NovelToon NovelToon
Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!

Status: tamat
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: triani

Sebuah perjodohan yang sudah di atur oleh kedua belah pihak keluarga tanpa di ketahui oleh keduanya membuat pertemuan-pertemuan yang seolah-olah tidak terduga dan nyatanya pertemuan-pertemuan yang tidak sengaja itu membawa mereka ke sebuah hubungan pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Jawaban singkat dari ustad Farid berhasil menggetarkan hati Anin, ia benar-benar tidak percaya dengan secepat ini mempertemukan dengan orang yang mungkin akan menjadi jodohnya.

"Ustad, nikahi aku!"

Seketika ustad Farid tercekat dengan pernyataan Anin, gadis yang baru dua atau tiga hari lalu ia temui tanpa sengaja tiba-tiba mengajaknya menikah.

Bukan hanya Anin yang bergetar hatinya, tapi ustad Farid jauh lebih terguncang. Ia sampai menepuk-nepuk pipinya tidak percaya.

Sakit ...., gumamnya dalam hati. Untuk lebih membuktikannya ia pun mencubit lengannya sendiri dan hasilnya sama.

Aku mimpi ya ...., batinnya masih tidak percaya, demi menguji pendengarannya ustad Farid pun memilih untuk menoleh pada gadis yang dengan santainya mengajak menikah.

Anin menganggukkan kepalanya dengan cepat berkali-kali dengan wajah polos hingga membuat ujung jilbab segitiga bagian depannya yang terterpa angin menyapu wajahnya.

Ustad Farid mengerutkan keningnya hingga membuat kedua alis tebalnya terangkat ke atas.

"Iya ustad. Nikahi aku!" ucap Anin lagi dengan masih menggunakan nada yakinnya, tanpa ada keraguan sedikitpun disetiap kata yang keluar dari bibirnya.

"Kamu gila ya?" tanya ustad Farid, tapi ia segara menyadari jika kata-katanya itu salah, "Astaghfirullah hal azim!"

"Kok gitu sih tanyanya?" protes Anin dengan wajah cemberut. Ia harus bisa meyakinkan pria di hadapannya bahwa apa yang ia katakan benar adanya. Ia pikir ustad Farid adalah pria yang terbaik untuk menjadi imam dalam hidupnya.

"Maaf, tadi kelepasan!" ucap ustad Farid menyesal karena perkata annya, "Sudah pokoknya ini nggak bener, lebih baik sekarang aku antar kamu Sampek dapat bensin!" ucapnya lagi sambil berdiri dari duduknya, ia segera meletakkan gelas kosongnya di gerobak es Pleret yang memang sengaja mangkal di bawah pohon itu.

Anin pun segera melakukan hal yang sama, tapi saat ustad Farid hendak mengeluarkan dompetnya, Anin segera mencegahnya,

"Biar Anin aja ustad yang bayar!"

"Serius?"

"Iya ustad, itung-itung sebagai ucapan terimakasih karena semua nasehat yang baru ustad berikan sama Anin!"

Ya sudah lah ...., ustad Farid pun kembali mengantongi dompetnya.

"Berapa pak?" tanya Anin pada penjual es Pleret. Meskipun ia sudah tahu berapa harganya, ia memilih untuk tetap bertanya takut jika ternyata harganya naik.

"Sepuluh ribu pak!"

Anin pun segera mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan.

"Terimakasih ya pak!"

"Sama-sama, mbak!"

Ustad Farid memilih berjalan dulu meninggalkan Anin yang masih sibuk dengan penjual es pleret sambil mendorong motor Anin yang belum terisi bensin.

Nasib-nasib, kayaknya setiap kali ketemu dia selalu suruh dorong motor, eh bukan hanya dia tapi juga, Zahra. Emang dasar nih gadis Jawa ...., gerutu ustad Farid dalam hati.

Ia tidak tahu akan sampai di mana ia mendorong motornya karena mereka sudah cukup jauh berjalan tapi belum juga menemukan penjual bensin, kalaupun ada ternyata stok masih kosong dan terpaksa mereka harus berjalan lagi.

Bagaimana bisa, sejauh ini tidak ada penjual bensin ..., batin ustad Farid.

Yang jelas, yang tengah ia pikirkan saat ini, ia harus terhindar dari pertanyaan yang menurutnya tidak masuk akal dari Anin.

Ustad Parid sama sekali nggak ngeluh meskipun dorong motor sejauh ini ...., batin Anin.

"Ustad, biar Anin aja yang dorong ya!" tawar Anin. Ia cukup merasa kasihan saat melihat kemeja yang dikanakan ustad Farid tampak basah karena keringat. Tapi entah kenapa melihat Sepertinya itu malah membuat Anin merasa semakin tertarik pada ustad Farid.

"Tidak perlu, jalan aja agak jauhan."

"Kenapa agak jauhan?"

"Takut ada tetangga atau orang yang kenal kamu!"

"Kalaupun ada yang lihat, memang kenapa ustad?"

"Ya takut timbul fitnah!"

Segitunya ...., Anin mendengus kesal. Ia pun akhirnya sedikit menjaga jarak.

Meskipun begitu Anin masih mengekorinya, mau bagaimana lagi memang motornya dibawa oleh ustad Farid.

Akhirnya karena sudah jauh berjalan, ustad Farid memilih untuk berhenti sejenak mengatur nafas yang sudah ngos-ngosan.

"Istirahat bentar ya!" ucap ustad Farid, "Kita duduk di sana!" ucapnya lagi sambil menunjuk sebuah bangku sosong tempat penjual buah yang kebetulan kosong.

"Nggak pa pa ustad?"

"Apanya?"

"Nggak takut timbul fitnah?" Anin sengaja membalikkan pertanyaan ustad Farid.

