NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

etalase dan debu jalanan

Matahari Jumat sore menggantung rendah, mengirimkan cahaya jingga yang gerah ke sepanjang koridor SMA Garuda. Udara terasa tebal oleh aroma debu kapur dan sisa-sisa parfum remaja yang mulai menguap. 

Agnesa Valeria Anabella berdiri di depan mading besar dekat ruang guru, jemarinya yang ramping memegang setumpuk selebaran pengumuman lomba debat tingkat provinsi.

​Ia memakai seragamnya dengan cara yang kaku; kancing paling atas tertutup rapat, rok plisket yang panjangnya tepat di bawah lutut tanpa modifikasi. Rambutnya dikuncir kuda sangat rapi, menyisakan tengkuk yang sedikit berkeringat.

​"Agnes, ini ditaruh di tengah atau di samping?" Seorang anggota OSIS bertanya, memegang isolasi kertas.

​Agnesa tidak langsung menjawab. Ia menatap mading itu seolah sedang membedah pasien bedah.

 "Di tengah. Geser jadwal piket ke kiri bawah. Itu sudah lewat tanggalnya," jawabnya datar. Suaranya jernih, namun memiliki ketajaman yang membuat lawan bicaranya enggan membantah.

​Srekk.

​Suara isolasi kertas yang ditarik terdengar nyaring di koridor yang mulai sepi. 

Agnesa melirik jam tangannya. Pukul 15:50. 

Di rumah, ibunya pasti sudah menyiapkan jadwal les tambahan untuk malam ini. 

Catatan di kepalanya sudah tersusun: mengerjakan latihan soal kalkulus, membaca ulang bab termodinamika, dan mungkin—jika beruntung—tidur enam jam.

​Brummm! Vroom!

​Suara knalpot motor yang dimodifikasi membelah ketenangan sore dari arah parkiran belakang. 

Suaranya memekakkan telinga, bergema di antara dinding-dinding beton sekolah. 

Agnesa memejamkan mata sesaat. Rahangnya mengeras.

​"Mereka lagi?" gumamnya.

​"ZENTRIX," sahut temannya sambil mengangkat bahu pasrah. 

"Siapa lagi yang berani Geber motor jam segini di lingkungan sekolah kalau bukan gerombolannya Naren?"

​Agnesa tidak menyahut. 

Ia berjalan menuju jendela koridor yang menghadap langsung ke arah gerbang samping. 

Di sana, di bawah pohon beringin tua, terlihat sekumpulan remaja laki-laki dengan seragam yang dikeluarkan, dasi yang entah hilang ke mana, dan tawa yang terlalu keras untuk ukuran lingkungan pendidikan.

Di tengah kerumunan itu, Naren Aksara Gavindra duduk di atas motor sport hitamnya. Ia tidak memakai jaket, hanya kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan hitam yang tampak mahal namun lecet di bagian pinggirnya.

Wajahnya menunduk, fokus pada ponsel di tangannya, sementara sekitar lima orang di sekelilingnya sibuk bersenda gurau.

Agnesa melangkah menuruni tangga. 

Setiap ketukan sepatunya di lantai ubin terdengar seperti detak jam yang menuntut keteraturan. Ia melewati lorong kantin yang kosong, aromanya masih tertinggal bau minyak goreng dan teh manis. 

Langkahnya mantap menuju gerbang samping.

​"Eh, Ibu Negara datang," celetuk sebuah suara cempreng.

​Abyan Daniswara, dengan rambut yang berantakan seperti baru bangun tidur, menyenggol lengan Arion yang sedang asyik mengunyah permen karet.

 Abyan menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi yang tidak terlalu rapi namun ramah.

​"Sore, Agnes! Mau ikut nongkrong? Kita mau ke warung depan, ada gorengan hangat," ajak Abyan dengan nada yang dibuat-buat sopan.

​Agnesa berhenti tepat tiga meter di depan gerbang. Ia tidak melihat ke arah Abyan. Matanya terkunci pada sosok yang duduk di atas motor hitam. "Naren."

​Naren tidak bergerak. Jempolnya masih bergerak di atas layar ponsel.

​"Naren Aksara." Agnesa mengulang dengan nada lebih rendah.

