Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.
Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.
Bram tak mencintai Habibah!
"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.
Walaupun terus saja terjadi.
"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.
"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.
Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?
Yuk baca>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka di dadaku
"Bram! Berhenti kataku." Larisa mengejar Bram sambil berteriak menghentikan pria itu.
Bram tak mau mendengar, ia berlari menuju mobilnya untuk mengejar Habibah.
"Tidak Bram, kau tidak mencintainya! Dia bukan siapa-siapa mu." Larisa mencegah Bram, berdiri menahan pintu mobil, tak mengizinkan Bram masuk ke dalamnya.
"Larisa, dia tanggung jawabku. aku tidak bisa membiarkan dia pergi dalam keadaan seperti itu." Bram mencoba menyingkirkan Larisa dari pintu mobilnya.
"Tidak Bram. Kau mengejarnya atau kita putus." Larisa menatap serius, dia tidak sedang main-main dan lebih terlihat mengancam.
Bram mengusap rambutnya hingga terlihat berantakan.
"Dan kau tahu, aku tidak suka perpisahan. Aku lebih baik mati daripada harus kehilanganmu." Larisa mulai menangis.
"Kalau tidak mau kehilangan harusnya kau bisa sedikit saja mengerti Larisa. Jangan membuat keadaan semakin buruk." Bram mendengus kesal, masuk lewat pintu sebelah kiri meninggalkan Larisa.
"Bram!" Teriaknya tak peduli banyak orang yang sedang melihat ke arahnya, salah satunya Rudy Utama yang baru saja datang setelah lembur semalam.
Pria itu menghentikan langkahnya melihat putri kesayangannya menangis dan mengamuk.
"Larisa!" Terkesan membentak panggilan itu keluar dari mulut Rudy Utama.
"Papa, Bram pergi meninggalkan aku demi wanita itu, sekretaris Papa yang sudah merebutnya dariku." Larisa tak peduli dengan apapun, ia mengadu dan menangis.
Rudy mengajaknya masuk ke dalam, tak mau membuat putrinya semakin malu. Jujur saja tak hanya Larisa tapi juga dirinya sebagai pemimpin yang baru beberapa Minggu malah sudah harus berhadapan dengan kekacauan yang terjadi akibat ulah Larisa dan Bram.
"Panggil Frans ke ruangan ku." ucapnya kepada seorang pegawainya.
"Baik Pak." jawab pegawai tersebut.
"Papa." rengek Larisa ketika mereka berada di dalam lift.
Rudy tak merespon rengekan putrinya, marah dan malu sedang menyelimuti kepala direktur utama tersebut.
Membiarkan ia terus terisak dan terus berjalan masuk ke dalam ruangan pribadinya.
"Duduklah." Perintah Rudy terdengar menakutkan.
"Papa marah padaku?" tanya Larisa dengan wajah memelas dan sedih.
"Tentu saja aku marah, kau sudah berulang kali membuat keributan, memalukan dirimu sendiri dan juga aku." Rudy menunjuk dadanya sendiri.
"Tapi dia merebut Bram Papa!"
"Kalau begitu kau tinggalkan Bram, jangan mengharapkan apa-apa lagi dari suami orang." tegas Rudy menunjuk meja di hadapannya.
"Dia kekasihku Papa, Bram sudah berjanji akan meninggalkan wanita itu secepatnya, dan kami akan tetap menikah."
"itu sulit terjadi Larisa, ikatan pernikahan berbeda dari hanya sekedar pacaran." kesal Rudy Utama kepada putrinya yang masih saja tidak mau terima.
"Tidak Papa, aku yakin Bram akan meninggalkan wanita itu. Seperti Papa memilih aku dan Mama." jawabnya membuat Rudy terhenyak, amarah yang membuncah mendadak berubah menjadi sebuah penyesalan.
"Jangan lakukan kesalahan Larisa, tak semua berakhir bahagia seperti yang kau bayangkan." ucap Rudy pelan kali ini.
"Bram mencintaiku Papa." Larisa kembali terisak hingga sopir Rudy masuk.
"Hantarkan putriku pulang." Perintahnya kepada sopir tersebut.
"Papa harus mendukungku." pinta Larisa tak mau pulang dengan kegundahan, dia harus mendapatkan dukungan dari ayahnya.
"Papa tidak tahu caranya." ucap Rudy tak mau melihat wajah memohon putrinya.
"Pecat Habibah!" pintunya mengejutkan Rudy utama.
Larisa pulang menurut ketika sopir itu mengajaknya untuk ke dua kali, membiarkan ayahnya berpikir apa yang terbaik untuk dirinya. Dia sangat yakin jika Rudy akan menuruti apa yang dia inginkan.
Pintu ruangan itu terdengar di ketuk tak lama ketika Larisa sudah keluar.
"Masuklah." Perintah Rudy, ia tahu siapa yang datang.
Frans masuk dan menutup pintu ruangan itu, dia yakin sekali akan terjadi pembicaraan serius.
"Duduklah, kita perlu bicara." ucapan Rudy enggan berbasa-basi.
"Bicaralah." Frans duduk dengan tenang, meskipun perasaan khawatir akan keberadaan Habibah.
"Apa alasan kau menjodohkan putramu dengan Habibah?" tanya Rudy menatap penuh selidik.
"Itu permintaan seseorang yang tidak dapat ku tolak, aku berhutang budi padanya." jawab Frans tak mungkin berbicara jujur.
"Jika kau ingin perusahan ini, harusnya kau menikahkan putramu dengan putriku, Larisa." ucap Rudy lagi.
"Aku tahu Tuan Rudy Utama, tapi sepertinya Anda salah paham dengan pernikahan putraku." jawab Frans tersenyum.
Tapi berbeda dari sisi Rudy Utama, Pria itu merasa di remehkan dengan sikap Frans yang terlihat tenang membahas anak-anak mereka.
"Aku tidak sedang bercanda tentang anak-anak kita." Rudy berucap dingin. "Aku tidak suka putriku di permainkan." Sambungnya lagi.
"Tidak ada yang sedang mempermainkan putrimu Tuan Rudy Utama. Sudah sangat jelas bukan, jika Bram sudah memiliki istri." jawab Frans sangat tegas.
"Frans! Mulai saat ini tinggalkan kantor ini, aku memecat mu." kesal Rudy merasa di tantang.
Frans berdiri membenarkan jasnya.
"Aku punya kontrak dan perjanjian dengan Tuan Raharja, kau tidak bisa memecat ku begitu saja. Atau perusahaan ini akan pecah jadi beberapa bagian."
"Ternyata kalian memanfaatkan Ayahku. Kalian mengeruk hartanya seolah-olah kalian adalah orang yang setia." kesal Rudy dengan nafas naik turun.
"Kami tidak seperti itu." jawab Frans tersenyum tipis.
"Buktinya temanmu itu menghilang setelah mendapatkan beberapa aset milik Ayahku. Kalian hanyalah tikus-tikus yang sudah terlalu lama bersembunyi di lumbung beras, sudah kekenyangan, lalu membuat sarang baru untuk menyimpan cadangan. Sekarang waktunya kau pergi, bawa serta anak dan menantu mu, aku muak melihat drama memalukan setiap hari terjadi di kantor milikku." Rudy menatap tajam Frans, mereka berdiri sejajar saling melempar tatapan menusuk.
"Kau tidak bisa memecat ku." ucapnya tetap terlihat tenang.
"Kalau begitu aku akan memberhentikan menantu mu." ancam Rudy lagi.
"Itu juga tidak bisa karena dia memiliki perjanjian dan kontrak yang sama denganku." jelas Frans mengingatkan tentang kertas yang pernah ia perlihatkan kepada Rudy. "Kita tidak sedang bermusuhan." jawab Frans lebih tenang lagi.
Brak
Rudy menggebrak meja karena sangat marah kepada Frans asisten ayahnya. Dia marah sekali dengan keputusan ayahnya yang menyulitkan kepemimpinan Rudy saat ini. Bahkan ada orang-orang tertentu yang tidak boleh di berhentikan.
*
*
*
Taksi yang ditumpangi Habibah berhenti di rumahnya. Sengaja ia tak kembali ke rumah Bram, dia butuh waktu untuk sendiri.
"Non." sapa Bibi ketika membuka pintu gerbang halaman.
"Assalamualaikum Bi, aku pulang." jawabnya dengan wajah sendu, lemas dan melangkah pelan, masuk dan menuju kamarnya di lantai dua.
Habibah butuh waktu.
Dia hanya punya waktu, tak punya siapa-siapa untuk berbagi, bahkan tak punya seorang saja untuk hanya sekedar mengadu.
Masuk ke kamar mandi dengan air mata masih berjatuhan, menyalakan shower dan membasahi tubuhnya cukup lama, berharap panas di dadanya bisa reda setelah air mengalir di seluruh tubuhnya.
"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.
"Ibu, ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah keterlaluan.