PERINGATAN!!!
Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!
----------
Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.
Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.
-Dewi Abarwati-
Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.
-Krisanto-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Pertemuan Tidak Terduga
Hari ini Dewi bangun lebih awal ikut bersama mamak Kris dan Ria ke pajak. Di sana Dewi mencicipi aneka kue tradisional. Ketiga orang itu makan sambil berdiri di depan etalase kios. Mencomot satu persatu sesuai keinginan masing-masing. Setelahnya, mereka pergi berbelanja. Plastik belanjaan mereka luar biasa banyak. Maklum, kebutuhan dagang.
Kris terus berdiri seraya menengok ke ujung jalan. Nggak lama yang ditunggunya terlihat. Matanya terpana ada mantan kekasihnya diantara mamak dan adiknya. Dia bergegas menghampiri.
"Loh! Dewi ikut," sapanya, setibanya.
"Iya, ini." Mamak Kris menyerahkan.
Rupanya tiap pagi Kris suka menunggu di depan rumah demi meringankan belanjaan mamak dan adiknya, kecuali yah... dia lagi tidak di sini. Tak luput Ria menyerahkan.
"Ini, Bang."
"Sini, punyamu juga," pinta Kris ke Dewi.
“Nggak usah, aku bisa kok."
"Yang berat-berat kasih aja Kak," ucap Ria.
"Nggak berat kok ini."
Jelas-jelas tangannya gemetaran.
"Cih! Sini." Kris berdecih, merampas paksa.
Setelah itu, mereka berjalan bersama. Sesampai di rumah, semua belanjaan diletakkan di lantai. Mamak Kris langsung membongkar mencari bumbu. Dewi dan Ria mengambil sayur, duduk disalah satu bangku pengunjung. Kris turut mengikuti jejak mereka, menyusul duduk dengan mengambil posisi di samping Dewi. Wanita itu menoleh, terkejut untuk apa di tangan di sampingnya. Memang dia pernah lihat pemandangan ini, tapi...
Lelaki itu tahu Dewi lagi memandanginya, dia melirik.
“Jangan heran, Dewi... Aku ini koki samar di keluarga ini. Lagian, kamu pernah lihat, 'kan?”
“Haha... Tepatnya asissten mendadak, Kak. Jika ada waktu, siap dibutuhkan,” timpal Ria.
“Kris dan Bapaknya kalau ada waktu suka membantu saya masak, atau melayani pelanggan,” celetuk mamak Kris.
“Oo..."
Melihat anak laki-laki membantu ibunya di dapur, kayaknya gimana gitu... Rasanya hidup ini sempurna jika memiliki suami seperti Kris. Sudah ganteng, pintar, berpangkat, sayang keluarga, ringan tangan, baik hati, dan tidak sombong. Tanpa sadar Dewi memandang tak berkedip.
Pria itu tahu lagi, Dewi kembali mengarahkan matanya kepadanya. Dia menoleh, memberi kedipan nakal. Lalu lanjut mengupas lagi.
“Ah!” kaget Dewi, buru-buru memalingkan kepalanya, segera mengutak-atik bahan lagi.
“Awas... Ke iris lagi,” sindir Kris.
Sontak yang disindir terdiam. Apa Kris tahu ya, waktu itu jarinya ke iris karena apa? Seketika rasa malunya bukan merah biasa lagi, tapi meraaaahh... Sekali.
“Tadi di pasar kami makan kue Bang,” cerita Ria.
“Kak Dewi ditawarin tak?”
“Ya pasti,” sela mamak Kris.
Kris melirik. “Dewi, kamu mau jalan?”
Bingung. “Ha?”
“Bosan nggak kamu makan lontong?”
“Oh ya, di depan ada jual nasi lemak,” timpal mamak Kris.
“Tadi kan aku habis makan kue. Ini, juga lagi ngerjain ini," balas Dewi ke Kris.
“Tinggal saja Nak Dewi,” pinta mamak Kris.
Kris berdiri. “Ayo?”
Dewi ragu-ragu, namun tak urung juga dia berdiri. Mereka pun pamit, berjalan keluar.
“Tadi kan aku habis makan kue." Dewi mengingatkan lagi, ditengah perjalanan mereka.
