NovelToon NovelToon
Abang Penjual Sate, Imamku

Abang Penjual Sate, Imamku

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.7
Nama Author: aisy hilyah

Sedang direvisi.

Perjalanan hidup tak selamanya lurus mulus ke depan. Juga tidak melulu berbelok dan terjal. Adakalanya kita akan merasakan manisnya hidup saat berada di puncak. Namun tak urung juga kita merasakan pahitnya hidup saat terlempar ke dasar jurang terdalam.
Begitu pun kehidupan seorang pemuda bernama Andika Razka Pratama, yang sebenarnya adalah seorang Tuan Muda pewaris tahta Perusahaan terbesar Pratama Grup. Harus merasakan pahitnya dibuang dari kehidupan sesungguhnya.
Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga membiayai pendidikannya sendiri. Menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Nenek yang merawatnya di pengasingan. Hingga takdir merubahnya saat dipertemukan dengan seorang kepercayaan keluarganya.
Bagaimana kehidupan selanjutnya?
Temukan intrik menarik dari kisah hidup dan asmaranya. Dibubuhi konflik yang menambah rasa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paman Max

Episode ini dibuat dari sudut pandang paman Max

_______________________&______________________

Aku bergegas pergi meninggalkan restauran tempatku mengadakan pertemuan dengan Client saat aku mendapatkan kabar bahwa orang yang sangat berjasa dalam hidupku itu mengalami kecelakaan. Secepat mungkin aku memesan tiket untuk penerbangan saat itu juga.

Namun sialnya, tak ada pesawat yang siap lepas landas. Aku harus menunggu selama dua jam di Bandara karna tiket yang aku beli ada di jam tersebut. Berkali-kali ku tatap arloji yang melingkar di pergelangan tanganku, rasanya lama sekali. Pikiranku semakin kalut, saat aku tidak mendapatkan kabar selanjutnya tentang mereka. Akhirnya waktu yang aku tunggu tiba, aku segera menaiki pesawat. Didalam pesawat aku duduk dengan gelisah. Ingin rasanya cepat sampai di sana. Setelah kurang lebih 2 jam di dalam pesawat akhirnya pesawat itu mendarat saat menjelang subuh.

Aku segera turun dan keluar dari Bandara, seseorang telah menungguku di pintu Bandara. Dengan sigap ia mengambil koperku dan membawakannya. Dibukanya pintu mobil olehnya dan segera ditutupnya setelah aku berada di dalam. Ia kembali berjalan ke arah bahagia belakang mobil untuk meletakkan koperku di dalam bagasi setelah itu berlari ia kecil ke depan. Ia duduk di balik kemudi dan fokus menyetir.

"Langsung ke rumah sakit saja!"

Aku berucap segera setelah ia menyalakan mesin mobil, mobil melaju membelah jalanan kota yang masih sepi.

"Tapi Tuan, jenazah Tuan dan Nyonya sedang dalam perjalanan pulang Tuan."

Ucap supir itu, membuatku menajamkan telinga kembali ada perasaan tidak senang saat ia mengatakan itu padaku.

"Ulangi! Ulangi perkataanmu tadi! Jika kau berani mengatakannya lagi, aku akan mematahkan lehermu."

Entah mengapa amarahku tak terkendali saat mendengarnya mengucapkan itu. Ingin sekali rasanya aku menyumpal mulutnya dengan kain lalu mengikatnya dan menariknya ke belakang.

"Nyonya Sepuh meminta saya menyampaikan pada Tuan, bahwa Tuan sebaiknya tidak pergi ke rumah sakit melainkan langsung saja ke rumah."

Supir itu terlihat memahami kekalutanku, ia tidak terlihat marah dengan ancamanku. Aku tak ingin berbicara lagi, amarahku saat ini tak terkendali. Ingin ku cabik dia yang mengatakan jenazah. Apa jenazah? Tidak. Ini tidak mungkin. Mengapa Nyonya memintaku untuk langsung datang ke rumah dari pada ke rumah sakit. Apakah benar? Tidak. Tidak. Tidak.

Aku menggeleng-gelengkan kepala pelan mengusir segala hal buruk yang tiba-tiba menghampiri pikiranku.

