"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. debat Sarmini
"Pur, Dukun itu telah di bantai oleh arwah yang kau bilang berusia ratusan tahun." Maharani datang untuk memberi kabar kepada ratu ular.
"Ya biarkan saja karena dia telah berani mengambil pekerjaan itu maka yang harus terima dengan resiko yang akan dia hadapi." Purnama berkata santai dan seperti biasa sedang membaca buku.
"Tapi kau memang tidak ada niat untuk menolong Dukun itu?" Maharani masih agak heran.
"Tidak, kalau aku menolong maka akan bertempur langsung dengan iblis tersebut dan aku sendiri tidak yakin apa bisa menang." jelas Purnama.
"Loh berarti kau ragu dengan kemampuan yang kau miliki saat ini?" tanya Maharani kembali pada sang adik.
Purnama tersenyum mendengar pertanyaan Maharani barusan bahwa mungkin saja memang Purnama telah ragu dengan kemampuan yang dia miliki, tapi memang Purnama harus mempertimbangkan segala sesuatu saat sedang terjun ke dalam dunia seperti itu karena yang memiliki kekuatan besar tentu saja lebih banyak saat ini di bandingkan dengan dia.
Tidak bisa juga untuk bersikap sembrono terus seperti itu karena kita juga tidak mengetahui kekuatan yang lawan miliki, terlebih Purnama juga sudah merasakan getaran yang dia rasakan ketika mendatangi pohon kapuk tersebut sehingga dia saat nanti akan mengambil tindakan maka harus mempertimbangkan dengan sangat baik agar jangan sampai ada yang celaka.
Sebab prioritas Purnama yang paling utama adalah keselamatan para member yang dia miliki saat ini, ratu ular tidak mau bila nanti para member ini ada yang musnah karena dia yang tetap keras kepala ingin menghajar para iblis di sekitar desa, pengalaman yang sudah lama berlalu itu membuat dia mengambil pelajaran yang sangat penting.
Jangan sampai ada member yang musnah seperti dulu lagi karena Purnama jelas merasakan rasa bersalah begitu besar, keinginan yang timbul di dalam hati dia bisa memenangkan pertempuran dan para member juga bisa kembali dalam keadaan utuh sehingga itu baru bisa disebut sebagai kemenangan telak dalam mengurus kasus.
Jadi dia saat ini tidak mau terburu-buru ketika menangani sebuah masalah yang ada di mana pun itu, tidak masalah walau membutuhkan waktu lama namun setidaknya member yang dia miliki tidak berkurang sama sekali, sebab kehilangan para member jelas itu menjadi pukulan besar bagi ratu ular sehingga dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Sekarang sudah pasti Mbah Rejo akan meninggal dunia karena dia tidak memiliki perhitungan saat melawan iblis yang ada di pohon kapuk itu, kekuatan yang di miliki oleh Mbah Rejo tentu saja tidak sebanding dengan milik Purnama karena dia hanya dukun baru dan malah berambisi ingin mengalahkan ratu ular.
Sekarang hanya bisa terima nasib begitu saja tanpa ada penyesalan sama sekali karena tidak ada juga yang bisa menolong dia, Purnama jelas tidak akan pernah mau menolong Mbah Rejo itu karena dia masih mempertimbangkan resiko yang akan dia hadapi ketika nanti sudah sangat yakin untuk menghadapi iblis berusia ratusan tahun tersebut.
Memang sudah ada niat di dalam hati untuk mengungkap kasus tentang kematian Mirasih itu, namun setidaknya dia juga harus mempertimbangkan apa yang telah dia miliki Dan jangan sampai hanya karena ingin menolong orang lain maka keluarga atau para teman harus menderita dan musnah dalam pertempuran kali ini.
"Jadi bagaimana dengan respon para warga setelah melihat kematian Dukun itu?" Arya bertanya kepada Maharani.
"Ya tentu saja mereka semua langsung kabur meninggalkan lokasi, kami juga pergi ke sini memberikan laporan." jelas Maharani kembali.
"Tapi sepertinya lebih baik kita kembali saja ke desa Bondowoso itu untuk mencari keberadaan Mirasih." ajak Nilam.
"Apa iya, Pur?" Maharani bertanya pendapat Purnama terlebih dahulu.
