Season 1 :
"Jika laki-laki yang menghamili mu adalah seorang Dokter, apakah papamu masih akan melakukan itu?"
Aurel tersentak, ia menatap Dokter itu dengan seksama.
"Apa maksud Dokter?"
"Aku akan menikahimu!"
Cerita ini menceritakan tentang perjuangan seorang dokter yang mati-matian menengang teguh sumpah jabatannya, hingga kemudian ia merelakan hidupnya, kepentingannya, perasaannya.
Lalu apakah akan selesai di sini? Masalah kembali datang ketika pria yang menghamili gadis itu muncul, dan tentang siapa sebenarnya pria itu dan apa hubungannya dengan Jessen, membuat hidup Jessen menjadi sangat rumit.
Season 2 :
Kehidupan baru David - Alea dimulai. Kehilangan bertubi-tubi yang dialami David membuatnya hancur dan rapuh.
Yang ia miliki sekarang hanyalah janin yang ada dalam kandungan Alea. Ia tidak ingin kehilangan lagi.
Bagaimana kehidupan mereka?
Siapa Ayah David?
Bagaimana dengan Jessen - Aurel?
Simak terus di COMPLICATED (David - Alea Story) ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Baru
Barang-barang pesanan Jessen sudah datang, ia sendiri yang sibuk mengurusi semua barang itu. Ia sama sekali tidak mengizinkan Aurel membantunya. Ia tidak mau istrinya sampai kelelahan.
"Ko .... " panggil Aurel ketika Jessen sedang sibuk mengatur tempat untuk kulkas, meja makan, dan perlengkapan dapur lainnya itu.
"Sekali lagi panggil aku Koko, aku tinggal ke rumah sakit nih malam ini!" ancam Jessen sambil memposisikan kulkas itu di sudut dapur.
"Iya deh iya, Sayang!" ulang Aurel sambil memanyunkan bibirnya. "Boleh ku bantu?"
"Boleh!" jawabnya tanpa menoleh.
"Aku bantu apa?" tanya Aurel antusias.
"Bantu doa saja, sama tolong istirahat lah di kamar!"
Aurel mendengus sebal, kemudian melangkah kembali ke ruang depan. Jessen hanya melirik sekilas sambil tersenyum. Biarlah ini menjadi urusannya.
Jessen benar-benar semangat hari ini. Apakah pengaruh dari apa yang ia dapatkan semalam? Sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan itu? Atau karena gadis itu ternyata juga memiliki rasa kepadanya? Jessen rasa karena keduanya! Hidup Jessen jadi terasa lebih berwarna!
Inikah hidup baru yang dialami orang setelah menikah? Benarkah rasanya sesemangat ini? Jessen tersenyum ia bergegas menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Keluar sebentar, yuk!" guman Jessen ketika menyusul Aurel yang sedang memainkan iPhone-nya itu.
"Kemana?" Aurel bergegas bangkit, ia tampak bersemangat.
"Cari isi kulkas dan lain-lain. Sama katanya mau cari buat isi galerimu?"
"Memang sudah selesai?"
"Sudahlah, tenang semua sudah beres!" Jessen tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
"Oke aku ganti baju dulu!" ujar Aurel lalu menutup pintu kamar.
"Hey, apa fungsinya ganti baju pintunya ditutup?" Jessen mendengus jengkel, lupakah istrinya itu tentang apa yang mereka lakukan semalam?
"Memang kenapa kalau aku menutup pintu?" Aurel melongok dari pintu yang sedikit ia buka itu, wajah itu benar-benar membuat Jessen gemas.
Jessen buru-buru membuka pintu itu, lalu masuk ke dalam dan menutupnya. Aurel tampak tersentak, wajahnya memerah. Apaan sih bocah ini? Dia kan suaminya.
"Keluar dulu dong!" teriak Aurel sambil menutupi dadanya.
"Kenapa aku harus keluar? Ini kan kamarku juga! Lagian aku juga mau ganti baju." guman Jessen santai lalu membuka kaosnya.
Aurel melotot di tempatnya berdiri, dua tangannya masih menutupi bagian atas tubuhnya yang hanya tertutup bra itu. Wajahnya makin memerah ketika Jessen kemudian melepas celananya. Cukup cepat ia ganti baju, Jessen lalu berbalik dan menatap Aurel dalam-dalam.
"Kenapa malah jadi bengong sih? Cepat ganti baju, sebelum aku berubah pikiran." guman Jessen lalu mengecup lembut kening Aurel.
Jessen melangkah keluar, meninggalkan Aurel yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Aurel memaki dirinya sendiri, kenapa sih dia bisa seperti itu? Konyol sekali bukan? Jessen bukan orang lain, dia suaminya! Suami sebenar-benarnya suami, bukan suami bohongan lagi.
Ahh ... Aurel tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri, ia kemudian kembali fokus ganti baju. Setelah itu ia meraih Cushion-nya, menepuk sedikit wajahnya agar tidak terlalu memalukan untuk dibawa jalan sama laki-laki macam Jessen. Lipcream nude pink menjadi pilihannya. Ia menatap sekali lagi bayangan wajahnya di cermin. Ia rasa sudah cukup.
