Perjalanan Rumah tangga yang harus kandas. Karena Fitnah dan rekayasa dari seorang Ibu mertua. Yang ternyata diam-diam tak menyukai sang menantu. hingga suatu peristiwa membuat Bagas menjatuhkan talak kepada istrinya.
"Baiklah Mas. Ternyata tiga tahun kita bersama, tidak membuat mas percaya. Mas hanya percaya apa yang terlihat oleh mata, tapi tidak mencari tahu kebenarannya dulu. Selama tiga tahun ternyata kesetiaanku kau ragukan, tanyakan pada hatimu Mas. Apa Aku sanggup mengkhianatimu, tapi itu semua percuma. Cintamu ternyata tak sebesar cintaku,tak ada gunanya aku menjelaskan semuanya,selamat tinggal Mas."
Itulah kata terakhir yang Ratih ucapkan sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Kini penyesalanku tak berguna, besarnya rasa sesalku tak akan membuat Ratihku kembali!" Jeritan hati Bagas. Kesalahpahaman yang terjadi antara Ratih dan Bagas,disebabkan oleh ibu dari Bagas.
Mampukah Bagas membawa kembali Ratih dalam hidupnya? Dan bagaimana kisah rumah tangga Bagas dan Ratih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naraaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 pingsan
Ratih yang memang tengah serius mengendarai mobilnya, tidak lagi memperhatikan jika ada seseorang yang tengah mengikutinya dari belakang. Ia hanya memikirkan keselamatan Bi Sumi wanita paruh baya yang sudah dianggap sebagai Ibu.
30 menit lamanya ia berkendara, akhirnya mobilnya sudah sampai di gedung tempat pertemuan mereka.
Sebelum ia masuk kedalam gedung, Ratih terlebih dulu memastikan para Anggotanya sudah berada di gedung ini.
["Apa kalian sudah dalam posisi masing-masing?" tanya Ratih melalui sambungan telepon.]
[" Sudah Queen, kami sudah berada di posisi masing-masing dan musuh tidak tahu keberadaan kami."]
["Bagus! Aku akan segera masuk kedalam. Sesuai kesepakatan jangan ada yang bertindak sebelum aku mengijinkan. Kalian mengerti?"]
["Mengerti Queen. ]
Sambungan telepon di matikan.
Sebelum melangkah masuk, Ratih masih berdiri memperhatikan gedung kosong tersebut, dan di sana Ratih bisa melihat beberapa Anggotanya yang sedang berkamuflase
Sedangkan Orang yang mengikuti Ratih sejak tadi, tampak memperhatikan Ratih dari kejauhan. Ia mengamati apa yang tengah dilakukan wanita itu di gedung kosong ini. Setelah beberapa saat berdiri di luar gedung, Ratih akhirnya melangkah masuk kedalam. Dan lelaki yang mengikutinya, juga ikut masuk kedalam gedung tersebut.
.
[" Halo dimana kau? Aku sudah tiba di gedung yang kau maksud!"] Ratih.
["Sabar sedikit Cantik, aku tidak akan ingkar janji."] Rasya.
Sambungan telepon di matikan.
Dari kejauhan Ratih bisa mendengar langkah kaki beberapa orang yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya.
"Halo, Bu Ratih. Senang berjumpa lagi dengan Anda." Rasya menatap Ratih dengan senyuman nakalnya.
"Jaga pandanganmu, jika tidak mau kedua bola matamu lepas dari kelopaknya," ucap Ratih dengan nada dingin.
"Ternyata benar yang dikatakan 2 orang preman itu, kamu memang memiliki aura yang bisa membuat musuh gentar hanya memandang wajahmu," Rasya semakin menelisik penampilan Ratih.
"Jaga pandanganmu, Rasya. Jangan sampai kau menyesal karena tatapanmu itu!" Tegas Ratih.
"Oke. Tak perlu berbasa basi lagi. Di mana uang tebusan yang aku inginkan?" tanya Rasya seraya melihat koper hitam di tangan Ratih.
"Saya sudah membawanya, tapi di mana Bi Sumi. Tunjukkan padaku sekarang!" Ratih memang tidak melihat Bi Sumi datang bersama Rasya dan kelompoknya.
"Ada, kamu akan melihat wanita tua itu, jika kamu sudah memberikan uangnya kepadaku." Rasya tersenyum licik.
"Apa kamu pikir aku bodoh, transaksi seperti ini sudah biasa aku lakukan. Jadi, tunjukkan segera Bi Sumi, maka uang di tanganku ini akan jadi milikmu." Ratih memperlihatkan uang dalam koper itu.
