Kara,gadis cantik dan baik hati, tapi suatu kejadian mengerikan mengubah hidupnya menjadi gadis liar dan sulit di kendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy reana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Jupiter Alfian
Aku Memang tidak lagi mengganggu Kara akhir-akhir ini, apalagi semenjak kejadiaan di Bogor waktu itu. Meski sudah berlangsung lama, aku masih belum memberanikan diri mendekatinya lagi. Aku tidak mendekatinya bukan karena aku tidak menyukainya lagi, tapi karena akhir-akhir ini situasi rumah cukup membuatku kerepotan.
Berawal dari kak Dea yang terus menerus menangis karena Faro minta putus, berhari-hari dia mogok makan,bahkan dia membatalkan beberapa jadwal pemotretan. Patah hati sungguh momen yang sangat menguras tenaga, bahkan bisa membuat heboh satu rumah, itu yang aku tau dari pengalaman kak Dea.
Sebenarnya aku pun tidak kalah patah hatinya melihat Kara dekat dengan Faro, bahkan mereka sudah saling mengenal cukup lama. Semua orang saling menghindar setelah kejadian itu, tapi aku tidak bisa berdiam diri melihat kakak Dea seperti itu. Akhirnya aku memutuskan menemui Faro di kampusnya.
Seperti dugaanku, Faro memang menyukai Kara. Meskipun dia mengelak, aku tau dia berbohong. Luar biasa sekali bukan, kita menyukai wanita yang sama?
Menemui Faro di kampus, tidak mengubah apapun. Justru aku semakin yakin dia memang menyukai Kara, dari ucapannya terlihat jelas. Aku tidak bermaksud ikut campur urusan pribadi mereka, hanya saja aku semakin merasa kasihan melihat kakak ku yang terus menerus mengurung diri dikamar, seperti hari ini.
Aku pulang dari kampus Faro sekitar pukul empat sore, kondisi rumah sepi, semua penghuni berada di kamar masing-masing. Begitu sampai di lantai dua, aku mendengar suara gaduh dari dalam kamar kak Dea yang tidak jauh dari kamarku.
Meski ragu, akhirnya aku mendekat. Ternyata pintu kamar kak Dea tidak terkunci, bahkan terbuka sedikit. Nampak Ibu duduk di sebelah ranjang, dan Kak Dea yang masih dalam posisi berbaring memeluk guling,menghadap Ibu
Awalnya aku tidak tertarik mendengar pembicaraan mereka dua, biasanya mereka hanya akan membahas tentang masalah tas,baju atau sepatu keluaran terbaru. Mereka sangat mirip dalam segala hal, aku sempat berfikir mungkin saja Kak Dea itu bukan anak Ibu, tapi saudara kembarnya, karena dari segi apapun mereka sama persis.
Begitu aku melangkah hendak meninggalkan kamar Kak Dea, aku mendengar nama orang yang selalu menghantui pikiranku akhir-akhir ini di sebut Ibu.
"Kamu tidak perlu takut tersaingi Kara, dia bukan lawan sepadan buat kamu. Faro tidak akan meninggalkan kamu demi anak haram seperti Kara."
Aku mulai penasaran dengan cerita Ibu. Langkahku kembali mendekat, aku menajamkan pendengaranku agar tidak satu cerita pun terlewat.
"Tapi Aku lihat dengan jelas,Bu. Faro memang menyukai Kara."
"Walaupun mereka saling menyukai, mereka tidak akan bisa bersama. Mereka itu bersaudara."
Deg,,,
Aku tidak mungkin salah dengar, suara Ibu begitu jelas terdengar.
Jadi mereka bersaudara?
Aku tidak pernah tau Kara memiliki saudara lelaki, yang aku tahu dia anak tunggal dari pengusaha kaya. Dan Faro, aku mengenalnya cukup lama, aku tahu keluarga dan juga saudaranya. Faro memang memiliki seorang adik perempuan, tapi bernama Alma dan baru berumur sepuluh tahun.
Lalu bagaimana bisa Kara dan Faro jadi saudara?
Aku tidak lagi meneruskan mendengar obrolan Ibu dan kak Dea, aku memilih masuk kedalam kamar dan mengunci pintu. Dalam dunia bisnis, menikah karena urusan bisnis atau memiliki istri lebih dari satu bukan lah sesuatu yang baru. Bahkan orang tuaku pun, dulu memang dijodohkan karena urusan bisnis, tapi untungnya mereka bisa saling mencintai seiring berjalannya waktu.
"Jupiter, buka pintunya. Ibu mau bicara sama kamu!" Teriakan Ibu membuatku berjengit. Suara kencangnya dan ketukan keras, membuatku terkejut.
"Kenapa,Bu. Ga usah teriak, aku dengar." Aku membuka pintu, di sambut raut masam wajah Ibu.
