Hidup ini terasa berat Aruna yang hanya seorang gadis yatim piatu
Dimana dia harus menjalani keras nya hidup di Dunia yang sangat kejam untuk orang kecil
Seatu hari, Aruna di bully habis-habisan oleh sekelompok teman sekolah nya, hingga Aruna meregang nyawa
Namun bukan nya mati dan menuju ke alam baka, jiwa Aruna malah harus memasuki raga yang telah di tinggalkan Tuan nya.
Bagaimana kelanjutan kisah Aruna?
Akan kah dia mampu menjalani hidup di dunia yang baru dengan tubuh yang baru?
Yuk kita sama-sama baca kisah nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makmisshalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-21. Mati Konyol
"Kakak, kenapa kamu begini?? Kenapa kamu berani memukul ku??" Raung Lieli tak terima akan tindakan Daisy.
"Aku ingin kamu tersadar akan ucapan mu, makanya aku memukul mu... " Daisy terlalu memanjakan Lieli, hingga berujung lah Lieli seperti ini.
Dia selalu membangkang, dan terkadang dia selalu pergi diam-diam untuk melihat keramaian.
Mungkin, ada beberapa hal yang tak di ketahui oleh Daisy tentang adik nya itu.
"Sudah, sudah.. Kenapa kalian membuat keributan seperti ini??" Boni menghentikan perdebatan antar istri dan adik ipar nya.
"Jangan berpura-pura baik di hadapan ku, aku sedikit pun tidak senang di bawa ke tempat terpencil ini.. Aku lebih baik menjadi pengikut Raja Kegel...
Wuuuuuuusssss
Siiiiuuuutttt
Jleb
Jleb
Jleb
"Aaaaaahhhhhrrrggg Lieli... " Teriak Daisy kala melihat sang adik yang kini telah tertusuk beberapa duri.
Tubuh nya juga telah tergantung terangkat oleh tanaman merambat.
"Jangan... Jangan kesana Istri ku.. " Boni menahan pergerakan Daisy.
Boni dan para ahli lain nya tau jika hal ini pasti terjadi.
Karna mereka masih mengingat jelas ucapan Aruna.
Siapapun orang nya.
Dan apapun ikatan orang itu dengan mereka.
Jika hati mereka tidak bersih.
Maka, Hutan Terlarang sendiri akan menolak kedatangan mereka.
Kini terlihat jelas akan penolakan tersebut oleh mereka semua.
"Adik ku, adik ku.. " Daisy menangis dalam diam.
Meski terkadang sang adik membuat nya kesal dengan melakukan angkuh nya.
Tetap saja dia adalah adik semata wayang nya, tentu nya Daisy sangan menyayangi adik nya itu.
"Bersabarlah.. Ini sudah takdirnya, lagi pula selama ini kamu sudah cukup menderita atas sikap nya.. " Boni memenangkan Daisy.
"Ayah.. aku takut.. " Seorang anak kecil memeluk kaki ayah nya kala melihat pemandangan tersebut.
Bagaimana dia tidak takut.
Karna kini tepat di hadapan mereka tubuh Lieli tergantung di atas pohon dengan beberapa duri menusuk tubuh nya.
Jangan di tanya Lieli masih hidup atau tidak, karna yang pasti Lieli telah tiada.
"Jangan takut Nak.. selagi hati mu bersih, tidak akan terjadi hal buruk apapun kepadamu" anak tersebut di gendong serta matanya di tutupi.
Wuuuuusssss
Wuuuuusssss
Wuuuuuuussss
Jleb
Jleb
Jleb
Jleb
Satu persatu orang-orang berhati busuk telah di bereskan.
Tanpa terlihat siapa yang telah membereskan mereka.
Namun yang pasti mereka tau, orang-orang yang telah di bereskan itu bukan lah orang baik.
Bahkan ada beberapa wanita yang memiliki tanda kepemilikan Raja Kegelapan.
Yang mengejutkan di antaranya adalah wanita yang telah bersuami.
"Dia.. Dia telah menghianati ku.. "
Bruk
Rekan Boni yang istri nya telah berkhianat menangis pelan.
Mereka duduk tersungkur menahan rasa sakit atas penghianatan yang di lakukan istri mereka.
Selama ini mereka pikir istri mereka adalah wanita setia.
Nyata nya istri mereka hanyalah mainan Raja Kegelapan.
Tentu saja kini mereka merasakan hati mereka sakit.
"Semuanya.. Ayo ikuti saya, Ratu telah menyiapkan tempat tinggal untuk kalian semua.. " Setelah beberapa saat hening.
Bagas datang untuk membawa ratusan orang-orang itu ke tempat yang telah di siapkan.
Dan dari sekian banyak nya orang yang berhati busuk.
Sebagian besar nya adalah kaum wanita yang telah bersuami.
Di bandingkan laki-laki, wanita lah yang lebih banyak mengikuti Raja Kegelapan.
Meski saat ini mereka masih berduka, mereka tetap mengikuti langkah Bagas.
Langkah yang terkesan pelan namun pasti.
Pandangan mereka juga hanya tetap dalam satu pemandangan karna memang Bagas sengaja membatasi penglihatan mereka.
Bukan tanpa alasan Bagas melakukan hal tersebut.
Karna Aruna sendiri yang telah memerintah kan nya untuk melakukan hal ini.
"Silahkan... Pilihlah rumah sesuai keinginan kalian, jangan berebut karna semua anggota keluarga akan pendapatkan rumah masing-masing" Perlahan pandangan mereka terbuka.
Kini tepat di hadapan mereka ratusan rumah besar berjejer rapih.
Setiap bangunan memiliki ukuran sama serta serupa.
Yang akan membedakan nya nanti adalah pelekat nama pemilik kediaman tersebut.
Tempat nya berada tepat di sebrang Istana Hutan Terlarang.
Entah kapan di bangun nya, dan siapa yang kebangun nya.
Secara ajaib, pemukiman tersebut ada secara tiba-tiba di Hutan Terlarang.
Bahkan setiap kediaman berukuran sangat besar yang sudah di lengkapi alat-alat kebutuhan tumah tangga.
"Nak Bagas, tolong sampaikan rasa terimakasih kami pada Ratu Aruna.. " Boni mewakili semuanya untuk mengucapkan terimakasih.
"Baik, akan saya sampaikan.. Silahkan kalian pilih rumah kalian masing-masing" Bagas memberikan ruang untuk mereka berbenah.
Lalu dia pergi untuk melakukan tugas lain dari Aruna.
……………………………………………
"Kakak, aku ingin bertemu Ayah.. " Saat ini Mahesa, Melisa, dan Marisa tengah berkumpul di taman bunga yang ada di belakang Istana Hutan Terlarang.
Di bandingkan Marisa yang paling kecil, Melisa selalu mengeluhkan kerinduan nya terhadap sang ayah.
"Bersabarlah.. sebentar lagi, sebentar lagi Ibu pasti akan menjemput Ayah" Selalu kata itu yang di ucapkan Mahesa untuk penenang.
Sementara Marisa, dia hanya duduk diam menyaksikan kedua kakak nya yang terkadang saling menghibur.
"Adik, apa kamu tidak merindukan Ayah??" Melisa keheranan dengan sikap santai adik nya itu.
"Rindu!! Aku juga merindukan Ayah sama seperti Kakak, hanya saja aku tak bisa mengeluhkan kerinduan ku itu.. Karna keluhan kita tak akan bisa membebaskan Ayah" Meski pelan suara Marisa tetap terdengar jelas oleh kedua kakaknya.
"Kamu benar.. Hanya saja, aku benar-benar sudah sangat merindukan Ayah.. " Melisa tak marah akan jawaban Marisa.
Karna jawaban Marisa nyata adanya, dengan dirinya mengeluhkan kerinduan nya itu.
Raja Orion tak akan bisa terbebas begitu saja hanya karna mereka merindukan nya.
Sudah bertahun-tahun mereka menahan rasa rindu mereka pada sang ayah.
Bahkan mungkin kini mereka telah mulai lupa akan rupa Raja Orion.
Mereka di asingkan sudah terlalu lama, dan mereka juga ingat jika wajah ayah mereka telah di hancurkan dengan luka sayatan.
Tapi tanpa di ketahui oleh Melisa dan Mahesa.
Jika adik kecil mereka masih mengingat jelas wajah sang ayah.
"Tidak apa-apa Kakak, aku mengerti.. Lagi pula Kakak memang sangat dekat dengan Ayahanda!!" Memang selama ini, Melisa begitu dekat dengan Raja Orion.
Berbeda dengan Marisa yang sangat dekat dengan Aruna.
"Apa sekarang Ayah baik-baik saja??" Bisik Melisa.
"Ayah akan baik-baik saja Kakak, kamu tau sendiri kan kehebatan Ayah seperti apa??" Marisa menenagkan Melisa.
Meski dia yang terkecil, tapi dia yang terdewasa pola pikir nya.
"Apa yang di ucapkan Marisa pasti benar.. Jangan khawatir Adik, lagi pula Ibu juga pasti tak akan membiarkan Ayah kenapa-napa" Mahesa juga tau kekuatan sang ayah seperti apa.
Jadi dia berpikir sang ayah pasti akan kuat melewati segala penderitaan nya.
"Huum, aku tau itu.. " Meski hati nya masih gelisah.
Sebisa mungkin Melisa meredam nya, dia tak ingin adik beserta kakak nya melihat kegelisahan nya itu.
"Jangan Khawatir...
Bersambung.. lanjut di bab selanjutnya➡️