Purnama segera mengangguk karena benar apa yang di katakan oleh Nilam agar mereka memperhatikan dulu keselamatan para warga yang ada di sana, sebab Dia juga tidak mengetahui secara pasti bagaimana nanti arwah Mirasih itu akan mengambil sikap ketika dia sudah terlanjur emosi.
Ini sudah pasti sebagian warga masih ada di luar karena mereka bontang-panting lari ketakutan saat melihat Mbah Rejo meninggal dunia, kemungkinan besar juga tubuh Mbah Rejo masih di biarkan begitu saja di bawah pohon kapuk itu karena mereka tidak berani untuk membawa dukun tersebut pulang ke rumah.
****************
Sarmini terdiam menatap luar jendela karena saat ini hujan begitu deras turun membasahi bumi, soal dukun yang meninggal di bawah pohon kapuk itu dia juga sudah mengetahui karena tadi Sarmini ikut dengan yang lain juga untuk melihat keadaan di pohon kapuk itu, sekarang sang dukun di tinggalkan begitu saja karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk membawa Dukun itu pulang.
"Tidak usah terlalu kau pikirkan seperti itu karena itu juga bukan salah dirimu." Sarbeni berkata santai sambil menghisap cerutu.
"Walau bukan aku yang memanggil dukun itu namun setidaknya ada rasa iba di dalam hati." Sarmini menjawab pelan.
"Bila terus hidup dalam rasa iba maka pasti akan menjadi orang sengsara." celetuk Sarbeni.
Sarmini hanya bisa menarik nafas panjang Karena dia dan suami memang selalu saja berdebat dan tidak pernah memiliki pikiran satu tujuan, beban yang ada di dalam pikiran Sarmini tidak pernah di tanyakan oleh sang suami sehingga dia hanya bisa menyimpan dengan beban yang sangat besar.
"Jarwo juga sama sekali tidak ada kabar sampai saat ini?" Sarmini menatap sang suami.
"Kau tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu, kalau aku masih tetap diam anteng seperti ini maka tidak ada masalah." Sarbeni masih saja ketus.
"Dengan semua masalah yang datang ini kau masih tetap saja santai, padahal semua kesalahan jelas ada pada anak kita." Sarmini lama-lama juga ikut emosi.
Praaaaaang.
Asbak kaca itu melanting menghantam dinding karena pria yang sedang merokok itu langsung di kuasai oleh emosi, Sarmini kaget bukan main dan dia hanya bisa mengkerut karena telah mengetahui bahwa sang suami terbawa emosi tinggi ketika mendengar omongan dia tadi, karena tidak pernah memiliki satu pendapat maka tentu saja hubungan mereka semakin renggang seperti saat ini.
"Kau ingin mengatakan kepada semua orang bahwa ini semua adalah salah Jarwo?" Sarbeni sudah mencengkeram baju sang istri.
"Ti...tidak." Sarmini gugup dan ketakutan saat akan menjawab.
"Dengan tingkah kau yang seperti ini maka seluruh warga bisa mengetahui bahwa Jarwo adalah sumber masalah!" bentak Sarbeni sangat kesal.
"Maafkan aku, aku hanya merasa bersalah saja dan ingin Jarwo menjadi pria yang bertanggung jawab." Sarmini rasa ingin menangis karena ketakutan.
"Bertanggung jawab pada siapa?!" Sarbeni tetap menggunakan nada yang begitu tinggi.
Sarmini sudah tidak berani lagi untuk menjawab karena dia tahu ketika jawaban itu keluar dari mulut dia maka emosi sang suami akan semakin tinggi, bisa saja setelah ini maka dia yang akan mendapat hajaran dari sang suami sehingga lebih baik untuk tetap diam saja walau saat ini posisi dia dalam keadaan benar.
Sarbeni tidak pernah merestui hubungan Jarwo dengan Mirasih karena dia merasa gadis itu hanya ingin harta mereka saja, jadi selama ini dia memang sudah menentang keras tentang hubungan Jarwo dan Mirasih, oleh sebab itu Sarmini menjadi bingung sendiri ketika Jarwo membawa pulang Mirasih di malam kejadian.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar nya ya.
curiga SM si Jarwo dan bapaknya🤔👻
anak nya slah masih ja di bela