"Ibu mau bicara!" Ibu merangsak masuk kedalam kamarku.
" Ngobrolnya di luar aja. Gak usah di dalam kamar juga," aku tidak suka Ibu atau siapa pun masuk kedalam kamarku, terutama Ibu karena dia akan berkomentar panjang lebar melihat kondisi kamarku yang lebih sering berantakan bahkan mungkin memang tidak pernah rapi.
"Kenapa kamu putus sama Ayu?"
"Wahhhh ternyata kabar beritanya sudah sampai ke telinga Ibu." Aku berdecak kagum, padahal baru beberapa hari yang lalu aku benar-benar mengakhiri hubunganku.
"Kenapa?! Ibu sudah pernah bilang jangan ambil keputusan sepihak seperti itu. Ayu cantik dia juga gadis baik-baik. Apalagi yang kamu cari?" Aku berdecak begitu mendengar kata 'gadis baik-baik', aku rasa Ibu memang tidak mengelal baik bagaimana Ayu yang sebenarnya.
"Namanya pacaran wajar lah putus. Jangankan aku, kak Dea aja bisa putus." Aku menjawab santai, meski Ibu terlihat mulai kesal.
"Kamu dan kakak mu berbeda. Jangan disamakan."
"Apanya yang berbeda? Aku dan kak Dea sama-sama anak Ibu. Aku juga punya hak untuk menentukan pilihanku sendiri." Kini aku menatap wajah Ibu serius.
Sudah sejak lama aku merasa Ibu mulai mengatur kehidupanku, terutama pasangan. Ibu memang tidak menjodohkanku tapi jelas dia sudah memilih yang menurutnya cocok, tapi tidak menurutku.
"Ibu mau yang terbaik buat kamu, karena kamu akan menjadi penerus keluarga ini."
"Aku memang pasti akan jadi penerus Ayah, tapi bukan berarti kehidupanku pun diatur Ibu!"
"Jupiter! Sejak kapan kamu berani membantah Ibu!"
Bagaimanapun aku beralasan,aku tidak akan menang melawan Ibu
"Aku mau istirahat, lain kali kita bahas lagi. Oke?" Aku Mendorong pelan pundak Ibu, hingga ke depan pintu.
"Tunggu!" Ibu menepis tanganku,
"Ibu gak akan ganggu lagi, asalkan kamu mau balikan lagi sama Ayu." Lanjutnya
Aku memutar bola mata jengah, masih sempat-sempatnya Ibu membahas itu.
"Iya, nanti aku pikirin lagi. Oke?" Kali ini aku benar-benar menutup pintu, meski Ibu masih berteriak di luar memintaku rujuk.
Aku dan Ayu sejak awal memang bukan tertarik secara emosional,atau saling menyukai. Aku hanya membutuhkannya untuk menunjang popularitas di arena balapan. Selebihnya aku tidak tertarik sama sekali.
Aku rasa Ayu pun sama denganku, gelar pacar yang dia sandang hanya sebatas ajang pamer, karena aku dan dia sama-sama populer.
Ayu mulai menyadari aku memang menyukai Kara semenjak waktu dia melihatku menemui Kara di perpustakan waktu itu. Puncaknya ketika waktu liburan singkat di Bogor, aku benar-benar kesal karena Ayu mencegah bahkan melarangku mendekati Kara, sehingga Faro yang terlebih dulu menolongnya. Saat itu juga aku langsung memintanya berhenti menganggapku sebagai kekasihnya. Aku terlalu muak dengan sikapnya yang selalu berpura-pura menjadi perempuan baik, padahal sebenarnya dia sama saja seperti perempuan lainnya.
Ayu selalu menggunakan orang tuaku untuk menyelesaikan masalahnya denganku, dia tau kelemahanku, aku takkan bisa menolak permintaan Ibu dan sial nya Ibu selalu percaya dengan semua kebohongannya.
Ketukan pintu kembali terdengar. Aku menghela nafas jengah, kenapa lagi? belum cukupkah Ibu menggangguku?
Aku memilih pura-pura tidak mendengar, tapi ketukan pintu terus berulang-ulang.
"Apalagi sih,Bu?!" Aku membuka pintu.
"Kakak boleh masuk?" Ternyata Itu kak Dea. Kepalanya muncul dari balik pintu, dan langsung membuka pintu lebar-lebar.
"Mau apalagi sih,kak?" Aku benar-benar malas harus berdebat dengan kedua wanita penguasa di rumah ini.
Kak Dea tidak menjawab, dia justru langsung masuk tanpa permisi dan duduk di pinggiran tempat tidurku. Aku segera menutup pintu dan menyusulnya, duduk persis di seberangnya.
"Kapan sih kamar kamu rapi? Berantakan kaya kandang ayam." Ejeknya, sambil melihat ke setiap penjuru ruangan.