"Baiklah, nggak jadi!" ustad Farid pun memilih kembali menutup jagang samping yang sempat buka.

Hehhhh ....

Anin menghela nafas, padahal tadi ia sengaja bertanya hanya untuk membalikkan keadaan ternyata nggak mempan.

Anin pun sedikit berlari menyusul Uttar Farid yang sudah berada agak jauh di depan.

"Tunggu!" ucapnya setelah begitu dekat.

"Jangan dekat-dekat!"

Anin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya ampun, ribet banget sih!" keluh Anin yang notabene nya masih awam soal agama.

Anin pun segera kembali menjaga jarak, mereka kembali saling diam sambil terus berjalan.

"Ustad, bagaimana?" tanya Anin setelah cukup lama saling diam.

"Apanya?" tanya ustad Farid tanpa berniat menoleh ke arah Anin.

"Yang tadi!" ucap Anin dengan gemas. Tapi ustad Farid segera faham dengan apa yang di maksud Anin.

"Anggap saja aku nggak dengar dan urusan kita selesai!"

Hehhhh ....

Sekali lagi Anin menghela nafas kecela mendengar jawaban ustad Farid.

Anin tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali pasrah. Jika memang ustad Farid tidak mau menikah dengannya, mungkin memang jodohnya David.

Hingga akhirnya setelah perjalana panjang itu, mereka sampai juga di penjual bensin yang masih memiliki stok bensin.

"Itu kayaknya ada bensinnya!" tunjuk ustad Farid pada sebuah toko yang di depannya berjejer botol-botol yang masih terisi bensin.

Kenapa secepat ini sih ..., bukannya senang. Anin malah merasa tidak begitu suka dengan hal itu, ia merasa waktu yang telah mereka habiskan berdua masih kurang.

Melihat hal itu tapi Anin malah terdiam membuat ustad Farid keheranan.

"Kenapa?" pertanyaan ustad Farid kembali membuat Anin tersadar, ia pun segara tersenyum tipis.

"Ahhh tidak pa pa!" ucapnya.

"Cepetan beli bensin!" perintah ustad Farid.

Hah beli ...., seketika ia teringat sesuatu.

"Beli ya?"

"Kalau boleh minta, minta aja!" ucap ustad Farid yang sudah terlanjur kesal.

"Sebenarnya aku lupa juga bawa dompet, kebetulan yang tadi buat beli es Pleret, nyempil di jok motor! Kali ini ustad ya yang bayarin!"

Astaghfirullah hal azim ....,

Ustad Farid hanya bisa pasrah. Ia tidak tahu apa kesalahannya hingga selalu saja mengalami hal yang sama seperti ingin berulang kali.

"Baiklah!"

Setelah mengisi bensin, Anin tidak langsung mengemudikan motornya. Ia terlebih dulu menoleh pada ustad Farid.

"Apa lagi?" tanya ustad Farid.

"Bagaimana yang tadi ustad?" ternyata Anin masih menanyakan hal yang sama.

"Sudah sore, keburu ashar. Cepet pulang, assalamualaikum!" dengan cepat ustad Farid berlalu dari hadapan Anin.

"Baiklah, kalau kita ketemu satu kali lagi, Anin anggap kita berjodoh ustad!" ucap Anin dengan sedikit berteriak karena ustad Farid sudah berlalu dari hadapannya.

Walaupun mendengar ustad Farid tidak berniat membalik badannya.

"Waalaikum salam!" teriak Anin lagi.

Walaupun belum mendapatkan solusinya, setidaknya Anin sekarang sudah jauh lebih tenang di bandingkan tadi sebelum pergi. Segala nasihat yang di berikan unstad Farid cukup membuatnya yakin jika Allah pasti akan memberinya jalan.

Bersambung

Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya

Follow akun Ig aku ya

Ig @tri.ani5249

...Happy Reading 🥰🥰🥰...

1
bela aprilia
Luar biasa
bela aprilia
Kecewa
Ilda Yunita
banyak ilmunya
Tri Ani: Alhamdulillah
total 1 replies
Ayla ankara520
sy sgt menunggu kisah selanjutnya,pasti seru banget.
Ayla ankara520
masyaAllah.benar2 banyak sekali pelajaran yg sy ambil hikmahnya dr kisah ustad zaki,zahra,farid dan anin krn sy sendiri masih single blm mendapatkan jodoh sampai se usia skrg ini. teri.aksih byk atas novelnya mba tri Ani yg sgt menginspirasi.sy jg sgt berharap mendapatkan jodoh spt dlm kisah ini.amiin...🤲😊😊❤
Tri ani: aamiin
total 1 replies
Ayla ankara520
jd suka deh sm rumah impian anin😊
Nurfanya Rudie Ajalah
q juga blitar
Nenggelis Qalbi
oops ustadz Farid😍
Maulana ya_Rohman
sakno tenan anin.... di abaykan dan ter abaykan........😢😢😢🤧
Maulana ya_Rohman
ketemu lagi....... masih mengelak kalau jodoh🤔🤔🤔🤔
Maulana ya_Rohman
langsung tembak ajah....
Maulana ya_Rohman
gak nyampek²... ternyata muter²...🤣🤣🤣🤣🤣
Maulana ya_Rohman
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Nggie Utami Anggraeni
typo ustad farid harusnya thor 🙏
Ayuk Vila Desi
akhir yang indah
Ayuk Vila Desi
masya Allah
Ayuk Vila Desi
yang sabar ya ustad ..pasti Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda
Ayuk Vila Desi
Alhamdulillah..kembar
Ayuk Vila Desi
katanya 50 kok jadi 150
Ayuk Vila Desi
mungkinkah nantinystad Farid yang bayarin utang budhenya Anin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!