Bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja di sebuah kantor dan dijodohkan oleh bos pemilik perusahaan dengan putri dari bos tersebut. Tapi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Falco Kaiseradler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penuh Layanan
Setelah mereka semua selesai menikmati makan malam, Fadli diam-diam mendekati Visha yang sedang sibuk mencuci piring di wastafel dapur.
"Vi..." bisik Fadli dengan suara berat tepat di telinga istrinya. Tangannya langsung melingkar memeluk pinggang ramping Visha dari belakang, lalu perlahan bergerak naik, menyusup ke balik pakaian rumah Visha untuk meremas dada kecil namun kenyal milik istrinya itu dengan sentuhan yang menuntut.
"Ahhh..." Visha mendesah panjang, tubuhnya melengkung ke belakang, menekan pantatnya ke area kemaluan Fadli saat merasakan kehangatan tangan suaminya yang mulai bermain nakal di kulit halusnya.
Visha sangat paham kode itu; ia bisa merasakan benda keras yang menekan punggung bawahnya. Suaminya sedang dalam gairah tinggi dan menginginkan pelampiasan. Sayangnya, dengan berat hati dan tubuh yang sebenarnya juga merespons, Visha harus menolak.
"Mas... nghh... maaf banget Mas, bukannya Visha mau nolak atau tidak sayang, tapi Visha hari ini lagi datang bulan deras-derasnya dan sedang masa ovulasi," Visha menoleh ke arah Fadli dengan tatapan mata yang sayu, bibirnya sedikit bengkak karena menahan desahan.
"Jadi kalau Visha main sama Mas malam ini, selain bakal berantakan, risikonya Visha bisa hamil besar," lanjutnya menjelaskan dengan napas yang sedikit memburu.
"Sebenarnya Visha pribadi enggak masalah sih kalau Mas mau keluarin di dalam dan bikin Visha hamil sebelum Visha lulus SMP, jadi Visha serahkan keputusannya kepada Mas saja deh," kata Visha mengakhiri penjelasannya dengan nada pasrah yang menggoda.
"Oh, maaf... aku benar-benar enggak tahu kalau kamu lagi menstruasi," Fadli yang terkejut langsung melepaskan remasannya dari dada Visha dan mundur sedikit, meski nafsunya masih memuncak.
Fadli tahu betul risiko dan ketidaknyamanan wanita saat menstruasi, jadi dia mencoba menahan diri meski tubuhnya sudah sangat tegang.
"Gapapa kok Mas, sekali lagi maaf ya karena belum bisa melayani hasrat Mas malam ini," kata Visha sambil tersenyum manis, tangannya mengelus pipi Fadli.
"Mas kalau memang sedang kepengen banget dan sakit nahan, kan bisa ke adik-adik Visha yang lain," bisik Visha tiba-tiba, memberikan ide nakal.
"Visha rasa ini sudah waktunya Mas mulai menyentuh dan 'memakai' mereka satu per satu. Bagaimanapun juga, tubuh mereka adalah hak Mas sepenuhnya," lanjutnya memberikan izin mutlak.
"Um... Tapi mereka kan masih terlalu muda, Vi. Aku masih merasa ragu untuk merenggutnya sekarang," jawab Fadli dengan nada bimbang, meski bayangan itu membuatnya menelan ludah.
"Mas, kan Mas udah janji dulu kalau Mas ga akan mempermasalahkan umur kami lagi setelah kami benar-benar jatuh cinta sama Mas," debat Visha sambil memainkan jari di dada Fadli.
"Tasha, Misha, Masha, dan Sasha udah jelas-jelas jatuh cinta setengah mati sama Mas. Mereka sebenarnya sudah basah menunggu Mas minta jatah, tapi mereka malu. Jadi Mas sebagai suami yang harus inisiatif mengajak mereka," ujar Visha meyakinkan dengan nada provokatif.
"Tapi...." Fadli masih saja ragu-ragu, meski pertahanannya mulai runtuh.
"Ga ada tapi-tapian, Mas. Kalo Mas enggak ke kamar salah satu dari mereka sekarang, Visha sendiri yang bakalan nyeret Mas dan mengunci Mas di dalam kamar mereka," kata Visha dengan nada tegas namun bercampur ekspresi nakal yang menggemaskan.
"Coba Mas main sama Tasha sana, kan Tasha cuma beda setahun dari Visha, tubuhnya juga sudah siap menerima Mas," lanjutnya memberikan arahan spesifik.
"Yaudah iya, aku akan coba," Fadli akhirnya mengalah pada desakan istri pertamanya, gairahnya kembali tersulut membayangkan tubuh istri keduanya.
