Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Evelyn melepaskan pelindung telinganya lalu meletakkan pistolnya di atas meja.
Damien berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh penyesalan.
"Evelyn, aku telah menyakitimu, dan aku ingin meminta maaf padamu," ucap Damien pelan.
Evelyn terdiam beberapa detik. Tatapannya perlahan beralih kepada pria di depannya.
Tanpa peringatan—
Bruk!
Tinju Evelyn menghantam wajah Damien dengan keras.
Sudut bibir pria itu langsung mengeluarkan darah.
"Minta maaf?" suara Evelyn bergetar oleh amarah. "Apa kau pikir dengan satu kalimat itu semuanya bisa kembali seperti semula? Apa yang hilang dariku, apa yang telah aku korbankan, sudah tidak akan pernah kembali!"
Bruk!
Pukulan kedua kembali menghantam wajah Damien.
Damien hanya mengusap darah di sudut mulutnya.
"Damien Lu, kalau dulu kau ingin pergi, kenapa harus kembali?" tanya Evelyn dengan mata memerah. "Kenapa tidak pergi selamanya? Kenapa masih datang menghantuiku? Kau pikir permintaan maafmu bisa menyembuhkan semua luka yang aku alami? Kau bahkan tidak tahu apa yang aku alami saat itu!"
"Evelyn, kau boleh melakukan apa saja padaku. Aku akan menerimanya, karena memang aku yang bersalah," ucap Damien pelan.
Bruk!
Pukulan berikutnya menghantam perut Damien.
Pria itu meringis kesakitan, tetapi tidak melawan.
Bruk!
Bruk!
Tinju Evelyn terus menghantam tubuhnya.
Namun Damien tetap berdiri di tempat.
"Apa yang kau rasakan sekarang tidak sebanding denganku!" bentak Evelyn dengan air mata yang mulai menggenang. "Kau hanya merasakan sakit di luar."
"Sementara aku..."
Suara Evelyn mulai bergetar.
"Aku kehilangan harga diriku. Aku kehilangan kepercayaan pada orang yang paling aku cintai."
Dan untuk pertama kalinya selama lima tahun, air mata itu jatuh.
"Bukan hanya itu..."
Tatapannya penuh kebencian dan kesedihan.
"Nyawa kecil yang baru tumbuh di rahimku juga pergi."
Damien yang sejak tadi pasrah langsung membelalakkan matanya.
"Apa...?"
"Evelyn..."
Tubuh pria itu membeku.
Pikirannya kosong.
Tatapannya bergetar melihat wanita di depannya.
Sementara Evelyn tertawa pahit di tengah air matanya.
"Kau tidak tahu, bukan? Karena saat aku membutuhkanmu... kau sudah pergi."
"Maksudmu kau sudah hamil saat itu?" tanya Damien hampir tidak percaya.
"Iya, baru dua minggu, dan dia harus pergi selamanya," jawab Evelyn.
"Evelyn, aku salah, dan aku akan menebus semuanya," ucap Damien.
Evelyn tertawa sinis. Tatapannya dipenuhi kebencian dan kekecewaan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun.
"Dengan cara apa? Nyawamu? Nyawamu tidak berharga bagiku. Jadi kau ingin menebus dengan cara apa?" tanyanya. "Damien Lu, kau tidak punya apa-apa selain karirmu."
Setelah mengatakan itu, Evelyn membalikkan badan dan melangkah pergi.
"Maaf, aku tahu minta maaf tidak berguna. Salahku karena aku tidak tahu kau sedang hamil," ucap Damien dengan suara serak.
Langkah Evelyn terhenti.
"Tidak perlu merasa bersalah," jawabnya tanpa membalikkan badan. "Karena aku yang mengugurkan anak ini."
Ucapan itu membuat wajah Damien memucat.
Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan.
"Kau melakukannya?" tanya Damien dengan suara bergetar.
Perlahan Evelyn membalikkan badannya. Mata wanita itu berkaca-kaca, tetapi tatapannya tetap dingin.
"Benar! Aku mengugurkannya!" jawab Evelyn dengan penuh emosi. "Kau meninggalkanku dan membuatku dihujat semua netizen dan rekan kerja. Jadi untuk apa aku mempertahankan darah dagingmu?"
Air mata akhirnya mengalir di pipinya.
"Kau mengira kau layak mendapatkan anak dariku?" lanjutnya. "Damien Lu, sampai mati pun aku tidak akan memaafkanmu."
Suara wanita itu semakin bergetar.
"Karena pekerjaan, aku berusaha bersikap profesional. Tapi bukan berarti aku melupakan apa yang telah kau lakukan."
Tatapannya dipenuhi luka yang tidak pernah sembuh.
"Jadi lebih baik jaga jarak dan tidak perlu berpura-pura baik."
Setelah mengatakan itu, Evelyn berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Damien hanya bisa berdiri mematung.
Kedua tangannya mengepal erat, sementara darah di sudut bibirnya masih mengalir akibat pukulan Evelyn.
Damien hanya menatap kepergian wanita itu.
"Evelyn, setelah tiba saatnya kau akan tahu apa yang aku lakukan demi dirimu," gumamnya." Kau bisa membenciku, tapi jangan menyakiti diri sendiri."