Naren tidak langsung menoleh. Ia menyelesaikan satu ketikan, mengunci ponselnya, lalu memasukkannya ke saku celana.

 Ada jeda sekitar tiga detik sebelum ia mengangkat kepala. Matanya yang dingin bertemu dengan tatapan Agnesa yang tajam.

​"Gerbang ini harusnya sudah dikunci sepuluh menit yang lalu," kata Agnesa. 

"Dan kalian tahu aturannya. Tidak ada yang boleh menyalakan mesin motor di area sekolah kecuali saat jam pulang tepat."

​"Kan sudah jam pulang," sahut Arion sambil meletuskan gelembung permen karetnya. 

Plop.

​"Jam pulang adalah pukul 15:30. Setelah itu, jika masih ada kegiatan, motor harus tetap di parkiran atau didorong keluar gerbang jika ingin dinyalakan," Agnesa menjelaskan seolah sedang membacakan pasal undang-undang.

​"Ribet banget sih, Nes," Abyan tertawa, ia berjalan mendekati Agnesa, mencoba mencairkan suasana.

 "Tinggal buka gerbangnya, kami keluar, masalah selesai. Dunia tidak akan kiamat karena suara motor Naren sebentar."

​"Ini soal kedisiplinan, Abyan. Bukan soal dunia kiamat."

​Venzo, yang sedari tadi bersandar di tembok dengan tangan bersedekap, akhirnya angkat bicara. Suaranya berat dan tenang.

"Ayo, Ren. Keluar saja. Jangan bikin keributan di sini."

​Naren akhirnya turun dari motornya. Gerakannya lambat, hampir malas. Ia berdiri tegak, tingginya membuat Agnesa harus sedikit mendongak.

 Naren tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan mendekati Agnesa.

Naren berhenti tepat di depan Agnesa, menyisakan jarak hanya sekitar tiga puluh sentimeter. 

Udara di antara mereka tiba-tiba terasa lebih panas. Bau sisa rokok yang samar bercampur dengan aroma sabun maskulin tercium dari baju Naren. Agnesa tidak mundur satu inci pun.

​"Kuncinya mana?" tanya Naren pendek.

​Agnesa merogoh saku roknya, mengeluarkan serenteng kunci.

 "Saya tidak akan buka kalau kalian tidak janji untuk tidak mengulangi ini Senin depan."

​Naren menatap kunci di tangan Agnesa, lalu beralih ke mata gadis itu. "Senin masih lama."

​"Janji atau saya lapor ke Pak kepsek sekarang. Saya punya foto kalian tadi." Agnesa mengangkat ponselnya.

​Naren mendengus kecil. Bukan tawa, lebih seperti helaan napas yang meremehkan.

 "Tukang lapor."

​"Pelanggar aturan."

Naren mengulurkan tangannya, bukan untuk mengambil kunci, melainkan memegang ujung dasi Agnesa yang terpasang rapi. Ia menariknya pelan, sangat pelan, membuat tubuh Agnesa sedikit condong ke depan. 

Agnesa menahan napas, matanya membelalak, namun ia tetap diam. Naren hanya membetulkan letak dasi itu yang sebenarnya sudah simetris, lalu melepaskannya.

​"Buka gerbangnya, Agnesa," kata Naren dengan nada yang tidak lagi menantang, tapi lebih seperti perintah yang lelah.

​Agnesa memalingkan wajah, menyembunyikan semu merah yang mendadak muncul di pipinya.

 Ia berjalan menuju gerbang dan memasukkan kunci ke lubang gembok.

​Klak.

​Suara besi beradu terdengar keras di kesunyian sore. Agnesa menarik gerbang besi itu hingga terbuka lebar.

​Satu per satu anggota ZENTRIX menghidupkan mesin motor mereka. 

Suara bising kembali memenuhi udara. 

Abyan melambaikan tangan dengan riang saat melewati Agnesa. 

"Duluan ya, Bu Pres! Jangan galak-galak, nanti cepat tua!"

​Arion menyusul dengan tawa mengejek, sementara Venzo hanya mengangguk sopan sebagai tanda pamit.

​Terakhir adalah Naren.