"Bawa wanita tua itu segera!" perintah Rasya kepada salah satu Anggotanya.
Mata Ratih tampak berair saat melihat Bi Sumi diseret dengan kasar oleh mereka, dan emosi Ratih semakin naik ketika melihat ada beberapa luka lebam di wajah wanita yang sudah merawatnya itu.
"Apa yang kau lakukan dengannya? Kenapa wajahnya tampak lebam seperti itu?" tanya Ratih dengan tatapan tajamnya.
"Salahkan Dia. Dia tidak mau menurut denganku saat anak buahku membawanya dengan paksa." Senyuman licik tampak tersungging di bibir Rasya.
"Kurang ajar kamu Rasya! Kamu akan membayar mahal untuk luka yang ada di wajahnya." Ratih melangkah maju ke hadapan Rasya dengan emosi yang tak terbendung lagi.
" Apa yang ingin kau lakukan, Ratih? Jika selangkah lagi kau maju maka wanita tua ini, akan merasakan tajamnya pisau kesayanganku." Rasya menempelkan pisau pada leher Bi Sumi yang tampak tak berdaya, hanya air mata yang mengalir di pipinya. Ia tak bisa bersuara karena lakban masih menempel di bibir wanita paruh baya itu.
"Oke, aku akan tetap di sini. Tapi, lepaskan lakban di mulutnya terlebih dulu. Dan kita sudahi basa basi ini, aku ingin pulang," Ratih mulai meredam emosinya yang bergejolak.
"Oke. Serahkan uangnya dulu, maka wanita tua ini akan aku serahkan kepadamu juga. Bagaimana?" tanya Rasya.
"Baik."
"letakkan koper uang itu di depanku, lalu melangkahlah menjauh," ucap Rasya.
Ratih mencoba percaya dengan Rasya, ia melakukan hal yang diminta oleh lelaki itu.
"Ambil kopernya, dan bawa uang itu pergi." Perintah Rasya.
Salah satu Anggotanya segera mengambil uang dari dalam koper itu, dan segera pergi dari gedung tua itu.
"Kau sudah mengambil uangnya, serahkan Bi Sumi kepadaku," ucap Ratih.
Hahahaha…
"Ternyata wanita sepertimu gampang sekali di bodohi, wanita tua ini akan tetap bersamaku. Dia akan aku jadikan pelayan di rumahku, Itu adalah konsekuensi yang harus kau terima, karena sudah berani memecatku. Untuk uang 200 juta itu, anggap saja sebagai pesangon." Rasya tersenyum penuh kemenangan dan akan melangkah pergi dari gedung tua itu.
"Apa kau yakin Anggotamu bisa selamat keluar dari gedung ini, setelah membawa uang dalam koper itu?" Ratih tersenyum licik.
"Apa maksudmu?" tanya Rasya seketika menghentikan langkahnya keluar dari gedung itu.
"Serahkan Bi Sumi, maka kau akan selamat."
"Aku tidak akan menyerahkannya. Sudah ku katakan bukan?" Rasya masih tetap kekeh.
"Baiklah, secara tidak langsung kamu tidak sayang kepada nyawamu." Ratih melangkah maju dengan cepat memberi pukulan tepat di hidung Rasya, hingga membuatnya tersungkur.
"Bagaimana? Apa kejutan ini menyenangkan?" Ratih tersenyum smirk.
"Kurang ajar, kau wanita sial!" Rasya maju ingin membalas pukulan Ratih.
Lagi-lagi gagal karena Ratih bisa menghindari setiap pukulannya.
"Belajarlah berkelahi lebih dulu jika ingin menang melawanku." sekali tendangan. Ratih, membuat Rasya tersungkur dan mulutnya mengeluarkan darah. Anggota Rasya yang melihat itu, sangat terkejut karena tak menyangka gadis berbadan mungil ini bisa membuat lelaki dewasa babak belur.
"Bagaimana Rasya, apa kamu senang dengan kejutan ini?" tanya Ratih kepada Rasya yang masih berusaha bangun. Tanpa Ratih sadari salah satu Anggota Rasya ingin menyerangnya dari belakang.
Buk, buk, buk…
Tendangan melayang di perut lelaki itu, saat ia mencoba memukul Ratih dari belakang menggunakan balok kayu.
"Jangan menyerang dari belakang, tunjukkan keberanianmu jika kau seorang lelaki." Ratih mengayunkan balok kayu itu tepat di k3p4l4 lelaki itu. Seketika ia jatuh tersungkur dengan d4r4h yang mengalir dari k3p4l4nya.
"Ini akibat karena kau ingin bermain curang!" Ratih menghempaskan balok itu ke lantai gedung yang menyebabkan bunyi nyaring.
Sedangkan lelaki yang mengikutinya sedari tadi. Tertegun menyaksikan Ratih yang berubah menjadi sosok wanita yang sadis tanpa belas kasih.
"keluarlah! Habisi semua anggotanya, jangan ada yang tersisa." perintah Ratih kepada Anggotanya.
"Seketika Anggota Ratih yang sejak tadi bersembunyi, sarentak keluar dari tempat persembunyiannya. Tak lupa ia menyeret lelaki yang mengikutinya sejak tadi.
"Maaf Queen. Lelaki ini sejak tadi sudah mengikuti Anda," ucap salah satu anggota Ratih.
"Bagaimana mungkin. Kenapa kau mengikutiku, Rayden?" tanya Ratih. Ternyata lelaki yang mengikutinya adalah Rayden.
"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." Rayden melangkah maju ke arah Ratih.
"Kau sudah melihatku baik-baik saja, kan. Jadi, pulanglah tempatmu bukan di sini." Ratih menatap tajam Rayden.
"Aku tidak akan kemana pun, sampai kau ikut pulang bersamaku." Rayden membalas tatapan mata Ratih.
"Apa kau akan mencegahku malam ini Rayden? Jika ia, maka kau pun akan aku lenyapkan. Jangan mencampuri urusanku, pergilah!" Reyna melangkah ke arah Rasya yang sudah tak berdaya. Memegang kerah baju lelaki itu agar segera bangkit.
"Bagaimana Rasya, apa hadiahku masih kurang?" Ratih tersenyum smirk.
"Ampuni aku, Ratih. Tolong maafkan aku." Rasya hanya bisa meringis kesakitan, merasakan seluruh tubuhnya yang seperti retak dan ngilu akibat pukulan yang di berikan Ratih.
"Tidak ada kata maaf bagimu Rasya." Ratih mengeluarkan pisau andalannya dan ingin menusuk perut lelaki itu.
"Tidak Ratih, kamu tidak bisa menghakimi seseorang seperti ini, ini sudah melanggar hukum." Rayden kembali mencegah Ratih menghabisi Rasya. Membuat wanita cantik itu begitu geram.
"Hukum. Hukum katamu, apa hukum yang kau tegakkan bisa memberi keadilan bagi rakyat kecil di luaran sana? Tidak! Tidak Rayden. Karena Hukum yang kau tegakkan runcing kebawah namun tumpul ke atas.
"Jangan mencegahku kali ini, Rayden. Jika kau tidak ingin terluka." Ratih kembali menarik kerah baju Rasya. Namun Lagi-lagi di cegah oleh Rayden.
"Maaf Ratih aku harus melakukan ini." Rayden menatap Ratih yang tampak begitu emosi.
"Kurang ajar! Kamu sangat keras kepala," Ratih mengayunkan pisau ke arah Rayden karena merasa geram. Akhir kesabaran Ratih untuk Rayden luntur juga. Sehingga Ratih jengah dan menyerang polisi muda itu.
"Sudah kukatakan jangan ikut campur urusanku!" Ratih semakin tak terkendali, ia membabi buta menyerang pemuda itu. Ia tidak peduli lagi jika Rayden akan terluka karenanya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini, Ratih. Kamu bisa terkena kasus pidana. Aku mohon berhenti Ratih! biarkan mereka menjadi urusanku, mereka juga sudah mendapat pelajaran darimu, biarkan mereka dihukum atas tindakannya," ucap Rayden di tengah ia berusaha menghalau serangan Ratih.
Ratih tidak mengindahkan ucapan Rayden, dan para Anggotanya tidak ada yang berani ikut campur. Rayden yang terus terusan mendapat serangan, sedikit kewalahan menghadapi Ratih, namun ia tetap harus melawan agar tidak terkena pisau yang dipegang Ratih. Serangan Ratih tidak sekuat tadi, entah mengapa ia tiba-tiba mengalami sakit kepala yang sangat. Rayden memanfaatkan itu untuk menangkap tubuh Ratih dan merebut pisau yang dipegangnya. Saat Rayden menangkap tubuh Ratih, di saat bersamaan tubuh Ratih luruh ke bawah tak sadarkan diri.
"Neng Ratih….
good Author