✨THE BEGINNING OF THE WORLD.
|Terlahir Kembali di Dunia Binatang...
Di hari pernikahannya, Niren kehilangan segalanya—termasuk nyawanya. Namun, takdir membawanya ke dunia lain, di mana manusia bukan lagi penguasa. Kini, ia terlahir sebagai kelinci betina dalam dunia binatang yang brutal.
Lebih buruknya lagi…
> "Selamat datang di Sistem Survival Betina! 🎉 Untuk bertahan hidup, tugas utamamu adalah… memiliki pasangan dan melahirkan sebanyak mungkin!"
Di dunia ini, betina sangat langka dan aturan yang ada bertentangan dengan logikanya. Hanya dengan melahirkan, ia bisa mendapatkan poin untuk bertahan hidup. Tapi Niren menolak pasrah.
Apakah ia akan tunduk pada aturan dunia ini? Atau justru menaklukkan nasibnya sendiri?
Sebuah perjalanan penuh tantangan, bahaya, dan romansa tak terduga pun dimulai.
⚠️ DILARANG JIPLAK! Kalo enggak suka bisa skip! Wajib Comment ya guys kalo suka🥹🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan lagi?
Hujan badai telah mengguyur selama setengah bulan penuh.
Air yang terus menerus turun dari langit membuat suhu semakin dingin, dan kini, tanda-tanda musim dingin yang sebenarnya mulai terasa. Makanan yang mereka simpan hampir habis. Jika tidak segera berburu, mereka bisa kelaparan.
Rune duduk di dekat jendela rumah kayu mereka, mengamati langit yang masih kelabu. Hujan telah reda, tetapi hawa dingin menggantung di udara. Pagi ini, sebelum fajar menyingsing, ia harus pergi berburu.
Ia mengambil mantel tebal dan bersiap untuk turun dari rumah panggung. Namun, suara pintu berderit membuatnya menoleh.
Niren muncul dari balik kamarnya. Betina itu mengenakan beberapa lapis kain untuk menahan dingin, tetapi tubuhnya masih tampak menggigil. Saat melangkah ke luar, ia langsung terbatuk-batuk, paru-parunya seolah dipenuhi udara beku.
Pipinya memerah, bukan karena malu, melainkan karena udara dingin yang menusuk kulitnya. Ia terbatuk pelan, mencoba menutupi hidungnya dengan tangan.
"Uhukk… uhukk…"
Rune mengernyit, menatapnya dengan ekspresi cemas. "Kau bangun?"
Niren mendongak, matanya sedikit mengantuk tetapi penuh rasa penasaran. "Aku mendengar suara langkahmu. Kau akan pergi?"
Rune mengangguk. "Hm. Aku akan berburu hari ini. Kau tetaplah di rumah, sore nanti aku kembali."
Ia berbalik, bersiap turun dari rumah panggung itu, tapi suara Niren menghentikannya.
"Rune, tunggu!"
Pria itu menoleh. Mata Niren ragu, bibirnya sedikit terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi enggan.
"Emm… bolehkah aku ikut?" tanyanya dengan nada pelan, tetapi penuh harap.
Rune menatapnya lama. "Untuk apa? Di luar sangat dingin. Kau bisa jatuh sakit."
"T-tapi… aku tidak mau sendirian di rumah. Aku takut sendirian."
Betina itu menunduk, menatap kakinya sendiri. Rasa sepi selama setengah bulan ini memang menyiksanya.
Rune mendesah pelan. Melihat Niren seperti ini, ada sesuatu di dalam dirinya yang merasa tidak tega.
Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya mengambil mantel kulit tebal dan menyampirkannya ke bahu Niren. "Baiklah, tapi jika kau merasa kedinginan atau lelah, bilang padaku."
Mata Niren berbinar, ia mengangguk cepat. "Iya, aku janji!"
Sesampainya di teras rumah, Rune mengambil beberapa perlengkapan dan kemudian mengubah wujudnya menjadi seekor serigala besar. Ia berbaring di tanah, menunggu Niren naik ke punggungnya.
Betina itu dengan hati-hati mengangkangi tubuhnya, lalu memeluk erat bulunya yang tebal.
Whoshh!
Angin dingin menerpa wajah mereka saat Rune mulai berlari cepat menuju hutan.
Niren membenamkan wajahnya di bulu serigala yang hangat. Udara benar-benar dingin, jauh lebih dingin dari yang ia bayangkan. Ia mengeratkan pelukannya, berusaha menghangatkan tubuhnya dengan kehangatan Rune.
Setelah setengah jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di hutan. Pohon-pohon cemara menjulang tinggi, menciptakan suasana yang sunyi dan gelap.
