilunya. “Aku diusir mertuaku, difitnah, lalu... lalu diserahkan pada pria-pria bejat, Rit! Aku benar-benar kotor!”
Semakin keras tangis Amira. Pada akhirnya kegelisahan dan rasa takut yang beberapa hari dipendamnya sendiri, kini bisa tumpah di pundak Rita.
Rita tak kalah kagetnya mendengar pengakuan menyakitkan dari sahabatnya itu. Ia memeluk Amira lebih erat, membiarkan sahabatnya itu menangis sepuasnya. “Aku di sini, Amira. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Kamu tidak sendirian lagi,” bisik Rita lembut berusaha menenangkan.
Amira menangis lebih keras, merasa lega bisa berbagi beban dengan Rita. Sebagai sahabat, Rita membiarkan Amira menangis, tidak memaksanya untuk berbicara lebih lanjut. Dia hanya ada di sana, menjadi tempat berlindung bagi sahabatnya.
Setelah beberapa menit, Amira mulai tenang, tangisnya berubah menjadi isak-isak kecil. Rita melepaskan pelukan, lalu mengambil tisunya dan mengeluarkan sebotol air mineral. “Nih, minum dulu,” katanya lembut.
Amira mengangguk, mengambil air mineral dan minum sedikit. Ia merasa sedikit lebih baik. "Terima kasih, Rit. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kamu," ucapnya dengan suara yang masih agak bergetar.
Rita tersenyum, “Jangan bicara begitu, mulai sekarang kita akan saling ada satu sama lain. Sekarang, ceritakan detailnya, apa yang sebenarnya terjadi,”
Amira menghela napas dalam-dalam, terpaksa mengulang cerita, dengan isak yang terkadang hadir, terkadang mereda, Amira memaksa dirinya mengingat setiap detail dosa-dosa yang dilimpahkan padanya.
"Lalu, apa rencanamu sekarang, Mir?" tanya Rita menatap lurus pada sahabatnya itu. Kali ini justru Rita yang tergugu dalam tangis iba.
Amira menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. “Aku... aku tidak tahu, Rit. Aku merasa seperti aku tidak punya arah lagi. Aku hanya ingin melupakan semua yang terjadi, tapi rasanya seperti luka ini terlalu dalam, aku masih takut.”
Rita mendengarkan dengan sabar, tidak memotong Amira. Setelah Amira selesai berbicara, Rita mengambil napas dalam-dalam. “Aku tahu ini tidak mudah, Mir. Tapi kamu harus kuat. Kamu tidak bisa membiarkan mereka menghancurkanmu, lagi.”
Amira masih duduk, melempar pandangannya jauh keluar jendela dapur minimalis itu. Sedangkan Rita bangkit berjalan pelan menuju ke jendela dengan kening berkerut membantu Amira mencari langkah pertama. “Sekarang, buat dulu skenario yang pas, agar orang-orang desa tak banyak bertanya.”
Amira menatap punggung Rita, mencari makna ucapan sahabat baiknya itu. “Apa maksudmu Rit?”
Rita menjentikkan jarinya, berbalik cepat menatap Amira. “Alasan yang masuk akal, Mir. Kan kau datang nggak bawa apa-apa, bahkan baju cuma yang kau pakai kemarin saja kan, apa kata orang kalau istri seorang jutawan, menantu seorang pengusaha pulang kampung kondisi kayak gembel?”
“Oh iya, benar juga,” angguk Amira. “Tapi apa ya, aku kira kemarin siap mengaku saja kalau ada yang tanya.”
“Mengaku? Eleh bodoh. Kamu mau dimaki-maki orang sekampung?” ledek Rita.
“Aku ketakutan banget Rit, jadi aku pulang kesini cuma untuk satu alasan 'aman' itu saja, mana sempat aku mikir alasan-alasan!” cemberut Amira menekankan kata aman.
“Masuk akal juga sih, masih pinter rupanya, hahaha!” Rita tak henti mengolok-olok Amira. “Begini saja, bagaimana kalau kamu lagi perjalanan darimana gitu, terus minta turun di sini, tapi suamimu kan orang sibuk, jadi nggak sempat nganterin sampai kampung. Kebetulan ketemu aku di jalan masuk kampung, terus aku ajak barengan!”
“Rumit nya!” sahut cepat Amira.
“Lha terus apa dong?” cerca Rita sambil tertawa.
Amira menepuk dahi, “Aku nggak tahu, Rit. Aku nggak mikir sampai sejauh itu.”
Rita berpikir lagi, di mencari solusi yang mungkin saja lebih masuk akal. “Aku ada ide mantul sekarang, kamu harusnya ikut suamimu dinas ke suatu tempat, tapi kamu tiba-tiba sakit, jadi kamu memutuskan untuk berhenti, suamimu hubungin aku buat nitipin kamu!” seru Rita penuh antusias.
Amira diam, menimbang sejenak, “Hmm, itu terdengar lebih natural, terus barang-barangku?”
“Itu mudah. Kresna terburu-buru harus ke dokter, sementara suamimu buru-buru ada kerjaan, aku bilang nanti saja aku akan ambilkan kalau sudah senggang.”
Amira mengangguk setuju.
“Nah, sekarang, kau ke rumah pamanmu dulu sana. Dia harus jadi orang pertama yang tahu kalau kau pulang kampung!” Rita mengambil sesuatu dari lemari dapurnya. “Ini, aku cuma ada beberapa toples kue sisa lebaran, kau bawa sebagai oleh-oleh.”
“Aduh, Rit, aku bikin kamu repot banyak!”
“Nggak usah lebay, itu kamu catat, ntar kembalian kalau udah sukses. Itu kue mahal yang sengaja kusimpan buat camilan, jadi jangan harap aku memberimu gratis!” canda Rita setengah jujur.
Keduanya tertawa sejenak, bahkan Amira pun seolah lupa dengan pengalaman pahitnya.
“Tapi, gimana kalau paman suruh aku nginep dirumahnya?”
“Halah, gitu aja gampang, tinggal kau pakai alasan anak pamanmu banyak, mana cukup kalau tambah kau tinggal disana,”
“Oh, benar juga!”
Amira pun bergegas menuju ke rumah pamannya, dengan sedikit rasa khawatir, ia kembali menoleh pada Rita yang berdiri menatapnya di pintu.
"Udah ke sana dulu, aku akan memikirkan beberapa ide untuk hidupmu selanjutnya! Selamat berjuang untuk menyapa pamanmu!"
...🍂🍂🍂bersambung🍂🍂🍂...