Cantika sudah hancur. Dia tidak punya apa-apa lagi setelah suaminya diambil oleh adiknya, bahkan nama baiknya pun tercoreng.
Berat untuk menjadi sosok baru, bahkan membuatnya menyerah. Namun, Hanafi membantunya untuk bangkit.
Sayangnya, masalalu pria itu datang dan membuat semua impiannya kembali hancur.
Haruskah dia bertahan atau lebih baik dia pergi mencari ketenangan diri.
Cintaku memang hanya untuk-Mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Hutabarat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21
Cantika bangun ketika bunyi alarm dalam handphonenya berdering. Dia langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti. Dia lalu turun ke bawah.
Semalam, akhirnya dia memutuskan tidur di kamar atas daripada harus tidur di kamar Hanafi. Tidurnya dan Alisha sangat pulas daripada malam-malam sebelumnya. Mungkin karena rasa aman dan tenang yang mereka alami setelah semua masalah yang mendera selama ini.
Dia memakai pakaian rumah dan juga riasan tipis setelah mandi. Rambutnya pun disanggul sederhana dengan rapih. Dia terbiasa rapih dan cantik dari kecil sehingga dimanapun dia berada, dia akan selalu terlihat anggun dan cantik sesuai namanya.
Sayup-sayup dia masih mendengar suara Hanafi melantunkan ayat Al-Qur'an sedari tadi dia bangun.
Setelah itu, dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya, baru setelah memastikan sudah sempurna dia turun ke bawah.
Hanafi yang sedang membaca ayat Al-Qur'an menghentikannya ketika mencium bau harum manis dan feminim yang mengganggunya. Dia menoleh melihat ke arah sumber masalah.
Baginya, Cantika adalah masalah besar. Wanita itu sudah terlihat cantik dan menarik serta segar di pagi hari yang dingin ini. Membuat Hanafi terpukau. Dia sendiri heran mengapa Kaisar mengabaikan wanita itu, mungkin karena sifatnya yang angkuh dulu. Hanafi sangat mengenal perangai buruk Cantika sebelum semua masalah menerpanya. Dia juga dulu sangat membencinya.
"Astaghfirullah," ucap pria itu lagi menundukkan pandangannya. Tadi malam dia hampir tidak bisa tidur karena teringat tubuh Cantika yang pernah dia peluk dan sentuh.
Cantika menghentikan langkahnya ketika berada diujung anak tangga. Dia melihat Hanafi lalu ke arah jam di dinding. Jam di dinding menunjukkan dua jarum mendekati angka enam.
Cantika salut dengan ketekunan Hanafi dalam beribadah. Tidak ada yang harus diucapkan, dia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan pagi serta susu untuk putrinya.
Aroma kopi menguar hingga sampai ke hidung Hanafi. Pria itu bangkit dan berjalan keluar rumah. Menyiram bunga yang ada sambil menyapa tetangga yang terlihat lewat dan dia kenal.
"Hey, ini kopinya," panggil Cantika pada Hanafi. Dia tidak tahu harus memanggil apa pria itu. Kakak, Uda atau Om?
"Taruh saja di meja itu," kata Hanafi menegakkan kepalanya.
Seorang wanita dewasa yang sudah sangat matang mendekat ke arah pagar rumah yang hanya sebatas dada saja. Wanita itu meletakkan kedua tangannya di pagar sambil menatap ke arah Hanafi.
"Selamat pagi, Uda Hanafi," kata wanita ganjen.
"Eh, Mba Gendis, selamat pagi juga, mau berangkat senam, Mba?"
"Iya, biar badannya sehat dan kencang luar dalam," ucap wanita dengan rambut pirang.
"Terlihat kok, Mba."
"Uda Hanafi suka?" tanyanya balik. Hanafi tersenyum mengangguk.
Wanita itu bertepuk tangan dengan girang. Mendadak tawa itu hilang ketika melihat ada Cantika berdiri di pintu rumah. Wajah yang ramah itu berubah menjadi sewot.
"Wanita itu siapa Uda... ?" katanya dengan tatapan sinis ke arah Cantika.
"Dia...."
"Bukan adik Uda kan? Karena setahuku hanya Farida adik Uda."
Hanafi mengangguk.
"Calon istri atau sudah sah jadi istri?" tanya wanita itu lagi.
"Mas, diminum dulu kopinya keburu dingin," kata Cantika lembut berjalan menghampiri Hanafi.
Wajah Gendis semakin terlihat tidak suka.
"Dia siapa, Mas?" lanjut Cantika memegang bahu Hanafi.
"Dia Mba Gendis, itu rumahnya," tunjuk Hanafi ke arah rumah yang bersebrangan dengan rumahnya.
"Sepertinya wajahmu tidak asing. Kau itu seperti artis yang seliweran di berita itu. Ehm kalau tidak salah mantannya istri adikmu itu 'kan, Uda?"
Hanafi tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa dia tinggal di sini? Kalian tidak sedang kumpul kebo 'kan?" tuduh kejam Gendis. Namanya tidak semanis ucapannya.
Hanafi memejamkan matanya. Bingung harus menjawab apa. Pasti ini akan menjadi kasus di kompleksnya dan Pak RT akan turun tangan.
"Tapi tidak mungkin, Uda kan alim suka ke masjid."
"Kami memang sudah menikah tapi belum sampai mengurusnya secara resmi," jawab Cantika.
Gendis menutup mulutnya. Hanafi yang kacau langsung menarik tangan Cantika masuk ke dalam rumah.
"Uda Hanafi benarkah itu? Aku tidak percaya kau memilih wanita itu dari pada aku," seru Gendis.
Di dalam Hanafi melepaskan tangan Cantika dengan keras. "Kenapa kau malah buat masalah dengan mengatakan itu!" geramnya.
"Lalu aku harus diam saat wanita itu menuduhku sedang kumpul kebo denganmu!"
"Tidak seperti itu juga. Kita bisa menjawab lainnya."
"Lalu kenapa kau diam ketika dia menuduh kita?"
"Aku sedang berpikir! Kau puas!" bentak Hanafi yang tidak suka ketika seorang wanita mencoba mendominasi atas dirinya.
Cantika terkejut, diam mundur ke belakang setelah melihat wajah Hanafi menegang.
"Aku hanya tidak ingin omongan buruk sampai ke telinga Alisha, sudah cukup apa yang dia dengar selama ini." Lirihnya. Mata Cantika memerah. Dia tidak pernah dibentak dengan sekeras itu. Walau dia dan Kaisar sering bertengkar sengit, tapi Cantika tidak setakut ini ketika menghadapi Hanafi. Dia akan kekeh dengan apa yang dia pikirkan dan ucapkan.
"Sebaiknya kami pergi jika kami akan buat masalah untukmu!" imbuh Cantika lagi.
Cantika lalu berjalan pergi ke kamar atas. Hanafi sendiri menendang keras tembok yang ada di depannya. Dia langsung berlari cepat mengejar Cantika, lalu memegang tangannya ketika wanita itu akan naik ke tangga.
"Kau tidak perlu pergi. Kau bisa tinggal di sini sampai kapan pun kau mau!"
"Tidak, aku hanya ingin hidup tenang. Bersamamu hanya akan membuat masalah baru lagi," ujar Cantika.
"Tinggallah disini dan aku akan mengatasi semua masalah yang ada." Hanafi mengatakannya dengan tenang, tapi bahasa tubuhnya yang kaku menggambarkan lainnya.
"Sebenarnya kau itu sedang menjauhkan Farida dari masalahnya 'kan? Kau ingin agar Farida hidup dengan tenang dengan cara memenjarakanku di sini dengan kilah pernikahan kita. Lalu, ketika aku ikut menggunakannya kau malah marah, salahku apa?" balik Cantika dengan emosi ditahan.
"Aku tidak ingin kembali bersama dengan Kaisar jika itu yang kau takutkan. Aku juga sudah punya rencana akan membawa Alisha ke rumah nenek buyutnya di Jawa dan kami akan hidup tenang di sana.
"Kuakui aku memang ingin menjauhkanmu dari Kaisar dan Farida. Kebahagiaannya adalah yang terpenting bagiku," ucap Hanafi.
Cantika berdecih sambil membuang muka ke samping. "Kau kira aku seburuk itu ingin mencuri pria dari istrinya. Aku tidak seperti adikmu itu."
"Kau jaga bicaramu!" Hanafi tampak tidak suka jika Farida dijelekkan.
"Memang itu kenyataannya." Cantika menegakkan kepalanya di depan Hanafi.
Hanafi memejamkan mata lagi sambil memukul pegangan tangga.
"Kau pukul saja semua barang di sini hingga kau puas. Aku tidak akan pernah tinggal bersama dengan pria kasar sepertimu!"