Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Lala, maafkan aku," ucap mas Adya tiba-tiba setelah ia tersenyum padaku.
Aku menyipitkan mataku saat mendengarkan kata maaf yang mas Adya ucapkan secara tiba-tiba namun terlihat sangat amat serius.
"Maaf?"
"Iya, maaf," kata mas Adya sambil menatap wajahku dengan tatapan yang penuh rasa bersalah.
"Maaf untuk apa?" tanyaku pura-pura tak mengerti padahal aku tahu betul permintaan maaf itu ia tuju untuk kesalahan apa.
"Maaf untuk aku yang telah membuat kamu merasa tidak nyaman tadi malam. Maaf untuk hal yang belum bisa aku jelaskan."
Aku terdiam sambil menatap lekat wajah sayu laki-laki yang bergelar suamiku saat ini. Wajah sayu yang terlihat menyimpan sejuta masalah yang berusaha ia tutupi.
"Lala, aku tahu kamu sedang bingung dengan apa yang aku katakan. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang telah membuat hatimu bingung saat ini. Untuk itu, aku minta maaf padamu."
Aku tidak bisa melihat wajah bersalah itu lagi. Semakin aku lihat wajah bersalah mas Adya yang setia menatapku tanpa henti ini, semakin sedih pula rasa hatiku saat ini.
"Mas, jangan minta maaf lagi padaku. Aku tidak merasa kalau kamu punya salah. Jadi, kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku."
"Kaila ...."
"Sudahlah mas, jangan bahas hal yang tidak penting lagi, oke."
"Oh ya, apa kamu gak masuk kerja hari ini?" tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan kami.
"Kerja sih. Emangnya ada apa, Lala?"
"Ya kalo kamu kerja, harusnya kamu mandi terus siap-siap buat berangkat sekarang. Kamu gak lihat sekarang udah jam berapa?"
Mas Adya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Masih pagi Lala."
"Pagi apanya mas? Kamu gak lihat itu matahari udah bersinar terang benderang gitu," ucapku sambil mengalahkan telunjuk kearah matahari yang bersinar di balik rindangnya pohon taman rumah kami.
"Iya, aku tahu kalau matahari sudah bersinar. Tapi sekarang masih belum sampai jam tujuh, Kaila."
"Lho, kok harus nunggu jam tujuh baru bersiap-siap sih mas. Emangnya, kamu gak akan sarapan lagi apa nanti di kantin?"
"Ya ampun bawelnya. Iya deh, aku siap-siap sekarang," kata mas Adya sambil bangun dari duduknya.
Ia berjalan beberapa langkah meninggalkan aku yang masih duduk manis tanpa beranjak sedikit pun dari tempat dudukku. Lalu, mas Adya berhenti dan membalik tubuhnya untuk melihat aku.
"Kamu gak ikut masuk sekalian, Kaila?"
"Aku nyusul sebentar lagi mas. Kamu duluan aja."
"Kamu gak mau bantuin aku buat siap-siap?"
"Apa yang bisa aku bantu mas? Mau nyiapin sarapan buat kamu, akunya gak bisa masak. Mau siapin air panas dan baju kamu? Semuanya udah aku siapkan dari pertama aku bangun tadi. Gak ada lagi yang bisa aku bantu."
"Ada kok Lala," kata mas Adya sambil tersenyum manis.
"Apa?" tanyaku bingung.
"Bantuin aku mandi."
Seketika, wajah datar ku berubah merah tanpa bisa bicara sepatah katapun pada mas Adya.
Aku menatap tajam kearah mas Adya tanpa berkedip.
"Aku hanya bercanda, Kaila," kata mas Adya sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan aku sendirian.
"Bercanda?" tanyaku dalam hati sambil melihat punggung mas Adya yang semakin lama semakin menjauh lalu menghilang di balik pintu masuk rumah.
"Ih, dasar kamu gak jelas Kaila. Apa yang kamu pikirkan sih sebenarnya? Apa yang kamu harapkan dari apa yang laki-laki itu ucapkan? Dasar Kaila gak jelas," kataku pada diriku sendiri sambil mengetuk-ngetuk pelan kepalaku dengan satu jari.
Aku tersenyum simpul untuk diriku sendiri, yang terlihat sedikit tidak karuan dengan hatiku yang sulit untuk aku kendalikan.
Ini bukan pertama kali aku tertarik pada seorang laki-laki. Aku sudah berkali-kali merasakan ketertarikan pada seorang laki-laki.
Bahkan, aku hampir saja menikah dengan lelaki yang begitu membuat aku tertarik sehingga aku percayakan semua hatiku padanya.
Tapi tidak pernah sekalipun aku merasakan rasa ketidak berdayaan atas rasa ketertarikan ku pada laki-laki itu, seperti yang aku rasakan saat ini terhadap mas Adya.
Mungkinkah, mungkinkah kali ini aku benar-benar telah jatuh cinta pada laki-laki yang hanya bergelar suami pengganti ku saja?
Ntahlah, aku juga tidak ingin terlalu cepat mengakui kalau aku sudah jatuh cinta pada mas Adya. Karena aku takut, kalau aku akan sakit hati lagi nantinya.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