*******! Banyak ****** ****** bertebaran jadi ***** ***** memilih bacaan.
Perasaan cintanya untuk seseorang yang begitu besar membuat luka yang mendalam bagi seorang Kanaya.
Kanaya Tsabita menerima pertunangan dari Arslan Khairul Azam karena percaya akan kesungguhan cinta Arslan yang diberikan padanya. Tapi siapa tahu diantara perjalanan cinta mereka hadirlah Rindu Anjani sang sekretaris yang berhasil mengalihkan perhatian Arslan hingga akhirnya melukai perasaan Kanaya.
Diantara gempuran luka dan mempertahankan sebuah harga diri, sosok Baratha hadir untuk menjadi tameng dan luapan rasa kecewa Kanaya pada sebuah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Keceplosan
Kanaya POV
Aku sendiri tidak tahu seberapa kacau mentalku saat ini. Aku benar-benar tidak bisa berfikir dan memutuskan segala sesuatu meski itu tentang diriku sendiri.
Gagalnya hubungan pertunangan sangat mempengaruhi jiwaku. Apalagi setelah itu banyak masalah yang tidak pernah terfikirkan yang dipengaruhi karena kandasnya hubungan itu. Aku tak pernah berfikir sejauh itu.
Mungkinkah ini yang dinamakan ' Menikah adalah nasib dan cinta adalah takdir' aku pernah membaca kutipan itu tapi entah di mana.
Entah berapa kali aku menoleh kebelakang, mengawasi pria yang masih melaju dengan motornya. Dia masih membuntut di belakang taxi yang aku tumpangi.
Mas Bara sengaja memesankan taksi untukku setelah kami berhenti dan membicarakan pernikahan. Katanya, akan sangat aneh jika aku duduk di atas motornya. Tapi, memang iya sih. Selain aneh, aku merasa jantungku berdetak tak karuan saat aku sedekat itu dengan pria. Bahkan, dengan Mas Arslan pun aku tak pernah dalam posisi sedekat itu.
Jadi saat mendapatkan lemparan-lemparan prasangka- prasangka itu rasanya aku begitu kaget dan terluka.
Author POV
Taxi pun berhenti di depan rumah mewah itu. Kanaya turun dari taxi sementara Bara melepas helmnya.
Kanaya sempat melirik pria bertubuh tinggi itu. Kali ini, Kanaya sempat mendapati wajah tampan itu meski sekilas, aura tenangnya saat menghadapai segala sesuatu memang membuat nyaman orang di dekatnya.
Saat melewati gerbang rumahnya dan memasuki halaman dada Kanaya semakin berdebar membayangkan dia akan menghadapi papanya. Sedangkan pria disebelahnya masih terlihat tenang dengan sorot mata tajamnya.
Pintu rumah terbuka sebelum Kanaya membukanya. Arkha dan Hanum sudah berdiri di tengah pintu dengan wajah cemas. Bahkan pria berumur lima puluh tahunan itu masih mengenakan kemeja kerjanya.
"Untunglah, Kamu sudah pulang." ucap Arkha dengan suara cemas. Pria itu menelisik lagi wajah putrinya, dia bisa melihat wajah sembab putrinya.
"Ada yang ingin saya bicarakan, Pak." ucap Baratha membuat perhatian kedua orang tua Kanaya kini beralih padanya.
Arkha mempersilahkan Bara masuk dan mempersilahkan duduk.
"Bisakah kita bicara berempat di sini?" lanjut Bara, saat Hanum akan membawa masuk Kanaya. Hanum memang tidak begitu suka dengan Bara meskipun kali ini pria itu terlihat lebih rapi dan memperlihatkan sisi ketampanan di wajahnya itu.
"Ada apa, ya?" tanya Arkha penuh dengan selidik. Sementara itu kedua tangan Kanaya saling meremas menahan rasa takut.
"Saya ingin menikahi putri bapak, Kanaya." sambut Bara dengan jelas. Seketika Arkha terhenyak kaget, bahkan dia bingung harus menjawab apa.
Sejenak keadaan pun membisu, Hanum yang akan bicara ditahan oleh Arkha dengan sebuah kode.
"Berapa lama kalian sudah saling kenal?"tanya Arkha.
"Belum lama, tapi saya sudah tahu Kanaya tidak lama saya berada di kota ini. Dua tahu. lebih saya berdomisili di sini. Saya berasal dari Malang." Bara memperjelas asal usulnya dia tahu jika pria didepannya meragukan dirinya.
"Jika kamu mengajak putriku menikah apa orang tuamu sudah mengenal Kanaya? Kenapa mereka tidak datang bersamamu?" Arkha benar-benar bingung jawaban apa yang akan dia berikan pada pemuda didepannya.
"Kedua orang tua saya sudah meninggal sejak saya SMP."
"Maaf." ucap Arkha. Tiba-tiba ada rasa iba dalam diri Arkha, dia yakin tidak mudah bagi seorang bocah berjuang sendirian.
Hanum pun demikian, awalnya dia yang tidak suka dengan tampilan Bara pun sedikit terenyuh saat membayangkan betapa kerasnya pemuda itu menjalani hidupnya.
"Apa kamu bekerja?" lanjut Arkha.
"Iya, Pak. Saya bekerja di bengkel Zeus, gaji saya tidak banyak tapi saya akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab." Kalimat itu mengalir begitu tegas hingga mampu merubah aura pria berambut gondrong itu.
Arkha semakin menelisik ke dalam pria yang ingin melamar putrinya. Dia merasakan, bahasanya cukup santun dengan ketegasan yang memberikan sebuah kewibawaan disetiap kalimatnya. Belum lagi bahasa tubuhnya yang terlihat tenang.
"Beri kami waktu untuk menjawab ini Nak..."
"Nama saya Baratha Kaisar Adiguna." sela Bara dari awal dia memang belum mengenalkan diri.
Baiklah, datanglah seminggu lagi. Apapun jawab an kami aku harap kamu bisa menerimanya." jelas Arkha dia tidak mau memberikan harapan pada pemuda didepannya.
"Saya mengerti, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu!" jawab Bara sekaligus berpamitan. Dia bisa mengerti jika kedua orang tua Kanaya tidak menerima dirinya karena banyak perbedaan diantara mereka terutama status sosial mereka.
Pria dewasa yang cukup matang itu beranjak dari duduknya dan berpamitan pulang. Arkha mengantarnya sampai ke depan dengan sopan.
Motor melaju dengan santai. Malam ini seperti kejutan baginya, dia belum merencakan untuk menikah tapi tiba-tiba saja meminta seorang gadis menikah dengannya.
Dia merasa kali ini otaknya sudah tidak waras, tapi untuk menarik ucapannya, dia rasa tidak mungkin. Pria itu melajukan motornya pulang. Malam ini dia akan beristirahat saja karena bisa saja salah satu otaknya ada yang tidak beres karena merasa lelah.
###
Siang setelah setelah keluar dari ruang sidang, Arslan mengajak Rindu makan siang. Pria itu kini sudah tidak lagi canggung saat mengajak asistennya itu. Arslan tidak lagi membujuk atau memohon pada Kanaya karena gadis itu sudah begitu kuat dengan pendirian.
"Apa Pak Arslan masih berharap dengan Mbak Naya?" tanya Rindu mencoba mengetahui sejauh mana hubungan bosnya itu.
"Kanaya masih tetap pada keputusannya. Tapi, aku yakin dia tidak akan bisa bersama pria manapun karena aku yakin tidak mudah baginya untuk melupakanku." jawab Arslan dengan penuh percaya diri. Dia juga tahu tentang kasak kusuk miring, yang tentu saja akan membuat Kanaya tidak tenang.
Rindu kembali bungkam, dia tidak mengerti jalan pikiran pria di depannya. Padahal dia berharap bisa menarik perhatian Arslan kembali. Dia benar-benar mencintai pria tampan dan mapan yang kini duduk didepannya.
"Bagaimana dengan dirimu?" tanya Arslan saat melihat gadis didepannya itu terdiam.
"Saya?" ulang Rindu yang kini malah merasa gugup.
"Iya, apa ada pria lain yang mendekatimu?" Pertanyaan Arslan membuat Rindu jadi salah tingkah.
Gadis itu hanya menundukkan kepala dan menggeleng pelan. Dia memang tidak dekat dengan siapapun bahkan mengenal pria baru pun seperti tidak ada kesempatan. Hatinya sudah sibuk untuk memikirkan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Kamu gadis cantik dan menyenangkan, aku yakin pasti banyak pria yang ingin mendekatimu, Rin." ujar Arslan dengan menatap kagum gadis di depannya.
"Apa Pak Arslan tidak ingin dekat denganku?" Entah keberanian dari mana gadis itu bertanya pada bosnya. Tapi, sekian lama menahan rasa cinta dan kekaguman membuat hatinya terkadang memang meledak-meledak, apalagi saat ini dia tidak perlu merasa khawatir karena tidak harus menjaga perasaan gadis lain.