"Sayang masih lama kah? Kalau aku lanjut ambil spesialisasi dulu gimana?" teriak Jessen dari luar.
Aurel tertawa, dasar laki-laki! Masa ia sih dia selama itu dandannya, cuma pakai Cushion dan lipcream lho! Belum bikin alis, pakai bulu mata, dan lain-lain. Bisa lanjut sampai S3 nanti suaminya itu.
"Nggak usah berlebihan deh, masa iya sih dandanku selama itu?" Aurel mencibir, ia sudah meraih tasnya dan keluar kamar.
"Kata temenku sih nunggu cewek dandan, apalagi gambar alis, itu bisa buat lanjut S2!" seloroh Jessen sambil tertawa.
"Nggak gitu juga kali, Sayang! Dasar cowok mah sukanya berlebihan!" guman Aurel gemas lalu mencubit perut Jessen.
"Udah-udah, ayo berangkat sekarang!" Jessen menangkis cubitan itu, lalu meraih tangan Aurel dan menggenggamnya erat.
***
Jessen mendorong troli itu, sementara Aurel yang sibuk memilih apa yang mau dibeli. Sesekali mereka terlibat perdebatan konyol yang tidak penting.
"Aku nggak mau yang itu!" guman Jessen ketika Aurel memilih cairan pembersih lantai.
"Oh, nggak suka yang ini? Lalu Sayang mau yang mana?" Aurel menatap Jessen serius, jadi dokter pun punya kriteria sendiri ya untuk pengepel lantai? Harus yang anti bakteri gitu? Atau yang seperti apa?
"Aku mau kamu!" jawab Jessen sambil menatap Aurel lekat-lekat.
Sontak Aurel menjadi gemas, "Please deh, Yang! Aku bukan pembersih lantai!"
Jessen tertawa, iya kemudian mendorong trolinya meninggalkan istrinya yang masih melotot menatapnya dengan gemas itu.
"Ini jadi mau yang mana?" teriak Aurel gemas ketika suaminya itu meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata apapun.
"Terserah aja deh!" jawabnya tanpa menoleh lagi.
Aurel lalu menyusul Jessen, ia membawa botol sabun pembersih lantai itu dalam pelukannya. Untung ganteng, untung juga dia sayang, kalau tidak sudah Aurel lemparkan botol itu ke kepala Jessen.
Mereka kemudian melangkah ke makanan beku, Aurel langsung melirik kotak-kotak eskrim yang berjajar di sana.
"Pilih sesukamu." ujar Jessen sambil tersenyum manis. Ia tahu betul jika sang istri itu sangat menyukai benda dingin nan lembut itu.
"Masing-masing satu, boleh?" tanya Aurel dengan mata berbinar.
"Selama freezer kita di rumah muat, nggak masalah!"
Aurel mengangguk cepat, ia kemudian mengambil beberapa kotak eskrim lalu memasukkannya ke dalam troli.
"Cuma segitu? Katanya mau masing-masing satu?" protes Jessen ketika hanya tiga kotak eskrim yang istrinya ambil.
"Cuma mau yang ini." jawab Aurel sambil tersenyum manis.
Jessen hanya mengangguk pelan, lalu mengelus lembut kepala istrinya itu. Ia kemudian kembali melangkah mendorong troli dengan Aurel yang berjalan di sampingnya. Sesekali mereka tertawa bersama.
Disudut lain supermarket itu, sepasang mata memandang mereka dari kejauhan. Mata itu tampak berkaca-kaca.
"Entah, rasanya aku pikir dia tidak salah pilih, Ma!" guman Anton pelan, matanya masih menatap sepasang suami istri itu.
"Dia melampaui harapanku, Pa!" Frederika ikut tersenyum, ia tahu betul paras itu. Paras itu paras bahagia Aurel!
"Ya walaupun harus dengan seperti ini mereka menikah, Papa harap mereka bahagia selalu!" Anton menyeka air matanya.
"Amin! Gimana, mau kita samperin?" tanya Frederika yang tampak sudah tidak sabar untuk menyapa anak dan menantunya itu.
"Boleh, ayo!" Anton mendorong trolinya, mereka mendekati kedua sejoli yang sesekali masih tertawa itu.
"Jessen, Aurel, kalian ke sini juga?" sapa Frederika ketika jarak mereka sudah cukup dekat.
Jessen dan Aurel tersentak, mereka menoleh ke sumber suara. Lalu tersenyum manis. Akhirnya mereka tidak lagi merasa terbebani ketika bertemu dengan mereka. Karena Jessen dan Aurel bukan lagi suami-istri settingan, namun suami istri yang sesungguhnya!
Jessen bergegas menyalami Anton dan Frederika, begitu pula Aurel. Ahh ... rasanya seperti ini ternyata punya mertua? Batin Jessen dalam hati. Benar-benar hidup yang baru!