 Ia tidak langsung memacu motornya. Ia berhenti sejenak di samping Agnesa yang masih memegang pagar gerbang.

​"Kenapa belum pulang?" tanya Naren. Suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin motornya sendiri.

​Agnesa tidak menoleh. "Bukan urusanmu."

​"Ditunggu sopir?"

​"Bukan urusanmu, Naren."

​Naren terdiam sejenak. Ia melihat ke arah ujung jalan di mana sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir menunggu. Ia tahu itu mobil keluarga Agnesa.

Naren mengalihkan pandangannya ke arah dasbor motornya. Ia membersihkan sedikit debu imajiner di sana dengan sarung tangannya. Ia menarik napas panjang, lalu memakai helm full-face hitamnya.

​"Jangan terlalu sering pulang telat," kata Naren dari balik helm. Suaranya teredam. 

"Sekolah ini kalau malam auranya nggak enak."

​Tanpa menunggu jawaban, Naren menarik gas. Motor hitam itu melesat keluar gerbang, meninggalkan kepulan asap tipis dan aroma bensin di belakangnya.

​Agnesa berdiri mematung. Ia menatap punggung Naren yang menjauh hingga hilang di tikungan jalan. 

Tangannya yang memegang kunci perlahan mengendur.

​"Berisik," bisik Agnesa pada dirinya sendiri.

​Ia kemudian berbalik, menutup gerbang kembali.

 Krieekk. 

Suara engsel gerbang yang berkarat seolah menyahut keluhannya.

​Agnesa berjalan menuju mobil sedan yang sudah menunggu. 

Di dalamnya, sang sopir sudah membukakan pintu. Begitu masuk ke dalam mobil yang dingin oleh AC, Agnesa menyandarkan punggungnya.

 Ia melihat pantulan dirinya di spion dalam. Dasinya masih berada di posisi yang dikoreksi Naren tadi.

​Ia mengulurkan tangan, hendak merapikan dasi itu kembali, namun jarinya berhenti di udara.

Ujung jarinya menggantung hanya beberapa milimeter dari kain dasi tersebut. Ia menatap bayangan dasinya cukup lama, seolah sedang mencari sesuatu yang salah di sana. 

Perlahan, ia menurunkan tangannya kembali ke pangkuan tanpa menyentuh dasi itu sama sekali.

​"Kita langsung ke tempat les, Non?" tanya Pak sopir.

​"Iya, Pak. Seperti biasa."

​Mobil mulai bergerak halus membelah kemacetan sore kota Bandung. 

Di luar jendela, Agnesa melihat sekilas warung kopi di pinggir jalan di mana beberapa motor sport terparkir. Ia mengenali motor hitam di antara deretan itu.

 Di sana, di bawah lampu jalan yang baru menyala, Naren sedang tertawa bersama teman-temannya sambil memegang segelas es teh plastik.

​Pemandangan itu terasa begitu asing bagi Agnesa. Tertawa tanpa beban, di pinggir jalan, tanpa jadwal yang mengejar di belakang punggung.

​Ia membuka tasnya, mengeluarkan buku kumpulan soal olimpiade fisika.

​Sebuah balok bermassa m berada di atas bidang miring dengan sudut elevasi \theta...

​Agnesa mencoba fokus pada angka-angka dan simbol, namun pikirannya terus kembali pada cara Naren menarik dasinya tadi.

 Itu tidak sopan. Itu melanggar privasi. Itu... sangat mengganggu.

​Gubrak!

​Tiba-tiba mobil mengerem mendadak. Agnesa tersentak ke depan, bukunya jatuh ke lantai mobil.

​"Maaf, Non! Itu ada kucing lari," Pak sopir meminta maaf dengan cemas.

​Agnesa memungut bukunya. Halamannya terlipat. Ia merapikan lipatan itu dengan sangat teliti, menekannya berkali-kali hingga kertasnya rata kembali.

​Kenapa aku tidak marah tadi? pikirnya.

 Harusnya aku menepis tangannya. Harusnya aku memberikan surat peringatan.

Agnesa mengeluarkan botol hand sanitizer dari tasnya. Ia menyemprotkan cairan itu ke telapak tangannya, menggosoknya dengan gerakan yang cepat dan berulang, hingga kulitnya terasa dingin dan bau alkohol menusuk hidung.

