Hai aku Aram, pekerja kantoran bergaji standar UMR di pinggiran ibukota. Wanita umur 30-an yang sudah dikejar deadline “kapan menikah?” dari orangtuanya.
Orang yang hanya melihat kehidupan romasa orang lain dari balik kursi penonton. Ketika sudah siap menyambut kematian, aku malah diberi kesempatan kedua menjadi Arabella, calon putri mahkota di novel yang kubaca dulu. Klise!
Tentu saja, Arabella adalah antagonis! Double klise!
Mau mengubah takdir? Ngga dulu deh…
Lagipula, aku sudah terjebak dengan skenario takdir yang mendukung peranku jadi antagonis. Jadi, Mmari kita serius menjalani peran antagonis dan mengakhirnya dengan tragis seperti yang sudah ditentukan dalam cerita!
Hip Hip Hore untuk jadi jahat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ESOK., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival Bunga
“Selain Elise dan kau, bukannya aku punya pelayan pintu yang lain? Si…Heli?” Aku akhirnya teringat menanyakan masalah itu saat di dalam kereta.
“Maksud Nona, Helen?” Lanna mengoreksi, bahkan namanya saja aku sudah tak ingat.
“Ya, Helen. Sepertinya aku hanya melihatnya satu kali. Kemana dia?”
“Helen sedang dirawat Nona. Ternyata dia memiliki alergi parah kalau lama terpapar dengan bulu kucing.”
Aku meringis mendengar jawaban Lanna, ternyata niatku yang ingin menjahui kucing-kucing itu justru membuat salah satu pelayanku hampir sekarat. Aku merasa sedikit bersalah.
“Bagaimana nasib kucingku yang bersamanya?”
“Saat ini saya yang merawatnya, Nona. Mereka semua makan dan tidur dengan baik.” Suara Lanna terdengar bersemangat.
“Kalau begitu, katakan pada kepala pelayan untuk mencarikanku pelayan khusus yang menjaga kucingku. Buatkan juga tempat khusus di belakang istana untuk mereka. Kalian bertiga tidak perlu lagi merawatnya.”
Lanna tampak diam cukup lama, dia lalu membalas dengan nada lesu. Sepertinya dia lebih senang diberi tugas merawat kucing melebihi bayanganku.
“Ehem..jangan lupa letakkan kereta jauh dari keramaian, aku tidak ingin diketahui siapapun kalau datang ke pesta rakyat jelata.”
“Siap, Nona. Saya sudah menmberitahu kusir untuk berhenti diujung gang sebelum alun-alun. Kita bisa mengitari stand makanan yang ada di sekitarnya.” Lihat, mudah sekali membuatnya kembali bersemangat.
Aku mengangguk-angguk. Biarpun begitu Lanna pasti lebih kenal dengan festival seperti ini dibandigkan aku. Biarkan dia yang mengurusi hal-hal kecil.
*Sesampainya di Festival Bunga.
Cahaya lampu-lampu kecil yang digantung berjajar, taburan kelopak bunga di setiap jejak langkah ditambah harum bunga musim semi memenuhi pemandanganku. Indah.
Pasangan muda saling bepegangan tangan dan berbagi makanan sementara yang tua duduk di kursi pinggir jalan, menikmati tawa anak-anak yang berlarian membawa bunga kembang api di tangan mereka. Semua orang dari berbagai kalangan menikmati momen singkat ini dengan perasaan bahagia.
Di kiri dan kanan, berdiri stand yang menjajakan banyak makanan, minuman dan barang-barang unik dari seluruh pedagang penjuru kerajaan. Keramaian yang menyenangkan ini membuatku jadi ingin menikmati hal-hal kecil tanpa memikirkan masalahku di masa depan. Aku bahkan sedikit tersenyum saat Lanna bersemangat mengajakku membeli berbagai makanan.
“Silahkan cicipi ini juga, Nona.” Lanna tak berhenti menyarankan makanan dan minuman yang ada. Aku juga tak kalah bersemangat mencicipi.
Ada makanan yang akrab dengan rasa lidahku seperti pisang karamel, cumi bakar dan brondong jagung manis. Ada juga yang sedikit unik seperti lolipop jeli, es krim saus pedas, dan minuman buah-buah eksotis yang entah apa namanya. Tapi, semuanya tidak cukup jika aku belum mencicipi gulali buah!
“Oh, kalau itu, ada di bagian alun-alun, Nona. Karena paling laris di festival bunga.” Ucap Lanna ketika kutanya di mana letak gulali itu.
“Hanya di alun-alun? Bukankah seharusnya banyak yang menjual itu?”
“Ya, Nona. Semuanya ada di alun-alun.” Aku ingin menangis mendengarnya. Hilang sudah harapanku memakan kapas impian itu.
“Alun-alun saat ini pasti sedang ramai. Nona bisa menunggu di tempat yang lebih sepi, nanti saya belikan untuk Nona.” Lanna yang biasanya hanya bertanya dan mengucapkan fakta random itu akhirnya memberikan ide cemerlang. Aku jadi terharu.
“Kalau begitu aku akan menunggu di atas bukit itu.” Aku mengambil keranjang makanan dari Lanna dan menunjuk sebuah bukit yang berada cukup dekat dari sana. “Sekalian menunggu waktu kembang api dimulai.”
Aku berbalik ingin segera pergi, tapi..
BRAK!
Seorang kesatria berada tepat di depanku dan menabrakku hingga terjatuh. Begitu juga dengan ragam makanan yang kupegang dan kumpulkan di dalam keranjang makanan.
“Sialan!” Aku ingin berteriak memarahi kesatria itu. Aku mendongak melihat ke arah penabrakku, seketika itu juga mulutku bungkam. Kesatria gagah itu adalah Yorka. Sial! Apa dia mengenaliku? Aku menunduk semakin dalam.
“Nona Arabella, Anda tidak apa-apa?” Lanna yang kurang tanggap itu justru menyebut namaku.
“Jangan pedulikan makanannya, Nona. Nanti akan saya belikan yang baru. Saya masih ingat makanan apa saja yang tadi dibeli.” Terima kasih kepada Lanna yang sudah membongkar penyamaranku dengan sempurna.
“Lady…Arabella?” Yorka ikut menunduk, mencoba mengenaliku. Nasib..
Aku bangkit sembari menepuk pundak Lanna dan bicara dengan nada setengah mengancam. “Beli saja gulali buahku dengan benar. Harus benar.”
Aku segera angkat kaki, melarikan diri dari pandangan Yorka yang masih kebingungan.