Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Help Me...!!!
Tepat jam tiga siang, semua urusan yang berkaitan dengan surat perjanjian kerjasama dengan perusahaan Wirrbel selesai sesuai kesepakatan dari kedua belah pihak.
"Nek dari sini you mau kemenong?" Tanya Moly dengan mengendus tangan yang dia simpan didada.
"Balik tapi nunggu Dira dulu."
"Cius?"
"Hemm."
"Mie apa?"
"Mie teloor..."
"Telor apa?"
"Telor rebus."
"Rebus apa?"
Adila bertolak pinggang melihat Moly yang seperti sedang mengerjainya," Gue rebusin tangan lo."
"Uuh ek terpana sama speak-speak yey... ek aduin satpol PP ya biar kenong razia."
Adila memonyongkan bibirnya," Nih kalau berani?"
"Uduuh merinding ek... jauhin tuh bibir dari ek, no cabean-cabean." Mendorong bibir Adila dan mendekap tangannya kembali di dada.
Adila memijit tombol lift untuk turun ke lantai dasar, kemudian menarik tangan Moly untuk segera masuk setelah pintu lift itu terbuka lebar.
"Aduh help me... help me..." Moly menepis tangan Adila, dan mengendus tangannya lagi.
"Lu kenapa sih?"
"Baunya ilang gara-gara you sentuh."
"Bau apa?"
"Bau Pak Aditya ilang dari tangan ek, dan itu gara-gara you pegang tangan ek." Merengek seperti anak kecil yang balonnya meletus.
Adila menggelengkan kepala, pemikiran Moly yang jauh dari nalar orang normal pada umumnya.
"Ku menangiiiiis... merelakan....kepergian bau cintamu dari tangan ek..." Moly menyanyikan lagu yang sedang booming di salah satu stasiun TV dengan mengganti liriknya.
Adila terbahak-bahak mendengar suara Moly yang jauh dari kata merdu.
"Ih suara lu bagus banget." Ujar Adila dengan menyentuh kedua pundak Moly.
"Oh ya?" Jawab Moly dengan mata berbinar.
Adila mengangguk dan menghentikan tawanya," Tapi lebih bagus kalau lu diem." Menjentikan jarinya didagu Moly.
Moly memberengut kesal," Ih jahat...jahat... ek benci sama yey."
Tiba-tiba lift berguncang dengan lampu yang seketika mati, berubah pengap dan sangat gelap.
"Ini kenapose Nek?"
"Kayaknya mati."
"Jadi Malaikat mlipir kesinong?"
"Ngapain bawa Malaikat?"
"Ek perawan ting-ting, belum pernah kawin, ek belum siap mati Nek."
"Apaan sih lo... yang mati liftnya bukan elo." Ucap Adila yang sebenarnya jauh lebih takut dibanding Moly.
"Oh ek kira mau nyabut nyawa ek."
"Toloooong... ada orang diluar, bisa keluarin kita nggak?" Teriak Adila dengan kencang.
Tapi usahanya sia-sia, dinding lift yang tebal dan kedap suara, membuat siapapun yang ada diluar sana tidak bisa mendengar teriakannya.
Mereka saling berpegangan erat, Adila yang phobia dengan ruangan sempit dan juga gelap berusaha memejamkan mata, menenangkan hati dan pikirannya dengan membayangkan hal-hal indah, namun itu tidak berhasil.
"Nek you kenapose?"
Tangan Adila berubah sangat dingin, badannya lemas dan merosot dalam rangkulan Moly.
"Dila you kenapose... jangan buat ek takut dung." Moly mengguncang-guncangkan bahu Adila yang masih setengah sadar.
"Gue takut banget Mol." Jawabnya dengan suara bergetar.
"Ek juga takut, tapi you jangan begini dung... ketakutan gue jadi kayak wafer, berlapis-lapis."
Tubuh Adila semakin bergetar, ketakutannya semakin menjadi hingga pada akhirnya matanya terpejam tak sadarkan diri.
"Cin bangun... jangan pingsan." Moly semakin ketakutan karena Adila tidak merespon semau kata-katanya.