“Iya... Tadi aku dengar."
“Memang kamu nanti nggak makan lontong?”
“Bukan berarti ibuku setiap hari masak lontong, anak-anaknya setiap harus makan, 'kan?” Kris balik bertanya.
“Memang jam segini sudah buka?” tanya Dewi untuk penjual nasi lemaknya
“Mereka buka jam ½ 6.”
Sesaat mereka tiba di sana. Kris bertegur sapa dengan si penjual. Mereka terkejut tidak tahu Kris lagi pulang. Penjual itu termasuk tetanga Kris. Warung itu menempati salah satu rukan depan. Dewi duduk duluan di bangku. Usai berbincang sesaat, Kris menyusul.
Selang sesaat, datanglah makanan...
“Kok 2?” bingung Dewi.
“Sudah... Makan saja. Biar kamu nanti nggak makan lontong.”
“Tapi perutku masih belum siap.”
Menatap. “Temani aku makan.”
Layaknya tersihir Dewi menyendok nasinya. Ya, diajak ke sini saja sudah sepatutnya dia senang. Selama di Medan, Kris nggak ada waktu berdua dengannya.
**********
Beberapa sayur dan bumbu dipilih Dewi dan Ria, mereka berdua kembali ke pajak ada bahan-bahan yang kurang. Tadi biar cepat sampai, mereka naik bentor alias becak motor. Alat transportasi tradisional kota Medan merupakan gabungan antara becak dan motor yang menempel di sisi kiri dan kanan. Sisi kiri untuk becak, dan kanan untuk motor.
(Ini Bentor)
Setelah dapat apa yang dicari, mereka pulang. Turun dari bentor, Dewi tertegun saat melihat siapa orang yang duduk bersama mamak Kris di dalam.
Ya Tuhan... Dia lupa hal ini. Apakah Kris juga lupa? Dengan muka sedikit pucat dia berjalan menghampiri. Kemudian menyapa dengan berusaha bersikap tenang.
“Hai, Ren."
“Mak, ini belanjaannya Ria taruh di sana aja ya." Ria menginterupsi.
“Iya, sekalian kau bantu kerjailah.”
“Sini Kak Dewi,” pinta Ria, tahu Dewi lagi ada tamu.
“Oh, iya.”
Selepas Ria pergi, Rena baru membalas sapaan Dewi.
“Hai, Wi.”
“Ini, Nak Rena tadi datang setelah kalian jalan. Katanya, kemarin ke sininya bareng ya?” sela mamak Kris, bertanya.
“Iya Bu,” balas Dewi.
“Ya sudah, silahkan kalian ngobrol." Mamak Kris beranjak pergi.
Baru beberapa langkah orang tua itu berjalan. Rena berdiri, berbicara sambil berjalan.
“Kita ngobrol di samping aja."
Jantung Dewi makin berdetak nggak karuan. Rasanya kedua kakinya enggan mengikuti. Pasti Rena telah mengetahuinya. Ya! Pasti ada omongan mamak Kris yang membuatnya terkejut. Layaknya mendapatkan informasi tak terduga tanpa kepikiran Rena untuk bertanya. Atau juga, Rena yang mengulik. Tentu, anak itu ingin tahu sekali apa yang terjadi antara dia dan Kris.
Dipojok rumah, mereka berdiri saling hadap-hadapan. Rena mensedekap kedua tangannya dengan tatapan mencibir. Saat ini wanita itu terlihat sombong setelah memegang kartu As-nya. Yang ditatap begitu pun dapat merasakan ada kilauan mata jahat yang saat ini benar-benar akan menghancurkannya.
“Huh! Akhirnya gue tahu permasalahan kalian. Gue nggak perlu jelasin kan, kenapa gue ngajak elo pindah? Tenang, Wi... Gue nggak ada bilang apa-apa sama mamak Bang Kris. Gue juga nanti bakal tutup mulut. Tapi disini yang mau gue tekan kan, kalau langkah gue berarti sudah tepat! Karena Bang Kris bukan siapa-siapa elo lagi. Dan itu juga artinya, gue gak perlu lagi dengar keluhan elo. Karena gue bebas jalan berdua sama Bang Kris. Ingat juga ya Wi, nanti jangan pernah ada kata 'merebut' dari mulut elo!”
