Fredella Dominique tidak menyangka harus menikahi pria yang usianya lebih tua. Dia dijodohkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai salah satu orang kepercayaan keluarga calon suaminya.
Tapi siapa sangka, calon suaminya sangat perhatian dan mencoba memulai hubungan yang baik diantara mereka. Tidak seperti rumor beredar bahwa pria itu dingin, datar juga kejam, melainkan sikapnya sangat manis pada Fredella.
Hingga keduanya menikah atas dasar cinta. Fredella jatuh cinta pada suaminya, kegigihan dan ketulusan pria itu meluluhkan hati.
Tapi siapa sangka suatu hari badai datang mengusik bahkan menghancurkan kehidupan manisnya bertubi-tubi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Ketegasan
BAB 21
Tuan dan Nyonya Dominique malam ini juga langsung pulang ke Korea, tidak mungkin bagi ayah Fredella itu meninggalkan pekerjaannya. Menggunakan pesawat pribadi Rayden Bradley, mengantar besannya sampai ke tujuan.
Sementara Clarissa yang memang tinggal di ibu kota, hanya terdiam. Bolehkah ia menginap di rumah megah ini, hanya untuk melepas rindunya dengan Dariel. Mungkin bawaan bayi yang mendorongnya sangat ingin bersama Dariel.
“Kakak mau aku antar ke apartemen?.” Tanya Fredella mengejutkan pandangan Clarissa pada Dariel.
“Della, aku ingin menginap di sini apa boleh?.” Clarissa sangat berharap adik angkatnya ini menjawab ‘ya’.
“Tentu saja ka,........” Jawaban Fredella terputus karena Dariel menyambar sangat cepat.
“TIDAK BOLEH.” Meraih pinggul istrinya, menciumi pelipis Fredella sangat rakus.
“Sopir akan mengantar Clarissa pulang, kamu di rumah sayang jangan kemana-mana. Di rumah ini juga kamar tamu penuh.” Alasan Dariel padahal tersisa dua kamar lagi, namun ia tidak mau memberi celah pada Clarissa untuk menghancurkan rumah tangganya.
“Permisi, non. Mari saya antar.”
Seketika Clarissa menajamkan matanya, ia tidak habis pikir ada pria setega sahabatnya ini. Tidak bisakah Dariel memberi separuh hati untuknya? Ia tidak akan menyerah, Dariel pasti mengiba padanya. Tidak lama lagi perutnya akan membuncit, tidak akan ada yang bisa disembunyikan lagi.
**
Dalam mobil, Clarissa mengingat pertama kali mengetahui dirinya hamil. Tentu saja bahagia, tapi ia bingung bagaimana memberitahu pada sahabat sekaligus suami adiknya. Menerima resiko yang ada, memberanikan diri datang ke kantor RB Group Hotel, membawa testpack serta hasil USG.
Semula Dariel tidak percaya, dan menuduh Clarissa berbohong. Tapi lagi-lagi malam panas yang ia habiskan bersama Clarissa kembali berputar, Dariel terpaksa mendatangi klinik kecil demi terhindar dari skandal. Benar adanya, bakal janin itu nyata dan Clarissa tidak mengelabuinya.
Otak Dariel terus mendorong agar melenyapkan bayi yang sedang tumbuh, tetapi nalurinya tidak sampai hati membunuh darah dagingnya. Ia hanya bisa merawat Clarissa dan kandungannya melalui orang kepercayaan, sesekali mengunjungi kediaman Clarissa, memberi perhatian kecil padanya.
“Lihat saja kamu Dariel, aku lebih berkuasa dibanding Fredella, kalau kamu berani menyakitiku. Tidak segan ku bawa lari anakmu, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah melihat keturunanmu lagi.” Jahat Clarissa dalam hati.
Tidak
“Aku bukan perebut suami orang, takdirku hanya kurang beruntung saja. Aku lebih dulu mengenal dan mencintainya dibanding Fredella. Aku yang menemani Dariel sebelum dia, aku yang selalu bertukar ide dan keluh kesah bukan dia. Jadi siapa yang merebut? Tentu adik angkat ku itu kan? Bukan aku. Dariel selamanya adalah milikku bukan wanita lain.” Clarissa menitikkan air mata.
Wanita cantik ini selalu berpegang teguh bahwa seharusnya Fredella yang pergi bukan dirinya.
**
Kediaman Bradley
“Ayolah sayang jangan marah seperti ini.” Bujuk Dariel, istrinya kecewa karena mengusir kakaknya begitu saja. Padahal banyak yang ingin ia sampaikan. Lama tidak bertemu Clarissa lebih dari 3 bulan.
“Kamu mengusir kakakku, Dariel. Aku merindukannya.” Memalingkan wajah ke sembarang arah.
Seandainya saja Fredella tahu apa maksud ia melarang Clarissa menginap, pasti ia pun setuju. Semakin bertambahnya hari, sikap wanita itu kian berani.
