Ozaki Rika atau dulunya Ozaki Ryu adalah manusia buatan dari era moderen dan secara tiba-tiba muncul di abad pertengahan yang menjadi wilayah iblis, ia ada di sana karena upacara pemanggilan yang dilakukan oleh Zarathos sang raja Iblis kecil di wilayah itu, Rika dinikahi karena sang Raja Iblis tidak ingin manusia itu disakiti bawahannya, ia memikirkan kegunaan gadis yang terpanggil olehnya karena ia tidak pernah menyangka akan memanggil manusia, karena dalam upacara itu harusnya yang terpanggil adalah monster kuat dari dimensi lain untuk membantunya perang melawan manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azai Nagamasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suamiku adalah Raja Iblis
Author:Azainagamasa53(Hamdi)
Episode 21
Akhirnya, Rika kembali ke kamarnya, tentu saja masih dibantu oleh Zarathos dikarenakan ia masih belum bisa bergerak dengan baik, akan tetapi saat di depan pintu kamar, Rika hanya masuk sendiri, ia menutup pintunya dan melarang Zarathos untuk masuk. Ternyata saat ia keluar kembali, ia sudah mengganti gaun yang ia kenakan dengan gaun hitam yang lain.
Zarathos hanya tersenyum kecil melihat Rika berjalan dengan pelan dengan ekspresi kesakitan di wajahnya, melihat hal itu Zarathos hanya menghela nafas dan berjalan mendekati Rika.
"Kau mau apa mendekatiku?"
Pertanyaan pedas itu tiba-tiba terlontar di mulut Rika, diiringi dengan tatapan tajamnya, Zarathos tediam lalu meletakkan tangannya ke atas kepala Rika dan berkata.
"Apa maksud dari perkataamu Rika, aku suamimu dan bukankah kita sudah melakukan hal yang lebih malam itu hem. Apa yang ku berikan masih kurang?"
Rika yang mendengar kata-kata Zarathos langsung mengalihkan wajahnya dan mendengus pelan sembari berucap. "Aku tidak pernah menyangka kalau kau akan semesum ini."
Zarathos hanya tersenyum sembari menutup mulutnya ketika ia tertawa kecil, Rika yang mendengar suara tawa dari arah Zarathos langsung menatap tajam suaminya.
"Apa ada yang lucu dariku?"
"Tidak ... hanya saja kau tambah cantik saat marah."
Rika yang kaget langsung mengalihkan wajahnya sembari berjalan tertatih-tatih.
"Kau ..., kenapa tiba-tiba perhatian padaku?"
Mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Rika kepadanya, Zarathos hanya tersenyum kecil mendengar perkataan dari Rika.
"Sudahlah, anggap saja ini adalah perjanjian cerai kita sudah dibatalkan. Aku akan selalu bersamamu mulai dari sekarang."
Mendengar tanggapan dari Zarathos, jantung Rika tiba-tiba berdetak cukup kencang, ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Tapi satu hal yang bisa ia simpulkan dia sudah mulai menerima Zarathos sebagai suaminya.
"Oh, b-begitu. Ya sudah kita harus berangkat sekarang."
Zarathos hanya tersenyum saja dan menuntun Rika istrinya menuju kereta yang akan digunakan. Disana terlihat Mary, Enja, Suija dan juga Todoroki berdiri menunggu mereka berdua di luar.
Di dalam kereta, mereka berdua dalam situasi yang sangat canggung, di mana Zarathos dan Rika sama sekali tidak bicara satu sama lain.
Dalam perjalanan menuju kota Grimory, Rika terus termenung entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu, tidak ada satupun yang tahu. Rika terus menggenggam katana di tangan kirinya yang sudah ia siapkan, sementara Zarathos juga memegang kata di tangannya, pedang itu adalah hadiah pemberian Rika.
"Rika ..."
Zarathos mencoba memanggil istrinya yang nampaknya sedang tidak ingin bicara dan selalu mengalihkan pandangan darinya. Rika yang dipanggil oleh suaminya, langsung mengarahkan tatapannya ke arah Zarathos.
Zarathos kemudian tersenyum ketika melihat Rika menatapnya dan mulai bertanya.
"Apakah kau mencintaiku?"
Mendengar pertanyaan itu, Rika kembali diam dan mengalihakan tatapannya kembali dengan cara menunduk, sembari memberikan jawaban.
"Menurutmu apakah aku mencintaimu?"
Zarathos yang ditanyai demikian oleh Rika langsung kebingungan, ya dia tidak tahu mau menjawab apa mengenai apa yang ditanyai oleh Rika.
"Rika, hal itu hanya kaulah yang bisa menjawabnya."
Mendengar jawaban dari suaminya, ia diam karena memang ia tidak tahu apakah ia ini cukup pantas untuk dicintai atau tidak dan ia juga tidak paham, apakah dia mencintai Zarathos.
"Maaf ...., bisakah kakang memberikanku divinisi dari mencintai?"
Zarathos terdiam, ia kemudian menatap ke arah Mary yang duduk di samping Rika, Mary yang merupakan pelayan terdekat Rika pun mulai membisikkan sesuatu ke telinga Rika. Rika langsung menatap ke arah Zarathos, wajahnya nampak bersemu merah Rika kemudian mengatakkan.
"Jika yang Mary katakkan benar, aku rasa aku memang mencintaimu. Tapi aku masih ragu, jadi bisakah kau menunggu sampai aku benar-benar yakin kalau perasaan yang aku rasakan ini adalah cinta atau hanya sekedar kagum."
