Demi untuk membalas budi pada seorang kakek yang menyelamatkan hidupnya, Viola rela menggantikan cucu si kakek yang masih belia untuk menjadi wanita penebus hutang- melayani lelaki yang membayarnya dengan harga yang tidak murah.
Tidak disangka Raja -CEO Playboy yang suka gonta-ganti wanita jatuh cinta pada wanita yang melayaninya malam itu.
Apakah Raja akan berhasil hidup bersama dengan wanita yang sudah mencuri hatinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21
19
Dua gadis berniat berangkat ke kantor Raja. Mereka sarapan sambil membicarakan kejadian semalam.
“Aku benar-benar membenci wanita itu, Zenita! Dia hanyalah seorang pela cur, tapi bagaimana bisa abangku yang nyaris sempurna malah jatuh hati kepada wanita murahan itu?” Renna memegang kuat gelas yang berisi susu sebagai pelampiasan amarahnya.
“Aku pun juga tidak tahu, Ren. Kau tahu dan melihat sendiri kan bagaimana usahaku untuk mendekati kakakmu itu? Aku sudah berdandan cantik dan juga sudah mengenakan baju seksi pun kakakmu sama sekali nggak ngelirik aku. Makanya saat itu aku agak sus kalau dia penyuka sesama jenis,” ujar Zenita dengan sangat jujur karena dirinya juga sudah hampir kehabisan akal untuk menggoda Rajendra.
Rena berjalan mendekat ke arah Zenita dan memberikan semangat untuknya. “Kamu tidak boleh gampang menyerah, Zen! Apapun yang terjadi, kamu harus bisa mendapatkan kakakku agar aku dan ibuku juga dapat merasakan uang warisan yang nanti akan dia dapatkan,” ucap Renna dan Zenita hanya mengangguk saja.
Rena berdiri dan mencangklong tasnya dan melangkah ke luar. Diikuti Zenita dari belakang mereka menaiki mobil milik Rena.
“Memang kita mau kemana? Kenapa arah jalan yang kau ambil berlawan arah? Kita nggak balik lagi ke rumah kan?” tanya Zenita dengan alis sedikit menyatu saat menyadari jika Renna malah mengambil jalur yang berlawanan dari arah menuju ke kantor Raja.
“Shuttt, kau tenanglah. Aku pasti akan membawamu ke kantor kakakku dan kau bisa melancarkan kembali misimu. Aku yakin, untuk hari ini pasti rencana kita akan berhasil,” ucap Renna dengan seringai tipis di wajahnya.
Renna sudah membayangkan kebahagiaan seperti apa yang akan mereka rasakan jika rencana yang tiba-tiba saja terlintas di otak Renna bisa terealisasikan.
“Baiklah, aku ikut rencanamu saja,” ucap Zenita.
Dari awal Zenita hanya mengikuti alur dari rencana yang sudah disusun oleh bibi dan juga sepupunya itu karena Zenita tidak ingin mengambil resiko besar dan ujung-ujungnya pasti hanya dirinya sendirian yang disalahkan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena Zenita sudah sangat hafal bagaimana semua sifat para manusia di keluarganya.
“Mau apa kita ke apotik?” tanya Zenita. Lagi dan lagi Zenita masih belum bisa menyingkronkan otaknya dengan otak Renna supaya bisa lebih mudah untuk menebak rencana seperti apa yang sedang disusun oleh Renna.
***
Zenita terdiam.
“Shuttt, sudah, jangan berisik. Kamu tunggu saja di mobil, ya. Aku akan membeli sesuatu dulu,” kata Renna dan Zenita kembali menurut lagi tanpa memaksa Renna untuk memberikan jawaban.
Zenita menghela napas dalam -dalam. Di dalam hati ia berkata, "Dah lah ... Nanti juga aku bakalan dikasih tau gimana rencananya!" Zenita hanya diam, sambil menunggu dia memilih untuk memainkan handphonenya untuk melihat beberapa berita update dari para artis papan atas yang sedang trending.
Zenita mengalihkan tatapannya saat suara pintu mobil dibukal sekaligus ditutup terdengar. Renna sudah kembali masuk ke dalam mobil dengan tangan kanan yang menenteng kantong plastik putih.
“Jadi, kau membeli apa, Ren?” tanya Zenita, sudah sangat penasaran dengan isi pada kantong plastik tersebut.
“Obat tidur,” sahut Renna membuat Zenita melongo.
“Hah? Obat tidur? Apakah aku tidak salah dengar?” tanya Zenita kemudian Renna menggelengkan pelan kepalanya sambil menyalakan kembali mobilnya.
“Nggak, Zen. Kamu nggak salah dengar,” sahut Renna sambil tersenyum dengan misterius.