Kini musuh Dewi itu mampu membuat lawan bicaranya tidak berkutik. Rena hanya bicara singkat, pergi melintasi orang di depannya dengan kepala tegak.
Air mata Dewi menetes sebutir demi sebutir. Dia gemetaran membayangkan sepak terjang musuhnya setelah ini. Takut membayangkan hubungannya dengan Kris akan cepat berakhir.
Tiba-tiba wanita itu dilanda kesulitan bernafas. Mungkin akibat jantungnya memompa terus, dan terisak-isak tiada henti.
Tak kuasa, dia lemas jongkok ke bawah. Diaturnya nafasnya berkali-kali yang alurnya terus tersedak-sedak. Lalu sekuat tenaga dia menghentikan tangisnya.
"Keluarga Kris tidak boleh dengar... Tidak boleh dengar..."
**********
Pencak silat aliran merpati putih versus kick boxing melawan. Yang satu menggunakan tenaga serta teknik mematikan menghadapi musuh. Satu lagi menggunakan kekuatan tinju dan tendangan kaki. 9 peserta mempertunjukkan aksi, alias 1 lawan 1 dari 9 kali pertandingan. Ada pun merpati putih versus capoeira, karate versus taekwondo, dan lain lagi.
Sebelumnya, sebagai tuan rumah tentara Indonesia sudah menyuguhkan pertunjukan aksi tenaga dalam. Pencak silat memang terkenal keahlian tenaga dalamnya. Ada yang membelah tumpukan batu bata memakai tangan, ada juga papan tebal yang ditendang pakai kaki hingga terbelah jadi dua, dan lain sebagainya.
Saat ini adu kekuatan bela diri dan daya tahan. Karena setelah itu, mereka memakan satu ular piton besar sebagai salah satu contoh binatang untuk nanti bagaimana mereka bertahan hidup di hutan. Ular masih hidup itu dibunuh dengan teknik memegang buntutnya, baru kepalanya dengan kedua kaki si pemegang di renggang. Daging ular itu dipotong-potong dan dibagi-bagi. Sebenarnya mereka sudah pernah makan, hal itu sudah mereka dapatkan ketika mengikuti pelatihan dari kesatuan masing-masing, dan lain sebagainya.
Kris berdiri di bawah tenda bersama orang-orang berkepentingan di sana. Berbincang-bincang dengan mereka usai semua selesai. Lalu dia pamit, karena ada sms masuk yang sempat di bacanya. Yang berbunyi...
"Bang, tadi aku ke rumah Abang. Nanti malam jalan yuk?"
Terpaksa pria itu harus menyingkir. Di luar tenda, dia segera menelpon.
“Kamu ke rumah?” tanya Kris, dikit panik.
“Iya Bang. Kupikir, kali aja Abang di rumah. Aku baru ingat dulu Bang Rizal pernah nyebut nama daerah Abang tinggal, dan nama rumah makan keluarga Abang. Ya udah, aku mampir.”
Musuh Dewi itu hanya berbekal nama rumah makan keluarga Kris, mencari rumah Kris di daerah tempat tinggal Kris.
“Maaf Bang, habis Abang nggak pernah kasih tahu aku, Dewi juga begitu. Ya, kebetulan aku di sana. Ya, mampir deh. Jadi nanti malam gimana, Bang? Bisa?”
“Ya, boleh.”
Ya! Sebaiknya ditemui saja, dia perlu tahu apa terjadi sesuatu di sana. Seharusnya dia menelpon Dewi menanyakan hal ini. Tapi ya sudahlah, lebih baik dia cari tahu dulu dari pihak Rena.
**********
Tok! Tok! Tok!
“Kak, Kak,” panggil Dena.
Dari siang Dewi berdiam diri di kamar. Wanita itu lagi nggak ada tenaga dikesuraman hatinya. Usai makan siang, bantu mamak Kris sebentar, dia pamit istirahat. Tadi saja diusahakan hatinya setenang mungkin saat membantu mamak Kris.
Dewi bangun dari ranjang. Berjalan lunglai ke daun pintu, lalu dibukanya.