"Nanti kalau udah punya istri, pasti rapi." Kak Dea terkekeh menertawakanku.
"Siapa yang mau sama lelaki jorok kaya kamu." Ejeknya.
"Ayu?" Lanjutnya
Aku hanya menatapnya tanpa expresi,mendengar namanya saja membuatku malas,apalagi harus menjadi suaminya nanti.
"Udah basa basinya?" Tanyaku, langsung menghentikan tawanya.
"Ada yang mau kak Dea ceritakan? Atau mau kak Dea tanyakan?" Aku tau persis, dia tidak mungkin mau repot-repot meninggalkan kamarnya yang super bersih dan mendatangi kamarku yang super berantakan.
"Kamu, ke kampus Faro hari ini?"
"Mmm"
"Apa dia baik-baik aja?"
"Kenapa gak tanya sendiri?"
"Kita putus." Aku hanya menganggukkan kepalaku,
"Kamu udah tau?" Lanjut Kak Dea, dan aku kembali mengangguk.
"Aku tidak tau sejak kapan dia mulai berubah, hanya saja akhir-akhir ini aku dan dia sering bertengkar. Dia bukan lagi Faro yang aku kenal." Kesedihan nampak jelas dari raut wajah Kak Dea.
"Aku gak tau, itu masalah kalian dan aku nggak berhak ikut campur."
"Aku tau. Apa Kara semenarik itu, sehingga kalian berdua menyukainya?" Situasi berbalik, kini aku yang tersenyum masam.
"Aku tidak tau,"
"Kamu dan juga Faro sama-sama tidak pandai berbohong." Decaknya, "Kalian bisa berbohong di depan orang lain, tapi sorot mata kalia ga bisa bohong."
"Aku juga nggak tau, apa yang menarik dalam diri Kara. Karena sampai hari inipun aku masih belum tau alasannya, kenapa aku bisa menyukainya."
"Dia baik?"
"Mungkin"
"Dia cantik?"
"Mungkin"
"Dia lebih cantik dariku?"
"Mungkin"
"Kamu mencintainya?"
"Mungkin"
"Ishhh,!" Kak Dea memukul jidatku dengan telapak tangannya.
"Awww, sakit!" Pukulannya cukup keras, meski dia hanya gemas mendengar jawabanku, tapi aku berhasil membuatnya tersenyum, meski sedikit.
"Aku tidak tau, kamu harus cari tahu sendiri kak."
"Menurutmu begitu?"
"Iya, kalau memang kak Dea benar-benar mencintai Bang Faro, perjuangkan!"
"Whoaaa ternyata adik tampanku ini sudah besar ya?" Kak Dea merangkulku, meski tubuhnya lebih pendek dan kecil dariku, dia berjengit merangkul sambil mengacak-acak rambutku.
"Lepas! Kebiasaan banget ngacak-ngacak rambutku." Dia hanya meringis,tertawa.
"Aku mau coba memperbaiki hubunganku dan Faro. Kamu juga berjuang, jangan menyerah. Anggap aja kamu mendekati Kara sekaligus menjauhkan dia dari Faro."
"Aku tidak yakin."
"Ayolah,,, apa kamu mau tetap memilih Ayu?"
Aku bergidik ,"Ogah!"
"Makanya, kejar Kara. Oh iya, besok ada acara Alumni sharing di sekolah kamu. Kebetulan dari kampusku yang jadi mentornya."
"Aku tau"
"Ada fun games, basket. Main nya baik-baik ya, kamu lawan tim nya Faro. Jangan main otot, oke?"
"Mmm"
"Main sportif ya…."
"Mmm,"
Kak Dea mencubit pipiku,
"Awww, udah sana pergi. Aku ngantuk!"
"Iya… sampai ketemu besok. Jangan galak-galak ya, di sleding senior tau rasa kamu." Ledeknya sambil terkekeh meninggalkan kamarku.
Esok harinya…
Alumni sharing kali ini lebih ramai dari tahun kemarin, acara talk show berlangsung meriah dan diakhiri dengan games fun adu basket. Aku dan tim basket melawan tim basket Faro. Lawan cukup imbang, tidak bisa dianggap remeh, apalagi tim Faro memiliki pemain yang lebih profesional dibandingkan tim dari sekolahku.
Suasana lapangan basket cukup ramai, hampir semua siswa perempuan berbondong-bondong menyemangati tim idolanya. Aku masih menatap satu persatu kursi penonton, berharap Kara berada di salah satu bangku,menonton pertandingan.Tapi, meskipun berkali-kali aku memastikan, aku tetap tidak menemukannya.
Permainan imbang, skor masih sama. Hingga aku melihat Faro keluar dari arena lapangan. Dia nampak tergesa-gesa membuatku semakin penasaran.
