Kisah ini tetang Siana Aprilly, gadis keras kepala yang masih belum bisa menentukan arah tujuan hidupnya. Siana hanya bisa mengikuti perkataan dari kedua orang tuanya tanpa protes. Karena Siana juga tidak mau menjadi anak durhaka yang mengabaikan setiap kata tercetus dari mulut orang tuanya.
Dan Siana pun juga tidak begitu memiliki banyak teman. Hanya ada beberapa orang yang dekat dengan Siana. Tapi bagi Siana, siapapun yang berusaha untuk berteman dengannya itu pasti memiliki hal tertentu.
Mereka akan pergi menjauh setelah Siana tidak lagi mereka butuhkan. Dan yang paling menyakitkan, saat Siana butuh bantuan mereka. Tidak ada satu pun dari mereka meluangkan waktu untuk mengulurkan tangan mereka pada Siana.
Sampai di titik, di mana Siana memilih untuk menjadi gadis jahat tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00.020%
Jika semesta memberi kesempatan untuk kembali mengulang ke masa hal yang begitu tidak menyenangkan dalam hidup-- mungkin itu akan Cindy terima dengan lapang dada. Dari pada harus merasakan ketakutan yang jauh lebih besar dari pada melihat ibunya memenangkan hak asuh anak itu. Yang membuat Cindy terperangkap dalam jebakan orang dewasa __ begitu senang menyudutkan anak di bawah umur tuk terus menatap buku pelajaran.
Tapi di lain pemikiran__ Cindy juga tidak menyalahkan takdir yang sulit untuk berpihak pada dirinya. Dan malam ini-- kesalahan itu memang berawal mulutnya, yang tidak bisa dikontrol. Ralat!! Tidak hanya malam ini, hari-hari sebelumnya pun sikap Cindy juga salah. Apalagi saat berhadapan langsung dengan Siana.
"Tolong--" hanya kata itu yang dapat Cindy katakan dengan sangat lirih. Karena tenaganya sudah tidak ada dalam jiwanya. Apalagi saat melihat tali yang berada digenggaman tangannya saat ini-- perlahan mulai putus, karena menahan tubuh Cindy agar tidak jatuh menghantam aspal dibawah sana.
Tapi apa boleh buat__ jika takdir yang memang ingin membuat jalan hidup Cindy berakhir malam ini. Gadis itu tidak bisa melakukan apapun lagu-- selain memohon pada semesta untuk memutar waktu di mana Cindy duduk damai di dalam kelas. Sayangnya hal itu hanya sebuah angan-angan.
Sakit? Itu memang sangat sakit-- saat tubuh melayang dan kini bertemu dengan aspal, membuat mulut sulut untuk bicara. Kedua mata yang hanya mampu menatap lurus ke atas. Melihat langit malam dengan buliran perlahan mengalir melalui ekor matanya.
Perlahan dengan sangat pasti pandangan Cindy mulai buram-- membuat kedua matanya tidak lagi sanggup untuk terbuka. Kini tertutup, dengan pendengar yang samar mendengar sebuah langkah kaki mendekat. Sebelum suara terikan dari seseorang di dekat tubuh Cindy yang terlihat tidak berdaya.
Sedangkan seorang gadis yang melihat kondisi tubuh Cindy benar-benar sulit untuk melangkah mundur, tenggorokannya pun juga susah tuk membuka suaranya kembali. Karena pemandangan tidak diinginkan ada di depan matanya.
Tanpa peduli akan seorang pria dewasa yang baru saja tiba di tempat lokasi-- pria itu juga menampilkan raut wajah yang lebih tidak percaya dengan murid di sampingnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Candra yang benar-benar merasa campur aduk sendiri. Karena murid didiknya terbaring tidak berdaya di depan matanya. Membuang Candra melihat ke sembarang arah-- mengusap wajahnya dengan sangat gusar. Batinnya begitu kacau, pikirannya kembali mengingat kejadian kelam yang mungkin jauh lebih mengerikan dari hari ini.
Dan tidak butuh waktu lama, satu persatu penghuni sekolah yang masih stay di lingkungan itu mulai berkumpul di tempat yang sama. Pandangan mereka sangat tidak percaya dengan apa yang saat ini mereka lihat. Terutama para pihak guru. Karena mereka langsung merasa gagal menjadi seorang guru yang sangat dipercaya oleh para wali murid.
Dengan kesadaran penuh__ beberapa guru disana langsung menghubungi pihak rumah sakit ataupun beberapa pihak yang sangat diperlukan saat ini, untuk menyelamatkan murid mereka. Dan tidak ada satupun orang yang berani mendekati tubuh Cindy-- karena mereka tidak ingin membuat raga Cindy semakin terluka.
Sedangkan sepasang mata milik Siana yang melihat Cindy, kini tanpa sadar melangkah mau untuk mendekat-- hal itu membuat Sellena dengan cepat menahan tangan Siana, agar tetap diam di tempat. "Aku hanya ingin melihatnya sebentar."
