Karena keadaan keluarganya, Arimbi ingin membawa ibu dan neneknya pindah ke tempat baru yang di mana tidak ada orang yang tahu asal mereka. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Sampai suatu saat tawaran datang dari seorang gadis kaya yang menjanjikan uang yang menggiurkan, membuat Arimbi pergi ke kota dan nekat menerima tawaran itu. Apa yang selanjutnya terjadi dengan Arimbi gadis cantik dan polos yang berasal dari desa itu?
Hati-hati ya, ceritanya bikin sakit perut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bastian dengar?
Hugo menarik Arimbi dan melangkah lebar dengan cepat menuju ke halaman belakang mansion. Untung saja Arimbi sudah terbiasa berjalan cepat, biasanya di desa kemana-mana juga jalan kaki, jadi tidak masalah Hugo berjalan secepat apapun Arimbi bisa mengimbangi.
Begitu sampai di tempat sepi, Hugo langsung menghempaskan lengan Arimbi dari cekalan tangannya dan menatap kesal ke arah Arimbi.
"Ngapain kau ke sini? Apakah sudah tidak sesabar itu?" tanya Hugo melampiaskan kekesalannya. Entah mengapa, setiap melihat wajah Arimbi, yang Hugo ingat hanya rasa bersalahnya pada Fani karena sudah mengkhianati Fani yang begitu mencintainya (versi Hugo). Akhirnya Hugo menyalahkan Arimbi.
Andai aku tidak bertemu Arimbi, saat itu, tentu hubungan ku dengan Fani semakin baik, bahkan bisa jadi aku juga sedang mempersiapkan pernikahan ku dengan Fani, wanita yang benar-benar ku cintai! pikiran itulah yang selalu muncul setiap mengingat kalau sebentar lagi dia akan menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak dia cintai, malah mengkhianati Fani perempuan yang dia cintai.
"Gak sabar apa?" tanya Arimbi yang tidak mengerti maksud perkataan Hugo, karena dari tadi jantungnya berdetak kencang terus tanpa bisa diajak kompromi.
"Kau lihat bukan? Kau bahkan tidak mengerti maksud ku? Apakah menurut mu kita cocok untuk menikah?" tanya Hugo yang semakin kesal.
Huh! Setiap melihat perempuan ini yang ada malah bikin aku kesal! Entah berlagak polos atau benar-benar bodoh! pikir Hugo dalam hati yang semakin tidak suka pada Arimbi.
"Aku tidak mengerti, bukannya kau harus jelaskan! Bukannya marah-marah terus pada ku? Apa salah ku pada mu? Kau pikir aku sengaja membuat mu harus menikahi ku? Salahkan saja diri mu yang tidak bisa tahan nafsu!" balas Arimbi yang memang tingkat sabarnya tidak mencapai sepuluh persen itu. Mendengar itu Hugo bertambah marah, menurutnya dia bukan pria seperti itu, yang tidak bisa menahan nafsu hanya karena melihat perempuan cantik.
"Jangan-jangan kau sudah menaruh obat di minum ku waktu itu bukan?" tuduh Hugo yang kini mencengkram dagu Arimbi dan menatap tajam dan mengancam pada Arimbi.
Kurang ajar pria ini ini! Mentang-mentang aku mencoba bersikap mengalah, dia malah mau menginjak-injak aku! Maaf kan aku nek, mana mungkin aku bisa sabar kalau dia memojokkan ku terus! pikir Arimbi yang menjadi emosi dan dengan sekuat tenaga Arimbi mendorong Hugo membuat Hugo sempat terhuyung ke belakang, tapi tidak sampai jatuh.
"Bukankah aku selalu di samping mu saat itu? Kapan aku bisa taruh obat di minuman mu? Ku beritahu ya, Tuan sombong! Kau jangan coba-coba menguji kesabaran ku! Kesabaran ku ada batasnya! Kita berdua yang melakukan kesalahan, mengapa kau dari tadi menyalahkan diri ku saja! Kalau kau tidak menarik ku ke Hotel dan memulai dulu, memang aku bisa melakukan hal itu sendiri? Kau ngaku saja, kau juga menikmatinya bukan? Gak usah munafik! Dari tadi menyalahkan ku terus. Cih, manusia munafik," omel Arimbi dengan nafas memburu sangking emosinya, dengan berkacak pinggang, bahkan wajahnya memerah semua.
"Nenek ku sudah terlanjur tahu, aku gak mau tahu! Aku mau kau tetap bertanggung jawab dan menikahi ku! Setelah itu kau mau menceraikan ku atau apa pun, aku sudah siap dan tidak akan mempermasalahkannya lagi! Kau jangan takut, aku bukan menginginkan kekayaan mu. Kau ingat saja membuat perjanjian perpisahan harta, agar aku tidak mengambil harta mu setelah kita bercerai!" sambung Arimbi lagi tidak memberi kesempatan Hugo berbicara.
