Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 31
Waktu bergulir dengan cepat. Sudah dua bulan sejak Dylan dan Yvone resmi memindahkan pusat kehidupan mereka ke Villa Karang Putih di Uluwatu.
Yvone kini berada di minggu keenam belas kehamilannya. Perutnya mulai membuncit dengan jelas, membentuk kurva kehidupan yang membuat sang miliarder es tidak pernah bisa melepaskan pandangannya barang sedetik pun.
Bagi Yvone, Bali adalah surga. Namun, berkat obsesi protektif suaminya, surga ini memiliki lapisan pengamanan yang membuat Pangkalan Militer tampak seperti taman bermain kanak-kanak.
Pagi itu, Yvone melangkah keluar ke teras belakang yang menghadap Samudra Hindia. Ia mengenakan dress katun longgar berwarna putih yang nyaman, berniat untuk merasakan pasir pantai di sela-sela jari kakinya.
Namun, baru tiga langkah ia menuruni tangga batu, sebuah bayangan tinggi besar menghalangi jalannya.
"Berhenti di sana, Nyonya Hartono."
Yvone menghela napas panjang, mendongak menatap suaminya. Dylan baru saja selesai berenang. Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek hitam, dengan tetesan air membasahi otot-otot perut dan dadanya yang terpahat sempurna. Tangan kanan pria itu memegang sebuah sandal jepit berbahan memory foam anti-selip.
"Dylan, ayolah," rengek Yvone, mengerucutkan bibirnya. "Aku hanya ingin berjalan tanpa alas kaki di atas pasir. Pasir itu hangat dan bagus untuk saraf kakiku."
"Pasir itu juga penuh dengan serpihan karang tajam, kepiting kecil, dan potensi bakteri," bantah Dylan dengan wajah sedatar tembok beton. Ia berlutut di hadapan Yvone sebuah pemandangan yang masih selalu membuat staf vila menahan napas lalu memasangkan sandal itu ke kaki istrinya dengan sangat hati-hati.
"Kau berlebihan," gerutu Yvone, meski tak urung ia tersenyum melihat pria arogan itu berlutut mengurus sandalnya. "Dr. Amanda yang kau terbangkan secara permanen ke sayap barat vila ini bahkan menyuruhku untuk lebih banyak bergerak secara natural."
Dylan berdiri, memicingkan matanya. "Amanda adalah dokter medis, bukan ahli keamanan lingkungan. Jika kau ingin merasakan pasir, aku akan menyuruh tim kontraktor menyaring area pantai pribadi kita sejauh lima ratus meter siang ini."
Yvone tertawa lepas, memukul pelan dada bidang suaminya yang basah. "Kau benar-benar gila, Tuan Hartono! Kau tidak bisa menyaring pantai!"
"Aku Alexander Hartono. Aku bisa menyaring lautan jika itu membuatmu aman," balas Dylan tanpa sedikit pun nada bercanda.
Pria itu merengkuh pinggang Yvone, menariknya mendekat dengan hati-hati agar perut wanita itu tidak tertekan, lalu mengecup bibir Yvone dengan dalam. Rasa asin dari air kolam dan manisnya lipbalm stroberi Yvone menyatu.
"Sekarang, sarapan," perintah Dylan setelah melepaskan ciumannya. "Koki sudah menyiapkan salmon panggang dengan kematangan sempurna dan quinoa."
"Lagi?" Yvone memutar bola matanya. Kesehariannya kini didikte oleh tabel nutrisi ketat yang telah dikurasi oleh Dylan sendiri. "Bagaimana dengan soto ayam yang dijanjikan Bik Sumi kemarin?"
"Soto ayam mengandung kolesterol dari santan," Dylan membimbing istrinya masuk kembali ke dalam vila. "Mungkin minggu depan."
Yvone hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Berdebat dengan Dylan soal keselamatan dan kesehatannya adalah pertempuran yang tidak akan pernah ia menangkan.
Pukul 14.00 WITA.
Setelah makan siang dan tidur siang paksa yang diwajibkan Dylan, Yvone akhirnya mendapatkan sedikit kebebasan di ruang kerjanya. Ruangan itu memiliki dinding kaca raksasa yang langsung menghadap ke laut lepas.
Ia sedang sibuk memeriksa render terbaru untuk area spa di proyek resor Uluwatu. Proyek itu berkembang pesat. Kehadirannya secara langsung di Bali membuat koordinasi dengan para pemuka adat dan kontraktor lapangan menjadi jauh lebih efisien. Tentu saja, inspeksi lapangannya selalu dikawal oleh Dylan sendiri atau tim taktis yang dipimpin Marco.
Pintu ruang kerjanya terbuka perlahan.
Yvone tersenyum melihat suaminya masuk membawa segelas jus alpukat murni tanpa gula. Dylan telah mengenakan kemeja linen abu-abu yang lengannya digulung hingga siku.
"Marco bilang kau ada rapat virtual dengan dewan direksi Jakarta jam dua ini," ucap Yvone sambil menerima gelas jus tersebut. "Kenapa kau ada di sini?"
"Aku membatalkannya," jawab Dylan santai, bersandar di tepi meja draf Yvone.
Yvone membelalakkan matanya. "Membatalkan rapat kuartalan? Dylan! Perusahaanmu bisa kacau jika kau terus-terusan mengabaikan dewan direksi demi menatapiku bekerja di sini."
"Perusahaanku meraup profit dua ratus persen sejak skandal Hadi terbongkar. Dewan direksi bisa mengurus diri mereka sendiri," Dylan mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapan matanya melembut saat menatap Yvone. "Lagipula, pikiranku tidak bisa fokus pada angka-angka membosankan itu. Aku terus memikirkanmu."
Yvone meletakkan pensilnya, mengusap punggung tangan suaminya. Di balik sikap diktator kesehatannya, Yvone tahu bahwa Dylan masih berjuang melawan rasa cemasnya. Ketenangan di Bali tidak serta merta menghapus trauma pria itu akan kehilangan.
"Aku ada di sini, Dylan. Di depan matamu. Sepenuhnya aman," bisik Yvone menenangkan. Ia berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati suaminya.
Dylan menarik pinggang Yvone hingga wanita itu berdiri di antara kedua kakinya yang sedikit terbuka. Pria itu melingkarkan lengannya di perut buncit Yvone, menyandarkan sisi wajahnya di perut istrinya.
"Terkadang aku masih terbangun di tengah malam," gumam Dylan pelan, sebuah pengakuan rapuh yang hanya berani ia utarakan pada Yvone. "Aku memastikan kau masih bernapas. Aku mendengarkan detak jantungmu. Aku takut kebahagiaan ini hanyalah halusinasi, dan aku akan terbangun kembali di Jakarta... sendirian."
Hati Yvone mencelos mendengarnya. Ia menyusupkan jari-jarinya ke rambut hitam legam suaminya, membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Hei," panggil Yvone lembut, menuntun wajah Dylan untuk mendongak menatapnya. "Ini nyata. Kau, aku, dan kehidupan kecil di sini. Tidak ada yang akan merenggut kami darimu."
Dylan menatap mata Yvone dalam-dalam, mencari kebohongan, namun hanya menemukan cinta yang tak terbatas. Pria itu menarik napas panjang, rahangnya yang tegang perlahan mengendur. Ia mengecup perut Yvone dari balik gaun katun wanita itu.
"Aku tahu," bisik Dylan. "Tapi aku belum pernah menjadi seorang ayah. Ayahku... dia pergi saat aku masih sangat butuh bimbingannya. Aku tidak tahu bagaimana menjadi pria yang baik untuk anak ini kelak. Bagaimana jika aku terlalu keras? Bagaimana jika aku gagal melindunginya?"
Air mata haru merebak di pelupuk mata Yvone. Sang dewa perang yang ditakuti seluruh elit politik ibu kota kini sedang gemetar ketakutan di hadapan tanggung jawab sebagai seorang ayah.
Yvone tersenyum, mengusap pipi suaminya. "Kau sudah menjadi pria yang baik, Dylan. Kau membela keluargaku. Kau memberiku keberanian untuk berdiri sendiri. Kau bukan ayahmu, dan masa lalu tidak mendikte masa depan kita. Bayi ini akan memiliki pelindung paling tangguh di dunia, dan ayah yang hatinya jauh lebih hangat dari yang pernah kau sadari."
Dylan memejamkan mata, meresapi setiap kata-kata yang diucapkan Yvone layaknya mantra penyembuh. Tangannya yang besar menangkup perut istrinya dengan lembut, menyalurkan segala rasa cinta dan keputusasaan yang tak terucapkan.
Dan tepat pada detik itu... sebuah keajaiban terjadi.
Dari balik telapak tangan Dylan, terasa sebuah ketukan pelan. Sangat halus, seperti kepakan sayap kupu-kupu dari dalam sana.
Dylan tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, menatap perut Yvone, lalu menatap wajah istrinya dengan ekspresi tercengang yang luar biasa.
"Vone..." suara Dylan nyaris tak terdengar. "Itu... apakah kau..."
Yvone menahan napasnya, air mata mulai menetes di pipinya. Ia merasakan ketukan itu lagi. Kali ini sedikit lebih kuat, sebuah getaran kehidupan yang nyata.
"Dia menendang," Yvone terisak bahagia, memegang tangan Dylan yang masih menempel di perutnya agar pria itu tidak melepaskannya. "Dylan, bayi kita menendang!"
Pria arogan, miliarder es, tiran korporat itu benar-benar kehilangan kata-katanya.
Dylan menatap perut Yvone dengan mata yang kini basah oleh air mata. Tangan besarnya bergetar. Ia merasakan tendangan ketiga, sebuah sapaan mungil dari kehidupan yang ia ciptakan bersama wanita yang paling ia cintai.
"Dia... dia bergerak," Dylan tertawa. Sebuah tawa renyah, lepas, dan dipenuhi oleh kebahagiaan murni yang belum pernah Yvone dengar seumur hidupnya. "Ya Tuhan, Yvone. Dia merespons suaraku."
Dylan mendongak, menatap Yvone dengan pemujaan yang melampaui batas kewarasan. Ia berdiri, langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat namun ekstra hati-hati, menciumi seluruh wajah Yvone sambil terus tertawa dalam tangis bahagianya.
"Terima kasih. Ya Tuhan, terima kasih, Yvone," bisik Dylan berulang-ulang di sela ciumannya.
Sore itu, dinding kaca ruang kerja menjadi saksi bisu bagaimana sisa-sisa trauma kelam sang miliarder runtuh sepenuhnya, digantikan oleh cahaya dari tendangan kecil sang pewaris. Di pulau dewata ini, Dylan Alexander Hartono akhirnya percaya bahwa kebahagiaannya bukanlah sebuah ilusi, melainkan takdir abadi yang tak akan pernah bisa direnggut oleh siapa pun.