Timku tidak memiliki pemain cadangan sehingga aku tidak bisa meinta tukar posisi dan menyelesaikan hingga akhir. Sampai akhir permainan yang dimenangkan tim sekolahku, aku tidak menemukan keberadaan Faro, begitupun kak Dea.
Aku mendatangi ruang kesenian, yang tadi sempat digunakan untuk acara talk show. Banyak mahasiswa yang masih berada di ruangan itu, tapi aku tidak menemukan Faro ataupun kak Dea.
"Jupiter, ngapain di sini? Cari siapa?" Kak Nadia yang kebetulan berada di ruangan itu menyadari kehadiranku.
"Kak Nad, liat kak Dea gak?"
"Dea? Tadi kayaknya dia ke sana." Telunjuk kak Dea menunjuk ke lantai dua.
"Oh,, makasih ya." Aku segera naik ke lantai dua mencari keberadaan kak Dea.
Lantai dua kosong dan lengang,karena semua siswa ramai memenuhi lapangan dan tempat lainnya. Sedangkan lantai dua tidak ada siapapun. Aku masih tetap memeriksa setiap ruangan, hingga aku menemukan kak Dea berdiri menatap hampa kedalam sebuah ruang kelas.
Aku berjalan perlahan,ikut melihat kemana mata kak Dea menatap.
Aku terkejut melihat dua orang tengah berpelukan. Bayanganku terlihat dari pantulan cermin,membuat kak Dea menyadari keberadaanku, kak Dea menoleh dengan tatapan terluka dan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Ia masih sempat tersenyum tipis,meski aku lihat tubuhnya bergetar, dia tetap melangkah menjauh, namun baru dua langkah tubuh kak Dea ambruk.
"Kak Dea?" Aku segera meraih tubuhnya,
"Kak?" Aku mengguncang-guncang pundaknya, dia masih tertunduk,dan akhirnya dia menangis dengan kencang.
"Dea, Jupiter?!" Faro terkejut melihatku dan kak Dea.
"Kak Dea." Suara lirih dan pelan keluar dari mulut Kara, dia mendekat bersimpuh di dekat kak Dea.
"Kak De, Kara bisa jelaskan, itu gak seperti ,,,"
Plakkk
Kak Dea tiba- tiba melepas pelukanku dan menampar keras wajah Kara, hingga tubuh Kara terhuyung dan terjatuh.
"Dea,,!!"
"Jadi ini alasan kamu minta putus. Karena dia?!" Amarah kak Dea sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Aku bisa jelaskan,"
"Gak perlu! Apalagi yang mau kamu jelasin. Dan kamu," kak Dea menatap tajam Kara, "Kamu tidak sebaik yang aku kira, kamu tetap saja perempuan murahan. Sekali terlahir dari wanita murahan, tetap saja murahan!"
"Cukup! Tolong hentikan!" Faro menarik tubuh Kak Dea,menjauh entah kemana. Mereka memang harus bicara,menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Isak tangis terdengar lirih dari bibir Kara, tangannya masih memegang pipi sebelah kanan.
"Ayo ikut aku!" Aku meraih tangannya, memapahnya berdiri.
"Aku bisa sendiri." Dia mencoba menepis tanganku, tapi kali ini aku tetap bersikeras tetap memegang lengannya,meskipun dia meronta.
"Jupiter!" Aku tidak menghiraukannya, dan masih membawa paksa Kara berjalan menjauh hingga aku menghentikan langkah begitu sampai di taman, lokasi taman lumayan jauh dari area sekolah, tidak terdengar lagi suara gaduh dari siswa-siswa yang masih menonton pertandingan futsal.
Aku melepas genggaman tanganku, memaksa Kara duduk di salah satu kursi taman.
"Diem. Duduk disini, jangan kemana-mana sampai aku kembali!"
Aku tidak menunggu Kara Menyetujui perintahku, aku langsung berlari ke minimarket membeli ice cream,obat dan air mineral.
"Pegang ini. Tempelin kaya gini." Aku memberi Kara Ice cream, menempelkannya di pipi yang nampak merah akibat tamparan Kak Dea.
"Di pegang kaya gini!" Aku meraih tangannya untuk memegang ice cream dan menempelkan di pipinya.
"Di pegang!" Kara tidak juga menempelkan Ice cream, dia justru kembali menaruh ice cream di pangkuannya.
"Kara!"
Kara justru menatap mataku, buliran bening mulai mengalir dari pelupuk matanya.
"Kenapa? Kenapa kamu seperti ini? Kamu tidak perlu berbuat seperti ini. Kamu boleh marah ataupun memukulku lagi."
"Kamu ngomong apa? Aku gak ngerti."
Kara semakin terisak, membuatku semakin merasa serba salah.
"Jangan nagis. Kalau lo nangis hati gue sakit." Aku memberanikan diri, meraih dan memeluknya.