Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
"Tante, Diandra pamit dulu ya. Sekali lagi maafkan Diandra," ujar Diandra yang kala itu mendekat ke arah Ayudia.
Ayudia tersenyum. Ia melirik ke arah Kevin dan menyenggol lengannya. Berharap Kevin mengantar Diandra pulang. Namun Kevin tak paham dengan isyarat dari Ibunya itu. Ia hanya menatap Ayudia meminta penjelasan.
"Diandra, biar Kevin yang mengantarmu kembali," ucap Ayudia. Membuat Kevin terkejut dengan permintaan Ibunya.
"Bu, dia punya kaki kan? Bisa jalan juga. Untuk apa harus diantar?" Kevin beralih duduk di samping Ibunya. Sedangkan Diandra merasa semakin canggung.
"Kamu tega membiarkan gadis cantik seperti dia pulang sendirian? Ibu tidak mau tahu, kamu harus mengantarnya pulang!" Ayudia berpura-pura kesal pada Kevin. Ia sengaja ingin mendekatkan Diandra dan Kevin. Mengingat usia Kevin yang tak muda lagi dan harus secepatnya memikirkan masa depannya. Sedangkan Kevin masih bermain-main di luaran sana. Tentu saja itu membuat Ayudia khawatir.
Pertama kali Ayudia bertemu Diandra, ia sudah menyukai gadis itu. Ayudia suka dengan kepribadian Diandra meski belum mengenalnya lebih jauh. Ayudia hanya berharap putranya segera menikah dan tentunya dengan Diandra.
"Baiklah, Kevin akan mengantarnya pulang. Tapi Ibu harus istirahat di kamar ya. Jangan buat Kevin khawatir," tutur Kevin mengalah.
Ayudia tersenyum lebar. Ia mengiyakan apa yang putranya katakan. Lalu Kevin mengantar Ayudia ke kamarnya terlebih dahulu sebelum mengantar Diandra pulang. Sedangkan Diandra semakin merasa canggung pada Kevin. Mengingat hubungan mereka yang tak baik-baik saja.
Kevin berjalan melewati Diandra yang masih berdiri di tempatnya. Lalu berhenti sejenak kala Diandra masih belum mengikutinya. Kevin menghela napasnya sejenak sambil menatap Diandra.
"Aku sibuk tidak punya banyak waktu. Jika masih ingin aku antar pulang, jangan hanya berdiri di situ!" ucap Kevin. Lalu ia melangkah kembali hingga ke mobilnya.
Diandra langsung menyusul Kevin tanpa membalas lagi omongannya. Ia masuk ke dalam mobil begitu saja. Kevin melirik Diandra sekilas lalu mulai melajukan mobilnya.
"Sebenarnya tidak perlu mengantarku. Aku bisa memesan taksi sendiri," ucap Diandra pelan. Kevin masih fokus dengan kemudinya.
"Kamu pikir aku senang mengantarmu? Kalau bukan karena Ibuku, aku juga tidak mau mengantarmu," balas Kevin datar. Diandra menatap Kevin dengan kesal. Meski ia juga tidak ingin diantar oleh Kevin, mendengar perkataannya membuat Diandra tidak senang.
"Jangan kamu kira kalau kamu sudah menolong Ibuku, aku akan membiarkanmu menang dalam tender besok." Kevin melirik Diandra sekilas.
"Kita lihat saja. Siapa yang akan menjadi pemenangnya besok! Memangnya aku tidak bisa apa?" gumam Diandra semakin kesal.
*
Keesokannya...
Pagi-pagi sekali Diandra sudah sibuk di perusahaannya. Ia mengecek kembali berkas dan yang lainnya agar tidak terjadi kesalahan nantinya. Meski ini pertama kalinya, Diandra yakin ia bisa memenangkan tender ini untuk Ayahnya.
Diikuti oleh John dan Jane, mereka menuju kantor kliennya. Ia tidak mau kalah dari perusahaan lainnya. Diandra akan berjuang memenangkan tender itu. Namun sebelum berangkat, Diandra meminta restu dari Ayahnya terlebih dahulu. Agar apa yang ia harapkan kali ini dapat ia capai.
"Jean, aku tidak yakin aku akan memenangkan tender itu nanti," ucap Diandra dengan gugup. Jean tersenyum lalu menggenggam tangan Diandra.
"Nona, Anda pasti bisa." Jean memberikan semangat pada Diandra. Diandra mengangguk dan semakin mengeratkan genggaman tersebut.
Tak butuh waktu lama, mobil mereka kini sudah memasuki area kantor tersebut. John lebih dulu turun dari mobil dan segera membukakan pintu mobil untuk Diandra. Diandra keluar dari mobil tersebut. Ia menatap bangunan nan megah itu sejenak.
"Mari nona," ucap John dengan sopan. Diandra mengangguk. Ia mulai mengikuti John memasuki kantor itu.
Setelah sampai di ruang rapat, John meninggalkan Diandra dan menunggunya di luar. Sedangkan Jean menemani Diandra selama rapat itu diadakan nanti.
Selang beberapa menit, Rizal dan Kevin datang bersamaan. Mereka duduk di posisi masing-masing. Dan itu membuat Diandra semakin tegang. Melawan dua orang yang sudah berpengalaman dalam hal ini memang tak mudah.
"Nona jangan tegang," bisik Jean. Diandra berusaha tersenyum manis. Ia tidak ingin Kevin maupun Rizal menyadari jika ia sedang gugup kali ini.
Tanpa Diandra sadari, Rizal diam-diam memperhatikan Diandra. Ia tahu jika Diandra sedang gugup. Namun ia tidak bisa memberikan semangat untuk Diandra.
"Selamat pagi," sapa Pak Irawan. Mereka yang berada di ruangan itu berdiri menyambut Pak Irawan.
"Silakan duduk," ucap Pak Irawan.
"Baiklah, karena ini adalah proyek yang penting, saya harap setiap perwakilan bisa menampilkan yang terbaik," ucap Pak Irawan.
"Pasti. Saya akan melakukan yang terbaik," balas Kevin lalu melirik Diandra dan tersenyum tipis. Ia bisa kalah dari Rizal nanti, namun ia tidak akan membiarkan Diandra memenangkannya.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai sekarang," ujar Pak Irawan.
Diandra mendapat urutan kedua untuk mempresentasikan hasilnya. Sedangkan Rizal menempati urutan terakhir.
*
Setelah beberapa jam, akhirnya selesai juga. Kini tinggal menunggu keputusan dari Pak Irawan. Ia begitu terkesan dengan ketiga perusahaan itu. Ia bingung memilih ingin bekerja sama dengan perusahaan mana kali ini.
Kevin begitu percaya diri. Ia yakin jika tender kali ini ia yang akan memenangkannya. Melihat performa Diandra tadi, ia sungguh tidak akan kalah dari perusahaan Sanjaya.
Sedangkan Diandra meremas kedua tangannya. Ia sangat gugup dengan hasil akhirnya. Ia sudah berusaha, namun satu kata saja dari Pak Irawan akan mengubah hidupnya. Kalah atau menang dalam taruhannya dengan Ayahnya kini tergantung keputusan dari Pak Irawan.
"Saya sungguh terkesan dengan ketiga perusahaan ini. Jujur, saya bingung ingin memilih bekerja sama dengan perusahaan mana kali ini," ucap Pak Irawan.
"Anda tidak perlu ragu. Bukankah jika Anda memilih perusahaan saya, itu akan sangat menguntungkan? Saya tidak pernah mengecewakan Anda bukan?" ucap Kevin.
Pak Irawan mengangguk. Ia tersenyum tipis. Memang, selama bekerja sama dengan Andrea's Group tidak pernah ia merasa rugi sedikitpun.
Pak Irawan menghela napasnya panjang. Ia melirik ke arah Rizal sekilas lalu tersenyum tipis. Ia kembali membaca berkas milik Diandra. Dan itu semakin membuat Diandra tegang.
"Tuan Kevin, saya sangat menantikan kerja sama dengan Anda." Pak Irawan berucap. Membuat Diandra langsung menatap Pak Irawan. Jantungnya kini berdetak kencang. Kevin tersenyum lebar. Ia yakin akan memenangkan tender kali ini.
"Tetapi, saya akan memberikan kesempatan pada perusahaan Sanjaya untuk bekerja sama kali ini. Saya sangat terkesan dengan apa yang dipresentasikan oleh nona Diandra." Pak Irawan menatap Diandra. Membuat Diandra tak percaya dengan apa yang diucapkan Pak Irawan barusan.
"Itu artinya... Apakah Anda menerima kerja sama dengan perusahaan Sanjaya?" tanya Diandra tak percaya. Pak Irawan mengangguk.
"Selamat nona Diandra. Anda memenangkan tender kali ini," ucap Pak Irawan sambil mengulurkan tangannya. Diandra langsung menjabatnya dan masih dalam keterkejutannya. Ia begitu senang akhirnya bisa berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Sedangkan Kevin mengepalkan tangannya dan menatap Diandra dengan kesal.
"Sial! Kenapa harus dia yang memenangkan tender kali ini!" umpat Kevin dalam hatinya.
"Syukurlah jika Diandra senang dengan keputusan ini," batin Rizal yang merasa senang dengan hasil akhirnya.