Di dalam kamarnya yang bernuansa tenang, Tasha baru saja selesai berganti ke piyama tipis dan bersiap untuk naik ke kasur saat dia mendengar suara ketukan pelan di pintu.
"Tasha, aku boleh masuk enggak?" tanya Fadli dengan suara rendah dari balik pintu.
Tasha dengan gerakan cepat langsung membuka pintu. Aroma tubuh Fadli langsung menyapa indra penciumannya.
"Mas, lain kali enggak perlu ketuk pintu, langsung masuk aja. Kamar Tasha kan kamar Mas juga," kata Tasha dengan senyum menyambut yang hangat.
"Hehe, maaf kebiasaan," jawab Fadli yang kemudian masuk. Ia duduk di ujung tempat tidur, matanya tak bisa lepas menatap lekuk tubuh Tasha di balik piyama tipis itu.
"Jadi, ada urusan apa Mas tumben ke kamar Tasha malem-malem? Bukannya hari ini giliran Mas tidur sama Mbak Visha ya?" tanya Tasha pura-pura tidak tahu, meski ia melihat tonjolan di celana suaminya.
"Nah itu, Visha lagi menstruasi, jadi dia minta aku buat tidur sama kamu malam ini," jawab Fadli dengan jujur, suaranya terdengar serak menahan nafsu.
"Tidur... Tidur biasa buat nemenin atau tidur 'tidur' sampai pagi?" tanya Tasha dengan tatapan penuh arti dan lidah yang membasahi bibirnya sendiri.
Fadli hanya mengangguk pelan mengiyakan makna kedua, dan Tasha langsung tersenyum lebar penuh kemenangan. Di dalam hatinya, gairah yang selama ini dipendam akhirnya meledak.
"Serius, Mas? Mas mau sama Tasha malam ini?" sekali lagi Tasha bertanya dengan napas tertahan.
"Iya, tapi kalau kamu masih belum siap atau takut, kamu bisa nolak kok," jawab Fadli dengan lembut, mencoba memberi pilihan.
Tanpa membuang banyak waktu dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Tasha langsung berlutut di depan Fadli yang sedang duduk. Tangan kecilnya dengan cekatan membuka celana suaminya, membebaskan kejantanan Fadli yang sudah mengeras sempurna tepat di depan wajahnya.
"Tasha selalu siap kok, Mas," Tasha mulai memegang batang hangat itu, mengocoknya perlahan, lalu mendekatkan wajahnya, menghirup aroma maskulin suaminya sebelum membuka mulut.
"Eh, Tasha kamu mau ngapain?" tanya Fadli kaget, napasnya tercekat saat merasakan napas hangat Tasha di area sensitifnya.
"Udah, Mas diem aja, biarkan Tasha melayani Mas dengan mulut Tasha malam ini," Tasha langsung melahap milik suaminya itu, memasukkannya ke dalam mulutnya yang hangat dan basah.
Gerakan lidah Tasha yang ternyata sangat lihai, memainkan ujung sensitif Fadli sambil tangannya terus mengocok pangkalnya, membuat Fadli mengerang nikmat. Sensasi hisapan yang kuat dan hangat itu membuat pertahanan Fadli runtuh seketika, hingga cairan hangat menyembur keluar memenuhi mulut Tasha.
"Ahhh... Tasha... maaf, aku kelepasan," Fadli mengerang panjang, panik mencari tisu untuk Tasha memuntahkan spermanya.
Namun, Tasha malah menelan semuanya tanpa sisa dengan gerakan tenggorokan yang erotis. Dia lalu membuka mulutnya, menjulurkan lidah yang basah untuk memperlihatkan bahwa ia telah membersihkan semuanya.
"Enggak perlu minta maaf Mas, rasanya enak kok. Mas nikmati saja pelayanan dari Tasha malam ini," Tasha berdiri, melepaskan sisa pakaian Fadli hingga suaminya telanjang bulat. Ia meminta suaminya berbaring telentang, sementara dia melepaskan piyama miliknya dengan gerakan sensual yang lambat, memamerkan tubuh mudanya yang mulus di bawah sorot lampu kamar.
Pemandangan itu membuat penis suaminya kembali bangun dan menegang dengan cepat, siap untuk ronde kedua. Tasha kemudian naik ke atas tubuh suaminya, mengangkang, dan memposisikan inti tubuhnya tepat di atas kejantanan Fadli.
"Tasha, kamu yakin mau posisi di atas? Ini pengalaman pertamamu loh, biasanya sakit kalau kamu yang kendalikan," tanya Fadli dengan nada khawatir melihat lubang sempit itu akan dimasuki benda sebesar miliknya.