 Ia menggosoknya lebih lama dari yang diperlukan, seolah ada kotoran mikroskopis yang menempel di sana sejak di gerbang tadi.

​"Pak, tolong nanti mampir sebentar di toko buku depan," kata Agnesa tiba-tiba.

​"Lho, bukannya jam lesnya mepet, Non?"

​"Sebentar saja. Ada alat tulis yang habis."

​Padahal, kotak pensilnya penuh. Pulpennya masih berfungsi semua. 

Ia hanya merasa perlu melakukan sesuatu yang tidak ada dalam jadwalnya, meskipun hanya lima menit. 

Ia perlu mengalihkan rasa aneh yang berdenyut di balik dadanya setiap kali ia mengingat tatapan dingin Naren yang entah mengapa, terasa hangat saat jarak mereka hanya tiga puluh sentimeter.

​Langit benar-benar gelap sekarang. Lampu-lampu kota mulai berpendar, menciptakan pantulan cahaya di kaca jendela mobil yang mulai berembun karena suhu AC yang dingin. 

Agnesa menuliskan sesuatu di pinggir buku fisikanya dengan pensil, sebuah coretan kecil yang tidak ada hubungannya dengan rumus gravitasi.

​Z-E-N-T-R-I-X.

​Lalu ia menghapusnya hingga bersih, sampai kertasnya hampir robek.

​"Dasar pembuat onar," bisiknya pelan, hampir tak terdengar oleh deru mesin mobil.

​Di sisi lain kota, di warung kopi yang tadi dilewati Agnesa, Naren sedang menyesap es tehnya. 

Ia duduk diam di tengah kegaduhan Abyan yang sedang menceritakan kembali ekspresi wajah Agnesa saat gerbang dibuka.

​"Kalian lihat nggak mukanya? Merah kayak kepiting rebus pas Naren narik dasinya!" Abyan terbahak sambil memukul-mukul meja kayu.

​"Jangan keterlaluan, Yan. Dia itu ketua OSIS," Venzo mengingatkan, meski ia sendiri tersenyum tipis.

​Naren tidak menanggapi. Ia hanya menatap es batu yang mencair di gelasnya. 

Di jari telunjuknya, ia masih bisa merasakan tekstur halus dari kain dasi Agnesa. Ia tidak bermaksud melakukan apa-apa tadi. Itu hanya spontanitas.

 Spontanitas yang membuatnya menyadari sesuatu.

​Agnesa Valeria Anabella, gadis yang selalu terlihat seperti porselen mahal yang sempurna itu, ternyata memiliki denyut nadi yang sangat cepat di lehernya saat ia berada cukup dekat.

​Naren merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok, namun ia tidak menyalakannya. Ia hanya memutar-mutarnya di antara jari-jarinya.

​"Ren, besok jadi latihan di markas?" Arion bertanya.

​"Jadi," jawab Naren singkat.

​"Ajak Agnes dong, biar seru ada yang ngatur-ngatur kita," canda Abyan lagi.

​Naren melemparkan puntung rokok yang belum dinyalakan itu ke arah Abyan. "Berisik lo."

​Ia kembali menatap jalanan yang padat.

 Di antara ribuan lampu mobil yang melintas, ia bertanya-tanya, apakah gadis itu sekarang sedang berkutat dengan buku-bukunya, atau sedang memikirkan cara paling kejam untuk menghukumnya di hari Senin nanti.

​Malam itu, di bawah langit Bandung yang mendung, dua dunia yang bertolak belakang baru saja bersinggungan di sebuah gerbang tua. 

Dan seperti hukum fisika yang dipelajari Agnesa; setiap aksi akan selalu menimbulkan reaksi. Hanya saja, reaksi kali ini mungkin tidak bisa dihitung dengan rumus mana pun

BERSAMBUNG…

Bab Selanjutnya ➜

"Yan... Pinjem setrikaan lo besok sore."

"Zo... Naren beneran sakit ya?"

Naren Beneran Mau Rapi? Yuk Lanjut Baca Bab 2: Variabel Anomali

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!