"Kenapa kau membawaku ke rumah utama?" 

Hardikku dengan keras berdiri menunduk dari duduk aku mencengkram kerah baju supir itu. Tapi sesaat kemudian aku hempaskan kembali tubuhku bersandar pada kursi mobil. Dia tidak menjawab hanya terus saja melajukan mobilnya sampai masuk halaman rumah utama.

Saat itu hari sudah memasuki waktu subuh. Aku keluar dari mobil sudah  banyak sekali orang berkumpul di rumah itu. Aku pun melihat Nuri istriku yang sedang berdiri di depan pintu menunggu. Saat ia melihatku, dia berlari ke arahku. Memelukku erat dan membenamkan kepalanya di dadaku, tubuhnya bergetar hebat seiring Isak tangis yang dia redam dalam dadaku. Aku memeluknya tak kalah erat menumpahkan kesedihanku di sana. Namun, aku teringat sesuatu. Ku lepaskan pelukanku, ku pegang kedua bahu istriku yang masih menangis tersedu. 

"Dimana Tuan Muda?" Tanyaku padanya.

"Tuan Muda di kamarnya bersama Bii Sum."

Nuri terus saja menangis, ia sangat terpukul dengan kejadian ini. Bagaimana tidak mereka adalah penyelamat hidupnya saat dulu ia dalam keadaan yang sekarat.

"Aku akan melihatnya, ayo kita masuk!"

Aku mengajak Nuri untuk masuk ke dalam rumah, memintanya untuk duduk di ruang tengah menunggu kedatangan Nyonya Sepuh. Sementara aku melangkahkan kakiku menuju kamar Tuan Muda yang berada di lantai dua rumah ini. Aku buka pintu perlahan, ku lihat Tuan Muda sedang tertidur lelap tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ku tutup kembali pintu itu aku kembali berjalan ke arah depan saat mendengar deru mobil di halaman rumah. 

Pintu terbuka lebar. Beberapa orang memasuki rumah menggotong dua jenazah. Tangis ku tak dapat ku bendung, air mataku tumpah saat ku pandangi dua orang yang terbujur kaku di hadapanku.

Bodoh. Bodoh. Bodoh. Aku merutuki diriku sendiri. Betapa bodohnya aku membiarkan Tuan dan Nyonya pergi dengan orang lain. Seandainya aku tidak ditugaskan mengurus anak perusahaan yang di luar kota, ini semua dapat aku atasi. Setidaknya meski terluka tapi mereka akan tetap bersamaku.

Aaarrrgghhh... Aku menjerit tertahan. Aku menyesal, sangat menyesal meninggalkan tempat ini. Ya Tuhan... Bagaimana kelak jika mereka bertanya tentang kedua orang tua mereka. Nuri kembali memelukku erat, aku mendekapnya kuat. Ia menangis tersedu hingga tubuhnya bergetar hebat. 

"Aku menyesal, sangat menyesal. Kau pasti membenciku bukan?"

Ucapku di sela-sela tangisku. Nuri menggelengkan kepalanya kuat.

"Ini bukan salah siapa-siapa, ini sudah takdir yang tidak bisa kita hindari. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkan dua anak mereka."

Ia masih menangis dalam dekapanku, aku mengangguk membenarkan.

"Kau benar! Kita akan merawat mereka."

Nyonya mengahampiri kami, saat itu ia menanyakan tentang putra ke duanya yang tidak terlihat. Aku menjawab yang sebenarnya, memang sudah ku hubungi tapi dia bilang tak bisa datang hari ini karna ada urusan bisnis di Luar Negri. Kami akhirnya memakamkan keduanya tanpa dihadiri adiknya juga anak mereka berdua. Kami tidak pulang malam ini, malam ini kami memutuskan untuk menginap di rumah utama Pratama.