"Shh..." Tasha membungkam bibir suaminya dengan ciuman basah, kemudian dia mulai menurunkan pinggulnya perlahan, membiarkan kepala penis Fadli membelah bibir kewanitaannya.
"Ahhh... nghh..." Tasha mendesah tertahan, wajahnya meringis nikmat bercampur perih saat merasakan benda tumpul dan besar itu mulai memaksa membuka jalan di liang sempitnya.
Tasha terus saja menurunkan pinggulnya secara perlahan, napasnya memburu, mencoba menelan suaminya lebih dalam. Namun, gerakan Tasha terhenti sejenak saat penis suaminya itu menyentuh penghalang selaput dara miliknya yang ketat.
"Mas... nghh... Tasha bisa minta tolong Mas buat bantu tarik pinggang Tasha ke bawah enggak? Sempit banget, harus dipaksa jebolnya," pinta Tasha dengan suara lirih, keringat mulai membasahi tubuhnya.
"Iya, tahan sebentar ya," Fadli mencengkeram pinggang ramping istrinya dengan kuat, lalu membantu menarik tubuh Tasha ke bawah dengan satu hentakan pasti hingga batang itu menembus pertahanan Tasha sepenuhnya.
"AHHHH!" Tasha menjerit mendesah cukup keras saat keperawanan dia akhirnya pecah, dinding rahimnya merasakan kepenuhan yang luar biasa. Dia langsung menunduk, mencium bibir suaminya dengan liar untuk menyalurkan rasa sakit dan nikmat yang bercampur aduk.
"Kamu gapapa? Berhenti dulu aja jangan gerak kalau sakit," tanya Fadli mengusap punggung Tasha yang bergetar.
"Tasha... ahh... Tasha enggak apa-apa kok Mas, ini nikmat banget," jawab Tasha yang langsung mulai memacu tubuhnya bergerak naik dan turun, mengabaikan rasa perih demi kenikmatan yang mulai menjalar.
Awalnya gerakannya perlahan, tapi semakin lama saat Tasha sudah beradaptasi, dia langsung mempercepat gerakan pinggangnya, menunggangi suaminya dengan liar. Suara kulit yang beradu mulai terdengar memenuhi kamar.
Tasha menarik kedua tangan suaminya dan meletakkannya di dada, meminta Fadli untuk meremas payudaranya dengan kasar, sambil dia beberapa kali menunduk menciumi leher dan bibir suaminya. Berbeda dengan Visha yang cenderung pasrah, Tasha justru menjadi pihak yang paling aktif, agresif, dan mendominasi permainan, memeras setiap inci kenikmatan dari suaminya.
Tidak peduli walaupun dia sudah orgasme beberapa kali dan tubuhnya gemetar hebat, gerakan naik turunnya masih tidak memelan sedikitpun. Dia mengerahkan seluruh tenaganya, menggoyangkan pinggulnya dengan erotis untuk memuaskan hasrat suaminya.
"Tasha... aku sudah mau keluar lagi...!" erang Fadli saat puncaknya tiba, cengkeramannya di pinggang Tasha mengeras.
"Di dalam Mas... Tumpahkan semuanya di dalam rahim Tasha... Ahhh!" Tasha mendongak, mempercepat kocokan pinggulnya.
Fadli menyentak kuat, menyemburkan seluruh benih hangatnya jauh ke dalam rahim Tasha. Tasha menjerit panjang, tubuhnya kejang dalam orgasme hebat saat merasakan kehangatan itu membanjiri bagian terdalam dirinya. Ia kemudian jatuh lunglai di atas dada suaminya dengan napas memburu dan tubuh yang banjir keringat.
"Jadi, bagaimana Mas pelayanan dari Tasha? Mas suka?" tanya Tasha yang sudah lemas namun tersenyum puas, mencium dada suaminya.
"Waw... sejujurnya aku tidak menyangka kalau kamu akan semesum, seaktif, dan seliar ini. Padahal biasanya kamu yang terlihat paling kalem di antara yang lain," jawab Fadli dengan nada terkesan sambil mengelus rambut Tasha yang basah oleh keringat.
"Syukurlah kalau Mas puas, Tasha senang bisa jadi milik Mas seutuhnya," jawab Tasha. Matanya memberat, rasa lelah dan puas bercampur jadi satu, hingga ia langsung tertidur di atas tubuh suaminya.
Fadli tersenyum melihat wajah damai namun nakal itu. Dia mengecup kening istrinya dengan sayang, membiarkan penyatuan mereka tetap terjalin. "Mimpi indah, Tasha," bisiknya, lalu dia kemudian juga ikut terlelap dalam pelukan istri keduanya itu.