Adeline Brisena adalah anak perempuan dari Raja ke lima kerajaan Elston yang tidak bisa hidup bebas layaknya manusia pada umumnya termasuk penentuan pasangan hidupnya yang dipasangkan dengan putra dari Raja Hilmar. Walaupun berulang kali memohon, Raja dan Ratu atau orang tua Adeline tidak menggubris permintaanya untuk membatalkan perjodohan itu. Hingga Adeline teringat satu cara terkejam yang digunakan Raja untuk menghukum rakyat nya yang berkhianat, yaitu mengirimkan mereka ke dunia lain dengan menyisakan raga yang tidak bernyawa di dekat pintu ajaib. Tidak ada cara lain yang bisa digunakan untuk bisa terlepas dari peraturan dalam hidupnya, dengan berat hati Adeline meninggalkan raganya di depan pintu ajaib untuk pergi ke dunia lain.
Bagaimana kehidupan Adeline di dunia lain? Akan kah Adeline akan bebas sesuai dengan apa yang diharapkan atau malah nasib nya sama saja seperti di kehidupan sebelumnya?
Semua akan diceritakan di cerita ADELINE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clreani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perusahaan Barul
Tiga puluh kotak berbahan kertas yang di atasnya tertempel stiker identitas kedai Al dan di dalamnya berisikan nasi berserta ayam goreng juga sambel, tiga puluh gelas yang juga terdapat stiker identitas kedai Al berisi teh manis dingin, dan tiga puluh bungkus kerupuk kini sudah dibagi ke dalam tiga plastik besar berwarna merah yang diletakkan di meja dekat meja kasir.
"Ini sudah semua?" tanya seorang laki-laki berbadan besar bernama Rafli yang diperintahkan Barul untuk mengambil pesanannya itu, sementara Barul masih harus sibuk membeli barang yang diperlukannya di toko lain.
Adeline menghitung kembali jumlah kotak dan gelas yang ada di dalam tiga plastik besar itu. "Sudah semua, pak," jawab Adeline setelah memastikannya dengan benar.
Dua plastik besar langsung diambil oleh Rafli. Sementara satu plastik lagi Adeline yang bantu membawakannya ke luar. Mereka langsung mengarah pada sebuah sepeda motor yang cukup besar milik laki-laki itu.
"Aduh saya salah malah bawa motor," ucap Rafli yang bingung cara membawa pesanan bos nya.
Adeline menoleh ke dalam kedai. Keadaan kedai hari ini yang tidak begitu ramai membuat Adeline kembali menoleh ke arah laki-laki yang ada di depannya. "Kalo saya bantu bawa gimana, pak? Tapi saya harus izin dulu sama pemilik kedai ini."
Rafli mengangguk. "Coba kamu izin sekarang ya. Nanti kamu akan saya antarkan lagi ke sini kok kalo ini semua udah diterima orang kantor."
"Baik, pak. Sebentar, saya izin dulu," ucap Adeline sembari mengangguk. Setelah itu Adeline yang membawa satu plastik besar berisikan sepuluh pesanan Barul langsung menghampiri Daryata yang sedang berbincang dengan pembeli yang duduk di luar kedai itu.
"Kok kamu bawa lagi, Ayline?" tanya Daryata dengan matanya yang menatap plastik besar yang dipegang Adeline.
"Orang itu gak bisa bawa sendirian, yah. Saya berniat mau membantunya. Katanya tadi, saya bakal diantarkan lagi ke sini setelah mengantarkan pesanan itu semua ke kantornya," jawab Adeline menjelaskan situasi yang sedang terjadi.
Daryata mengangguk-anggukkan kepalanya. "Silahkan aja kamu bantu kalo kamu mau. Urusan ngantar pesanan pembeli di dalam serahin aja dulu ke ayah."
"Baik, yah. Saya bantu orang itu dulu ya sebentar. Saya akan segera kembali ke sini secepatnya," ucap Adeline kembali berbalik badan melangkah kepada Rafli yang menunggunya, setelah mendapatkan anggukan dari Daryata.
Rafli tersenyum dan mengangguk kecil ke arah Daryata yang memperhatikannya sebagai isyarat ucapan terimakasihnya telah mengizinkan Adeline untuk membantunya. Kemudian Rafli langsung memarkirkan motornya untuk mengarah keluar dari parkiran kedai itu.
"Sini saya pegangkan sebentar. Kamu hati-hati naiknya," ucap Rafli yang berada di depan Adeline mengambil alih plastik besar yang dipegang Adeline.
Adeline dengan susah payah naik ke motor yang ukurannya lebih besar daripada motor Rebyano. Plastik besar tadi langsung diterimanya kembali dan satu plastik besar yang semula diletakkan di depan laki-laki itu pun langsung diserahkan juga kepada Adeline, sehingga Adeline sekarang memegang erat dua plastik besar berisi pesanan pelanggan setia kedai Al.
Motor langsung berjalan ketika Adeline sudah dipastikan duduk dengan benar. Adeline sedikit kesulitan untuk melihat ke depan karena kehalang oleh dua plastik besar yang dipegangnya.
Tubuhnya yang merasa sedikit lebih berat membuat Adeline sedikit menundukkan kepalanya. "Loh belum dilepas ternyata," monolognya sembari menatap apron dan nametag kerjanya yang belum dilepas.
"Maaf. Kamu bicara apa barusan? Saya tidak mendengar," tanya Rafli yang sibuk mengendarai motornya sembari waspada akan plastik besar berisi makanan dan minuman yang ada di depannya.
Adeline menggelengkan kepalanya walau tidak dapat terlihat oleh laki-laki di depannya itu. "Tidak pak. Saya berbicara pada diri sendiri."
Setelah itu keadaan kembali sunyi. Adeline maupun Rafli kembali fokus pada jalanan yang dilintasi mereka.
Sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi yang tiba-tiba melintas di samping mereka membuat Adeline sedikit terkejut sehingga duduk nya menjadi sedikit bergoyang.
"Kamu tolong jangan gerak-gerak ya. Saya takut gak seimbang," ucap Rafli menegur Adeline dengan suara yang lembut.
"Iya pak, maaf," jawab Adeline yang langsung tertunduk malu.
Motor itu langsung berbelok ke arah kiri tanpa menunggu pergantian warna lampu lalu lintas. Tidak jauh dari belokan itu, motor itu berbelok ke kiri lagi dan sedikit menanjak lalu berhenti sehingga membuat Adeline sedikit pusing karena tidak melihat jalanan yang dilintasinya.
Palang pintu otomatis yang menjadi batas masuk ke suatu gedung langsung terbuka tanpa di-tap menggunakan apapun karena penjaga pintu itu mengetahui siapa laki-laki yang membawa motor itu, sehingga motor itu dapat langsung masuk setelah sebuah mobil di depannya beranjak dari pintu itu.
Rafli menghentikan motornya tidak jauh dari pintu gedung yang Adeline dapat melihatnya sedikit. "Kamu turun duluan," ucapnya kepada Adeline yang masih setia duduk di atas motor.
"Oh sudah sampai," monolognya. Namun Adeline belum juga turun. Adeline bingung cara turunnya sementara dua plastik besar berisi makanan dan minuman masih dipegangnya.
Rafli juga baru menyadari ketika menatap Adeline yang kebingungan dari kaca spionnya. "Oh iya sini saya pegangkan dulu," ucapnya sembari mengambil alih dua plastik besar yang dipegang Adeline.
Adeline pun berhasil turun dengan selamat. Dua plastik besar tadi langsung diambil kembali sementara Rafli langsung turun juga dari motornya setelah mematikan mesin dan menurunkan standar motor itu.
"Mari saya bawakan, pak, bu."
Adeline menoleh kepada satu laki-laki berseragam hitam yang menghampirinya menawarkan bantuan. Adeline langsung menyerahkan dua plastik besar yang dipegangnya sembari menampakkan raut wajah sebal kepada laki-laki berseragam hitam itu karena tadi memanggilnya dengan sebutan ibu. Adeline merasa umurnya belum setua itu untuk mendapatkan panggilan itu.
Arpon yang digunakan Adeline langsung dilepas karena merasa tidak nyaman ditatap oleh karyawan yang berlalu-lalang di depan gedung itu. Kini Adeline hanya sendiri di depan gedung tinggi itu bersama motor yang membawanya ke tempat itu, sementara Rafli bersama laki-laki berseragam hitam tadi mengantarkan pesanan Barul tadi ke dalam gedung itu.
Hanya apron yang dilepas lalu dilipat oleh Adeline, sedangkan nametag dibiarkan berada di atas saku bajunya. Adeline berbalik badan menatap gedung di belakangnya yang memantulkan bayangannya sehingga Adeline bisa melihat penampilannya yang terlihat sedikit berantakan. Kesempatan dapat melihat pantulan bayangannya, Adeline pun merapihkan rambutnya dan juga bajunya.