Moly mengeluarkan ponsel dari tas jinjing warna pinknya. Tapi harapannya pupus, ia tidak bisa menghubungi siapa-siapa karena tidak ada jaringan sedikitpun.
Moly menyalakan lampu senter yang ada di ponsel dan mengarahkan ke wajah Adila.
"Cin... you beneran pingsan, aduh ek harus gimana... ek takut setan lagi, kalau ek dicekik trus mati gimana, kan nggak lucu mati gara-gara setan, apa kata dunia. Bangun dung... please beb, yuk bangun." Moly menepak-nepak pipi Adila yang basah dengan keringat yang mengalir dari keningnya.
Moly berdiri dengan membiarkan Adila tergeletak di lantai lift. Memijit tombol bantuan yang berderet dengan jajaran angka lainnya.
"Hel me... help me... ek takut honey. Liftnya ngambek nggak mau meluncur syantik... bebeb ek juga pingsan, no lama-lama ek takut bingits, please..." Ucap Moly didepan tombol itu.
Moly kembali mendekati Adila, membawa kepala Adila untuk dia sandarkan dipahanya.
Selang beberapa menit, lift kembali menyala dan lampu pun kembali bersinar.
"Nek bangun... liftnya udah sadar nggak ngambek lagi, ayuk bangun jangan bikin ek sedih dung."
Moly kembali menepuk-nepuk pipi Adila, tapi Adila masih tidak bergerak dari posisinya. Moly pun menangis tersedu-sedu.
Lift yang harusnya membawa mereka ke lantai dasar malah membawa mereka kembali ke lantai atas, awal mereka memasuki lift tadi.
Pintu lift terbuka lebar, Moly langsung berteriak kencang meminta tolong hingga dua orang yang sedang menunggu lift di sebelahnya terkejut dan berjalan melihat kepadanya.
"Moly." Ucap Aditya dan David bersamaan.
"Help me ganteng... Adila pingsan."
Tanpa pikir panjang lagi Aditya memangku Adila dan menyerukan David untuk segera menghubungi Dokter yang berada di klinik perusahaan yang diperuntukan khusus untuk para karyawan. Dan Moly bergegas ke ruangan Adira untuk memberi kabar kepadanya.
Sampai diruangannya, Aditya membawa Adila keruangan khusus. Dimana ruangan itu menyerupai sebuah kamar yang berisi temoat tidur berukuran medium, lemari pakaian, kamar mandi dan deretan koleksi minuman dari dalam dan luar negeri yang bermanfaat untuk menghangatkan dan menjaga stamina tubuh.
Aditya mengambil minyak angin yang ia simpan dilaci nakas. Menuangkannya ditelapak tangan Adila dan menggosokannya. Sedikit menghangatkan tangannya yang sangat dingin.
Usahanya masih belum berhasil, Aditya mendekatkan minyak angin itu ke lubang hidung Adila seraya mengusap keningnya yang basah karena keringat.
Sejenak Aditya terpaku, menjelajahi wajah cantik yang sempat menemaninya malam itu, malam dimana hatinya merasakan kehilangan yang teramat sangat. Dan tubuhnya merasakan panas terbakar saat wanita ini terus menyentuh dan menggodanya.
"Siapa sebenarnya kamu ini..?" Gumamnya pelan.
Tok...tok...tok...
"Boleh kami masuk Pak?"Ucap David yang berdiri diambang pintu masuk kamar pribadi yang ada diruangannya.
Aditya segera menjauhkan tangan dari kening Adila dan berdiri," Ya masuk saja."
David masuk dengan diiringi seorang Dokter wanita yang masih muda.
"Saya coba periksa sebentar ya Pak."Ucapnya.
"Silahkan."
Dokter itu mengeluarkan stetoskop dan menempelkannya didada Adila. Setelah itu mengecek kedua mata Adila dengan mengarahkan sebuah alat yang menyerupai senter ke matanya.
"Nona ini tidak apa-apa, hanya pingsan biasa, Mungkin sebentar lagi akan sadar." Ucap Dokter itu beranjak dari tepi tempat tidur.
"Dila takut gelap dan ruangan sempit Dokter." Seru Adira yang berdiri diambang pintu bersama Moly, tak berani masuk lebih dalam.