"Kau bisa melihatnya dari sini. Aku tidak mau banyak omongan palsu yang menyangkutkan dirimu." Sungut Sellena dengan sangat rendah. Karena saat ini Sellena benar-benar sangat berharap jika Siana bukan pelakunya.
"Maksud mu?" Kening Siana mengerut samar, karena tidak mengerti dengan perkataan dari Sellena.
"Itu akan sangat menyakitkan." Jika pun terdengar sangat ambigu. Tapi kalimat sederhana dari Sellena benar-benar menyimpan makna yang penuh arti.

"Jangan ada yang mendekat!!" Seruan dari Candra, kini sudah benar-benar sadar. Dan pria itu berusaha untuk tetap tegar, agar murid didiknya di depan matanya saat ini-- tidak merasa terguncang dengan pemandangan yang menyapa penglihatan mereka.
Tanpa di sengaja, kedua mata Candra kini melihat ke arah Siana-- di mana gadis itu yang diam dengan raut wajah tidak percaya akan keadaan Cindy. Tapi entah kenapa__ hal itu membuat rasa curiga Candra semakin besar kepada Siana. Dan Candra juga tidak mengatakannya secara langsung kepada Siana. Karena situasi saat ini sungguh membuat Candra sulit mengontrol jiwanya sendiri.
Sedangkan Astra terlihat begitu merasa bersalah kepada Cindy. Karena sikapnya selama ini yang mengabaikan gadis itu, dan begitu senang memanfaatkan Cindy untuk seseorang yang berisi di depannya. Tapi Astra juga tidak bisa menaruh kesalahan itu pada Siana.
"Kau tadi bertemu dengan Cindy di toilet-- apa dia terlihat aneh saat melihat mu?" Bukan Astra ataupun Sellena. Melainkan Sean yang berdiri di sisi kiri Siana.
"Aku bertemu Cindy di toilet?" Kalimat itu hanya bisa Siana ucapkan dalam hati. Karena Siana sadar-- jika yang bertemu dengan Cindy bukanlah dirinya. Melainkan__ sosok serakah sulit untuk dikalahkan.
"Siana__" Sean menegur temannya itu dengan rendah. Karena Sean juga tidak ingin Siana merasa disudutkan akan situasi saat ini.
"Oh__ aku bertemu dengan Cindy." Terselip keraguan yang mendalam kalimat itu keluar dari mulut Siana, sembari mengangguk kecil. "Tapi aku tidak yakin jika dia menyembunyikan hal yang mencurigakan."
"Benarkah?" Sangat rendah, Sean mengatakannya dengan kepala mengangguk yakin. Kecurigaan itu tidak ada sama sekali di benak Sean. Pemuda itu sangat yakin, jika Siana bukanlah pelakunya. Karena waktu kejadian juga tidak mengarah pada Siana. Walaupun__ Cindy keluar kelas setelah Siana.
"Kau tidak mencurigainya, bukan?" Bisik Athalan yang sangat hati-hati. Karena Athalan tidak ingin membuat keadannya semakin kacau.
"Aku hanya bertanya. Dan aku tidak mencurigai Siana. Karena dia bukan gadis seperti apa yang kau bayangkan saat ini." Sean memberi balasan. Sedikit menyinggung perasaan Athalan, dan tidak membuat Athalan merasa sakit hati. Karena hal itu sudah sangat biasa saat beradu argumen bersama Sean.
Tidak berselang lama, banyak pihak yang mulai berdatangan untuk menyelamatkan Cindy. Membuat beberapa orang di sana dengan cepat memberi jalan tanpa sedikit pun niat ingin menghalangi. Karena pertolongan sangat dibutuhkan Cindy saat ini.
Saling pandang satu sama lain setelah melihat tubuh Cindy dibawa oleh pihak rumah sakit. Sebuah intruksi dari kepala sekolah, ampuh membuat para guru di sana meminta para muridnya untuk segera pulang ke rumah. Karena melanjutkan waktu belajar saat ini juga tidak akan ada yang bisa fokus.
Melangkah beriringan ke arah kelas masing-masing tanpa menunggu perintah untuk kesekian kalinya. Karena mereka juga harus ada di posisi tidak menghakimi pihak sekolah-- akan kejadian yang memang sangat tidak diinginkan mereka. Apalagi__ mereka juga baru saja kehilangan teman seangkatan mereka. Jika pun hal itu sudah beberapa bulan yang lalu. Tapi benak mereka masih tidak menyangka.
makasih ya kak semangat jugaa untuk kakak yang mungkin udah mulai di kejar deadline 🤣
aku suka banget sama writing style-nya, dan alur ceritanya juga smooth banget padahal ini aku baru baca chapter 1 loh 🤭🤭.