Hingga malam hari, Nuri masih saja menangis. Aku hanya dapat memeluknya erat mengusap-usap punggungnya memberi ketenangan ke dalam jiwanya. Aku terbayang saat Nuri terbaring lemah tak berdaya dalam ruang perawatan pasca melahirkan. Karena penyakit yang di deritanya ia harus mendapatkan perawatan yang intensif dari rumah sakit dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dengan murah hati Tuan dan Nyonya Pratama yang saat itu juga tengah melahirkan putra pertama mereka di rumah sakit tersebut, membantu membiayai perawatan Nuri.

Selama satu tahun lamanya Nuri koma, dengan berbagai macam alat medis yang menempel di tubuhnya. Aku tidak tega melihatnya seperti itu, menderita sekali. Hatiku sakit melihat orang yang ku cintai terbaring lemah tak berdaya. Namun, Tuan dan Nyonya Pratama selalu memberi semangat kepadaku. Mereka yakin cepat atau lambat Nuriku akan bangun dari tidur panjangnya.

Kesabaranku membuahkan hasil, setelah aku meyakinkan hatiku membawa Rendy kecil ke rumah sakit menemui Ibunya. Ku perkenalkan Nuri pada anak kami yang saat itu sudah dapat berbicara terbata meski tidak dapat mengartikan celotehannya.

Saat Rendy berceloteh di samping Nuri, tubuh Nuri merespon ada pergerakan dari tubuhnya. Aku senang tapi juga khawatir. Dokter memeriksanya dan mengatakan bahwa kondisinya sudah mulai stabil. Aku bahagia mendengarnya, kuciumi wajah istriku yang amat ku rindukan itu. Mulutku tak henti-henti mengucapakan syukur kepada Tuhan dan ucapan terimakasih kepada Tuan dan Nyonya Pratama.

Mengingat itu semua semakin membuatku larut dalam kesedihan. Semua kebaikannya tidak akan aku lupakan. Aku berjanji pada diriku sendiri akan merawat dan menjaga keturunan mereka berdua. Yaahhh... Aku berjanji.

1
Mazree Gati
ini aja bertele tele kapanjangan pakai seosen dua segala,,,end
Aisy Hilyah: harap dimaklumi ini pertama kali saya nulis. jadi masih belepotan masih banyak salah-salah. masih jauh dari selera hehehe
total 1 replies
Mazree Gati
skpi,flasback
Mazree Gati
uda lompat baca masi sama
Mazree Gati
flasback,,skip
Mazree Gati
emil terlalu tolol, uda tahu di benci malah ikut campur tolol
jesS Noisyanthie
knp pemeran utama y jadi ubi?
baca dari awal begitu bnyk kematian
jesS Noisyanthie
jgn ngadi² thor,
jesS Noisyanthie
jujur,randy emng harus kembali pd istri dan anak y,
tp aku masih gak terima dgn rendy pernah memberikan harapan palsu sama emil😭😭😭
jesS Noisyanthie
deri jadikan berondong y emil aja thor🤭
jesS Noisyanthie
kasihan emil ,,,
jesS Noisyanthie
berarti rendy masih suaminya,kan gak ada kata talak,trs mngpa begitu mudah jatuh cinta sama emil
jesS Noisyanthie
knp nama ibu aisy adalah yanti 😭😭
itu namaku🤭🤭
Aisy Hilyah: maa syaa Allah
total 1 replies
jesS Noisyanthie
knp nama ibu aisy adalah yanti 😭😭
itu namaku🤭🤭
jesS Noisyanthie
katanya sgt mirip mita mirna, tp tidak bagi Sony,buktinya Sony tidak menyadari kalau mereka berduq bersaudara
jesS Noisyanthie
mita ibarat menari di atas luka y mirna,dan sony tdk memikirkan hal itu,
jesS Noisyanthie
org yg terlalu kecewa dan terluka menciptakan peran antagonis,
walaupun cinta tdk bisa di paksakan,tp aku bisa merasakan apa yg di rasakan mirna
jesS Noisyanthie
tio kan asisten ortu y aisy
jesS Noisyanthie
aisy?
jesS Noisyanthie
Cuma rendy yg gak dpt pelukan emil🤭
jesS Noisyanthie
razka tanya pd ferdy apakah masih jauh rumah y,
bukan kah razka sering mengantarkan emil pulang🤔
jesS Noisyanthie: maksud ku rendy🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!