Satu persatu, lembar demi lembar buku harian istrinya dibaca olehnya. Bagaimana dirinya mulai dicintai, hingga gadis itu menyembunyikan cintanya.
Hingga pada halaman tertentu, dirinya mengetahui. Hidup sang istri hanya tinggal 100 hari dari sejak hari pernikahan mereka.
Istrinya yang mengatakan pergi berlibur? Apa berlibur ke Surga? Air matanya mengalir mengingat betapa buruk perlakuannya pada istrinya.
"Liburan? Kamu berbohong bukan? Kamu pergi hanya untuk mati?"
Tepat pada hari ke 90, surat cerai yang telah ditandatangani dikirimkan istrinya. Mengatakan agar dirinya dapat hidup bahagia.
Dari sanalah segalanya dimulai. Pencarian besar-besaran untuk menangkap seorang wanita yang sakit keras.
"Kita akan bersama dalam kehidupan atau pun kematian." Ucap sang suami, tertawa dalam tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keikhlasan
...Melihat bintang, itulah perumpamaan meletakkan harapanku padamu....
...Bintang yang selalu aku puji, didepan kunang-kunang kecil. Berusaha untuk menggapainya, menaiki batang pohon tinggi....
...Tapi tidak jua sampai. Hingga terjatuh ke bumi. Kala itulah aku menyadari ada hati yang tidak mungkin dapat kumiliki....
...Hanya kunang-kunang kecil yang terbang, membelai pipiku, cinta kecil nan singkat. Aku ingin bersamanya selamanya....
Jeremy.
Putus? Satu kata yang tidak diduga olehnya. Tidak ada penjelasan atau apapun. Apa Brownies-nya sudah berubah sejauh ini?
Jeremy tertawa."Jadi aku adalah orang ketiga diantara kalian?" tanyanya.
"A...aku mencintai Satya. Jadi mengingat pertolongan dan hubungan kita di masa lalu. Jangan katakan pada Satya. Lagipula kamu juga mengkhianatiku dengan menikahi Laverna." Kalimat demi kalimat yang bagaikan menyatakan betapa piciknya fikiran Brownies-nya yang polos.
"ATM." Jeremy menadahkan tangannya. Hampir dua juta dollar isi didalamnya.
"Ini, aku tidak ingat tanggal kita pertama kali bertemu. Jadi tidak berguna juga. Jangan pernah mengganggu hubunganku dan Satya, ingat itu!" Peringatan Jasmine padanya, memberikan kartu ATM milik Jeremy.
"Isinya paling 2 juta..." Komat-kamit mulut Jasmine mengomel.
"Kamu tau?" Tanya Jeremy padanya.
"Dua juta rupiah, berapa lagi!? Yah paling banyak lima juta lah..." Prediksi Jasmine penuh kebanggaan. Mengingat penghasilan seorang bartender yang tidak seberapa.
Sang pemuda yang menghela napas kasar."Aku akan tetap diam. Aku yang mengalah, ini karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku. Selain itu, ini juga karena aku adalah orang ketiga dalam hubungan kalian. Satya adalah satu dari dua teman baikku. Tolong jaga perasaannya dan jangan khianati dia lagi."
"Jeremy, aku memilih Satya, bukan kamu karena kamu sudah menikah dengan Laverna. Aku hanya ingin kalian bahagia. Jujur saja, aku terpaksa bertunangan dengan Satya 4 tahun lalu, karena perjodohan. Yang aku cintai dalam hati ini hanya kamu. Mungkin suatu saat atau di kehidupan yang akan datang kita akan bertemu." Kata demi kata penuh senyuman dan air mata. Ingin menggenggam hati pemuda ini, tapi tetap lebih memilih Satya.
"Omong kosong." Dua kata dari Jeremy, meninggalkan Jasmine yang tertegun diam sejenak.
Wanita yang menyandarkan punggungnya di kursi. Dirinya harus merelakan salah satu dari trilogi pria tampan.
Pria dewasa pengayom, Satya. Bad boy keren, Gery. Satu lagi, pria pintar dan baik hati Jeremy.
Namun, tidaklah mengapa mungkin memang seharusnya permainan ini sampai disini saja. Dirinya tidak mungkin melanjutkan hubungan hingga jenjang pernikahan dengan pemuda yang tidak memiliki kekukuhan finansial.
Menggigit bagian bawah bibirnya sendiri. Dirinya bingung memutuskan antara Satya atau Gery. Satya mapan, tapi tetap saja tidak memiliki perusahaan sendiri. Ditambah yang akan menjadi pemegang perusahaan adalah adiknya.
Sedangkan Gery, anak tunggal, memegang perusahaan sendiri, tapi sayangnya playboy.
"Coba saja Jeremy orang kaya, aku pasti tidak akan bingung memilih." Ucap Jasmine penuh senyuman. Menganggap Jeremy pria yang sempurna.
*
Tunggu dulu! Sempurna? Tentu saja tidak, tidak ada manusia yang sempurna. Marah seperti setan? Itulah ciri khasnya.
Dor!
Dor!
Dor!