Rune melambat, lalu berubah menjadi bentuk setengah serigala. Ia menoleh, melihat wajah Niren yang memerah karena kedinginan.
Ia tertawa pelan. "Sudah kubilang, di luar dingin. Kau harusnya tetap di rumah."
Niren mengendus pelan, menggosok hidungnya yang mulai beku. "Enggak terlalu dingin kok…" jawabnya, meskipun tubuhnya menggigil.
Rune menggeleng, lalu menuntunnya menuju pohon besar yang cukup terlindung dari angin.
"Tetaplah di sini. Jangan kemana-mana."
"Hah? Kau mau kemana?"
"Aku akan berburu. Aku tidak bisa membawamu ikut ke dalam hutan yang lebih dalam."
Niren menggigit bibirnya, merasa sedikit enggan berpisah dari Rune, tetapi ia tahu tidak ada gunanya membantah.
"Baiklah… Tapi kalau terjadi sesuatu, aku harus bagaimana?"
Rune menatapnya dalam-dalam. "Jika ada orc atau binatang liar, kau tinggal teriak saja. Aku akan langsung datang."
Niren mengangguk kecil, tetapi ekspresi khawatir tetap terlihat di wajahnya.
Rune tampak sedikit ragu sebelum akhirnya berucap lagi. "Aku akan segera kembali. Jangan kemana-mana, mengerti?"
"Iya, iya. Aku tahu."
Rune menatapnya sejenak, lalu menghela napas. Setelah memastikan Niren cukup aman, ia mengubah tubuhnya kembali menjadi serigala. Mata emasnya berkilat saat ia menatap betinanya untuk terakhir kali sebelum menenggelamkan diri di dalam lebatnya hutan.
Niren hanya bisa memandangi kepergiannya dengan diam.
Jangan lama-lama… batinnya, berharap Rune akan segera kembali.
...****************...
Perburuan di Hutan Beku..
Rune menyelinap di antara bayangan pepohonan, napasnya hangat di udara dingin. Salju tipis menyelimuti tanah, membuat setiap langkahnya nyaris tanpa suara. Mata emasnya tajam, memindai area di depannya.
Tak jauh dari tempatnya bersembunyi, sekawanan bison berbulu tebal tengah merumput di padang yang sedikit bersalju. Namun, Rune hanya mengincar satu di antara mereka—bison jantan bertubuh gemuk yang akan cukup untuk persediaan makanan selama beberapa hari ke depan.
Ia merendahkan tubuhnya, mengencangkan otot-ototnya, menunggu saat yang tepat.
“Aku harus melakukannya dengan cepat… atau kawanan mereka akan menyerang balik.”
Dengan satu hentakan kuat, Rune menerjang keluar dari semak-semak, melesat seperti kilat ke arah buruannya.
Serangan Pertama..
Bison raksasa itu mengangkat kepalanya dengan waspada, tetapi terlambat—Rune sudah melompat ke arahnya. Cakar tajamnya menyabet sisi leher bison, membuat hewan itu meraung dan mengamuk.
BRUAKK!
Sang bison mengibaskan kepalanya, tanduk besarnya hampir mengenai tubuh Rune. Namun, serigala itu sigap melompat ke samping, berguling di tanah sebelum kembali menyerang.
Kawanan bison lain mulai panik dan berlarian, tetapi yang satu ini tetap bertahan, siap bertarung.
Rune menggeram rendah. “Kau tidak akan lolos dariku.”
Pertarungan Sengit.
Bison itu menyerbu ke arahnya dengan kecepatan luar biasa untuk tubuh sebesar itu. Rune menunggu di tempat, menatapnya tanpa gentar. Lalu, di saat terakhir, ia melompat ke samping, menerjang sisi tubuh bison dengan taringnya.
“GRRRAHHH!”
Bison itu meraung kesakitan, darah segar mulai mengotori bulu putihnya. Namun, ia belum menyerah. Dengan kekuatan penuh, ia menghentakkan kedua kakinya ke tanah dan mengibaskan ekornya, membuat Rune sedikit terdorong ke belakang.
Tetapi Rune bukan predator biasa.
Dengan gesit, ia melompat lagi, menerjang ke punggung bison dan menancapkan taringnya dalam-dalam di tengkuknya. Cakar belakangnya mencengkeram erat, tidak membiarkan buruannya bergerak bebas.
Bison itu menggeliat, mencoba melepaskan diri. Ia mengamuk, melompat-lompat liar, berusaha menyingkirkan Rune dari punggungnya.
Namun Rune bertahan.
“Ayo… robohlah…!”