“Loh! Kakak sakit?” kaget Dena, untuk mata di depannya.
Maklum, tadi setiba di kamar Dewi langsung menangis. Meski sudah 30 menit lalu berhenti, tetap saja matanya sembab.
“Ah, tidak. Ini karena Kakak kebanyakan tidur.”
“Oo... Yuk, kita jalan yuk, Kak?”
“Memang Abangmu sudah pulang?”
“Tak. Mamak yang nyuruh kita ajak Kakak jalan. Tadi sih, Abang telepon katanya pulang malam terus bilang jangan tunggu Abang lagi.”
Mamak Kris inisiatif menyuruh anak-anak perempuannya untuk mengajak Dewi keluar. Menimbang putranya selalu sibuk.
Sebenarnya Dewi malas tentu dia gak punya daya untuk melebarkan kakinya. Tapi melihat Dena sudah rapih, apa boleh buat.
“Ya udah.”
Sementara itu ditempat lain. Kris sudah sampai dan berjalan masuk resto. Rena melambai-lambaikan tangannya setelah lihat sosok yang ditunggunya. Tadi Rena menghubungi memberi tahu tempat mereka janji ketemu. Jadi Kris tidak perlu menjemput. Restoran yang dipilih Rena lumayan romantis. Musuh Dewi itu memilih tempat itu biar hubungannya dengan Kris semakin dekat.
(Gambar hanya ilustrasi)
“Maaf. Lama menunggu." Kris menarik kursi.
“Nggak apa-apa. Telatnya juga cuman 5 menit Bang haha...”
"Tapi tetap saja aku minta maaf."
“Ah, nggak apa-apa kok, Bang. Abang mau makan apa?”
“Mm... Apa ya." Kris membuka lembar perlembar buku menu.
“Kita pesan menu spesial saja yuk, Bang?”
"Menu spesial?”
“Di sini ada menu couple. Yah... Meski aku bukan Dewi. Masalahnya, ada hadiah boneka Bang. Beruang kecil lucu deh Bang. Aku mau...”
“Oo... Gitu. Ya udah.”
Rena memanggil pelayan. Kris mengamati orang di depannya. Sepanjang jalan dia memikirkan bagaimana caranya bicara dengan Rena. Tapi dirasa-rasa, dia nggak perlu cemas. Pasti ke depannya akan baik-baik saja antara hubungannya dengan Dewi. Itu juga kalau apa yang dipikirkannya, benar.
Sementara itu dilokasi lain lagi. Taxi berhenti di pelataran jalan. Tepatnya, di Merdeka Walk salah satu tempat hits di Medan.
Usai Dena bayar, ketiga orang itu turun. Dena memang dibekalin uang saku oleh mamaknya. Dewi pun tadi sempat mau bayar, tapi ditahan dan Dena mengatakan itu. Maklum, mamaknya merasa tamu harus dilayani dengan baik.
“Kita makan di mana ini, Kak?” tanya Ria ke kakaknya.
“Kak Dewi mau makan apa?” Dena malah melempar pertanyaan ke mantan kekasih abangnya.
“Apa saja.”
“Mm... Apa saja ya... Ya udah, kita lihat-lihat dulu aja deh," putus Dena.
Mereka menyusuri jalan, dan mengamati dari luar tiap restoran yang dilintasi. Tidak hanya diarea situ, disekitaran Merdeka Walk pun banyak restoran.
“Di sini aja yuk Kak,” ajak Ria.
Ada hal menarik perhatiannya. Untuk menuju pintu resto, di depan berdiri berbentuk lorong yang dihiasi bunga-bunga. Namun untuk masuk ke lorong itu, harus melintasi penjaga meja pesanan.
“Kak Dewi?” tanya Dena.
“Terserah.”
Lantas Dena memesan meja. Setelahnya, dengan ditemani pelayan mereka berjalan masuk. Saat pelayan membuka pintu, mata mereka membesar terlebih lagi Dewi.
Jadi, ini urusan Kris pulang malam?
Yang dilihat mereka juga terkejut, lekas berdiri dari bangku.
penasaran alasan kris
aslinya laki apa banci sih 😑
seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...
babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku