"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. Tembok Pingitan
Suasana kantor polisi malam itu terasa begitu menyesakkan. Bau kopi murahan, asap rokok yang tipis, dan suara ketikan komputer yang berisik menjadi latar belakang saat Satria digiring masuk ke ruang pemeriksaan dengan tangan terborgol. Jas mahalnya yang seharga motor matic itu kini kusut masai, noda oli hitam dari tangan Juna masih membekas jelas di bahunya—sebuah stempel kehinaan yang tidak akan pernah bisa ia bersihkan, seberapa keras pun ia mencoba.
Di sisi lain koridor yang remang, Juna Raksa berdiri menyandar ke dinding, menatap punggung kakaknya yang menghilang di balik pintu besi dengan pandangan kosong. Tidak ada rasa puas, tidak ada sorak kemenangan di hatinya. Yang ada hanyalah rasa perih yang teramat dalam karena ulah pengecut Satria, ia harus kehilangan satu-satunya hal yang ia perjuangkan mati-matian: Kepercayaan keluarga Cantik.
"Mas Satria resmi ditahan, Jun," bisik Rian yang sejak tadi setia menemani Bosnya. "Ayah Cantik beneran nggak main-main. Beliau kirim pengacara paling sadis dari firma hukum ternama buat mastiin Satria dapet pasal berlapis tanpa celah buat dapet remisi."
Juna hanya mengangguk pelan, tatapannya masih terpaku pada lantai ubin yang dingin. "Dia pantes dapet itu, Rian. Bahkan penjara pun terlalu mewah buat iblis kayak dia. Tapi Kak Cantik... dia yang nggak pantes dapet trauma ini."
Juna merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Ia mencoba mengirimkan satu pesan singkat, hanya ingin memastikan wanita itu baik-baik saja. Namun, hanya ada centang satu abu-abu yang dingin. Ponsel Cantik sudah disita. Ia sudah benar-benar terputus dari dunia luar, ditarik paksa dari kehidupan Juna.
Satu Minggu Kemudian...
Kediaman keluarga besar Wijaya kini berubah menjadi penjara mewah bagi Cantik. Ayahnya tidak hanya menyita seluruh akses komunikasinya, tapi juga memberlakukan jam malam dan larangan keluar rumah tanpa pengawalan ketat. Hubungan bisnis keluarga Wijaya dengan keluarga besar Bani Sudirjo sudah diputus total secara sepihak, menyisakan kekacauan finansial yang sama sekali tidak dipedulikan oleh sang Ayah demi melindungi harga diri putrinya.
Cantik duduk di balkon kamarnya, menatap ke arah gerbang rumah yang dijaga ketat. Pikirannya melayang jauh pada Juna. Ia merindukan suara knalpot motor sport Juna yang biasanya membelah kesunyian malam, merindukan cengiran nakal pria itu yang selalu bisa menghapus rasa capeknya, dan yang paling utama, ia merindukan rasa aman yang hanya bisa ia dapatkan saat berada di dekapan brondong ugal-ugalan itu.
"Jun, lu lagi apa sekarang? Lu nggak nyerah kan?" bisik Cantik pada angin malam yang berhembus. Air matanya kembali jatuh; ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang hanya bisa menunggu keajaiban.
Sementara itu, di bengkel Juna Modifikasi, suasana berubah drastis menjadi hening dan mencekam. Tidak ada lagi candaan ugal-ugalan atau suara tawa Juna yang memenuhi ruangan. Juna bekerja seperti orang kesetanan. Dari pagi buta hingga tengah malam, ia terus mengulik mesin, membongkar pasang komponen dengan gerakan yang kasar dan cepat, seolah-olah dengan bekerja keras ia bisa memangkas jarak antara dirinya dan Cantik yang sekarang dipisahkan oleh tembok kebencian sang Ayah.
"Bos, istirahat dulu. Lu udah nggak tidur dua hari, muka lu udah pucat banget," tegur Rian dengan nada cemas yang sangat dalam.
"Gue nggak bisa tidur, Rian. Tiap gue merem, gue liat Kak Cantik menangis di bawah bekapan tangan Satria," jawab Juna dengan suara parau yang nyaris habis. Tangannya yang penuh luka lecet dan noda oli terus memutar kunci pas dengan tenaga yang berlebihan. "Gue harus buktiin kalau gue mandiri. Gue harus buktiin ke bokapnya kalau gue bukan sekadar 'adiknya Satria'. Gue bakal bangun bengkel ini jadi perusahaan yang lebih besar dari apa pun yang pernah dibayangkan Satria."
Juna berhenti sejenak, menatap foto mirror selfie mereka yang ia tempel di dinding meja kerjanya—foto di mana ia yang penuh noda oli memeluk Cantik dengan begitu erat. Foto itu adalah satu-satunya sumber kewarasannya saat ini.
Juna kemudian mengambil selembar kertas undangan eksklusif yang ia buat sendiri dengan desain yang sangat elegan, jauh dari kesan ugal-ugalan. Sebuah undangan untuk acara Grand Opening ekspansi bengkelnya bulan depan yang kini sudah resmi bermitra dengan investor Jepang. Di sana, ia menuliskan satu nama tamu kehormatan di posisi paling atas dengan tinta emas: Bapak Wijaya.
"Gue bakal undang Beliau secara resmi. Gue bakal tunjukin kalau Juna Raksa yang dia pukul malam itu, adalah pria yang layak buat jadi menantunya. Pria yang membangun kerajaannya sendiri dari noda oli, bukan dari warisan yang diperebutkan," tekad Juna dengan mata yang berkilat tajam.
Malam itu, di bawah keremangan lampu bengkel yang sepi, Juna Raksa kembali bekerja. Ia tahu, perjalanannya menembus restu Ayah Cantik akan jauh lebih berbahaya dan melelahkan daripada balapan liar mana pun yang pernah ia menangi. Ia harus menjadi matahari yang terbit dari kegelapan untuk menjemput bidadarinya kembali.
Pertempuran sesungguhnya untuk mendapatkan restu yang gugur itu baru saja dimulai. Dan bagi Juna Raksa, menyerah adalah kata yang sudah ia hapus dari kamus hidupnya sejak ia pertama kali mencium bibir Cantik.