NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Gila

Dua truk kontainer raksasa terparkir melintang, menutup seluruh badan jalan raya menuju pelabuhan lama. Di belakang mereka, lampu sorot dari dua jip Keluarga Surya memotong kegelapan malam, mengunci posisi sedan ringsek milik Devano tanpa memberi celah sedikit pun untuk bergerak mundur.

Jalur pelarian mereka benar-benar mati total.

Jefri menginjak pedal rem sekuat tenaga. Ban mobil yang robek berdecit hebat di atas aspal basah, menciptakan kepulan asap putih yang pekat sebelum akhirnya moncong sedan terhenti tepat beberapa meter di depan barikade truk kontainer.

"Sialan! Kita benar-benar terjebak, Nyonya Muda!" Jefri memukul setir dengan frustrasi. Darah dari luka di dahinya terus menetes, mengalir melewati pelipis dan mulai mengaburkan pandangannya.

Alana menatap lurus ke depan dengan sekujur tubuh yang gemetar hebat. Di lantai mobil, layar ponsel Devano berkedip makin brutal, memancarkan angka digital berwarna merah yang kian menipis tanpa ampun: 02:45.

Dua menit empat puluh lima detik sebelum bom di dada adiknya meledak menjadi serpihan.

"Tuan Devano..." Alana menunduk, menatap wajah suaminya yang kini bersandar lemas di dadanya. Napas pria itu terasa sangat pendek dan mendingin. Kesadaran Devano sudah berada di titik nadir akibat kehilangan terlalu banyak darah.

Melihat pria tirani yang biasanya selalu berkuasa kini tak berdaya demi melindunginya, sesuatu di dalam diri Alana mendadak pecah. Rasa takutnya lenyap, berganti dengan tekad nekat yang membakar darahnya. Ia tidak boleh kehilangan adiknya, dan ia juga menolak membiarkan Devano mati malam ini.

"Jefri, lihat ke sebelah kiri jalan!" seru Alana tiba-tiba. Suaranya terdengar melengking tinggi di tengah deru mesin jip musuh yang makin mendekat dari arah belakang.

Jefri menoleh ke kiri dengan cepat. Di sana tidak ada jalan raya, melainkan pagar kawat pembatas pelabuhan yang sudah tua dan berkarat. Di balik pagar itu, jalurnya langsung mengarah ke area turunan tanah yang curam menuju dermaga kargo bawah.

"Nyonya, itu gila! Turunan itu sangat curam dan penuh tumpukan besi tua! Mobil kita bisa terbalik dan hancur!" bantah Jefri dengan mata terbelalak kaget.

"Tidak ada pilihan lain, Jefri! Kalau kita diam di sini, mereka akan menembak kita sampai mati, dan adikku akan meledak di dalam gudang itu!" bentak Alana dengan nada suara yang mendadak menyerupai gaya bicara ketat suaminya.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang dingin dan berlumuran noda darah bergerak lambat, mencengkeram erat pergelangan tangan Alana yang memegang pistol.

Devano memaksa kelopak matanya terbuka sedikit. Meskipun pandangannya mulai kabur dan membayang, sepasang matanya tetap memancarkan kekerasan kepala yang mutlak dan tidak terbantahkan.

"Lakukan... Jefri," perintah Devano dengan suara parau yang tersendat di tenggorokan. "Tabrak pagar itu..."

"Tapi Tuan Besar—"

"Ini perintah!" desis Devano, disusul ringisan tertahan saat rasa panas dari peluru di punggungnya kembali menyengat sisa kesadarannya.

Jefri mengertakkan rahangnya hingga berbunyi kaku. Tidak ada waktu untuk ragu lagi. Ia memundurkan mobil sedikit, lalu mengoper gigi dan menginjak pedal gas sedalam-dalamnya.

Vruuummm!

Mesin sedan mewah itu meraung buas untuk terakhir kalinya. Mobil ringsek itu melesat memotong jalur kiri, langsung menghantam pagar kawat pembatas dengan kecepatan penuh.

Brraakkk!

Pagar besi itu roboh seketika. Mobil mereka meluncur bebas menuruni lereng tanah yang curam dan tidak rata. Guncangan hebat membuat tubuh Alana terombang-ambing di dalam kabin, sementara ia terus memeluk erat tubuh Devano agar luka suaminya tidak membentur bodi mobil yang keras.

Anak buah Rendy Surya yang berjaga di barikade truk kontainer melotot tidak percaya melihat sedan tersebut nekat terjun ke area dermaga bawah.

"Mereka bunuh diri! Cepat kejar lewat jalur bawah!" teriak pemimpin penyerang melalui alat komunikasi radio di telinganya.

Brak! Dug!

Bagian bawah sedan mewah itu menghantam lantai beton dermaga lama dengan keras saat berhasil mencapai area bawah. Ban mobil mereka meletus total, menyisakan velg besi yang bergesekan langsung dengan semen, menciptakan percikan api yang menyala-nyala di sepanjang jalan gelap.

Alana tidak memedulikan guncangan hebat itu lagi. Matanya terpaku sepenuhnya pada layar ponsel di lantai: 01:10.

Satu menit sepuluh detik.

Di depan mereka, sekitar seratus meter lagi, berdiri sebuah gudang tua bernomor 07 yang pintunya terbuka setengah. Melalui celah pintu yang remang-remang itu, Alana bisa melihat siluet adiknya yang terikat di kursi dengan lampu merah bom yang berkedip-kedip di dadanya.

"Itu dia! Jefri, di depan!" teriak Alana dengan harapan yang kembali membubung tinggi di dadanya.

Namun, kelegaan itu hanya bertahan sedetik. Tepat di depan pintu masuk gudang, sebuah mobil sedan mewah berwarna perak terparkir melintang, menghadang jalur mereka.

Seorang pria dengan setelan jas rapi tanpa topeng berdiri bersandar di kap mobil sambil memegang sebuah remote detonator kecil di tangan kanannya.

Rendy Surya.

Pria itu tersenyum iblis ke arah mobil ringsek mereka yang melaju pincang dengan velg berpercikan api. Rendy mengangkat ponselnya, lalu menekan tombol panggilan ke ponsel Devano yang berada di tangan Alana.

Alana dengan cepat menggeser layar untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Satu menit lagi, Alana sayang," suara Rendy terdengar sangat renyah dan penuh kemenangan dari pengeras suara ponsel. "Selamat datang di pesta kembang api adikmu. Turun dari mobil sekarang, atau aku akan menekan tombol ini lebih cepat dan membiarkan suamimu menyaksikan kehancuranmu!"

Mobil mereka akhirnya berhenti berdecit tepat tiga puluh meter di depan Rendy. Sisa waktu di layar kini menyentuh angka paling kritis: 00:45.

Empat puluh lima detik lagi.

Rendy berjalan perlahan mendekati mobil ringsek mereka dengan ibu jari yang sudah berada tepat di atas tombol merah detonator, siap menghancurkan sisa hidup Alana dalam satu tekanan jari saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!