Meskipun sebenarnya Rika sudah pernah jatuh cinta sebelumnya, atau bahkan ia tahu kalau ia sudah mencintai atau membuka hati untuk Zarathos. Namun, ia tidak ingin salah dalam mengambil tindakkan, ia tidak ingin hidupnya hancur untuk kedua kalinya.
"Baiklah aku mengijinkanmu untuk berpikir mengenai perasaanmu padaku."
Rika pun kembali mengalihkan tatapannya, lalu menikmati pemandangan dari perjalanan mereka, sekarang mereka sedang berjalan di hutan iblis.
Mereka semua melakukan perjalanan penting ini menuju ke ibu kota Gremory dunia bawah, dalam perjalanan terasa begitu tenang dan mencurigakan.
Maka oleh karena hal itu pulalah, Zarathos menjadi tidak tenang, karena sejak keberangkatan mereka, mereka sama sekali tidak menerima halangan atau rintangan, bahkan untuk bandit iblis pun tidak muncul, Zarathos mulai khawatir kalau ini merupakan jebakan.
Rika yang melihat Zarathos menampakkan ekspresi gelisa, langsung bertanya pelan.
"Apa yang kau khawatirkan Kakang?"
Zarathos yang ditanya oleh Rika mengenai apa yang ia khawatirkan, langsung diam beberapa saat. Lalu tersenyum kecil ke arah Rika agar Rika tidak terlalu khawatir.
"Bukan apa-apa. Sebaiknya Dinda istirahat, perjalanan kita akan terasa sangat lama."
Rika yang mendengar jawaban dari Zarathos hanya mendengus pelan lalu meminta Zanki untuk bertukar tempat dengannya agar ia bisa duduk di samping Zarathos.
"Zanki, duduklah disamping Mary, aku akan duduk di samping Gusti Prabu."
"Baik Gusti Ratu."
Zanki dan Rika pun bertukar tempat duduk, sekarang Rika duduk di sebelah kiri Zarathos. Zarathos pun menatap ke arah istrinya yang tiba-tiba saja menyenderkan kepalanya di bahu miliknnya.
'Dia bilang perjalanan ini terasa sangat lama, bukan jauh. Apakah ia sedang mencurigai sesuatu, aku harus bisa menenangkan pikirannya.'
Rika terus menyenderkan kepalanya di bahu suaminya, sembari menahan nyeri datang bulan yang baru saja ia alami.
"Apakah Gusti Prabu khawatir akan adanya jebakan dalam perjalanan kita?"
Zarathos kaget dan langsung mengarahkan tatapannya ke arah Rika yang masih bersandar di bahunya, bukan hanya Zarathos, Zanki dan Mary pun kaget mendengar perkataan Rika.
"Apa maksud dari pertanyaanmu itu padaku Rika?"
Mendengar jawaban dan mengetahui reaksi terkejut suaminya, Rika pun memeluk erat lengan suaminya sembari memejamkan mata dan berkata.
"Aku hanya manusia, bukan makhluk abadi, jadi hanya satu yang bisa aku harapkan saat ini, yaitu bisa memberikanmu keturunan sebelum aku mati. Jika aku tidak bisa melakukannya aku akan merasa bersalah karena aku tidak bisa membayar semua kebaikanmu padaku. Mungkin di mata orang lain atau para manusia, kau adalah makhluk yang jahat, tapi di mataku, kau adalah suami yang baik, meski kadang hukuman yang kau berikan sangat menyiksa."
Zarathos sedikit tertegun dengan kalimat yang Rika berikan padanya, ia tidak tahu kenapa Rika mengatakkan hal itu kepadanya. Namun, dalam hatinya ia bisa merasakan suatu kehangatan dan dengan tengan dan pelan Zarathos memeluk Rika dan meletakan kepala Rika di dadanya lalu berbisik.
"Kau tak perlu merasa berhutang padaku, aku sangat sayang padamu karena kesetiaanmu. Meskipun kau harus mengkhianati rasmu demi tujuanku. Hal inilah yang membuatku tidak bisa melepaskanmu, caramu menghadapi Lucifer juga sungguh membuatku bangga, tak ada lagi wanita yang sehebat dirimu di mataku. Aku janji padamu untuk tidak akan menampung selir di istanaku. Kau adalah permaisuriku satu-satunya untuk selamanya."
Rika hanya bisa diam, tanpa sadar air matanya menetes, Rika tidak tahu kenapa ia meneteskan air mata, padahal dalam hatinya ia sangat senang, ia tidak sedih kenapa air matanya menetes, pelukan Rika pun mengerat.
"Kau tak perlu seperti itu, karena kalau kau tidak mau menampung selir, kau tidak akan bisa punya keturunan."
"Bagiku, kebahagiaanmu lebih ku utamakan ketimbang penerus."
Mary dan Zanki yang melihat Drama di depan mereka hanya bisa swedrop ringan, mereka tidak menyangka kalau raja mereka benar-benar sudah tergila-gila kembali dengan gadis manusia. Dan untungnya manusia yang menjalin hubungan dengan Raja mereka adalah gadis yang tidak akan berkhianat, meskipun orangnya itu lembut-lembut kasar.
"Dibandingkan dengan gadis itu, Gusti Ratu kita jauh lebih baik bukan?"
Zanki hanya mengangguk sebagai jawaban dari bisikan Mary di telinganya.
'Aku harap Gusti Prabu tidak menderita lagi.'
Tanpa mereka sadari dari jauh mereka di awasi oleh prajurit bayangan yang entah dikirim oleh siapa.
Bersambung