NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Bibi yang Tidak Pernah Diceritakan

“Aku bibimu.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Tidak ada yang langsung bereaksi.

Karena otak semua orang seolah berhenti bekerja.

Terlalu banyak kejutan.

Terlalu banyak rahasia.

Dan sekarang muncul satu orang lagi yang seharusnya tidak pernah ada dalam cerita ini.

“Apa?”

Suara Nadira nyaris seperti bisikan.

Tatapannya tidak lepas dari wanita yang berdiri di samping Mahendra.

Wanita itu tersenyum lembut.

Terlalu lembut untuk seseorang yang berdiri di antara pria-pria bersenjata.

“Namaku Laras.”

katanya pelan.

“Aku adik Mahendra.”

Deg.

Nadira langsung membeku.

Karena selama ini mamanya hanya pernah bercerita tentang satu saudara.

Mahendra.

Tidak pernah ada nama Laras.

Tidak pernah ada adik lain.

“Kamu bohong.”

ucap Nadira.

Wanita itu justru tersenyum sedih.

“Kalau aku bohong...”

Tatapannya jatuh ke kalung yang dipakai Nadira.

“…kamu nggak mungkin punya kalung itu.”

Deg.

Tubuh Nadira langsung menegang.

Refleks ia menyentuh kalung kecil yang selalu ia pakai sejak kecil.

Kalung pemberian mamanya.

Kalung yang katanya warisan keluarga.

“Aku punya yang satunya.”

lanjut Laras.

Lalu perlahan mengeluarkan kalung dari balik bajunya.

Deg.

Napas Nadira langsung tercekat.

Karena bentuknya sama persis.

Hanya berbeda ukiran kecil di bagian belakang.

“Mustahil...”

bisiknya.

Di belakangnya, Arsen langsung maju satu langkah.

Posisinya sedikit bergeser.

Tanpa sadar berdiri di depan Nadira.

Melindunginya.

“Cukup.”

Suara Arsen dingin.

“Kami nggak datang buat reuni keluarga.”

Deg.

Mahendra tertawa kecil.

“Masih galak seperti ayahmu.”

Kalimat itu langsung membuat mata Arsen menyipit.

“Jangan bawa-bawa ayah gue.”

“Kenapa?”

Mahendra tersenyum tipis.

“Takut tahu siapa dia sebenarnya?”

Deg.

Arsen langsung mengepalkan tangan.

Namun sebelum situasi meledak—

Suara kecil tiba-tiba terdengar dari dalam rumah.

“KAK NADIRA!”

Deg!

Tubuh Nadira langsung membeku.

“RAKA!”

teriaknya.

Suara itu memang milik Raka.

Tidak salah lagi.

Dan saat itulah mereka melihatnya.

Di jendela lantai dua.

Raka berdiri di sana.

Mengetuk kaca sekuat tenaga.

Wajahnya pucat.

Matanya merah karena menangis.

“KAK!”

Deg.

Nadira refleks maju.

Namun puluhan senjata langsung terangkat ke arahnya.

“Berhenti.”

kata Mahendra santai.

“Lepasin dia!”

teriak Nadira.

Mahendra justru tersenyum.

“Kalau aku nggak mau?”

“Gue sumpah bakal—”

“Bakal apa?”

potong Mahendra.

Sunyi.

Karena semua tahu.

Mereka sedang kalah jumlah.

Dan Mahendra sadar betul akan itu.

“Turunkan senjatanya.”

kata Rey pelan.

Semua langsung menoleh.

“Belum waktunya.”

lanjutnya.

Mahendra tersenyum.

“Pintar.”

Tatapannya berpindah ke Rey.

“Sejak kecil kamu memang paling cepat belajar.”

“Sayangnya gue belajar dari monster.”

jawab Rey dingin.

Untuk pertama kalinya—

Senyum Mahendra sedikit memudar.

Namun hanya sesaat.

Lalu ia kembali terlihat santai.

“Ayo masuk.”

katanya.

“Apa?”

tanya Damar.

Mahendra membuka kedua tangannya.

Seolah menyambut tamu.

“Kalian sudah jauh-jauh datang.”

Senyumnya melebar.

“Jangan berdiri di luar.”

Deg.

Tak ada satu orang pun yang merasa undangan itu tulus.

Namun mereka juga tidak punya pilihan.

Beberapa menit kemudian—

Mereka berada di dalam mansion tua itu.

Ruangan besar.

Langit-langit tinggi.

Lampu kristal.

Karpet merah tua.

Dan aroma kayu lama yang memenuhi udara.

Tempat itu terlihat mewah.

Namun entah kenapa...

Terasa seperti penjara.

“Duduk.”

kata Mahendra.

Tidak ada yang bergerak.

“Aku bilang duduk.”

Nada suaranya berubah dingin.

Puluhan pria bersenjata langsung menegang.

Akhirnya mereka duduk.

Meski tidak nyaman.

Nadira terus melihat ke tangga.

Berharap Raka muncul.

Namun anak itu tidak terlihat lagi.

Mahendra memperhatikan semuanya.

Lalu tersenyum kecil.

“Aneh ya.”

katanya.

“Dulu kita semua keluarga.”