Ketika selesai merapihkan rambut dan juga bajunya, Adeline mendapatkan pantulan bayangan Kalandra dan Agra yang saling mendekat dari arah yang berbeda, sehingga dengan cepat Adeline menoleh ke belakang.
"Loh Ayline." Kalandra dan Agra menoleh dan berucap demikian berbarengan sembari jari telunjuk mereka menunjuk Adeline.
Kalandra lebih dulu melangkahkan kakinya ke arah Adeline yang tersenyum tipis ke arahnya. "Kamu kok ada di sini?" tanyanya.
"Iya saya abis bantuin pak Rafli bawain pesanannya pak Barul ke sini," jawab Adeline. Matanya memperhatikan penampilan Kalandra yang masih rapi sama seperti yang dilihatnya tadi pagi di rumah sakit. "Kamu kerja di sini, Kalandra?"
"Iya. Saya kerja di perusahaan milik keluarga saya," jawab Kalandra dengan santai tanpa berniat pamer membuat Adeline langsung menutup mulutnya yang menganga karena kaget. "Kamu jangan kaget kayak gitu, biasa aja," ucap Kalandra sembari tertawa kecil.
Adeline pun mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih santai. Matanya menatap ke ujung atas gedung itu yang dipengelihatannya semakin ke atas semakin mengecil padahal aslinya tidak begitu. "Berarti tebakan saya kalo pak Barul itu ayah kamu benar atau tidak?" tanyanya penasaran untuk mendapatkan jawaban pasti dari perkiraannya mengenai laki-laki paruh baya tadi yang hampir mirip dengan Kalandra.
"Tidak. Bahrul Alfariz itu kakek saya. Pemilik perusahaan ini," jawab Kalandra dengan santai lagi membuat Adeline tambah kaget lagi mengetahui status laki-laki paruh baya yang ditemuinya di kedai tadi. "Ah kamu sudah selesai mengantarkan pesanan kakek saya?" tanya Kalandra mengalihkan pembicaraan.
Adeline mengguk. "Sudah. Saya tinggal tunggu pak Rafli aja. Soalnya pak Rafli bilang akan mengantarkan saya kembali ke kedai," jawabnya sembari menatap pintu masuk gedung itu yang kini memunculkan Rafli yang keluar dengan tangan kosong dari gedung itu. "Nah itu pak Rafli."
"Selamat siang pak Kalandra, pak Agra," sapa Rafli dengan ramah kepada dua orang yang bisa dibilang jabatannya lebih tinggi daripada jabatan Rafli di perusahaan itu.
Kalandra tersenyum. "Selamat siang juga," balasnya.
Sementara Agra hanya tersenyum sebentar sebagai balasannya lalu kembali menatap putrinya yang sedari tadi enggan menatapnya.
"Ah begini pak Rafli. Kata Ayline, pak Rafli akan mengantarkan Ayline kembali ke tempat bekerja nya kan?" tanyanya yang langsung mendapatkan anggukan dari Rafli. "Kebetulan saya bersama pak Agra akan pergi melewati kedai Al tempat Ayline bekerja, jadi biarkan Ayline bersama saya dan pak Agra saja ke sananya ya. Pak Rafli tolong bantu pak Barul aja di dalam."
"Oh siap laksanakan, pak Kalandra. Saya akan segera kembali ke dalam jika memang begitu perintah dari pak Kalandra," balas Rafli dengan senang hati karena tidak harus memutar dua kali di jalan raya yang cukup padat siang ini.
"Ya sudah kami duluan ya, pak Rafli." Kalandra berpamitan kepada Rafli sembari tangannya melambai kepada Adeline mengisyaratkan untuk mengikutinya. Kalandra bersama Adeline dan juga Agra pun langsung meninggalkan Rafli yang mempersilahkan mereka pergi.
Mau tidak mau, Adeline pun mengekori dua laki-laki yang dia kenal agar bisa cepat kembali melanjutkan pekerjaannya. Tatapan aneh dari orang-orang yang ada di sekitar kirinya selama berjalan membuat Adeline lantas sedikit menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan dari orang-orang itu.
Kalandra yang menyadari hal itu pun lantas menukar posisi jalannya dengan Adeline. Sehingga orang-orang itu pun langsung membubarkan diri hanya karena melihat tatapan mata Kalandra yang langsung menajam. Setelah itu kegiatan jalan mereka pun berlangsung kembali dengan tenang.
salut jg sm gaya bahasa, n bnr2 rapih pih ga ada typonya
lanjut thor