Dengan satu gigitan terakhir, ia merobek pembuluh utama di leher buruannya. Bison itu mengeluarkan raungan panjang sebelum akhirnya roboh dengan suara gedebuk berat.
Rune berdiri di atas mangsanya, napasnya memburu. Darah hangat masih mengalir di salju di bawahnya, menciptakan kontras mencolok antara merah dan putih.
Serigala itu mendongak, mengamati keadaan sekitar. Kawanan bison lain telah pergi.
Perburuan ini berhasil.
Rune menjilati sedikit darah di moncongnya sebelum mulai menyeret tubuh besar itu menuju tempat yang lebih aman. Niren pasti menunggu…
...****************...
Salju berderak di bawah cakarnya saat Rune melesat melewati hutan, tubuhnya yang kekar membawa beban berat di punggungnya—seekor bison raksasa yang berhasil ia buru. Napasnya mengembun dalam udara dingin, dan setiap langkahnya mengukir jejak dalam salju tebal.
Dia sudah tidak sabar kembali. Niren pasti lapar. Dia bisa membayangkan betapa betinanya itu akan terkejut melihat buruannya kali ini.
Rune akhirnya tiba di tempat di mana dia meninggalkan Niren. Namun, langkahnya terhenti mendadak.
Tidak ada siapa-siapa.
Matanya yang keemasan menyapu seluruh area. Tidak ada Niren. Tidak ada suara. Hanya hening yang menusuk, seakan hutan ikut menahan napas.
Bulu di tengkuknya meremang.
“Niren?” panggilnya, suaranya dalam dan penuh tanda tanya.
Tidak ada jawaban.
Detik itu juga, dia menjatuhkan buruannya ke tanah. Rune segera berubah kembali ke wujud manusianya dan berjalan cepat ke sekitar, matanya tajam mencari tanda-tanda keberadaan betinanya.
Jejak kaki kecil di salju. Beberapa di antaranya terlihat kacau, seperti seseorang tergesa-gesa atau…
Rune segera berjongkok, mengusap jejak itu dengan jemarinya. Lalu matanya menyipit ketika melihat jejak kaki lain yang lebih besar dan lebih dalam, bukan milik Niren.
Seseorang membawanya pergi.
Dada Rune berdegup kencang. Rahangnya mengatup, menahan geraman yang hampir keluar dari tenggorokannya. Taringnya terlihat saat dia menarik napas dalam.
Apakah ia kehilangan betinanya lagi?
Rune sontak menggeleng keras, ia mencengkeram dadanya, rasa takut kembali dia rasakan dan kini menjalar dalam tubuhnya.
“Tidak… tidak mungkin.”
"NIREEEEEN!!!"
Teriakan itu menggema di seluruh hutan, mengguncang pepohonan dan mengusik kawanan burung yang bertengger di dahan.
Tidak ada balasan.
Rune tidak bisa menunggu lebih lama. Dengan cepat, dia merobek bajunya dan kembali ke wujud serigala. Kali ini, bulunya berdiri tegak, matanya penuh dengan amarah. Dia menundukkan tubuhnya rendah ke tanah, mengendus jejak yang tersisa.
"Aku akan menemukannya," geramnya pelan. "Siapapun yang berani mengambil betinaku… aku akan mencabik-cabik mereka."
Tanpa membuang waktu, Rune langsung berlari ke dalam hutan, menerjang salju, mengikuti aroma samar yang mulai memudar di tengah badai yang semakin menggila.
...>>>To Be Continued.....
Akhirnya... perjalanan Niren di buku ini resmi selesai. 🥹
Sebelum itu, aku mau minta maaf dulu karena sudah cukup lama menghilang dan jarang update. Beberapa waktu terakhir aku lagi sibuk dengan pekerjaan dan urusan lain, jadi waktu menulisku agak berantakan. Terima kasih banyak buat kalian yang masih sabar menunggu sampai sekarang. 🫶
Dan terima kasih juga untuk semua yang sudah membaca, memberi komentar, vote, maupun sekadar menemani perjalanan Niren dari awal sampai akhir. Jujur, tanpa kalian mungkin cerita ini tidak akan sampai sejauh ini.
Meski buku ini sudah tamat, kisah Niren sebenarnya belum berakhir.
Masih ada banyak hal yang belum terungkap, masih ada perjalanan yang harus dilalui, dan masih ada rahasia yang menunggu untuk ditemukan. Karena itu, kelanjutan cerita Niren nantinya akan berlanjut di buku baru. ✨
Anggap saja ini akhir dari satu perjalanan dan awal dari petualangan yang lebih besar.
Sekali lagi, terima kasih sudah bertahan sejauh ini bersama Niren. Sampai jumpa di buku berikutnya! ❤️