Tempat menjernihkan fikiran? Tentu saja area latihan tembak. Hampir semuanya tepat sasaran, memakai rompi khusus, penutup telinga, serta kacamata khusus. Dirinya telah memiliki ijin kepemilikan senjata api 5 tahun lalu.
Kesal? Tentu saja, hari ini pemuda itu tidak bekerja sama sekali. Tidak ingin pekerjaannya kacau balau. Tapi anehnya tidak ada rasa galau sedikit pun.
Hanya saja egonya bagaikan terluka. Menjadi simpanan? Dirinya adalah orang ketiga?
Brak!
"Berikutnya..." Benar-benar olahraga ekstrim, area latihan Judo tempatnya berkunjung berikutnya.
Sedangkan Philip hanya menonton sembari meminum Vietnam ice coffee."Gila! Sudah lima orang yang dihajar."
Namun sudut bibirnya terangkat. Mencintai dan menyayangi hal yang berbeda. Tapi terhadap Jasmine, Jeremy bagaikan tidak memiliki keduanya.
Jika memiliki salah satu saja, setidaknya tuannya akan merasa dunia ini bagaikan akan runtuh. Tapi ini? Bagaikan rasa benci akibat proyek yang digarapnya sungguh-sungguh tidak berjalan lancar.
Pesan mulai dikirimkannya pada Valery dan Laverna. Melaporkan situasi terkini.
*
Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Entahlah, Philip tidak mengikuti Jeremy lagi.
Pemuda itu terdiam dalam kebisuan. Berbaring di atas rumput dekat telaga, tempatnya dulu sering bermain dengan Brownies-nya.
Dirinya terdiam menatap ke arah jutaan bintang. Apa waktu dapat merubah rasa kasih? Itulah hal pertama yang ada dalam fikirannya.
Sang pemuda yang memejamkan matanya, merasakan angin berhembus. Kala dirinya membuka mata ratusan kunang-kunang telah mulai beterbangan.
"Syukurlah kamu disini." Suara seseorang terdengar. Seketika dirinya yang berbaring kembali duduk.
"Laverna?" Ucapnya.
Laverna menghela napas kasar, kemudian berbaring."Kata Philip kamu mengetahui tentang Jasmine?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Jeremy.
"Aku sudah memesan tempat tidur baru, sementara kita tidur di lantai." Sang pemuda yang mengalihkan pembicaraan.
"Manusia dapat berubah, begitupun kamu dan aku. Tidak peduli betapa ceria dan manja Brownies-mu, dia akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang berbeda." Kata demi kata, membuat pemuda itu hanya terdiam dalam kebisuan.
"Begini, ada detik dimana kunang-kunang yang indah ini mati. Ada juga detik dimana bunga yang kuncup akan layu. Jadi akan ada jalan..." lanjutnya.
Jeremy tertawa kecil, menghela napas kasar."Apa kamu Brownies?" tanyanya kali ini, mengingat karakter asli Jasmine yang terlalu menyimpang.
"Tidak, aku hanya melindungimu dari kenyataan kalau kamu adalah pria simpanan kakakku." Dusta Laverna tertawa. Semakin kecil harapan hidupnya, maka semakin dirinya tidak ingin Jeremy mengetahui segalanya.
Setiap detik yang berharga, tidak boleh dihabiskan dengan kesedihan. Dirinya mungkin harus tetap pada realita. Jika tidak dapat membuatnya bahagia, lebih baik lepaskan.
"Apa dari awal Jasmine tidak memiliki niat menikah denganku?" Tanya Jeremy menghela napas kasar.
Laverna mengangguk."Dia memang tidak ingin menikah denganmu. Tapi aku yang ingin menikah denganmu."
"Kenapa kamu keras kepala? Apa hanya untuk melindungiku?" Pemuda yang kembali bertanya menelan ludahnya.
Jika difikirkannya sekali lagi, Laverna lebih sering menemuinya dibandingkan dengan Jasmine. Entah kenapa, dirinya merasa dicintai.
Apa dicintai lebih baik daripada mencintai? Itulah yang ada dalam benaknya, menatap Laverna yang tengah berbaring di atas rumput.
"Apa aku dapat berusaha mencintai istriku?" Sebuah fikiran yang terlintas, kala bibirnya terkatup.
"Aku akan bicara pada kakak. Jika kamu akan memiliki salah satu restauran milikku. Mungkin dia akan berubah fikiran." Laverna kembali bangkit, duduk menatap ke arah Jeremy.
"Tidak perlu bicara seperti itu padanya." Jawab Jeremy.
"Ada yang pernah mengatakan, cinta adalah sebuah keikhlasan, saat dia menyuapi biskuit padaku. Karena cinta adalah sebuah keikhlasan, aku akan mengikhlaskan Brownies-ku untuk bahagia." Jawaban penuh senyuman dari Jeremy.
"Keikhlasan? Aku pernah mengatakannya saat kamu tidak ingin menerima pemberianku. Cinta adalah sebuah keikhlasan? Mungkin nanti kamu dapat mengikhlaskanku untuk tenang disisi-Nya." Batin Laverna dalam senyuman, merasakan angin membelai rambutnya.
"Itu baru tukang es cendol! Harus semangat, untuk memberi jatah! 100 ribu, pulsa listrik habis!" Laverna menadahkan tangannya.
sakit