Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran negatif
Pagi ini Bu Nia terkejut ketika bangun tidur dia mendapati mainan Flora berserakan. "Arin," teriak Bu Nia.
Arin pun terbangun. Hari ini dia agak kesiangan. Setelah sholat subuh tadi dia kembali tidur. Bahkan dia lupa menyiapkan keperluan suaminya karena tak kuat menahan kantuk. Maklum, semalam Flora tidur sangat larut.
Arin bangun. Dia keluar dari kamarnya. "Ada apa, Bu?" tanya Arin pada ibunya.
"Ada apa? Lihat ini mainan Flora ada di mana-mana. Kamu tidak ingat kalau kaki ibu sering sakit karena menginjak mainan Flora yang berserakan seperti ini," omel Bu Nia.
"Pelankan sedikit suara ibu. Aku tidak tuli, Bu. Lagipula Flora masih tidur," ucap Arin sambil memunguti mainan satu per satu.
"Anak perempuan kalau matahari sudah naik jangan dibiarkan tidur melulu. Nanti kebiasaan."
"Apa sih, Bu? Flora kan masih kecil. Dia belum mengerti soal tanggung jawab. Kalaupun dia tidur sampai jam segini karena semalam dia tidur hampir pagi," sanggah Arin. Dia tidak terima ketika mengatai anaknya pemalas.
"Kamu ajak ngapain aja sampai tidur malam?"
"Bu, dari pada banyak tanya mending bantuin aku mungutin mainan Flora. Banyak kerja lebih bagus dsri pada banyak ngomong. Kupingku sampai panas denger omelan ibu pagi-pagi." Arin balas mengomel.
Dia kesal sekali pada ibunya. Kalau saja dia tidak menghina maka Arin pun tidak akan membalas. Setelah selesai membersihkan mainan, Arin merapikan kamarnya. Dia mengerjakan seluruh pekerjaan rumah setelah itu barulah dia mandi.
Sayangnya, ketika dia baru memakai sabun, Flora menangis mencari keberadaan ibunya. Bu Nia berniat mendekati Flora agar anak itu diam. Akan tetapi tangisannya malah semakin kuat.
Arin oun bergegas memakai handuk lalu menghampiri anaknya. Kejadian seperti itu sudah sering terjadi. Namun, tak sedikit pun Arin merasa Flora sebagai pengganggu.
Jadi kalau ada yang bilang punya anak itu bikin ribet memang betul. Namun, kalau sudah sering mengalami maka kita akan menikmatinya.
Seseorang yang belum punya anak lalu memiliki pemikiran untuk tidak punya anak hanyalah alasan untuk tetap berada di zona nyaman. Mereka tidak tahu bagaimana nikmatnya menjadi seorang ibu walau setiap hari direpotkan. Bahkan kebanyakan wanita akan merasa sedih jika anaknya tak lagi membutuhkan dia.
Seperti juga yang dialami Arin. Tak hanya ketika dia mandi, saat dia sedang makan anaknya tiba-tiba pup di ce*lana juga pernah.
Ketika dia sedang BAB, Flora juga sering menggedor pintu kamar mandi dari luar karena tak melihat ibunya barang lima menit saja.
"Buka, Bu. Bu, buka Bu," pinta Flora yang saat itu meminta Arin keluar dari kamar mandi. Padahal sudah sejak tadi dia menahan perutnya yang mulas karena Flora terus mengajaknya main.
"Sebentar, Nak. Dikit lagi," teriak Arin.
"Bu, buka Bu! Bu, buka Bu!" Kalimat itu terus diucapkan Flora hingga Arin keluar.
Arin langsung menggendong Flora usai menyelesaikan hajatnya. "Sayang, lain kali kalau ibu sedang di kamar mandi Flora jangan teriak-teriak ya. Nanti perut ibu tambah sakit. Flora nggak kasian sama ibu?" tanya Arin meminta pendapat Flora.
"Kacian," jawab Flora dengan bahasanya yang belum jelas.
"Anak pinter. Yuk kita main lagi tapi sambil maem ya," bujuk Arin. Flora mengangguk setuju.
Ketika sore hari waktunya Flora mandi, anak itu lari-larian karena malas diajak mandi. "Flora mandi yuk! Ajak bebeknya sekalian," bujuk Arin.
Flora mendekat ke arah Arin. Dia pun melepas baju Flora. Namun, ketika anak itu sudah polos hanya menyisakan popok yang dia pakai Flora kembali berlari. "Flora mau ke mana? Ibu tangkap ya," goda Arin saat mengejar Flora.
Sesaat kemudian Tika pulang. Dia berhasil menangkap Flora kemudian menggelitiki tubuhnya. "Baunya," ledek Tika.
"Nggak," jawab Flora.
Setelah itu Tika memberi dia cokelat. Flora sangat menyukainya. Tak lama kemudian gadis kecil itu memeluk erat Tika dan mencium pipinya. "Maacih, Tante," ucap Flora.
"Sama-sama," jawab Tika.
Arin cemburu ketika melihat Flora sedekat itu dengan adiknya. "Salah nggak ya kalau aku ini bersikap waspada. Kadang kehadiran Tika membuat aku berpikir yang bukan-bukan. Aku takut kehadirannya membuat anak dan suamiku berpaling," gumam Arin dalam hati
***
Hayo siapa yang berpikiran sama dengan othor, eh Arin? Dia takut suaminya turun ranjang 😭
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...