"Kau membuat kakiku cerdera, kau harus bertanggung jawab! Jadilah pelayan pribadiku."
"Huaah.... Hariku sungguh sial! Baru diusir dari rumah aku sudah mendapat masalah. Bukannya berkerja mencari uang, aku malah harus membayar hutang."
Cordelia Tia Tamara Klamer. Terpaksa menjadi pelayan pribadi setelah membuat kaki seorang pria mengalami cedera. Namun baru beberapa hari berkerja ia mengetahu kalau perusahaan mobil tempat dimana majikannya berkerja ternyata mengalami kebangkrutan. Tia ingin membantu dengan cara ikut balapan Grand touring. Iya, Tia adalah seorang pembalap wanita yang memiliki identitas rahasia. Dilingkup dunia balapan liar dia dikenal sebagai pembalap wanita tak terkalahkan. Akankah dia berhasil memenangkan balapan ini atas nama perusahaan RBS dan berharap mobil sportcar RBS dapat dikenal diantara kalangan pencinta otomotif?
"Wanita ini sungguh luar biasa. Seorang nona muda, pembalap handal, baik, pemberani, jago bela diri dan penuh kejutan. Aku menyukainya," Axton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon widia wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ada yang bisa kau sembunyikan
"Apa penyakit tuan muda kambuh?" dengan nada khawatir pengurus Zack berlari menuju garasi.
"Iya, begitulah. Aku kehabisan obat ku disini."
"Tuan muda bertahanlah dan tetap tenang. Saya akan tiba disana kurang dari sepuluh menit."
"Cepatlah."
Axton mematikan telponnya. Ia lebih memilih minta tolong pada pengurus Zack karna kealihan mengemudinya yang sangat baik. Dia pasti bisa datang lebih cepat mengantarkan obat untuknya. Sambil menunggu Axton berusaha mengatur nafasnya walau terasa sulit. Namun hal yang tidak terduga adalah Tia tiba-tiba kembali masuk.
"Aha. Sudah aku duga ada yang tidak beres denganmu."
"Tia?!" Axton cukup dibuat kaget mendapati Tia telah berlari menghampirinya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Tia dengan nada cemas.
"Tidak apa. Dadaku cuman terasa sesak," jawab Axton masih sempatnya berbohong.
"Apa kau menderita penyakit asma? Kalau begitu kau harus berbaring."
"Tidak. Aku bukan..."
Belum sempat Axton menyelesaikan kalimatnya Tia sudah mengangkat tubuh Axton lalu membaringkannya di sofa. Axton lagi-lagi dibuat terkejut. Apa tubuhnya benar-benar seringan itu sampai seorang wanita saja bisa mengangkatnya dengan mudah? Atau mungkin hanya Tia yang bisa melakukannya. Tidak sampai disitu, Tia juga memposisikan satu bantal agar tubuh Axton sedikit lebih tinggi dari kepala. Kemudian Tia melonggarkan dasi Axton dan melepas satu kancing kemejanya. Ini memungkinkan Axton bisa bernafas lebih leluasa.
"Bagaimana? Merasa lebih baik?"
"Iya, sedikit tapi dadaku masih sakit," jawab Axton dengan mata terpejam. Satu tangannya masih mencengkram dadanya.
"Dimana obatmu?"
"Obatku habis. Ha... Ha... Sebentar lagi Zack datang membawakannya."
Tampak kondisi Axton semakin menurun. Ia terlihat masih kesulitan bernafas dengan keringat dingin bercucur deras di pelipisnya. Ini semakin membuat Tia panik bercampur bingung.
"AAH... Apa yang harus aku lakukan? Kalau terus seperti ini bisa-bisa... Atau aku harus..." Tia menempelkan telunjuknya di bibi nya sambil melirik wajah Axton.
Axton membuka sebelah matanya dan menyadari tatapan Tia yang ditujukan padanya. "A-apa yang mau kau lakukan?"
"Ah...! Tidak ada cara lain," Tia menarik lepas dasi Axton lalu menggunakan dasi itu untuk menutupi mata Axton.
"Hei, kenapa kau menutup mataku?" tanya Axton dengan bingung.
"Sutt... Diam! Jangan mengintip!"
Tia menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia melakukan SPR dari mulut ke mulut. Axton tidak percaya kalau Tia akan memberinya nafas buatan disaat ia panik begini. Udara panas yang diterima Axton dari paru-paru Tia kini menyebar ke paru-parunya. Bibir manis merah muda itu menempel lembut di bibinya membuat Axton sedikit menikmati sensasi yang belum perna ia rasakan sebelumnya.
"Sampai segitunya ia mengkhawatirkan diriku dengan memberiku nafas buatan langsung dari bibirnya yang banis. Tapi, tunggu dulu. Bukankah ini termasuk ciuman?"
"Tuan muda! Aku datang membawakan obat untukmu. Uaaaah........!" teriak pengurus Zack sambil menerobos masuk. Tapi ia seketika dibuat jantungan begitu melihat pemandangan di hadapannya. "Apa yang barusan kau lakukan pada tuan muda?!"
Tia yang mendengar pintu dibuka dan teriakan pengurus Zack sontak langsung bangkit menjauh dari Axton. "Jangan salah sangkah dulu. Aku cuman memberinya nafas buatan untuk menolongnya."
"Tidak. Yang kulihat itu, kau cuman mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dasar wanita kasar!"
"Apa katamu?!!"
"Sudah cukup kalian berdua!" bentak Axton sambil berusaha duduk dan melepaskan dasi yang menutupi matanya. "Tak apa Zack. Dia, sungguh cuman ingin menolongku. Tidak ada maksud lain."
"Tuan muda, ini obatmu. Cepat diminum."
Pengurus Zack menyodorkan obat berserta air kemasan yang dibawanya pada Axton. Axton menerima itu dan langsung meminum obatnya. Kurang lebih semenit, obat tersebut mulai berkerja. Rasa sakit yang ia rasakan perlahan menghilang dan kini nafasnya sudah teratur.
"Kenapa kau jongkok disana?" tanya Axton saat mendapati Tia berjongkok di balik sofa.
Tia menoleh pada Axton dengan air mata mengalir di pipinya. "Kau.... Hiks.... Kenapa kau tidak memberitahu ku kalau kau sakit dan kehabisan obat? Aku bisa bantu membelikan obat untukmu jika kau sangat butuh. Kau tidak perlu menahannya sampai seperti tadi."
"Kau.... Menangis?" Axton memberikan saputangannya pada Tia. Ia tak menyangka Tia akan menunjukan ekspresi sesedih itu.
Tia menerima saputangan itu lalu menyekat air matanya. "Tentu saja aku menangis karna... Karna kau telah merenggut ciuman pertamaku."
"Hah?"
"Uhaaaah..... Bisa-bisa aku melakukan hal yang memalukan seperti tadi," teriak Tia meluapkan rasa penyesalan nya.
"Kau sendiri yang berinisiatif melakukannya. Lagi pula bukan cuman kau yang dirugikan dalam hal ini."
"Apa maksudmu?" seketika Tia melirik pada Axton. Lalu tak lama ia tersenyum. "Ooh... Apa ini juga ciuman pertama mu?"
"Kalau iya, memang kenapa?" kata Axton dengan sangat pelan.
"Tidak aku sangka dirimu yang telah menjadi seorang direktur ini ternyata belum perna merasakan manisnya bibir seorang wanita. Itu berarti tandanya kau belum perna pacaran," dari tangisan, nada bicara Tia malah berubah mengejek.
"Kau juga berarti belum perna pacaran."
"Aku seorang wanita terhormat. Tidak sembarang tuan muda bisa menerima.... Nanti dulu. Kalau aku mengatakan ini apa termasuk mengekspos identitas ku tidak, ya?" pikir Tia bertanya pada diri sendiri.
"Wanita terhormat?" batin Axton dibuat penasaran dengan identitas Tia.
"Hah... Cuman perkara ciuman pertama saja dipeributkan sampai segitunya," gumang pengurus Zack sambil menghela nafas.
"Tentu saja. Kau pikir ciuman pertama boleh diberikan kesembarang orang? Tidak!" kata Axton dan Tia bersamaan.
"Eh?!" pengurus Zack dibuat sedikit terkejut mendengar kekompakan itu.
"Lagi pula bukankah kau juga belum perna pacaran, pengurus Zack," tambah Axton.
"Benarkah? Rupa-rupa dia juga jomblo sejak lahir. Kau terlalu bersifat formal disetiap waktu, pengurus Zack. Kalau begini terus tidak akan ada wanita yang menyukaimu," Tia malah balik mengejek pengurus Zack.
"Aku tidak butuh nasehat dari gadis yang juga tidak pernah pacaran sepertimu!" jawab pengurus Zack dibuat kesal.
"Aku tidak mau mengatakan ini, tapi Kelinci ada benarnya juga. Sifatmu itu terlalu serius di setiap kesempatan. Para wanita akan canggung bila ingin bicara padamu," timpal Axton ikut-ikutan.
"Tuan muda, sepertinya kondisimu belum pulih sepenuhnya. Apa perlu saya beritahukan hal ini pada tuan besar?" kata pengurus Zack sedikit mengancam.
"I-itu tidak perlu. Aku sudah tidak apa-apa. Sekarang aku mau mandi. Tubuhku penuh keringat."
Axton berusaha bangkit, dengan cekatan Tia segera membantu menuntunnya menuju kursi rodanya. Tia lalu mendorong kursi roda Axton ke kamar mandi yang tersedia. Sampai disini Axton meyakinkan Tia kalau ia bisa sendiri. Sementara itu pengurus Zack menghubungi Teo untuk mengambilkan pakaian ganti yang ada dalam bagasi mobil. Tia menghampiri pengurus Zack untuk menanyakan sesuatu yang sedikit menggangu pikirannya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
Alhamdulillah bila masih ada Gloria jilid kedua Thor.....