Dariel memijat pangkal hidung, ia mendadak pusing. Menahan kebenaran terungkap sangat melelahkan, menguras seluruh energi. Tapi semua ia lakukan demi cintanya pada Fredella.
“Sayang, maaf. Aku tidak mau ada wanita lain di tempat ini, rumah ini. Kamu mengerti sayang?.”
“Dokter Dewa dan Kevin, juga pria lain bagiku, sama kan dengan Kak Caca?.” Polos sang istri mengedipkan kedua matanya berulang.
“Sayang, mereka berdua itu menjadi budak, budak dari para istrinya. Mana mungkin mereka menyukaimu. Tapi Clarissa wanita lajang itu bahkan berani menyatakan perasaannya dan menyentuh suamimu ini.” Batin Dariel, ia kehabisan kata, bagaimana menjelaskannya pada sang istri.
Dariel membawa Fredella masuk walk ini closet. Membenamkan ciuman pada bibir pujaan hatinya, membungkam suara, ia tidak ingin mendengar nama itu keluar dari bibir manis merah delima Fredella.
Sekali hentakan Dariel membuat Fredella melingkarkan kedua kaki pada pinggang. Kedua tangan pria ini pun bertengger di bagian bokong istrinya, menyesak penuh hasrat, dan sayangnya belum bisa ia salurkan karena operasi beberapa minggu yang lalu.
“Aku memiliki hadiah untukmu, kamu mau lihat sayang?.”
“Apa itu?.” Napas Fredella terengah akibat ulah sang suami.
Dariel menunjukkan kotak perhiasaan, memberikannya pada Fredella yang masih berada di atas pangkuannya.
“Buka sayang!.” Titah Dariel tersenyum hangat, memperhatikan raut wajah istrinya.
Kotak itu berisi kalung berlian yang sengaja dipesannya secara langsung, berliontin simbol nama mereka ‘ DF’ yang menggantung di tengah dikelilingi permata kecil.
Hati Fredella tersentuh, seketika ia melupakan kemarahannya pada Dariel. Menciumi bertubi-tubi wajah suaminya. Merasa beruntung mendapat hadiah luar biasa ini.
Benar apa yang dijanjikan Dariel, selalu memberi keindahan dan dunia bagi istrinya. Membawa hari-hari Fredella sangat indah dan bergantung sepenuhnya pada Dariel.
Bolehkah hari ini tidak berakhir sampai disini? Fredella bahagia malam ini.
“Besok ikut aku sayang, aku akan menunjukan banyak hal padamu, yang akan membuat hidup kita semakin bersyukur.” Ajak Dariel, menurunkan Fredella dan menggandeng tangannya ke depan cermin, memasang kalung itu di leher.
“Terima kasih, aku mencintaimu Dariel.”
Sikap manis Dariel tidak berubah sejak mereka menjalin asmara, selalu memberi kejutan indah yang tak pernah terpikir oleh Fredella. Hal itu juga yang meyakinkan dirinya bahwa Dariel tidak akan pernah melupakannya sekalipun ia tidak sempurna.
“Hmmm sayangnya aku tidak bisa meminta imbalan.” Keluh Dariel, suaranya lemas menunjukkan sikap manja layaknya anak kecil, tapi Fredella sengaja mengacuhkannya.
“Sayang ayolah, bisa dengan cara lainnya.” Bisik pria ini menuntun naik ke atas ranjang.
**
Usai dengan segala kegiatan mereka dalam kamar, Dariel keluar. Ada berkas yang harus ia periksa , laporan penjualan selama beberapa minggu yang lalu.
”Dariel?.” Panggil Mama Nayla.
“Ya ma, ada apa?.”
“Fredella sudah tidur? Ada yang ingin mama tanyakan, sebaiknya kita ke ruangan kamu.” Berjalan lebih dulu meninggalkan putranya yang terbalut pada kebingungan.
Sampai di ruang kerja, Mama Nayla mengunci pintu ia menatap tajam pada Dariel mengintimidasi anaknya.
“Siapa wanita yang kamu cintai?.” Istri Rayden Bradley ini bekacak pinggang.
“Tentu Mama dan Fredella juga saudari-saudariku. Ada apa ma.?”
Mama Nayla menarik napas lalu menghembuskan perlahan. “Ada hubungan apa di antara kamu dan Caca?. Ingat Dariel menantu mama hanya Fredella. Jangan pernah coba kamu bermain api. Mama tidak mau kamu dan Clarissa berduaan seperti tadi, mama tahu kalian berdua dalam toilet. Sangat keterlaluan. Kalau sampai Fredella tahu dia akan sakit hati sekali.” Tegas Mama Nayla menatap tajam dengan mata sipitnya.
“Apa saatnya mama tahu semua yang terjadi?” Gumam Dariel.
...TBC...
Dariel
Fredella
Clarissa
Follow juga IG author ya kalau berkenan 🤣
@maciba_18
TAMAT 😍😍😍😍