Sequel dari Pesona Setelah Menjadi Janda
(Mohon untuk membaca novel sebelum nya agar kalian tidak bingung)
***
Arra, gadis berusia delapan belas tahun yang baru saja melangkah ke dunia perkuliahan, tengah menghadapi berbagai perubahan dalam hidupnya. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah—keberadaan Leo Rexander.
Leo mengaku sebagai pacarnya. Arra tidak pernah mengiyakan. Namun Leo tetap yakin, seolah hubungan mereka telah terpatri sejak lama. Sikapnya yang tenang namun posesif, membuat banyak orang meragukan ucapannya. Dan keraguan itulah yang mendorong sejumlah pria mencoba merebut tempat yang tak pernah benar-benar kosong di sisi Arra.
Meski seringkali berbenturan, Arra dan Leo justru saling melengkapi—dua kutub berbeda yang terus tertarik satu sama lain, meski tak pernah tahu kapan harus berhenti.
Ini bukan sekadar kisah cinta remaja, tapi tentang dua hati yang keras kepala, saling mempertahankan tanpa pernah benar-benar saling mengucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saras Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantai
Satu bulan kemudian
Hari ini Arra meliburkan diri. Ia berencana menghabiskan waktu bersama Leo sebelum pemuda itu berangkat ke Las Vegas besok.
"Lo udah siap?" tanya Leo saat Arra keluar dari rumah.
Arra mengangguk sambil tersenyum. "Udah. Nih, Mommy juga nyiapin camilan buat kita."
Leo membukakan pintu mobil untuk Arra. Karena mereka akan mengunjungi beberapa tempat hari ini, Leo memilih menggunakan mobil demi kenyamanan Arra.
"Kita ke mana dulu?" tanya Arra saat mobil mulai melaju meninggalkan rumah.
"Ke pantai dulu. Mumpung masih pagi, belum banyak pengunjung," jawab Leo.
Arra hanya mengangguk dan menatap keluar jendela. Tiba-tiba tangan Leo meraih tangannya. Arra menoleh, dan mendapati Leo menatapnya sejenak sebelum kembali fokus menyetir.
Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di pantai. Leo turun lebih dulu, lalu segera membuka pintu untuk Arra. Ia juga mengambil paper bag berisi bekal yang disiapkan oleh Alyssa dari kursi penumpang.
Arra memandangi pantai yang masih sepi. Hanya ada beberapa pengunjung di kejauhan.
"Ayo," ajak Leo sambil menggenggam tangannya.
"Sepi banget, ya," gumam Arra.
"Jam segini emang jarang yang ke pantai."
Leo menggandeng Arra menuju salah satu gazebo kecil di tepi pantai. Ia mulai mengeluarkan bekal dari dalam paper bag, meletakkannya satu per satu di atas meja.
"Kamu belum sarapan?" tanya Arra saat melihat Leo sibuk membuka kotak-kotak makanan.
Leo menggeleng. "Belum. Tadi buru-buru takut telat."
Arra berdiri dan mengambil salah satu kotak makanan.
"Untung aku tadi siapin nasi goreng. Aku udah curiga kamu belum makan," ucap Arra sambil menyerahkannya ke Leo.
Leo menerimanya dan langsung menyantap sarapan itu. Arra membiarkan Leo makan dan kembali menikmati pemandangan laut.
"Pagi-pagi gini di pantai ternyata sejuk banget, ya."
"Dan tenang. Gue suka banget suasana kayak gini," jawab Leo.
Arra menatap laut lepas. Deburan ombak membuat dadanya terasa damai.
"Aku dulu sempat benci sama takdir. Sering nyalahin Tuhan karena hidupku terasa terlalu sulit. Kehilangan ibu sejak lahir, hidup tanpa ayah kandung, dan kehilangan salah satu orang yang aku sayangi."
Leo menghentikan makannya, menatap Arra dengan penuh perhatian.
"Tapi ternyata, Tuhan juga menyiapkan kebahagiaan yang nggak pernah aku bayangin. Oma, Mommy Alyssa, Daddy Vin, Zach, Zayn... dan kamu, Leo. Kalian semua adalah hadiah yang Tuhan titipkan buat aku."
Leo tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Arra dengan lembut.
"Gue dulu juga nggak ngerti buat apa gue hidup. Selain Daddy, gue nggak punya siapa-siapa. Tapi sejak kenal lo, semuanya berubah. Lo jadi satu-satunya tempat gue pulang."
Tatapan mereka saling bersirobok, dalam dan penuh makna.
"Jangan terlalu berharap banyak dari aku, Leo. Aku takut kamu kecewa."
"Gue nggak akan kecewa... kecuali lo ninggalin gue."
Arra terdiam. Pandangannya kembali ke laut.
"Kalau suatu hari nanti aku bikin kamu kecewa... kamu masih mau maafin aku?"
Leo menatapnya serius. "Kenapa? Lo berniat ninggalin gue?"
Arra menggeleng. "Nggak. Aku cuma takut... tanpa sadar aku nyakitin kamu."
Leo menggenggam tangannya lebih erat.
"Ra, ini hari terakhir gue di sini sebelum berangkat. Gue nggak mau bahas hal kayak gitu sekarang. Lo bikin gue overthinking."
"Maaf..." ucap Arra pelan.
Leo berdiri dan menarik tangan Arra agar ikut berdiri.
"Ayo jalan-jalan. Hari ini harus jadi hari yang menyenangkan. Nggak boleh ada topik aneh-aneh."
Arra tersenyum kecil dan mengangguk. "Oke."
Mereka pun berjalan menyisir bibir pantai sambil bergandengan tangan. Matahari mulai naik, menghangatkan suasana pagi mereka. Leo beberapa kali memotret Arra dengan ponselnya, dan Arra pun diam-diam membalas dengan mengambil foto Leo.
(Visual foto yang Leo ambil)
(Visual foto yang Arra ambil)