"Huh! Sungguh menyebalkan! Kau pikir aku senang bersikap lemah lembut sehingga kau bisa seenaknya pada ku! Aku tidak perduli kau mau mencap ku seperti apa! Nanti setelah kita bercerai, kita tidak memiliki hubungan apapun lagi!" teriak Arimbi melampiaskan kekesalannya dan langsung berjalan meninggalkan Hugo dan tidak memperdulikan Hugo lagi. Tapi saat itulah Arimbi kaget ketika melihat seseorang berdiri di depan arah yang dia tuju. Lelaki yang katanya adik Hugo dan Clara. Arimbi tidak tahu apakah Bastian mendengar keributan tadi, tapi dia sudah tidak perduli lagi.
"Maaf, nama mu siapa?" tanya Arimbi.
"Bastian, maaf aku disuruh memanggil kalian ke dalam. Aku tidak bermaksud menguping," ujar Bastian tersenyum seperti biasanya.
"Lupakan. Bisakah aku minta tolong pada mu?" tanya Arimbi yang sama sekali sudah tidak mau melihat Hugo.
"Dengan senang hati."
"Tunjukkan jalan ke ruangan tadi, aku lupa jalannya," ujar Arimbi. Karena saat ditarik Hugo, hatinya tidak tenang, akhirnya Arimbi sama sekali tidak mengingat jalan yang dia lalui hingga bisa sampai ke halaman belakang.
"Ayo, ikuti aku," ajak Bastian yang selalu tidak ketinggalan senyumnya itu.
Sungguh gadis cantik yang lucu dan unik, pikir Bastian dalam hati.
**********
Clara sebetulnya sudah tidak tenang sejak Hugo menarik Arimbi keluar, Clara khawatir kalau Arimbi akan kelepasan bicara. Clara sendiri saja sering kelepasan bicara.
Ih, papa juga aneh! Kok bisa-bisanya nyuruh si Bastian yang manggil kak Hugo dan Arimbi, kenapa bukan aku saja yang lebih hafal mansion ini? pikir Clara yang semakin tidak tenang saat Fernandez meminta Bastian untuk mencari Hugo dan Arimbi.
Clara tambah tidak tenang ketika melihat yang kembali ke ruangan itu hanya Bastian dan Arimbi, sedangkan Hugo belum kelihatan. Apalagi wajah Arimbi sudah tidak secerah tadi, saat mereka baru datang. Kalau Bastian sendiri memang memiliki muka ramah yang selalu terlihat tersenyum.
Huh! Senyum palsu! pikir Clara yang malah tidak suka dengan Bastian yang penuh senyum itu.
"Di mana Hugo, Tian?'" tanya Fernandez ketika tidak melihat kemunculan Hugo.
"Mungkin ke Toilet dulu pa, paling sebentar lagi juga balik," sahut Bastian.
"Biar Arimbi duduk di sini saja, Ra," ujar ibu Clara ketika melihat Clara melambai ke arah Arimbi, ibu Clara menyuruh Arimbi duduk di sampingnya, tepat di samping biasanya Hugo duduk.
Ih..Mama payah! Aku sudah penasaran apa yang dibicarakan Hugo, si Arimbi malah disuruh duduk begitu jauh dari ku! gerutu Clara yang menatap ke Arimbi, tapi yang ditatap sama sekali tidak melihat ke arahnya dan menurut pada ibu Clara untuk duduk di bangku yang ditunjuk.
Tidak lama kemudian Hugo muncul seperti ucapan Bastian, ternyata tebakan Bastian tidak salah. Dengan ragu Hugo duduk di samping Arimbi dan menatap sekilas ke arah Arimbi yang sama sekali tidak mau melihatnya.
"Hugo! Berapa lama tidak ketemu Arimbi saja sudah kangen berduaan ya?" goda Fernandez yang tiba-tiba memecahkan kesunyian.
"Iya pa," sahut Hugo yang tidak mau berkepanjangan. Hugo tahu kalau dia berkata tidak, sang ayah biasanya malah semakin menjadi. Arimbi langsung menatap ke arah Hugo dengan heran.
Cih! Pria bermuka dua! gerutu Arimbi dalam hati mengalihkan pandangannya, tapi matanya malah bertemu dengan Bastian yang tengah menatapnya. Bastian yang duduk tepat di depannya, di samping Clara.
Duh! Apakah tadi Bastian mendengar pertengkaran ku dengan kak Hugo? Bagaimana kalau dia memberitahu ayah Hugo?
Bersambung...............
aduh othor sayang, ku candu dengan cerita mu, sehat sehat biar up teratur 🫰❤️
semangat othor kesayangan