Tak ada yang menjawab.

Karena tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang merasa seperti keluarga.

“Kenapa?”

tanya Nayla tiba-tiba.

Semua langsung menoleh.

“Kenapa ngelakuin semua ini?”

lanjutnya.

Sunyi.

Mahendra terlihat berpikir.

Lalu tertawa kecil.

“Karena aku capek.”

Deg.

Jawaban itu membuat semua orang bingung.

“Capek?”

ulang Nayla.

Mahendra mengangguk.

“Aku capek membangun sesuatu.”

Tatapannya kosong.

“Lalu melihat orang lain menghancurkannya.”

“Dengan membunuh orang?”

tanya Arsen dingin.

Mahendra menatapnya.

Lama.

“Kadang…”

Ia menyandarkan tubuh.

“…orang harus dikorbankan.”

“Omong kosong.”

gumam Damar.

Namun Mahendra mendengarnya.

“Menurutmu begitu?”

Tatapannya beralih ke Damar.

“Kalau satu orang harus mati untuk menyelamatkan seribu orang?”

“Masih omong kosong.”

jawab Damar.

“Kalau keluargamu?”

“Tetap.”

Sunyi.

Mahendra menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Makanya kamu nggak pernah jadi pemimpin.”

Deg.

Damar hampir berdiri kalau saja Nayla tidak menahannya.

“Tenang.”

bisik gadis itu.

“Belum saatnya.”

Di lantai atas—

Raka diam-diam mengintip dari sela pagar tangga.

Ia bisa melihat semuanya.

Kakaknya.

Arsen.

Nayla.

Damar.

Mereka datang.

Mereka benar-benar datang.

Air matanya hampir jatuh lagi.

Namun saat itu—

Seseorang berdiri di sampingnya.

Raka langsung menoleh.

Dan membeku.

Seorang gadis.

Usianya sekitar tujuh belas tahun.

Rambut panjang.

Wajah pucat.

Dan mata yang terlihat sangat sedih.

“Kamu Raka ya?”

tanyanya pelan.

Raka mengangguk hati-hati.

“Siapa Kakak?”

Gadis itu tersenyum tipis.

“Namaku Aluna.”

Deg.

“Aku juga pernah dikurung di sini.”

Jantung Raka langsung berdetak lebih cepat.

“Apa?”

Aluna menatap ke bawah.

Ke arah ruang tamu.

Ke arah Mahendra.

Tatapannya penuh kebencian.

“Sudah lama sekali.”

bisiknya.

Sementara itu—

Di ruang tamu.

Mahendra tiba-tiba berdiri.

“Ada sesuatu yang harus kalian lihat.”

katanya.

Lalu bertepuk tangan sekali.

Seorang pria datang membawa sebuah kotak kayu tua.

Kotak itu diletakkan di atas meja.

Deg.

Entah kenapa—

Semua langsung punya firasat buruk.

“Buka.”

kata Mahendra.

Tidak ada yang bergerak.

Akhirnya salah satu anak buahnya membuka kotak itu.

Dan dalam sekejap—

Wajah semua orang berubah.

Karena di dalam kotak itu terdapat puluhan foto.

Dokumen.

Dan rekaman lama.

“Ini apa?”

tanya Arsen.

Mahendra tersenyum.

“Kebenaran.”

Deg.

Lalu ia mengambil satu foto.

Dan melemparkannya ke arah Nadira.

Nadira menangkapnya refleks.

Begitu melihat isi foto itu—

Tubuhnya langsung membeku.

“Apa...”

Tangannya mulai gemetar.

Karena foto itu menunjukkan seseorang yang sangat ia kenal.

Papanya.

Sedang berdiri bersama Mahendra.

Dan di belakang mereka—

Terlihat jelas sebuah bangunan terbakar.

Bangunan yang sama.

Bangunan yang selama ini diyakini menjadi tempat kematian Mahendra dua puluh tahun lalu.

Deg.

“Apa artinya ini?”

suara Nadira bergetar.

Mahendra tersenyum tipis.

Lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan membeku.

“Karena ayahmu tahu aku masih hidup.”

Dan yang lebih buruk—

“Dia sudah tahu sejak dua puluh tahun lalu.”

1
Noorjamilah Sulaiman
rumit
Noorjamilah Sulaiman
mungkin mama nadira ini org kaya
Noorjamilah Sulaiman
aku jd binggung, Adrian ini jahat atau papa arsen yg paling licik
Noorjamilah Sulaiman
apa ug sebenarnya berlaku?
Noorjamilah Sulaiman
mantap
Noorjamilah Sulaiman
terlalu rumit,knpa semua itu ada d dlm penjara tmpt Rafael
Noorjamilah Sulaiman
kerena sblm tu ada lelaki yg melihat mereka masa nadira mkn mlm drumah keluarga arsen
Noorjamilah Sulaiman
ceritanya rumit,siapa sebenarnya musuh mereka adakh keluarga arsen sendiri?
Noorjamilah Sulaiman
cerita ini menarik tp mungkin blm djumpai ole pembaca atau sbb cerita ini blm tamat
Noorjamilah Sulaiman
teka teki btl
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!