"Iyup Dok... tadi liftnya mati, jadi Dila pingsan." Tambah Moly dengan tangan yang melingkar di lengan Adira.
"Apa sebelumnya pernah melakukan terapi untuk menghilangkan phobianya?"
"Tidak pernah Dokter."
"Kalai begitu saya akan berikan obat penenang untuknya, berikan obatnya bila Nona ini bangun."
Dokter itu menuliskan sebuah resep dan memberikannya kepada David.
"Kalau begitu saya undur diri."
"Silahkan Dokter, terima kasih." Ucap David.
Setela Dokter itu pergi, David kembali melihat Aditya yang sudah duduk lagi ditepi ranjang.
"Pak Aditya saya permisi mau mengambil obat untuk Nona Adila."
"Ya... dan cepatlah kembali."
"Baik Pak."
Diambang pintu, David melihat Adira yang bercucuran air mata, menahan isak tangis karena cemas melihat Adila yang belum juga sadar.
"Masuklah...!"
Adira menghapus air matanya," Jadi kami boleh masuk?"
"Ya."
"Terima kasih Pak."
Adira dan Moly pun berhambur mendekati ranjang.
"Dil bangun... ini aku, kamu sudah baik-baik saja sekarang, jadi jangan takut lagi." Ucap Adira lirih dengan deraian air mata.
"Kamu temannya?" Tanya Aditya.
Adira menghapus air matanya dan melihat Aditya," Saya adiknya Pak."
"Iiih Pak Adit belum tahu yup... si manis kan adik kembarnya Dila."
"Kembar?"
Adira mengangguk pelan.
"Iyup.. kembar tak seiras. Kayak ek sama Angelina Jolie." Ucap Moly sambil menutup mulutnya, tersenyum centil.
"Terima kasih banyak, Bapak sudah mau meminjamkan ruangan ini untuk Adila, maaf bila kami merepotkan." Ucap Adira dengan tulus.
"Tidak apa, ini sudah kewajiban saya untuk membantu."
"Adududuh... ek tersanjung, Pak Aditya baik bingits.. mau dung di tolong and dipangku kayak Dila."
Adira menyikut tangan Moly agar tidak banyak bicara ngelantur.
"Kita tunggu saja diluar, agar Dila bisa istirahat."
"Iya Pak."
Semuanya meninggalkan Adila dengan pintu yang dibiarkan terbuka. Dan Aditya meneruskan kembali pekerjaannya dengan melihat layar monitor yang sedari tadi ia biarkan menyala.
Adira berjalan menghampiri Aditya.
"Pak saya mau permisi dulu sebentar, masih ada pekerjaan yang belum saya selesaikan. emmm... dan kalau Bapak berkenan, bila Adila sadar tolong beritahu saya, saya khawatir dengan keadaannya. Sekali lagi maaf sudah merepotkan."
"Ya silahkan, nanti saya hubungi kamu kalau dia sudah sadar."
"Ek juga permisi ya Pak ganteng."
"Iya."
"Tapi sebelumnya ek minta salaman dulu yup?" Mengulurkan tangannya.
Dengan was-was Aditya menerima uluran tangan Moly, takut kejadian diruangan David akan terulang lagi.
Wajah yang seketika berbunga-bunga, Moly menjabat tangan Aditya dengan senangnya. Seperti tadi, kembali menakup dengan sebelah tangannya lagi. Tapi untungnya itu tidak berlangsung lama, karena Adira langsung menarik baju Moly agar segera melepaskannya.
"Makasih Pak Aditya." Ucap Moly.
Adira pun keluar dengan Moly yang berjalan membuntutinya, dengan menyimpan tangan didada dan mengendusnya.
"Emmm... bau cintanya akan ek bawa pulang, happy nya."
"Bau cinta apa?" Tanya Adira dengan menarik tangan Moly karena berjalan sangat lambat.
"Eh...eh...eh... singkirin itu yey punya tangan."
"Kenapa?"
"Ek nggak mau baunya Pak Aditya hilang gara-gara tangan you."
Adira melongo, terkejut dengan jawaban Moly.
"Segitunya kah...???