Putri Balqis yang biasa di panggil Balqis adalah gadis muda yang hidup sebatang kara.Gadis cantik dan lemah lembut yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya karena ia hidup di besarkan oleh seorang nenek yang menemukannya saat bayi. Hingga akhirnya ia hidup seorang diri setelah sang nenek meninggal.
Muhammad Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Baim adalah seorang pemuda yang memilih hidup di jalan daripada di rumah. Meninggalnya sang ibu dan merasa ayahnya lebih sayang pada sang kakak membuatnya menjadi pemuda pemberontak yang tidak mau di atur hingga ia memilih menjadi bagian dari geng motor.
Baim jatuh cinta pada Balqis yang telah menolongnya dari pengeroyokan yang menimpanya.
Bagaimana kehidupan keduanya selanjutnya setelah pertemuan hari itu?
Happy Reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUB 21 Kedatangan Seseorang
Balqis Untuk Baim (21)
Pindah duduk ke samping permaisuri ku," ucap Baim dan duduk di samping Balqis.
Di sebut permaisuri, wajah Balqis jadi memerah.
" Kenalkan. Ini Balqis, istriku. Dan sayang, kenalkan itu Monika. Dia..."
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
"Aku mantannya Baim," Monica memotong perkataan Baim.
Monica tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Senyum merendahkan.
"Oh. Aku Balqis istrinya Bang Baim. " jawab Balqis datar sambil menyambut uluran tangan Monica.
Monica melongo tak percaya. Ia pikir perempuan di depannya ini akan cemburu. Atau merasa rendah diri. Apakah dia tidak melihat perbedaan di antara keduanya?
Monica juga merasa tidak suka pada panggilan yang di berikan Balqis pada Baim.
"Kenapa Abang putus sama dia?,"tanya Balqis penasaran.
Ah, kebetulan masa lalumu ada di depanku, Bang. Batin Balqis.
Balqis ingat pesan Arumi yang mengatakan padanya jangan memberikan celah pada ulat bulu. Di depannya ia harus kuat dan memperlihatkan posisinya.
Monica kembali tidak percaya atas sikap Balqis.
Sementara Baim hanya tersenyum. Ternyata istrinya benar-benar melakukan apa yang Arumi katakan. Baim memang mendengar apa yang Arumi katakan saat keduanya sedang berbicara berdua.
"Dia selingkuh." jawab Baim sambil melihat ke arah Monica.
" Benarkah?," Balqis tidak percaya.
"Itu salah paham." Monica jadi gelagapan. Ia tidak percaya akan di permalukan.
"Sudahlah Monica, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Aku juga sudah bilang, anggap kita tidak pernah saling mengenal. Karena bagiku kamu orang yang tidak penting." Baim menatap tajam pada Monica.
"Kamu lupa kalau kita juga teman kuliah. Setidaknya anggap aku temanmu." pinta Monica.
Baim tersenyum sinis dengan sikap Monica. Entah apa yang ia rencanakan.
"Kau tahu sendiri, bagiku tidak ada kata teman dengan mantan. Ketika kau jadi mantanku apalagi karena kesalahanmu, kita hanya kembali menjadi orang asing."
"Baim,,"
"Silahkan." makanan pesanan Baim dan Balqis pun datang.
"Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan dengan suamiku?" tanya Balqis menekankan kata suamiku agar Monica sadar posisinya.
"Itu.." Monica jadi bingung sendiri.
"Kalau tidak, silahkan pergi. Kami ingin makan dengan tenang. Kecuali kalau kamu mau makan disini, aku tidak akan memaksamu pergi." Jelas Balqis.
"Aku tidak level makan di tempat seperti ini." Monica pergi dengan perasaan dongkol.
Balqis hanya menatap kepergian Monica dengan aneh. Memang kalau di lihat dari cara berpakaiannya ia bisa menebak kalau Monica juga sepertinya dari kalangan orang berada. Tapi, sangat aneh jika Monica memakai gaun ke alun-alun kota.
Bukan hanya Balqis, beberapa orang juga menatap aneh Monica.
"Kamu tidak marah?," Baim menyadarkan Balqis dari lamunannya tentang Monica.
"Aku hanya kesal. Apa aku salah memilih suami?," diam sejenak. "Hehe aku lupa alasan kita menikah." ucap Balqis.
"Kamu menyesal?," ada perasaan kecewa jika Balqis benar-benar menyesal menikah dengannya.
" Bukan seperti itu. Tapi, rasanya aku mulai merasa ada perbedaan yang jelas antara aku dan Abang. Dulu, aku melihat Abang sepertiku dari keluarga biasa. Tapi, sekarang, aku yakin abang bukan orang biasa. Rumah nenek yang besar, Abang yang banyak uang tapi, yang aku tahu hanya seorang montir. Juga mantan Abang yang terlihat seperti anak orang kaya." Balqis mendesah. "Aku merasa tak pantas." Jelas Balqis panjang lebar sambil mengocek- gocek es jeruk miliknya.
Baim sedikit tenang saat tahu alasan Balqis. Ia pikir Balqis menyesal menikah dengannya. Ternyata, ia hanya tidak percaya diri dengan latar belakang Baim.
"Jangan berpikir seperti itu. Aku tetaplah aku. Baim anak jalanan. Montir di bengkel kecil." Baim menarik tangan Balqis dan menciumnya.
"Tetap saja aslinya sepertinya tidak seperti itu kan?." kesal Balqis.
"Aku kan sudah janji untuk menceritakan semuanya nanti malam. Jadi, mari kita nikmati jalan-jalan ini tanpa memikirkan itu semua. Ok?"
"Hm. Baiklah."
"Senyum dong."
Balqis pun mencoba untuk tersenyum.
Mereka kembali melanjutkan makan yang tertunda.
Keduanya kembali berjalan-jalan sambil bergenggaman tangan.
Namun, Baim tiba-tiba terkejut saat melihat sosok yang ia kenali sedang bersandar di samping mobil hitam sambil menelpon.
"Kita jalan sini saja, Qis," Ajak Baim membelokkan arah jalan mereka.
"Kenapa, Bang?."
"Disana ada yang jual aneka kue. Kamu suka bikin kue kan? Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk membuat kue selanjutnya." Ucap Baim.
Balqis yang awalnya heran pun langsung menyetujuinya. Ia bahkan jadi lebih bersemangat.
Melihat Balqis yang malah antusias dan tidak banyak bertanya membuat Baim sedikit lega.
Kenapa dia ada di kota ini? Bukankah harusnya dia di ibukota?. Baim bertanya dalam hati.
" Abang kenapa?," tanya Balqis karena Baim terlihat melamun.
" Tidak apa-apa. Ayo!" Ajak Baim sambil merangkul pinggang Balqis.
" Bang, malu," bisik Balqis.
Baim tidak peduli. Ia malah tertawa melihat wajah merona Balqis.
Dari kejauhan, orang yang berusaha ia hindari justru melihat dan menyadari keberadaan Baim.
" Jadi, dia ada di kota ini?," gumamnya.
...*******...
"Ayo belanja bahan makanan dulu," Baim memarkirkan motornya di depan sebuah supermarket.
" Padahal, kalau kita belanja di pasar pasti akan lebih mudah, Bang."
Baim hanya tersenyum.
" Jam segini pasar sudah tutup, Qis."
Mereka masuk ke dalam dan mengambil troli. Baim mulai memasukkan barang-barang yang ia butuhkan.
" Kamu jangan diam saja, ayo pilih barang-barang yang di butuhkan. Aku kurang paham soal bahan makanan. Kalau makanan instan aku tahu." Baim terkekeh.
Balqis pun mulai memasukkan barang-barang yang sekiranya mereka butuhkan. Awalnya Balqis cukup terkejut dengan perbedaan harga. Jiwa ibu-ibu nya muncul saat melihat harga yang mahal.
Namun, Baim hanya menyuruhnya memasukkan ke dalam troli tanpa harus melihat harganya yang pasti berbeda jika dibandingkan dengan harga di pasar.
Mereka pun sampai ke rumah agak malam. Namun, mereka di kejutkan dengan keberadaan sebuah mobil yang terparkir di sana.
"Mobil siapa, Bang?" tanya Balqis heran.
"Aku juga gak tahu." jawab Baim yang memang tidak mengenali mobil tersebut.
Namun, tiba-tiba ia teringat dengan orang yang ia lihat saat di alun-alun kota tadi. Warna mobil dan jenisnya sama.
Deg
"Apa mungkin itu dia?" gumam Baim pelan.
"Dia siapa, Bang?," tanya Balqis yang ternyata masih bisa mendengar perkataan Baim.
"Itu.."
"Sudah lama tidak bertemu. Apa kabar?,"
Tanpa keduanya sadari, seseorang sudah berdiri di depan pintu. Ia yang mendengar suara motor berhenti di depan rumah segera keluar untuk memastikan siapa yang datang. Dan ternyata dugaannya benar. Itu adalah Baim.
"Aku tidak menyangka kamu akan datang ke rumah ini setelah sekian tahun tidak ada kabar."Ucapnya lagi karena Baim hanya mematung tanpa berkata sepatah katapun.
"Kamu tidak rindu padaku?" ucapnya lagi.
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰...